Lahirnya Sang Pewaris

Lahirnya Sang Pewaris
Bab 15


__ADS_3

Dave tampak menelan ludah melihat tagihan yang harus dia keluarkan untuk membayar semua belanjaan Davina di toko branded itu.


Selama ini Davina memang belum pernah belanja menggunakan uangnya, dan sekalinya dia menawarkan Davina belanja malah menguras isi atmnya.


Walaupun Dave masih bisa membayar semua tagihan itu, tapi tetap saja dia dibuat syok melihat nominal angka yang hampir menyentuh 1 M.


"Maaf Nona, apa semua belanjaannya mau di bawakan ke mobil.?" Tanya salah satu kasir toko.


Dia menawarkan bantuan lantaran barang yang di beli oleh Davina cukup banyak. Lebih dari 10 pasang sepatu dan tas yang entah berapa banyak jumlahnya.


"Tidak Kak, terimakasih." Jawab Davina dengan seulas senyum tipis.


"Biar suami saya saja yang bawakan semua belanjaannya." Ujarnya enteng.


Sedangkan Dave tampak melongo setelah mendengar perintah dari Davina.


Setelah menguras isi atmnya, sekarang Davina malah menyuruh untuk membawakan semua belanjaannya seorang diri.


Padahal pelayan toko dengan suka rela mau membantunya untuk membawa belanjaan ke mobil mereka.


Dave menghela nafas. Antara pasrah dan kesal mendapatkan perintah dari istrinya yang tengah hamil itu.


Mau menolak pun dia tidak bisa karna takut Davina akan marah padanya.


"Iya, biar saya bawa sendiri saja." Kata Dave datar. "Bisa pinjam troli.?" Tanyanya setelah menemukan ide untuk membawa semua belanjaan itu dengan cara mudah.


"Tentu. Sebentar akan saya ambilkan,," Salah satu pelayan hendak pergi untuk mengambilkan troli yang di minta oleh Dave. Namun baru beberapa langkah sudah di larang untuk mengambilnya.


"Tidak perlu mengambil troli Kak, suami saya punya dua tangan. Dia bisa membawanya pakai kedua tangannya." Ucap Davina.


Dia tersenyum puas ke arah Dave. Setidaknya dengan cara menguras isi atm Dave menyuruhnya untuk membawanya semua belanjaan miliknya, sudah cukup membuatnya puas.


Tapi itu tidak seberapa, Davina masih punya cara untuk memberi hukuman pada Dave karna sudah berani mengirimkan kata-kata romantis yang dibuatkan oleh Fira.


"Tapi belanjaan kamu sangat banyak sayang, mana bisa aku,,,

__ADS_1


Davina langsung memasang wajah cemberut. Menatap kesal pada Dave yang membuat Dave tidak berani untuk membantah lagi.


"Baiklah, aku akan membawanya." Ujar Dave pasrah.


Dia memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam saku celana, kemudian mengambil satu persatu paper bag di atas meja kasir.


"Terimakasih suamiku,, kamu baik sekali," Puji Davina sembari menahan tawa.


Sekali-kali memang perlu memberikan pelajaran pada Dave. Jika biasanya dia yang menyuruh-nyuruh orang, kirini giliran dia yang di suruh-suruh.


Dave tampak mengacuhkan pujian Davina. Dia sedang kebingungan mencari cara agar bisa membawa semua paper bag itu dengan kedua tangannya.


Dave memasukkan satu persatu tali paper bag kedalam tangannya. Ada 6 paper bag yang masuk ke dalam tangan kirinya hingga sebatas siku.


Sedangkan di tangan kanannya harus membawa 7 pager bae.


Yang membuat Dave kewalahan adalah, semua paper bag itu berukuran besar.


Sementara itu Davina semakin menahan tawa melihat kesulitan yang di alami oleh suaminya.


Bahkan tidak ada niatan sedikitpun untuk membawakan salah satu paper bag itu.


Dia sebenarnya sudah tau sejak awal kalau Davina akan mengerjainya.


Lebih tepatnya saat Davina asal mengambil sepatu yang di lihat tanpa mencobanya lebih dulu. Tidak peduli muat atau tidak, Davina ngambilnya begitu saja.


"Belum." Jawab Davina dengan nada menantang.


"Kamu keterlaluan sekali,," Desah Dave lesu.


"Makanya lain kali pikir-pikir dulu sebelum melakukan sesuatu.!" Davina menggerutu. Sebenarnya memang masalah sepele, tapi kalau di biarkan akan menjadi kebiasaan dan Dave akan terus mengulanginya karna merasa itu bukan sebuah kesalahan.


"Apa Mas mau ngerasain bagaimana rasanya mendapat kiriman kata-kata romantis dariku tapi ternyata kata-kata itu dibuat oleh laki-laki lain." Kedua manik mata Davina sedikit melotot.


"Iya maaf, aku janji tidak akan menerima bantuan dari dia lagi." Ucap Dave. Dia tentu menyesal dan mengakui kesalahannya.

__ADS_1


"Tau begini, lebih baik aku mencontek di internet saja." Tuturnya yang sontak membuat Davina mencubit lengannya.


"Aww,, sakit Davina,," Dave meringis. Dia hanya menatap lengannya yang baru saja di cubit oleh Davina, tanpa bisa mengusapnya karna sedang kewalahan membawa belanjaan.


"Kamu tetap marah kalau aku mencontek dari internet.?" Tanyanya.


"Tentu saja."


"Lagipula Mas Dave itu seorang CEO, masa membuat kata-kata romantis saja harus mencontek di internet.!" Bibir Davina mencebik kesal. Suaminya itu benar-benar tidak romantis sama sekali. Hanya pandai mengatakan i love you dan pintar membujuknya untuk bermain di atas ranjang.


"Memangnya kenapa kalau seorang CEO tidak bisa membuat kata-kata puitis.?"


"Lagipula saat kuliah juga hanya belajar tentang bisnis, bukan tentang perasaan." Jawab Dave.


Jawaban Dave tampak membuat kepala Davina mengeluarkan asap. Dia terlihat geram namun malas untuk berdebat lagi, dan akhirnya memilih diam.


...*****...


Keduanya kembali ke hotel selesai makan malam.


Davina yang kelelahan setelah mengunjungi tempat indah di kota itu, tampak terlelap di pangkuan Dave.


Begitu sampai, Dave langsung menggendong Davina menuju kamar dan meminta supir untuk membawakan semua barang belanjaannya.


"Kamu belum membayarku tapi sudah terlelap seperti ini." Gumam Dave seraya membaringkan Davina di atas ranjang.


Dia melepaskan sepatu Davina, setelah itu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti baju tidur.


Saat kembali ke kamar, posisi tidur Davina tampak berubah. Ibu hamil itu tidur dengan posisi miring dengan dress yang semakin tersingkap ke atas.


Dave tampak menelan salivanya. Adiknya di bawah sana sudah tidak tahan sejak masih di dalam mobil. Sekarang malah di suguhkan dengan pemandangan indah yang membuat adiknya semakin meronta dan meminta keluar dari tempatnya.


"Maaf sayang,, aku sudah tidak tahan lagi." Dave mendekat, dia naik ke atas ranjang dengan hati-hati.


Tidak peduli meskipun Davina sedang tidur, yang penting bisa membuat adiknya tenang. Begitu pikir Dave.

__ADS_1


Dave benar-benar nekat, kini dia mulai melepaskan hot pants Davina dan menggerayangi tubuh istrinya itu sambil terus menahan diri agar tidak melakukan gerakan yang bisa membuat Davina terbangun.


"Kenapa jadi seperti sedang mem per k0s@,," Gumam Dave sambil menahan senyum. Tapi dia justru menikmatinya karna memberikan sensasi tersendiri ketika menggerayangi Davina dalam keadaan tertidur.


__ADS_2