
1 berlalu,,,
Mendiamkan Dave sejak tadi pagi, sebenarnya Davina kasihan pada suaminya itu. Tapi karna ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun suaminya nanti malam tepat jam 12, Davina tetap pada pendiriannya dengan bersikap acuh pada suaminya.
Tadi pagi bahkan tak ada acara menyiapkan baju kantor untuk Dave. Tidak menyiapkan air untuk mandi, dan tak menyiapkan sarapan.
Davina membiarkan suaminya itu melakukan semuanya sendiri.
Bahkan tega tak mengantar Dave ke depan saat suaminya pamit untuk berangkat. Davina malah pura-pura sibuk mengajak Nabila berbcara.
Masih jelas di ingatan Davina bagaimana menggemaskannya mimik wajah Dave yang cemberut lantaran dia hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun saat Dave pamit.
Sedangkan biasanya Davina akan bergelayut manja di lengan Dave sampai mengantarnya ke depan dan menyuruhnya untuk hati-hati beserta dengan sebuah kecupan manis di pipi.
Kue ulang tahun sudah ada di rumah, begitu juga dengan kado yang sejak jauh-jauh hari Davina siapkan untuk suaminya.
Semua jam mewah keluaran terbaru dari brand yang biasa di pakai oleh Dave.
Hadiah itu mungkin tak seberapa bagi Dave karna pria itu bisa membelinya berapapun yang dia mau.
Tapi sebuah surat berisi ungkapan hati seorang istri pada suaminya, tak akan bisa Dave dapatkan meski dia memborong jam tersebut di tokonya.
Davina yakin suaminya itu akan menangis setelah membaca surat itu, dan pastinya itu yang akan menjadi kado spesialnya.
"Kak Vina,, Om Dave sudah pulang,," Nabila setengah berlari menghampiri Davina di ruang keluarga.
Mengetahui hal itu sontak membuat Davina kalang kabut, dia langsung beranjak dari sofa.
"Baiklah, aku akan masuk ke kamar."
"Makasih banyak Bila,," Davina berjalan cepat meninggalkan ruang keluarga. Dengan perutnya yang sudah membesar maksimal karna mendekati HPL, dia tetap berhati-hati meski terkesan terburu-buru menuju kamar.
Masuk kedalam kamar, Davina bersembunyi di balik selimut. Menutupi tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher kemudian memejamkan mata untuk tidur.
Davina sengaja ingin membuat Dave semakin kesal. Jadi sejak pagi sampai larut malam nanti tak akan ada interaksi antara fdi dan Dave.
Sebelumnya Davina sudah mengatur alarm sebelum jam 12. Saat itu dia bangun dan diam-diam keluar dari kamar untuk memberikan kejutan.
__ADS_1
Bergegas naik ke lantai dua untuk pergi ke kamarnya, Dave tampak penuh semangat.
"Sayang,,, aku pulang,,," Serunya setelah membuka pintu. Suara Dave terdengar penuh kerinduan. Namun sesaat hening lantaran dia melihat Davina sudah terlelap.
Alih-alih di sambut sangat istri tercinta setelah lembur bekerja, Dave malah menelan kekecewaan karna istrinya itu malah tertidur.
Berjalan pelan ke arah ranjang, raut wajah Dave tampak masam dan lesu.
Seharian sikap Davina berubah padanya. Berubah 180 derajat dan itu membuatnya bingung.
Dia merasa tak melakukan kesalahan apapun sebelumnya. Bahkan kemarin malam masih bercengkrama seperti biasa.
"Apa semua ibu hamil menjelang melahirkan jadi berubah sikap seperti ini.?" Gumam Dave lirih. Di tatapnya wajah cantik istrinya yang terlelap. Perlahan dia menunduk dan mendaratkan kecupan di kening, hidung, pipi dan terakhir bibir dengan sedikit melu matnya.
"Dasar buaya, pintar mencuri kesempatan."
Davina bergumam dalam hati. Dia merasakanbibir basah Dave yang membasahi bibirnya.
"Rasanya tidak sanggup diamkan seharian olehmu." Dave mengeluh sendu.
Tangan Dave kini menyasar perut Davina. Dia memberikan usapan lembut penuh cinta di sana, seolah usapan itu di lakukan pada anaknya.
"Sayang, tolong bilang pada Mama supaya berhenti mendiamkan Papa." Bisik Dave dengan suara yang terdengar menyedihkan. Dia mencurahkan isi hatinya pada sang anak yang masih di dalam kandungan. Seakan-akan anaknya itu bisa membantunya setelah dia mengadu.
Hampir pukul 11 malam, Dave belum juga memejamkan mata. Dia masih memikirkan sikap istrinya, berharap besok pagi sikap Davina akan kembali seperti sebelumnya.
Sementara itu, Davina justru sudah terlelap. Meski awalnya sedang pura-pura tidur, tapi akhirnya dia memejamkan mata juga. Apalagi saat merasakan pelukan hangat sang suami yang seolah tidak rela melepaskannya. Mendekap erat dengan tubuh yang menempel di punggungnya.
Perlahan Dave mulai memejamkan mata. Meski masih memikirkan Davin, tapi rasa kantuk dan lelah membuat Dave akhirnya masuk ke dalam alam mimpi.
Tak berselang lama, suara rintihan kesakitan memaksa Dave harus bangun dari tidurnya.
"Aaww,,, perutku sakit,,,"
Dave di buat syok dan panik ketika melihat Davina sedang duduk bersender sembari memegangi perutnya. Dari ekspresi wajahnya bisa dilihat seberapa besar rasa sakit yang sedang dia tahan saat ini.
"Sayang,, kenapa.?" Dave dengan sigap mengubah posisi duduk di samping Davina dan ikut mengusap perut istrinya.
__ADS_1
"Perutku sakit Mas,, sepertinya dia mau lahir,," Davina bahkan menjawab sembari meringis kesakitan. Matanya sudah berkaca-kaca, terlihat sedang menahan tangis.
Tanpa pikir panjang, Dave langsung menggendong Davina dan membawanya keluar dari kamar.
Meski tak membangunkan siapapun, tapi suara tangis Davina mampu membangunkan penghuni rumah.
"Sayang,, perutku sakit sekali,," Davina sudah bercucuran air mata. Dia sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya.
"Davina, Dave,, ada apa.?" Mama Sandra tampak panik, begitu juga dengan Papa Edwin yang langsung menghampiri putrinya.
"Sepertinya Davina mau melahirkan. Tunggu sebentar, Papa akan siapkan mobil." Ucapnya hampir tanpa jeda. Dia kemudian bergegas masuk ke kamar lagi untuk mengambil kunci mobil.
Kepanikan dan kecemasan jelas terlihat di sana. Begitu juga Nabila yang menatap tak tega pada Davina karna terus meringis kesakitan. Namun dia tidak berani mendekat karna takut.
Jadi hanya bisa berdiri di depan pintu kamar dan melihat kepergian Vano, Davina serta Mama Sandra yang menuruni tangga.
"Ada apa.? Kenapa berisik sekali.?" Tanya Farrel yang baru saja bangun.
Menyadari ada keberadaan Farrel, Nabila langsung menoleh. Tapi alangkah terkejutnya dia saat melihat Farrel hanya memakai celana dlm saja.
"Ya ampun Kak, bisa-bisanya kamu tidak pakai baju keluar kamar seperti ini." Nabila melongo tak habis pikir, sepertinya suaminya itu lupa kalau mereka baru saja melakukan percintaan dan Farrel memang tidak memakai lagi baju serta celana pendeknya.
Buru-buru Nabila menarik tangan Farrel agar masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
"Aku lupa." Ucap Farrel dengan entengnya. Dia berjalan ke arah ranjang dan kembali merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut.
"Kenapa malah tidur lagi.? Davina mau melahirkan, apa kita tidak ikut ke rumah sakit.?" Nabila duduk di sisi ranjang, mengajak bicara suaminya yang sudah memejamkan mata.
"Untuk apa.? Sudah ada suaminya, Mama dan Papa juga pasti ikut ke rumah sakit."
"Lebih baik kita tidur saja." Dengan sekali tarikan, Farrel berhasil membuat Nabila terjerembab ke atas tubuhnya.
"Farrel, hentikan.!" Nabila memukul pelan dada bidang suaminya yang akhir-akhir berubah sikap. Tak lagi ketus dan kasar padanya, meski lebih banyak datar tanpa ekspresi. Tapi Farrel selalu menempel padanya setiap malam. Entah karna sudah tergila-gila padanya, atau hanya sekedar untuk memuaskan hasratnya semata.
"Bagaimana dengan kejutan ulang tahun Om Dave.? Kasihan Kak Davina sudah menyiapkan semuanya." Nabila jadi memikirkan nasib kue ulang tahun yang ada di dalam kamarnya.
Kue yang seharusnya di ambil Davina 10 menit lagi. Tapi Davina malah akan melahirkan.
__ADS_1