
"Saya sudah membuat laporan dan membawa berkas yang harus Pak Dave tanda tangani." Fira menyodorkan laporan dan berkas di atas meja kerja Dave.
Dia mengukir senyum seraya menatap wajah Dave. Memiliki bos tampan dan cool memang menjadi ujian tersendiri.
Nyatanya bukan hanya dia saja yang selalu mencuri pandang jika ada kesempatan. Karyawan yang lain juga melakukan hal serupa.
"Terimakasih. Kamu boleh kembali ke mejak kerjamu."
"Akan saya tanda tangani nanti." Dave menutup berkas itu dan sedikit menggeser ke tepi meja.
Dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya di laptop.
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi." Fira pamit keluar. Dia sempat melirik ke arah Davina seraya mengukir senyum tipis dengan anggukan kepala.
Fira tampak berusaha bersikap ramah pada Davina, sayangnya Davina sudah terlanjur kesal pada wanita itu lantaran terlihat suka menggoda Dave.
"Ck,, menyebalkan sekali wajahnya." Celetuk Davina begitu pintu ruangan ditutup oleh Fira.
Dave tampak mengulum senyum melihat istrinya sedang menggerutu saraya mencebikkan bibirnya. Davina malah terlihat lebih menggemaskan kalau sedang dalam mode cemburu. Tapi sedikit mengkhawatirkan kalau kecemburuannya di sertai dengan amarah.
Dave memilih diam jika sudah seperti itu. Mana berani dia melawan singa yang sedang marah.
"Aku juga tidak suka melihat wajahnya. Lebih suka melihat wajah cantikmu." Ucap Dave menimpali. Senyumnya makin merekah saja karna bisa menggoda Davina.
"Bohong.!" Seru Davina cepat. Rupanya dia tidak percaya dengan bualan suaminya.
Mungkin karna Dave sudah sering memujinya jika dia sedang merajuk, itu sebabnya Davina yakin kalau ucapan Dave hanya untuk menenangkannya saja.
"Mana mungkin aku bohong." Ujar Dave menyangkal.
"Memangnya kenyataannya seperti itu, aku lebih suka menatap wajahmu." Dave kemudian beranjak dari duduknya, menghampiri Davina yang masih tampak mencebikkan bibirnya.
Berdiri di depan Davina, Dave menundukkan badan dengan kedua tangan yang bertumpu pada kepala sofa. Dia mengurung Davina dengan kedua tangannya.
"Mas,, mau apa.?" Davina memundurkan kepalanya lantaran wajah Dave terlalu dekat hingga hembusan nafasnya mampu menyapu wajahnya.
"Apa lagi kalau bukan menatap wajah kamu." Dave menyeringai. Senyum seperti ini yang mampu meluluhlantakkan pertahanan Davina. Dia yang tadinya ingin merajuk pada Dave, seketika pasrah begitu saja dalam kungkungan Dave.
Dave semakin maju, hidung mancungnya bahkan sudah bersentuhan dengan hidung Davina.
__ADS_1
"Mas,, pintunya belum di kunci." Davina menahan dada bidang Dave yang hendak menciumnya.
"Untuk apa di kunci, aku hanya ingin mencicipi bibir manis ini." Dave menyentuh bibir Davina dengan jari telunjuk dan jempolnya. Beberapa detik kemudian bibir keduanya sudah menyatu.
Keduanya seperti ABG yang baru di mabuk cinta. Rasanya tak pernah bosan untuk sekedar bermesraan dengan bertukar saliva.
"Permisi Dave, aku,,, astaga.!!"
Kedua mata Raka membulat sempurna melihat pemandangan panas di depan matanya. Hanya berjarak 6 meter, dia melihat jelas bagaimana keduanya saling melu mat hingga menimbulkan suara kecapan bibir yang beradu.
Mendengar suara Raka, keduanya sontak melepaskan ciuman. Davina langsung memalingkan wajah lantaran malu pada asisten suaminya itu.
Sementara itu Raka terlihat menelan ludah dengan susah payah. Raut wajahnya tampak tertekan dan ketakutan akibat tatapan tajam Dave.
"Ma,,maaf Dave, aku tidak sengaja melihatnya." Ucap Raka gugup.
Dia melangkah mundur, tentu berniat untuk menghilangk dari hadapan Dave agar tidak mendapatkan amukan dari bosnya itu.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu.?!" Teriak Dave geram.
"Aku sudah mengetuk pintu seratus kali, tapi kamu tidak menjawabnya jadi,,,"
"Dave, sudah." Davina menyentuh tangan suaminya yang sedang murka.
"Kak Raka tidak sengaja, lagipula kamu sendiri yang tidak mau mengunci pintunya." Davina justru terlihat memojokkan Dave.
"Maaf Dave,,!" Seru Raka. Dia langsung menghilang dari balik pintu dalam hitungan detik. Dia kabur begitu ada kesempatan.
"Dasar asisten sialan.!! Mengganggu saja.!" Dave menggerutu seraya menatap pintu ruangan yang baru saja tertutup.
Davina menahan senyum, dia merasa lucu sekaligus kasihan pada Dave. Karna tadi Dave sedang semangat-semangatnya memagut bibir.
"Kita masih bisa melakukannya lagi kan.?" Ujar Davina untuk meredakan kekesalan Dave.
Mendengar hal itu, Dave tampak kembali bersemangat.
"Kunci dulu pintunya." Pinta Davina. Tanpa menunggu lama Dave langsung berjalan ke arah meja kerjanya untuk mengunci pintu secara otomatis.
*****
__ADS_1
Dave membukakan pintu mobil untuk Davina. Keduanya meninggalkan kantor pukul 2 siang.
Dave tidak tega membiarkan Davina berlama-lama di dalam ruangannya.
Begitu Davina masuk, Dave segera menyusul ke dalam mobil.
"Besok ikut Papa ke kantor lagi ya,," Ucap Dave seraya mengusap perut besar Davina.
Dave tampak bersemangat mengajak Davina ikut ke kantornya lagi.
"Dasar mesum.! Bilang saja biar besok bisa dapat jatah lagi di kantor." Davina menangkup gemas wajah Dave.
Rupanya Davina sudah tau isi kepala Dave yang tak pernah jauh dari urusan ranjang.
"Kamu memang istri pengertian." Kata Dave. Dia mendaratkan kecupan di kening Davina, lalu turun ke perut besarnya.
"Papa sudah tidak sabar bertemu kamu,," Dave mengusap lembut perut Davina serta mengecupnya.
"Aku juga tidak sabar bertemu Papa,," Dengan suara yang di buat seperti anak kecil, Davina membalas ucapan Dave.
"Kau ini,," Dave mencubit gemas hidung Davina.
Keduanya lalu terkekeh. Tawa di wajah mereka terlihat sangat lepas. Cinta dan kebahagiaan tampaknya memenuhi hati dan kehidupan mereka berdua.
Sampainya di rumah Mama Sandra, keduanya jalan beriringan memasuki rumah.
Suara bising dari arah ruang keluarga membuat keduanya memutuskan untuk pergi ke sana.
"Mas, kenapa ada Nabila.?" Davina menghentikan langkah Dave dengan memegangi tangannya.
Dia berhenti cukup jauh dari tempat mereka berkumpul.
Di sana ada Papa Edwin, Mama Sandra, Farrel dan juga Nabila.
"Mana aku tau sayang. Kita bahkan baru pulang." Jawab Dave.
"Tunggu dulu,, jangan bilang kalau perempuan yang di bawa ke kamar kak Farrel adalah Nabila.?" Ujar Davina lirih. Dia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Dia sangat yakin dengan kalau Nabila lah orangnya. Itu sebabnya saat ini Nabila berada di sana. Karna tadi pagi Mama Sandra menyuruh Farrel untuk membawa perempuan yang dia masukkan ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Ya ampun, Kak Farrel benar-benar keterlaluan." Davina menatao kesal dari kejauhan. Dia sangat kecewa karna Farrel sudah merusak Nabila.