Lahirnya Sang Pewaris

Lahirnya Sang Pewaris
Bab 14


__ADS_3

Davina duduk di sofa dekat pintu. Dia sedang menunggu Dave yang sebentar lagi akan sampai di hotel setelah selesai meeting 30 menit yang lalu.


Dengan memakai dress tanpa lengan dan panjang di atas lutut, wanita hamil itu sudah siap untuk keliling kota Batam.


Dia tampak tersenyum menatap layar ponselnya. Pesan yang di kirimkan oleh Dave telah membuat hatinya berbunga-bunga.


Dave mengirimkan puisi romantis padanya dengan kata-kata indah dan mampu membuatnya merasa semakin di cintai.


Davina bahkan sangat menghargai usaha Dave yang satu ini untuk membuat kata-kata puitis. Karna selama ini pria dingin dan kaku itu tidak pernah mengeluh kata-kata puitis padanya.


Davina tak habis pikir kalau ternyata suaminya itu pandai merangkai kata-kata indah untuknya.


Itu sebabnya Davina terus membaca pesan itu berulang kali.


Suara bel membuat Davina bergegas bangun dari duduknya. Dia langsung membukakan pintu tanpa melihat lebih dulu siapa yang ada di balik pintu.


"Sayang,,,," Seru Davina sambil membuka pintu. Seketika dia terdiam ketika melihat Fira dan Raka juga ada di sana bersama Dave.


Davina mencoba bersikap santai meski sebenarnya malu. Dia malu karna terkesan kalau dirinya yang lebih mengejar-ngejar Dave.


Bahkan tatapan Fira membuat Davina tak nyaman.


Dave tampak tersenyum, dia mengusap pipi Davina dan bergantian mengusap perut besar istrinya.


"Kalian boleh kembali ke kamar atau pergi kemanapun karna tidak ada jadwal lagi." Ucap Dave pada Fira dan Raka.


"Baik Pak, terimakasih." Jawaban Fira terdengar menggelikan di telinga Davina. Wanita hamil itu sampai menatap tak suka.


"Hemm. Aku duluan Dave." Raka pamit pergi lebih dulu. Laki-laki itu terlihat buru-buru pergi dari sana tanpa melirik ke arah Fira sedikitpun. Dia hanya pamit pada Dave, lalu tersenyum tipis pada Davina sebagai bentuk menghormati istri bosnya.


"Saya juga pamit Pak." Fira tersenyum manis sembari membungkukan badan.


"Kalau Pak Dave butuh kata-kata romantis, jangan sungkan-sungkan tanya saya lagi." Ujarnya lalu bergegas pergi setelah melempar senyum tipis pada Davina.


Sementara itu, Dave tampak menelan ludahnya bulat-bulat. Suaranya bahkan terdengar jelas.


Dia berusaha tersenyum santai pada Davina, padahal istrinya itu sedang menatap tajam padanya. Tanduk api seolah ada di kedua sisi kepala Davina.


Dave sudah bisa menebak akan ada perang dunia ketiga setelah ini.


"Mau berangkat sekarang.?" Tanya Dave dengan ekspresi kikuknya.

__ADS_1


Dia tau pertanyaan tidak tepat di ucapkan saat ini, tapi jika dia membuka obrolan tentang kata-kata romantis itu, dia takut kemarahan Davina akan meledak.


"Masuk.!" Pinta Davina ketus. Dia berani menyuruh seorang CEO dengan nada bicara ketus dan tatapan sinis. Kalau bukan istrinya, mungkin sudah habis oleh Dave.


Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Dave menurut begitu saja. Dia mengikuti langkah Davina dan menutup pintu kamar.


Pria itu melonggarkan dasinya. Dia harus bersiap-siapa memberikan penjelasan seandainya Davina marah-marah padanya.


"Cepat hapus.!!" Seru Davina dengan raut wajah menahan kesal.


"Apanya yang di hapus.?" Tanya Dave. Dia tidak tau apa yang harus di hapus. Nomor ponsel milik Fira kah, atau kata-kata puitis itu.


"Tentu saja kata-kata menggelikan itu.!"


"Kenapa masih bertanya.!" Seru Davina ketus. Kedua matanya melotot tajam. Kemarahan pada sosok suaminya itu seolah sudah di ujung kepala.


Dia baru saja dibuat melambung dan berbunga-bunga oleh ungkapan romantis yang di kirimkan Dave.


Tapi rupanya kata-kata itu dibuatkan oleh wanita yang tidak dia sukai.


Dave sudah membuatnya melambung tinggi, setelah itu menghempaskannya.


Daripada menerima rangkaian kata romantis yang ternyata di buatkan oleh Fira, Davina lebih baik mendengarkan 3 kata yang selalu di ucapkan oleh Dave. Meski sudah biasa di ucapkan, tapi murni dari isi hatinya sendiri.


"Aku tidak minta di buatkan. Safira hanya ingin membantuku saat melihatku kesulitan merangkai kata-kata." Jelasnya setelah menghapus pesan itu dan menunjukkannya pada Davina.


Seorang CEO yang terlihat berwibawa dengan pembawaan serius di hadapan semua orang, kini terlihat tak berkutik di depan istrinya yang sedang menjelma sebagai singa yang sudah mengeluarkan taringnya.


"Jangan sebut namanya, perutku jadi mual.!" Sinisnya ketus.


Untuk kesekian kalinya Dave kembali menelan ludah. Niat hati ingin menjelaskan, dia justru salah bicara dan membuat Davina semakin naik darah.


"Maaf sayang,," Ucap Dave dengan nada membujuk.


"Jangan marah, aku janji tidak akan menerima bantuannya lagi." Dave mendekat, dia meraih tangan Davina untuk meredakan kemarahannya.


Davina berdecak kesal, dia menarik tangannya dari genggaman Dave.


"Awas saja kalau terulang lagi.! Jangan harap Mas bisa tidur satu kamar denganku.!" Ancam Davina. Dia tidak main-main dengan ancamannya. Seandainya Dave kembali membuat ulah dengan Fira, dia akan menghukum suaminya itu untuk memberikannya pelajaran.


Biarkan saja burungnya tersiksa tidak mendapatkan kehangatan darinya.

__ADS_1


"Jangan bercanda sayang, mana mungkin aku bisa tidur di kamar terpisah." Dave memasang wajah memelas.


"Aku tidak peduli." Jawab Davina acuh.


"Sana mandi.! Pastikan tidak ada aroma wanita itu yang menempel di tubuh kamu." Davina tak henti-hentinya menatap kesal.


Dia sampai menyuruh Dave agar mandi sebersih mungkin karna tau kalau suaminya itu berada dalam mobil dan ruangan yang sama dengan wanita itu selama berjam-jam.


Tanpa banyak bicara Dave menuruti keinginan Davina. Dia pamit ke kamar mandi walaupun Davina masih terlihat kesal padanya.


...*****...


Dave menggandeng Davina begitu keluar dari kamar hotel. Davina memang belum mau bicara padanya, tapi setidaknya tidak menolak saat dia menggandeng tangannya.


"Kamu mau shopping.?" Tawar Dave.


"Disini banyak store barang branded." Ujarnya. Dave berusaha mencairkan suasana agar kemarahan Davina meredam. Jujur saja dia tidak tahan jika didiamkan oleh istrinya itu.


Mendapat tawaran menguntungkan dari Dave, Davina langsung mengangguk setuju.


"Sekali-kali aku kuras kartu atmnya, siapa suruh membuatku cemburu.!"


Batin Davina kesal.


Dan begitu Dave membawanya ke pusat perbelanjaan, Davina langsung menunjuk toko tas dan sepatu ternama.


Dia mengambil beberapa pasang sepatu dan tas.


Banyaknya barang yang di ambil oleh Davina, membuat Dave hanya bisa menggelengkan kepala tanpa berani menegurnya.


"Sepatu yang ini bukannya tidak muat di kakimu.?" Dave baru bersuara saat Davina memasukkan sepatu yang tadi di coba tapi tidak muat.


"Memangnya siapa yang bilang sepatu ini akan aku pakai." Nada bicara Davina masih saja ketus.


"Kalau tidak di pakai, lalu kenapa kamu ambil.?" Tanya Dave dengan kening yang mengkerut.


"Karna lucu." Jawab Davina enteng.


Saat itu juga Dave baru menyadari kalau Davina sedang mengerjainya. Davina mengambil banyak. barang bukan karna untuk di pakai, tapi hanya untuk membuatnya mengeluarkan banyak uang.


"Awas saja kamu, nanti malam kamu akan membayarnya."

__ADS_1


Batin Dave dengan senyum lebar.


...****...


__ADS_2