
"Mau kemana kamu.? Sudah malam,," Dave mencegah Davina yang hendak keluar dari kamar.
Dia baru saja ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tapi begitu keluar dari kamar mandi, dia mendapati Davina yang akan membuka pintu.
Davina berbalik badan, ibu hamil itu tersenyum kikuk dengan memamerkan deretan giginya yang rapi. Senyumnya membuat Dave berburuk sangka, istrinya itu seperti akan melakukan sesuatu yang mencurigakan.
"Aku hanya ingin memastikan Nabila baik-baik saja." Davina berkata jujur. Dia berniat berdiri di depan pintu kamar Farrel untuk memastikan keadaan Nabila di tangan Kakak iparnya itu.
Seandainya tidak ada suara keributan atau teriakan kesakitan, itu artinya Nabila tidak sedang di siksa oleh Farrel.
Melihat ekspresi ketus Farrel yang di tujukan pada Nabila saat di meja makan tadi, Davina jadi tidak bisa berfikir positif. Dia mencemaskan nasib sahabatnya.
Farrel sudah berubah, tidak lagi seperti Farrel yang pertama kali dia kenal. Kakak tirinya itu mudah tersulut emosi dan selalu berbuat seenaknya.
Bagaimana dia tidak cemas memikirkan Nabila yang terlalu penurut dan pendiam. Sudah pasti Nabila akan di tindas habis-habisan oleh Farrel.
"Lalu apa kamu mau masuk ke dalam kamar mereka dan melihat pergulatan sengit di atas ranjang.?" Celetuk Dave.
Istrinya itu kadang-kadang tak berfikir jauh. Sampai mau menguping pengantin baru yang akan melakukan malam pertama.
Walaupun mungkin malam ini bukan malam pertama bagi kedua sejoli itu.
"Ya ampun sayang, mulutmu kenapa jadi seperti itu." Davina tak habis pikir karna akhir-akhir ini mulut Dave bicara tanpa filter.
"Mana mungkin aku mau melihat mereka bermain kuda-kudaan. Yang ada burung kak Farrel langsung mati kalau melihatku memergokinya."
Tanpa sadar Davina juga mengeluarkan pembelaan yang membuat Dave geleng-geleng kepala.
"Aku hanya ingin memastikan Kak Farrel tidak menyiksa Nabila di malam pertama." Tambahnya. Davina membuka pintu, Dave bergegas mendekat dan menarik tangan Davina agar tidak keluar kamar.
"Sudah biarkan saja."
"Farrel tidak akan menyiksa wanita, kecuali di atas ranjang. Kamu tau kan maksudku." Satu tangan Dave menutup pintu dan menguncinya.
Dengan berat hati Davina mengurungkan niatnya untuk menguping di depan kamar Farrel.
Tapi dia sudah punya rencana untuk menanyakan pada Nabila besok pagi.
Seandainya Farrel berani menyiksa dan memperlakukan Nabila dengan kasar, maka dia tidak akan tinggal diam dan akan mengadukan pada Mama Sandra agar Farrel mendapatkan hukuman.
...******...
__ADS_1
Sementara itu di atap yang sama dan ruangan yang bersebelahan, seorang laki-laki tengah mengungkung tubuh istrinya yang polos tanpa sehelai benang yang menutupi.
Dia tengah sibuk memainkan bukit kembar milik istrinya, meng Hi sap rakus dan mere mass yang satunya secara bersamaan dengan kasar.
Tanda kepemilikan bahkan sudah berjejer pada bukit yang tak lagi polos. Bercak merah keunguan seolah menjadi hiasan pada dua bukit kenyal itu.
Sementara itu wanita dalam kungkungannya sedang meringis embari menggigit bibir bawahnya karna merasakan sakit dan nik mat bersamaan.
Sering melakukan adegan seperti itu membuatnya mulai terbiasa dan menerima sentuhan dari suaminya. Meski terkadang merasa sakit hati karna di perlakuan kasar.
"Apa kamu kehabisan suara untuk men de sah.?" Cobir Farrel dengan tatapan kesal.
Dia sudah membuat tubuh Nabila menegang dan bergerak kesana kemari namun istrinya itu memilih menahan de sa han.
Nabila tampak mencebik, namun tak menghiraukan perkataan Farrel.
"Baiklah, aku akan menggunakan cara lain. Tahan saja kalau bisa." Seringai licik terukir di bibir Farrel. Dia mundur dan langsung memposisikan kepalanya di antara kedua kaki Nabila. Menekuk lutut dan membuka lebar-lebar dengan kedua tangannya.
Kedua mata Nabila melotot, dia mendorong kepala Farrel untuk menjauh.
"Jangan gila, aku tidak mau seperti itu.!" Seru Nabila sewot. Namu tangannya langsung di tepis oleh Farrel dan bersamaan dengan itu tubuhnya menegang hebat. De sa han lolos dari bibirnya.
Rasa nik mat menjalar ke seluruh tubuh, membuat Nabila hilang kendali dan terus meloloskan de sa han yang semakin membuat Farrel menggila.
"Aku pikir kamu menyukainya." Sahut Farrel dengan seringai mesum. Dia tak menghiraukan ucapan Nabila dan tetap melakukan sesuatu yang membuatnya kehilangan akal sehat karna di buat melayang akibat sangkar yang sangat sempit.
"Minum ini, jangan sampai kamu hamil." Farrel menyodorkan pil yang biasa dia berikan pada Nabila setiap selesai melakukannya.
Tak lupa memberikan gelas berisi air minum dan berdiri di depan Nabila untuk memastikan Nabila benar-benar menelan pil itu.
"Jangan khawatir, aku pasti meminumnya." Nabila menjawab acuh.
"Bukan hanya Kak Farrel saja yang tidak mau aku hamil, aku juga tidak mau." Nabila menekankan kalimat terakhirnya. Dia juga ingin menunjukkan pada Farrel jika pernikahan mereka tidak berarti apapun untuknya, jadi tak perlu kehadiran seorang anak di tengah-tengah mereka.
"Bagus kalau begitu." Farrel menjawab dengan entengnya. Dia kemudian memungui baju miliknya dan masuk ke kamar mandi setelah memastikan Nabila menelan pil penunda kehamilan itu.
...*****...
"Ya ampun, kenapa Nabila jalannya seperti itu.?" Davina berbisik pada Dave yang tengah duduk di sampingnya.
Dave yang sedang meneguk teh hangat sontak langsung menoleh untuk melihat Nabila.
__ADS_1
"Apa punya kak Farrel sangat besar.?" Bisiknya lagi.
"Brrrrttt,,,"
Dave menyemburkan teh hangat yang belum sempat dia telan.
Tangannya reflek mengetuk kening Davina.
"Ya ampun, kamu kenapa Mas.?" Davina bingung melihat Dave menyemburkan menimannya.
"Kenapa kamu bilang.?" Dave menatap sewot.
"Dasar nakal.! Apa yang kamu pikirkan hah.!" Tegur Dave. Bisa-bisanya Davina membahas ukuran burung Farrel setelah melihat Nabila kesulitan berjalan.
"Aku tidak memikirkannya, hanya membayangkan saja." Jawab Davina enteng. Dia tidak sadar kalau salah bicara sampai membuat Dave semakin mendelik.
"Kamu ini benar-benar.!" Gerutu Dave. Dia langsung memutar kepala istrinya agar kembali menatap di depan meja makan.
"Minum saja susumu, jangan membayangkan yang tidak-tidak."
Dave tak bisa menyembunyikan kekesalannya lantaran Davina membahas bahkan sampai membayangkan pusaka milik Farrel.
Beruntung Mama Sandra dan Papa Edwin belum datang ke ruang makan, jadi perdebatan itu hanya di dengar oleh mereka saja.
"Pagi Kak,," Nabila menyapa Davina dan Dave dengan raut wajah malu-malu. Dia bahkan tak berani menatap lama keduanya dan langsung menundukkan kepala.
Berbeda dengan Farrel yang tampak santai seperti biasa. Dia duduk di samping Nabila dan langsung menyambar air minum dan meneguknya.
"Apa kalian ada acara hari ini.? Bagaimana kalau kita jalan-jalan berempat.?" Ucap Davina antusias.
Dia ingin memanfaatkan hari libur untuk menghabiskan waktu bersama pengantin baru agar bisa memata-matai mereka.
"Kami sibuk.!" Dengan cepat Farrel menolak ajakan Davina.
Nabila menoleh, dia tampak tak enak hati pada Davina karna jawaban ketus suaminya.
"Sibuk apa.? Ini hari minggu, kuliah juga libur." Davina terlihat kesal karna ajaknnya di tolak mentah-mentah oleh Farrel.
"Kamu itu seperti tidak pernah merasakan pengantin baru saja.!" Ujar Farrel ketus.
Semua orang yang ada di meja makan sampai membulatkan matanya, otak mereka berkelana kemana-mana.
__ADS_1
Davina yang hendak menanggapi ucapan Farrel, langsung di cegah oleh Dave saat melihat Sandra dan Edwin berjalan ke arah ruang makan.