Lahirnya Sang Pewaris

Lahirnya Sang Pewaris
Bab 38


__ADS_3

"Sudah malam, sebaiknya kalian tidur." Ucap Dave pada kedua anaknya.


"Aku belum mengantuk Pah, masih mau mengobrol dengan kak Adit." Elia menolak untuk beranjak dari ruang keluarga. Dia belum puas mwlengobrol dengan Aditya. Banyak hal yang ingin dia ceritakan pada Kakak laki-lakinya itu.


"Jangan membantah El, lagipula masih ada hari esok." Ucap Aditya menasehati.


"Ayo aku antar le kamarmu." Aditya beranjak dari duduknya. Dan tanpa di minta, Elia langsung ikut berdiri. Dia justru semangat karna Aditya mau mengantarnya ke kamar.


Keduanya lalu pamit untuk pergi ke lantai atas.


Kakak beradik yang tak memiliki hubungan darah itu terlihat saling mengasihi sebagai saudara.


Davina sampai berbinar menatap kepergian kedua anaknya itu.


"Aku tidak rela menyerahkan Elia pada laki-laki lain, begitu juga sebaliknya." Ucap Davina disaat Elia dan Aditya hilang dari pandangan.


Rasa sayang yang teramat besar pada mereka berdua, membuat Davina takut dan tidak rela jika mereka memilih pasangan hidup masing.


Mengingat bagaimana masa mudanya dulu yang pernah di kelilingi wanita dan laki-laki tak baik, membuat Davina takut jika anaknya salah dalam memilih pasangan.


Sampai akhirnya Davina berfikir untuk menjodohkan mereka di waktu yang tepat.

__ADS_1


Karna dia sangat mengenal sifat dan karakter keduanya. Dan Davina yakin bahwa Elia akan menjadi istri yang baik untuk Aditya, begitu juga sebaliknya.


"Mereka berhak memilih dan menentukan hidupnya sendiri sayang,, jangan memaksakan kehendak pada mereka." Dave hanya bisa memberikan pengertian pada istrinya, walaupun dia juga merasakan kekhawatiran yang sama.


"Tapi Mas, dengan apa yang akan dimiliki oleh Aditya nanti, aku yakin pasti banyak wanita yang mendekatinya hanya karna harta dan ketampanannya saja."


"Jaman sekarang terlalu sulit membedakan mana yang tulus dan mana yang modus."


Davina masih bersikeras pada pendiriannya dan berharap Dave akan mendukung keputusannya juga. Karna apa yang dia lakukan hanya demi kebaikan anak-anak mereka.


...*****...


"Kak Adit tidur di kamarku saja, aku ingin menceritakan sesuatu. Aku bahkan tidak berani menceritakannya pada Mama ataupun Papa." Pinta Elia sedikit merengek. Dia tidak mau melepaskan tangan Aditya dan memaksanya untuk masuk ke dalam kamar.


"Besok saja ceritanya,. sekalian pergi jalan-jalan." Bujuknya.


Elia menggeleng, dia tetap bersikeras ingin mengajak Aditya tidur di kamarnya.


"Kali ini saja pleaseee,," Elia memohon, wajah sendu dan memelasnya membuat Aditua tidak tega. Mau tidak mau, Aditya akhirnya menuruti permintaan adik manjanya itu yang sangat lengket dengannya.


"Kak,, jangan tidur dulu." Tegur Elia saat dia baru kembali dari kamar mandi. Hanya di tinggal 15 menit untuk gosok gigi dan memakai skincare, Aditya sudah berbaring dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Aku mau curhat." Elia tetap berbicara walaupun Aditya hanya berdeham tanpa membuka mata.


"1 bulan yang lalu saat aku pergi ke kampus, aku tidak sengaja menabrak laki-laki tampan. Kami lalu berkenalan dan belakangan ini dia sering menghubungiku." Ada binar tak biasa dari sorot mata Elia. Begitu juga nada bicaranya yang terdengar bahagia.


"Apa aku sudah boleh berpacaran.?" Tanya Elia dengan hati-hati. Sejujurnya sudah lama dia ingin seperti teman-temannya yang memiliki kekasih. Namun Papa dan Mamanya melarang keras.


"Jangan macam-macam El.! Kamu boleh menjalin hubungan jika sudah menyelesaikan kuliah." Tegur Aditya mengingatkan.


Elia tampak cemberut. Dia sudah berusia 18 tahun tapi satu kalipun belum pernah memiliki pacar.


"Tapi Kak, aku juga ingin tau seperti apa rasanya memiliki pacar." Ucapan Elia membuat Aditya membuka mata dan menatap penuh selidik.


Dia khawatir adiknya terbawa pergaulan yang buruk di luar sana.


"Sepertinya sangat menyenangkan bisa pergi berdua, makan dan nonton bersama." Ucapnya seraya membayangkan teman-temannya yang sering pergi dengan pacarnya masing-masing.


"Jangan coba-coba El. Atau aku akan mengadukannya pada Mama." Aditya menggertak Elia dengan ancaman. Dia tidak mau adik yang selama ini dia jaga terjerumus dalam hal-hal buruk. Mengintip usia Elia yang masih sangat muda, dia belum bisa berfikir panjang akan dampak kedepannya. Belum lagi jiwa penasaran yang tinggi, akan bahaya kalau mengijinkan Elia menjalin hubungan dengan seseorang.


"Mama pasti akan kecewa kalau kamu tidak mendengarkan nasehatnya." Ujarnya lagi. Tentu Elia semakin sedih mendengarnya.


"Cepat tidur, sudah malam.!" Perintah tegas Aditya tak bisa dinbantah.

__ADS_1


"Iya Kak." Jawab Elia seraya mengubah posisi dengan membelakangi Aditya.


Dia kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Sepertinya sang kakak tidak akan pernah memberinya ijin walaupun dia merengek bahkan menangis di depannya.


__ADS_2