
Davina buru-buru melepaskan tangan Dave setelah memastikan Sisy sudah masuk ke dalam rumah. Dia tampak kesal setelah berpapasan dengan mantan kekasih suaminya. Meski dia mengakui jauh lebih unggul di banding Sisy secara fisik, namun tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di hati. Sesuatu yang akhirnya membuat dia merasa cemburu.
Mengingat bagaimana dulu Dave masih sangat peduli pada mantan kekasihnya itu di saat dia sudah memiliki istri.
Walaupun sudah mengancam Dave bahwa dia tidak akan memaafkannya jika mengulangi kesalahan yang dulu, tapi semua itu belum membuat Davina tenang. Masih ada kekhawatiran dalam dirinya tentang Dave yang mungkin saja bisa kembali jatuh cinta pada Sisy.
Davina menoleh pada Dave, manatap suaminya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Apa perlu aku mengancam akan memotong burungnya jika kembali berulah.?"
Gumam Davina dalam hati. Dia sedang mempertimbangkan baik-baik apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin saja dengan ancaman sadis itu, Dave tidak akan berani macam-macam padanya.
Pandangan mata Davina turun ke bawah, tepat di bawah pusar suaminya. Sesuatu yang bersembunyi di antara kedua paha.
Dave mengernyitkan kening, merasa ada yang janggal dengan tatapan Davina.
"Kenapa menatapnya seperti itu.?"
"Kamu sedang tidak ingin bercinta kan.?" Tanya Dave ragu. Jelas tatapan seperti itu bukan menginginkan sebuah serangan memabukkan dari tongkat perkasanya.
"Kamu memang paling tau isi kepalaku." Davina justru membenarkan pertanyaan Dave seraya mengukir senyum aneh.
"Jadi kamu benar-benar ingin melakukannya sekarang.?" Dave semakin mengerutkan kening. Bodoh karna dia percaya dengan ucapan Davina sedang tatapan dan raut wajah Davina mengatakan tidak.
"Sangat. Aku sangat ingin melakukannya. Memasukkannya ke dalam mulutku, menjilatnya kemudian menggigitnya sampai putus." Ucap Davina yang kemudian menggertakkan gigi dengan kencang tepat di depan wajah Dave.
Pria yang sering di cibir tua itu langsung memberingsut mundur. Dia sampai menelan ludah dan menutupi burungnya yang tiba-tiba terasa ngilu setelah mendengar perkataan Davina dan melihat istrinya itu menggertakkan giginya seolah sedang menggigit sesuatu hingga terputus.
"Sayang,, kamu baik-baik saja.?" Dave memberanikan diri kembali mendekat pada Davina.
"Kenapa tiba-tiba bicaramu tidak karuan seperti ini.? Kamu mau menggigit aset berhargaku.? Memangnya dia salah apa.?"
"Bukannya selama ini dia sudah memuaskanmu.? Kamu bahkan sering terkapar setelah,,
Davina menyengir santai dan memotong ucapan Dave.
"Memangnya siapa yang mau menggigit burung mu. Aku itu sedang membayangkan es krim karna tiba-tiba saja ingin makan es krim." Alasan Davina jelas tidak masuk akal, tapi Dave memilih untuk menanggapinya dan tidak membahas hal yang membuatnya bergidik ngeri.
"Kalau begitu tunggu disini. Aku akan ke kamar kita untuk mengambil stok es krim milikmu." Dave hendak beranjak, tapi Davina buru-buru menahan tangannya.
__ADS_1
"Bilang saja Mas itu mau menyusul Sisy ke dalam.!"
"Iya kan.?!" Tuduh Davina.
Dave tercengang, raut wajahnya seketika berubah frustasi.
Haruskah dia menjambak-jambak rambutnya sendiri sambil berteriak untuk meluapkan kekesalannya.?
Davina benar-benar menguji kesabaran. Apa yang dia lakukan selalu salah di mata ibu hamil itu.
"Astaga sayang,, kamu ini menggemaskan sekali." Dave mengukir senyum yang di paksakan seraya mencubit pelan kedua pipi Davina.
Daripada dia harus meluapkan kekesalan di depan Davina yang justru akan berakhir perang Dunia yang entah keberapa, lebih baik dia berlagak seperti itu.
"Untuk apa aku menyusulnya.? Kamu pikir dia balita yang harus di bantu bersih-bersih setelah buang air kecil." Seloroh Dave yang sudah kehabisan kata-kata untuk menghadapi kecurigaan Davina terhadapnya.
"Jangan bohong.! Mengaku saja kalau memang ingin bicara empat mata dengannya.!" Davina kini malah mendesak, meminta Dave untuk mengakui sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya.
Jangankan untuk berbicara empat mata dengan Sisy, untuk menegurnya di tempat ramai saja dia tidak berani karna takut istrinya itu akan marah padanya.
Dave tiba-tiba membungkukkan badan. Dia mensejajarkan wajahnya dengan perut besar Davina.
"Papa sangat mencintai Mama mu, mana mungkin Papa berani berbuat macam-macam padanya." Dave mengadu pada darah dagingnya dengan suara sendu.
"Beri tau Mama mu untuk tidak mencurigai Papa lagi." Dave kemudian mendaratkan kecupan di perut Davina beberapa kali seraya mengusapnya lembut.
Sementara itu Davina hanya diam saja memperhatikan apa yang Dave lakukan. Dia juga mendengar semua ucapan namun tak berniat untuk membalasnya.
"Aku mau bicara dengan Nabila." Davina meninggalkan Dave begitu saja setelah Dave menegapkan badannya kembali.
Hela nafas berat keluar dari mulut Dave. Pria itu tampak frustasi menatap punggung istrinya yang kian menjauh.
"Wanita memang sulit di mengerti." Gumamnya.
Tapi meski Davina selalu marah setiap kali merasa cemburu sampai mencurigainya, Dave tak pernah marah pada sifat Davina yang satu itu. Dia mencoba untuk memahami perasaan Davina dan kondisi Davina saat ini.
Karna menurut informasi yang dia dapat, mood ibu hamil memang mudah naik turun.
Maka sebagai suami dia harus banyak mengalah disini.
__ADS_1
...*****...
"Kita belum sempat bicara empat mata." Ucap Davina yang berhasil duduk di samping Nabila.
Sahabatnya itu tampak cantik dengan riasan tipis dan balutan gaun pengantin.
Tapi meski sudah di timpa dengan riasan, Nabila tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia dan kenangan terindah dalam hidupnya, agaknya tidak berlaku untuk Nabila.
Wanita itu tampak sedih di hari pernikahannya. Lebih tepatnya pernikahan yang tidak dia inginkan.
"Aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku." Lirih Nabila. Kepalanya tertunduk. Davina tau kalau Nabila sedang menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
"Tidak menyangka apa yang aku lakukan akan membuat keluargaku kecewa, terutama kedua orang tuaku." Suara Nabila tercekat. Tampaknya dia sangat menyesali apa yang sudah terjadi dala. hidupnya.
"Aku tidak punya pilihan. Papa terlilit hutang dan aku ingin membantunya agar rumah kami tidak di ambil oleh rentenir."
"Usaha suami Kak Sisy sedang dalam masalah, dia tidak bisa membantu Papa terbebas dari hutang."
"Aku terpaksa menerima tawaran kak Farrel."
Suara Nabila semakin lirih.
Sebuah fakta yang membuat Davina tercengang. Sungguh Nabila tak mengatakan hal ini pada siapapun. Bahkan saat pertemuan kedua keluarga, dia selalu mengatakan permintaan maaf dan mengakui kekhilafannya.
Tapi pada kenyataannya Nabila hanya korban, korban dari kelicikan Farrel yang telah memanfaatkan kesulitan Nabila untuk mendapatkan kepuasan semata.
Rahang Davina tampak mengeras, kedua tangannya mengepal. Dia sangat membenci laki-laki seperti itu. Bagaimana bisa menukar kesucian dan harga diri seorang wanita dengan uang.
Sekalipun Nabila sangat membutuhkan uang, tidak seharusnya Farrel memberikan penawaran gila seperti itu.
"Jangan marah padanya, aku yang salah karna sudah menyetujui perjanjian itu." Nabila menggenggam tangan Davina, dia mengangkat wajahnya seraya menatap memohon.
"Aku sudah mengecewakan kedua orang tuaku. Aku tidak mau mereka semakin kecewa jika mengetahui alasanku melakukan semua ini."
Nabila menatap penuh harap. Dia bercerita pada Davina bukan untuk mencari simpati ataupun pembelaan, namun karna dia ingin membagi sesuatu yang selama ini membuat dadanya sesak dan tercekat lantaran memendamnya sendiri.
"Kak Farrel benar-benar keterlaluan.!" Geram Davina penuh amarah dan kekecewaan.
__ADS_1