Lahirnya Sang Pewaris

Lahirnya Sang Pewaris
Bab 12


__ADS_3

Davina duduk terpisah di sofa. Hanya berjarak 3 meter dari meja tempat Dave meeting dengan sekretaris dan asistennya.


Pandangan mata Davina tak lepas dari sosok wanita yang duduk tepat berhadapan dengan Dave.


Tatapan Davina jelas menunjukkan ketidak sukaannya pada sekretaris pribadi Dave. Dia sedikit kesal melihat ada wanita lain yang sangat dekat dengan Dave. Apalagi obrolan keduanya terbilang santai, Dave tak menunjukkan sisi dinginnya seperti dulu saat dia pertama kali bertemu dengan Dave.


"Pak Dave bisa cek lagi. Tadi malam sudah saya revisi beberapa poin yang perlu di tambah,,"


Fira menyodorkan berkas di depan Dave. Tentu sambil menatap dan melempar senyum tipis padanya.


Dave menerima berkas itu tanpa memperhatikan Fira. Pria itu hanya fokus pada pembahasan, tanpa memperhatikan dengan seksama lawan bicaranya saat ini.


Kerja sama dengan salah satu perusahaan besar di Batam, membuat Dave harus lebih fokus dan teliti dalam memeriksa berkasnya.


"Satu lagi, di poin terakhir kontrak kerja sama sudah saya ganti." Fira menjulurkan tangan di depan Dave, menunjuk poin yang dia maksud dalam berkas itu.


Dave tampak mengangguk paham, lagi-lagi tidak menatap Fira sedikitpun.


"Kerja bagus, kamu bisa di andalkan Safira." Puji Dave beberapa saat setelah membaca poin tersebut.


Senyum di bibir Fira mengembang mendengar pujian yang terlontar dari mulut bosnya itu. Dia tentu sangat bangga kinerjanya di pandang bagus dan memuaskan.


"Terimakasih Pak,," Fira menjawab dengan senyum mengembang sempurna.


"Kenapa hanya Safira yang mendapat pujian. Aku bahkan bekerja pagi sampai malam untukmu, tapi tidak pernah sekalipun kamu memuji hasil kerja kerasku." Protes Raka sewot.


Bertahun-tahun mengabdikan dirinya pada Dave, sekalipun laki-laki dingin itu tak pernah memujinya. Tapi pada Safira yang baru 1 bulan bekerja, sudah mendapatkan pujian berkali-kali.


Dave langsung berdecak, menatap sinis pada asisten pribadinya itu.


"Menggelikan sekali harus memuji laki-laki.!" Sahut Dave.


Dia kemudian kembali fokus pada berkas di tangannya. Tak memperdulikan Raka yang melotot kesal lantaran Dave justru mencibirnya.


"Kak Raka sangat keren dan gagah, aku rasa kerja keras Kakak juga sangat luar biasa,," Pujian yang terlontar dari mulut Davina membuat ketiganya menoleh bersamaan.


Raka yang merasa mendapat pujian itu, justru terlihat pucat. Sebenarnya dia sangat senang karna ada wanita cantik yang memujinya keren dan gagah, tapi karna yang memuji adalah istri dari bosnya, tentu saja Raka cemas setengah mati. Bisa-bisa dia akan dikuliti hidup-hidup oleh Dave lantaran cemburu.

__ADS_1


Dave tampak kaget mendengar Davina memuji laki-laki lain di depan mukanya. Terlebih laki-laki yang di puji oleh Davina adalah karyawan Dave sendiri. Hal itu membuat Dave merasa kalah dari Raka yang hanya menjabat sebagai asisten pribadinya.


Merasa mendapat tatapan intimidasi dari Dave, Raka hanya tersenyum kaku.


Dia juga tidak berani menanggapi pujian dari Davina meski hanya sekedar mengucapkan terima kasih.


Karna jika dia mengatakan hal itu, pasti Dave akan semakin menatap tajam padanya.


"Kalian berdua boleh kembali ke kamar masing-masing.!" Tegas Dave datar.


"Aku akan memanggil kalian 30 menit lagi.!" Dave menatap Fira dan Raka bergantian, meminta mereka untuk segera keluar dari ruangan itu.


"Hah.?"


"Apa.?!"


Seru keduanya bersamaan. Mereka bingung karna tiba-tiba Dave menyuruhnya keluar, padahal mereka belum selesai rapat.


"Sejak kapan kalian berdua tuli.?!" Sentak Dave sewot.


Mendapat ucapan ketus dari Dave, keduanya buru-buru menjalankan perintah. Mereka beranjak dari duduknya lalu pamit pada Dave.


Sementara itu Davina tampak gelisah. Dia sudah bisa membaca situasi yang ada. Melihat raut wajah Dave dan nada bicaranya yang ketus, menandakan jika pria itu sedang marah.


Davina sadar kalau kemarahan Dave di picu oleh pujiannya terhadap Raka.


Dave pasti cemburu dan tidak terima dia memuji laki-laki lain. Apa lagi di depan matanya langsung.


Davina semakin gelisah ketika Dave beranjak dari duduknya tanpa mengalihkan tatapannya. Walaupun hanya memberikan tatapan datar, entah kenapa terasa begitu mencekam dan dingin.


"Ka,,kkaamu mau apa Mas,,?" Davina bergeser dari sofa karna Dave berjalan mendekat ke arahnya.


Dave tak menjawab. Dia terus mendekat, berhenti di depan Davina kemudian membungkukkan badannya sembari mengangkat dagu Davina degan satu tangannya. Davina tampak menelan ludah. Jarak wajahnya dan wajah Dave sangat tipis, bahkan hidung mancung Dave hampir menyentuh hidung Davina.


Cukup lama Dave menatap wajah Davina tanpa mengatakan apapun. Tiba-tiba langsung menyambar bibir Davina dengan gerakan kasar.


Mendapat serangan mendadak, Davina hanya bisa terpaku dengan kedua mata yang membulat sempurna.

__ADS_1


Setelah membuat Davina kehabisan nafas, Dave melepaskan pagutan bibirnya.


"Ini hukuman karna kamu sudah berani memuji laki-laki lain.!" Tegas Dave.


Dia kemudian menurunkan resleting dress Davina, membuat wanita itu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


Davina menghentikan gerakan tangan Dave dengan memegang tangannya.


"Kenapa aku tidak boleh memuji laki-laki lain.? Tapi Mas sendiri bisa memuji wanita lain.!!" Davina menepis tangan Dave dan langsung beranjak dari sofa.


"Aku memuji kinerjanya, bukan memuji fisiknya." sahut Dave. Dia menahan pergelangan tangan Davina. Dengan sekali tarikan, tubuh Davina sudah terjerembab dalam pelukannya.


"Sama saja.!" Sahut Davina kesal. Dia mencoba melepaskan diri dari pelukan Dave.


"Itu salah satu bentuk apresiasi atas kerja kerasnya. Agar dia lebih semangat bekerja untuk perusahaan." Sahut Dave menjelaskan. Dia merasa pujiannya pada Fira masih dalam ke profesionalannya sebagai atasan.


"Tapi tetap saja menjengkelkan.!" Ketus Davina.


"Menjengkelkan atau kamu cemburu.?" Tanya Dave dengan nada meledek.


Davina sontak mencebik kesal.


"Mas juga cemburu kan karna aku memuji Kak Raka.?"


"Jadi kita impas.!" Ujarnya sewot.


Dave yang gemas dengan sikap Davina, kembali menyambar bibir sensual itu dengan rakus.


Karna tidak mendapatkan penolakan dari Davina, kedua tangannya langsung bergerak liar mencari sesuatu yang bisa dia mainkan.


Pria itu berhasil menurunkan dress Davina. Membuat tubuh indah Davina hanya berbalut hot pants dan pembungkus buah sinyalnya yang menyembul lantaran ukurannya semakin bertambah besar karna efek kehamilan.


Dave menggiring Davina ke sofa, membaringkan tubuhnya di sana.


"Sudah hentikan,," Davina menahan kepala Dave yang sejak tadi di benamkan pada buah kenyal miliknya. Kedua gundukan itu menjadi sasaran empuk Dave.


"Bagaimana kalau mereka kembali,," Ucap Davina cemas.

__ADS_1


"Mereka tidak akan berani kembali sebelum aku memanggilnya." Dave menjawab cepat, setelah itu kembali membenamkan wajahnya. Dia menye 'sap berganti dengan rakus. Membuat Davina tak kuasa menahan gairah yang semakin menggebu, hingga membuat tubuhnya terasa panas.


__ADS_2