Lahirnya Sang Pewaris

Lahirnya Sang Pewaris
Bab 11


__ADS_3

"Jalan Pak.! Langsung ke hotel saja." Titah Dave tegas. Dia menyuruh supir yang menjemputnya untuk membawanya ke hotel begitu sampai di Batam.


Davina menatap kesal setelah mendengar Dave memberikan perintah pada supir untuk melajukan mobilnya ke hotel.


"Kenapa langsung ke hotel.? Apa tidak bisa pergi ke suatu tempat dulu.? Aku mau jalan-jalan," Nada bicara Davina antara kesal dan merengek.


Ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di kota Batam. Jadi rasa penasarannya sangat tinggi untuk mengetahui tempat indah apa saja yang ada di kota industri itu.


"Aku ada rapat jam 10, sayang,,," Dave menjawab lembut. Dia bukannya tidak mau mengajak Davina keliling kota Batam, tapi 2 jam lagi dia harus menghadiri rapat penting di salah satu perusahaan besar yang ada di sana.


Jadi banyak hal yang harus dia persiapkan lebih dulu dan membicarakannya dengan asisten serta sekretaris pribadinya yang juga ikut terbang ke Batam.


"Nanti sore setelah pulang rapat aku akan ajak kamu berkeliling." Dave mencoba membujuk istrinya yang terlihat marah lantaran langsung di ajak untuk ke hotel.


Padahal maksud Dave agar Davina bisa istirahat lebih dulu sebelum di ajak berkeliling.


Selain itu, Dave juga harus menyiapkan mengecek dan menyiapkan berkas yang akan di bawa pada saat rapat.


"Baiklah,," Antara pasrah dan kesal, Davina menyetujui perkataan Dave untuk pergi ke hotel.


Dave mendorong koper miliknya dan Davina ke dalam kamar hotel yang sudah di pesankan oleh sekretarisnya kemarin.


Kamar VIP yang di fasilitasi ruang kerja dan ruang rapat dengan akses terpisah dari pintu masuk ruang tidur.


"Tempat tidur kita di sana,," Dave menunjuk salah satu pintu yang lebih besar di dalam ruangan itu.


"Hmm,, aku mau ke balkon dulu." Davina beranjak dari samping Dave, dia lebih tertarik untuk melihat pemandangan kota batam dari atas gedung pencakar langit itu.


Dave memberikan persetujuan dengan anggukan kepala. Setelah meletakkan koper mereka di tempatnya, dia segera menyusul Davina ke balkon.


Istrinya itu tampak diam berdiri di tepi balkon dengan pandangan lurus ke depan. Hembusan angin membuat rambut panjang Davina bergerak teratur.


Dave mengukir senyum penuh arti dengan tatapan dalam yang mendamba. Gadis yang dulu selalu membuatnya kesal karna merasa membawa kesialan dan mengikutinya kemanapun, kini selalu berada di sampingnya dengan status sebagai seorang istri.


Terlalu banyak cerita yang terkadang menggelitik untuk di ingat, dan semua itu menjadi kenangan yang mungkin tidak akan terlupakan bagi Dave.


Davina adalah anugerah, dia akan menjadi yang terindah. Saat ini, nanti dan selamanya.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu,," Ucapan lembut Dave terdengar dalam. Bersamaan dengan pengakuan cintanya itu, kedua tangannya memeluk Davina dari belakang. Mendekap tubuh istrinya yang semakin berisi.


Davina menoleh dan mengulas senyum tipis.


"Kenapa hanya tersenyum.?" Protes Dave. Dia ingin mendengar balasan cinta dari istrinya itu. Sudah lama sejak mereka kembali bersama, Dave masih diselimuti keraguan akan perasaan Davina padanya. Dia takut jika Davina masih memendam rasa sakit hati atas apa yang dulu pernah dia lakukan padanya.


Terlebih tak pernah ada ucapan cinta yang keluar dari mulut Davina sejak saat itu. Walaupun Dave bisa merasakan jika Davina mulai berdamai dengan keadaan dan menjalani pernikahan mereka dengan semestinya.


"Lalu harus bagaimana.?" Davina membalik tubuhnya untuk bertatapan dengan Dave.


Melihat tatapan Davina yang terlihat sedang mempermainkannya. Dave semakin mempererat dekapannya hingga Davina semakin menempel padanya.


"Harusnya seperti ini." Kata Dave yang langsung menyambar bibir istrinya itu. Dia menciumnya tanpa memberikan kesempatan pada Davina untuk membalasnya.


Suara bel membuat Dave menghentikan aktivitas menyenangkan itu. Dia melepaskan pagutan bibirnya, dengan cepat menyeka bibir Davina sembari tersenyum lebar.


Sementara itu Davina mencebik kesal, walaupun sebenernya dia menyukai ciuman panas dari Dave.


"Aku bukain pintu dulu,," Pamit Dave.


"Kita lanjut lagi nanti malam." Ucapnya genit.


"Memangnya siapa yang datang.?" Tanya Davina.


"Asisten dan sekretaris ku." Jawab Dave.


Mendengar hal itu, Davina hanya mengangguk kecil dan membiarkan Dave membukakan pintu.


"Berkasnya sudah kamu cek lagi.?" Terdengar suara Dave dari balkon tempat Davina berdiri. Davina tak terlalu memperdulikannya, dia kembali menatap pemandangan dihadapan matanya.


Namun tiba-tiba merasa terpanggil ketika mendengar suara lembut wanita yang menjawab ucapan Dave.


"Sudah Pak. Saya pastikan semuanya lengkap dan tidak ada kesalahan sedikitpun."


"Bagus. Kamu bisa di andalkan." Kata Dave.


"Terimakasih Pak. Saya akan belajar lebih baik lagi agar tidak mengecewakan Pak Dave."

__ADS_1


Davina menoleh dengan menajamkan pandangan. Dia mencari sumber suara yang telah membuat perasaannya tidak karuan dalam sekejap.


Dia tidak mengira kalau salah satu karyawan yang di ajak oleh Dave adalah seorang wanita.


Davina pikir asisten dan sekretaris Dave adalah laki-laki.


"Ada perubahan jadwal rapat Dave. Mereka menundanya 30 menit dari jadwal awal."


Suara yang tak asing itu ikut menimpali obrolan. Davina sudah tau kalau pemilik suara itu adalah asisten Dave.


"Tidak masalah." Jawab Dave.


"Ayo masuk,,"


"Baik Pak,,"


Lagi-lagi suara itu membuat Davina gelisah dan panas di telinga serta hati. Dia tidak suka dengan pemilik suara itu yang terkesan di buat-buat agar terdengar manja.


Tidak tahan dengan apa yang dia dengar, Davina buru-buru beranjak untuk menghampiri mereka.


Paling tidak dia akan meminta ikut masuk ke dalam ruangan rapat di kamar itu.


Tak jauh dari tempat Davina saat ini, dia menatap sosok wanita yang tentu saja lebih dewasa darinya. Wanita dengan penampilan yang sedikit seksi namun masih terbilang tertutup karna memakai celana jeans dan kemeja lengan pendek.


Davina buru-buru berjalan ke arah Dave. Dia harus mengawasi suaminya itu dari wanita yang sepertinya sekretaris baru Dave.


Melihat Davina berjalan mendekat, Dave menghentikan langkahnya.


"Ada apa sayang,,?" Tanya Dave.


Davina mengukir senyum mendengar Dave memanggilnya dengan sebutan sayang di depan bawahannya, terutama di depan sekretarisnya.


"Aku bosan,, boleh ikut masuk ke dalam.?" Davina menatap pintu ruang rapat.


Sementara itu asisten pribadi Dave dan sekretarisnya, tampak mengukir senyum pada Davina sembari membungkuk sopan padanya.


"Tentu saja." Jawab Dave. Dia kemudian merangkul pinggang Davina dan mengajaknya masuk ke ruangan tersebut.

__ADS_1


"Aku baru tau istrinya Pak Dave masih sangat muda,, aku pikir,,"


Suara berbisik itu langsung terhenti saat asisten pribadi Dave memberikan lirikan tajam.


__ADS_2