
Davina buru-buru memakai kembali dressnya.
Begitu juga dengan Dave yang baru selesai memaksa celananya.
Percintaan panas itu benar-benar dilakukan di dalam ruangan yang seharusnya untuk rapat.
Dengan alasan memberikan hukuman pada Davina, Dave bisa menuntaskan hasratnya yang memang sejak kemarin malam dia tahan.
"Kamu ini benar-benar tidak tau tempat Mas." Davina kembali menggerutu. Dia kesal lantaran Dave tidak mau menundanya meski sudah di peringatkan berkali-kali.
Padahal Davina sudah menjanjikan akan melayaninya setelah Dave melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya.
"Itu karna kamu terlalu menggoda, aku jadi tidak tahan." Jawab Dave. Sedikitpun tak menunjukkan rasa bersalah, padahal Davina sudah mencebikan bibir sejak tadi.
"Itu karna Mas saja yang otaknya terlalu mesum,,!" Sahut Davina. Dia kemudian melenggang keluar dari ruangan itu untuk kembali ke kamarnya. Dia ingin mandi untuk menyegarkan badannya yang dipenuhi keringat hasil mencari kepuasan bersama.
Dave tak menanggapi lagi ucapan Davina, dia hanya mengukir senyum sembari melihat kepergiannya.
Sebenarnya Dave ingin menyusul Davina ke kamar agar bisa mandi bersama. Tapi setelah ingat dengan pekerjaannya yang belum selesai, dia langsung mengurungkan niatnya dan terpaksa hanya membersihkan diri di ruangan tersebut.
Dave segera menghubungi Raka dan Fira selesai membersihkan diri. Dia menyuruh mereka untuk kembali.
...****...
"Kira-kira apa yang baru saja mereka lakukan di dalam.?" Ujar Fira pada Raka yang berjalan tegap di sampingnya.
Raka melirik sinis. Menurutnya pertanyaan Fira tidak pantas untuk di ucapkan. Apa lagi mereka sama-sama tau kalau Dave dan Davina sudan menikah. Jadi tidak ada salahnya mencuri kesempatan kapanpun dan dalam keadaan apapun.
"Kenapa menatapku seperti itu.?" Fira terlihat bingung. Dia merasa tidak melakukan kesalahan pada Raka, tapi laki-laki itu menatapnya sinis.
"Lalu kenapa kamu bertanya seperti itu.?!" Balas Raka sewot.
"Mereka sudah menikah, apapun yang mereka lakukan bukan menjadi urusan kamu." Ketusnya.
"Yang terpenting mereka tidak melakukannya di depan mata kita." Raka membuat Fira tak berkutik. Wanita itu seketika terdiam dan tidak berani menimpali perkataan Raka yang terlalu menohok.
Setelah masuk ke kamar hotel Dave, keduanya langsung menuju ruangan tadi. Di sana tampak Dave tengah duduk di depan laptop yang menyala, dia hanya menoleh sekilas setelah mempersilahkan keduanya untuk masuk.
Fira melangkahkan kaki dengan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Wanita itu seperti mencari keberadaan Davina yang seharusnya ada di sana tapi kini tinggal Dave seorang diri.
Baik Raka maupun Fira, keduanya berjalan sembari memperhatikan Dave dan keadaan di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Duduk.!" Titah Dave datar. Dia sadar kalau Fira dan Raka sedang menatapnya dengan pikiran yang entah seperti apa. Itu sebabnya dia buru-buru menyuruh keduanya untuk duduk, kemudian memberikan pekerjaan pada mereka agar memiliki kesibukan. Jadi mereka tak akan punya waktu untuk sekedar memikirkan apa yang baru saja terjadi di ruangan itu.
...****...
"Jadi aku tidak boleh ikut.?" Davina menatap kesal. Dave akan pergi rapat dan meninggalkannya seorang diri di hotel.
"Bukannya tidak boleh, tapi rapatnya akan memakan waktu yang cukup lama."
"Aku tidak tenang kalau membiarkanmu menunggu sendirian di luar ruangan. Jauh lebih aman kalau kamu tetap berada di hotel dan menungguku pulang." Ucap Dave membujuk.
Lagi-lagi dia harus di hadapkan dengan kesulitan untuk membujuk Davina. Istrinya itu seolah ingin selalu berada di sampingnya, ingin ikut kemanapun dia melangkah.
"Memangnya salah satu dari mereka tidak bisa menemaniku di sana.?" Tanya Davina.
"Mereka siapa.?" Dave menautkan alisnya.
"Siapa lagi kalau bukan Kak Raka atau Fira.!" Nada bicara Davina terdengar ketus, namun hanya pada saat menyebutkan nama Fira. Bahkan meski tau kalau Fira jauh lebih tua darinya, Davina hanya menyebut namanya saja.
Dave menarik nafas dalam. Bagaimana mungkin dia membiarkan Raka ataupun Fira menemani Davina, sedangkan mereka berdua sama-sama di butuhkan untuk menemaninya rapat.
Raut wajah Dave terlihat frustasi. Rupanya semakin hari sikap Davina semakin menguji kesabarannya. Di sisi lain ada hal-hal yang sebenarnya tidak bisa di turuti oleh Dave, namun karna tidak mau melihat Davina sedih dan marah padanya, Dave terpaksa menuruti semua permintaan Davina. Tapi kali ini Dave benar-benar tidak bisa mengiyakan keinginan Davina karna keadaan.
Pria itu terlihat berlutut di hadapan Davina. Wajahnya tepat berada di depan perut besar Davina.
"Sayang,, tolong bujuk Mama agar mau menunggu Papa di sini." Ucap Dave lembut. Dia mengusap perut Davina berulang kali.
"Papa janji akan segera pulang begitu rapat selesai."
"Bukannya Papa tidak mau mengajak kamu dan Mamamu, tapi menunggu di sini jauh lebih aman dan nyaman."
Davina hanya diam, memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama apa yang dilakukan oleh Dave.
Pria itu terlihat sangat serius berkomunikasi dengan anaknya yang masih berada di kandungan Davina.
Wanita itu jelas tersentuh. Sikap Dave jelas memperlihatkan seberapa besar perhatian dan kasih sayangnya pada anak serta istrinya.
"Baiklah, aku tidak akan ikut." Ujar Davina pasrah.
"Tapi aku ingin setelah ini kita pergi jalan-jalan.!" Pintanya sedikit memaksa.
"Tentu saja sayang. Bukannya aku sudah janji akan mengajakmu pergi setelah rapat." Senyum di bibir Dave mengembang. Akhirnya Davina mau mendengarkan perkataannya.
__ADS_1
Di ciumnya perut Davina berulang kali sambil memeluknya, Dave kemudian berdiri dan bergantian mencium Davina.
"Terimakasih sudah mengerti." Ucap Dave.
Pada akhirnya dia bisa menjinakkan singa yang sedang kesal disertai menahan cemburu. Meski Dave tak menyadari jika istrinya itu menaruh cemburu pada sekretaris pribadinya.
...*****...
Wajah bahagia Dave menjadi pusat perhatian Fira dan Raka.
Keduanya tak henti-hentinya melirik ke arah Dave yang terus mengukir senyum sejak keluar dari kamar hotel.
Langkah kaki Dave juga terlihat sangat ringan.
"Sepertinya Pak Dave sedang bahagia,," Gumam Fira tanpa sadar. Saat itu juga dia langsung membungkam mulutnya sendiri. Tapi sayangnya sudah terlanjur di dengar oleh Dave, membuat bosnya itu langsung menoleh padanya.
"Sudah lama saya bahagia. Tepatnya sejak menikah." Sahut Dave. Ada kebanggaan tersendiri saat memberitahukan tentang kebahagiaannya.
"Jadi, kapan kalian berdua akan menikah.?" Tanyanya datar.
"Uhhukk,, uhhukk,,!!!"
Seketika Raka dan Fira tersedak bersamaan. Keduanya saling pandang dengan tatapan tidak suka.
"Ada apa dengan kalian.?" Dave menatap heran.
Dia merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya, tapi reaksi Fira dan Raka sangat berlebihan.
"Menikah.?!! Dengannya.?!!" Ucap keduanya bersamaan. Bahkan saling menunjuk satu sama lain.
"Aku tidak akan menikah dengan wanita ini.!" ketus Raka. Matanya menatap tajam, membuat Fira semakin kesal padanya.
"Kau pikir aku sudi menikah denganmu.?!" Balas Fira tak kalah ketus.
"Stop.!!" Seru Dave.
"Memangnya siapa yang menyuruh kalian menjadi pasangan suami istri.?!"
"Saya hanya bertanya, kapan kalian akan menikah."
"Saya tidak peduli dengan siapa kalian akan menikah."
__ADS_1
Dave jadi sewot sendiri karna Fira dan Raka salah paham dengan pertanyaannya.
Penjelasan Dave membuat keduanya terlihat malu.