
Davina tak menyerah sampai di situ. Dia masih berdiri di depan pintu kamar Farrel dan mengetuknya berulang kali. Sembari mengawasi kondisi sekitar, Davina tidak mau kalau sampai ada orang lain yang melihatnya. Karna jika benar di dalam kamar Farrel ada seorang wanita, sudah pasti Farrel akan mendapatkan hukuman besar dari Mama Sandra. Belum lagi kemungkinan kalau dua sejoli itu akan di nikahkan secepatnya.
Davina tidak akan rela jika saudara tirinya menikah dengan wanita sembarangan.
"Kak, aku mohon buka pintunya."
"Wanita itu harus keluar dari rumah ini." Lirih Davina. Meski begitu, suaranya masih bisa di dengar oleh Farrel di dalam kamar.
"Kalau Mama tau, Kak Farrel bisa di,,,
Davina terdiam melihat pintu kamar yang kembali terbuka. Tatapan mata Farrel jelas menunjukkan kekesalan pada Davina lantaran sudah mencampuri urusannya.
Kemunculan seorang wanita seksi dari dalam kamar Farrel membuat Davina membedakan matanya. Dua bola matanya seolah akan keluar dari tempatnya. Walaupun dia sudah curiga dengan keberadaan wanita itu, tapi tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat wanita itu keluar dari kamar Farrel.
Davina hampir tidak percaya Kakak tirinya itu berani membawa seorang wanita ke dalam kamarnya dalam keadaan rumah yang cukup ramai. Meski hampir semua penghuni rumah ada di halaman belakang.
"Astaga Kak,, bagaimana kalau Mama melihatnya.?" Ucap Davina panik.
Dia mengedarkan pandangan ke sekitar untuk memastikan tidak ada siapapun di sana.
Padahal Farrel yang melakukan kesalahan, tapi malah Davina yang panik dan takut. Sedangkan laki-laki itu tampak santai saja, tak ada sedikitpun rasa takut di raut wajahnya.
"Kamu.! Cepat pergi dari sini.!" Davina memberanikan diri mengusir wanita yang masih berdiri di samping Farrel. Tidak peduli Farrel akan semakin marah padanya, yang penting Mama Sandra tidak melihat keberadaan wanita itu.
Wanita itu hanya melirik sinis tampa menggubris ucapan Davina. Dia justru terang-terangan mengecup pipi kanan Farrel. Tindakan memalukan yang membuat Davina melongo.
Melihat tingkah dan penampilan wanita itu, sudah bisa di pastikan kalau dia memang bukan wanita baik-baik.
Farrel memberikan kode dengan gerakan kepala. Dia menyuruh wanitanya pergi dari sana.
"Aku tunggu di apartemen,," Wanita itu mengedipkan sebelah matanya.
"Urus dulu adikmu yang menyebalkan ini.!" Cibirnya dengan tatapan sini.
"Kau bilang apa.?!" Seru Davina tak terima.
"Silvia.!" Tegas Farrel. Dia kembali memberikan kode agar Silvia pergi dari sana.
Wanita itu langsung menatap Farrel, lalu mengangguk dan buru-buru pergi.
__ADS_1
"Jangan lupa nanti malam,," Kata Silvia sembari berlalu dari sana.
"Puas kamu.?!!" Sentak Farrel.
Dia menghela nafas kasar, menahan kekesalan pada Davina lantaran mengganggu kesenangannya.
Dia hendak masuk ke dalam kamar, tapi Davina menahan tangannya.
"Aku tidak bermaksud mencampuri urusan Kakak."
"Tapi apa Kak Farrel pernah berfikir dampak dari perbuatan Kakak yang seperti ini.?"
"Bagaimana kalau wanita itu hamil dan meminta pertanggungjawaban."
"Mama pasti menginginkan menantu baik-baik, bukan wanita yang,,,"
Davina tak meneruskan ucapannya, dia takut menyinggung Farrel.
"Aku minta maaf. Tapi aku harap Kak Farrel lebih bisa menahan diri." Davina melepaskan tangan Farrel. Dia kemudian berlalu dari sana dan mengurangkan niatnya untuk membahas tanda kepemilikan di leher Nabila.
...****...
"Kamu kenapa.?" Dave mengusap pipi Davina. Istrinya itu tampak gelisah sejak tadi. Tepatnya setelah makan malam dan pindah ke ruang keluarga.
Dave mengerutkan kening, dibuat penasaran karna Davina langsung bungkam.
"Kenapa.?" Dave mengulangi perbuatannya.
Davina kemudian mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Dave.
Kedua mata Dave tampak membulat sempurna.
"Jangan sampai Kak Farrel pergi malam ini." Lirih Davina setelah menjauhkan wajahnya.
"Harus dengan alasan apa.?" Tanya Dave. Dia tampak tidak bersemangat untuk menjalankan perintah Davina. Tapi di sisi lain dia juga tidak mau melihat keponakannya melakukan hal gila berulang kali.
"Mas mau ambil Susu milikku kan, ajak Kak Farrel saja,," Usul Davina.
Dave memang mau pergi ke apartemen untuk mengambil stok susu milik Davina yang masih bertumpuk di dapur.
__ADS_1
1 minggu yang lalu mereka habis pergi belanja dan membeli susu khusus ibu hamil untuk stok selama 2 bulan ke depan.
Jadi akan mereka pindahkan ke rumah Mama Sandra lantaran mulai malam ini mereka akan tinggal di rumah Mama Sandra. Dave juga harus mengambil laptop dan beberapa perlengkapan kerjanya.
"Baiklah,, sesuai permintaan tuan putri." Jawab Dave.
Senyum Davina mereka. Akhirnya dia bisa menggagalkan rencana Farrel yang akan pergi ke apartemen wanita itu.
...*****...
"Kenapa tidak pergi sendiri saja.!" Farrel menggerutu, tapi laki-laki itu tetap mengikuti langkah Dave menuju garasi.
"Barang bawaan ku banyak, tidak bisa di aku bawa sendiri." Jawab Dave.
"Soal masalah yang dulu, aku minta maaf." Nada bicara Dave terdengar tulus. Agaknya dia ingin menghapus konflik yang pernah ada di antara dia dan Farrel.
Farrel menatap serius. Untuk pertama kalinya dia mendengar kata maaf dari mulut Dave.
Padahal kata-kata itu sangat keramat bagi Dave. Karna pria itu memang jarang mengakui kesalahannya, apa lagi mau meminta maaf.
"Lupakan saja,," Jawab Farrel acuh. Lagipula dia juga tidak mau mempermasalahkan persoalan yang telah lalu.
"Aku dengar, kamu membawa wanita masuk ke kamarmu. Siapa wanita itu.?" Kini raut wajah Dave yang terlihat serius.
Farrel berdecak kesal. Rupanya Davina mengadukan hal itu pada Dave.
"Bukan urusan Om." Jawab Farrel datar. Dia kemudian segera masuk ke dalam mobil Dave.
Dave tampak menarik nafas dalam sebelum akhirnya menyusul Farrel ke mobil.
“Apa belum puas bersenang-senang di New York.?" Ujar Dave. Selama ini dia membebaskan Farrel melakukan apapun selama kuliah di New York. Karna Dave tau jika wanita-wanita di sana tidak akan menuntut apapun, dan di pastikan tidak akan hamil dan meminta pertanggungjawaban.
"Ini Jakarta, bukan New York." Tutur Dave lagi.
Farrel tampak malas untuk merespon, dia memilih diam dengan pandangan lurus ke depan.
"Kamu harus pintar-pintar memilih pasangan."
"Jangan sampai menyesal di kemudian hari."
__ADS_1
Kali ini Dave hanya ingin menasehati Farrel tanpa mau menyalahkan ataupun melarang Farrel bersenang-senang dengan siapapun.
Dia ingin Farrel lebih berhati-hati jika ingin menjalin hubungan dengan seseorang.