
"Kamu yakin.?" Davina kembali memastikan untuk ketiga kalinya pada Nabila.
Padahal dia merasakan ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh gadis itu, tapi berulang kali Nabila mengatakan tidak mengetahui keberadaan Farrel.
"Baiklah,, terimakasih Bila,," Ucap Davina kemudian mematikan sambungan telfonnya.
"Bagaimana.? Apa dia tau dimana Farrel.?" Tanya Dave. Walaupun dia bisa menyimpulkan sendiri kalau Davina tidak mendapatkan informasi apapun dari Nabila.
"Nabila tidak tau, tapi aku yakin Kak Farrel sedang bersamanya saat ini."
"Bagaimana kalau kita pergi ke kosan Nabila untuk memastikan.?" Ajak Davina. Dia ingin membuktikan kalau tebakannya tidak salah. Entah kenapa feelingnya mengatakan kalau Farrel ada bersama Nabila.
Terlepas bagaimana hubungan Farrel dan Nabila yang sempat terlihat bermusuhan beberapa waktu lalu.
"Kamu tau tempatnya.?" Tanya Dave.
Davina mengangguk. Dia memang sempat datang ke kosan Nabila beberapa kali saat mengantarkannya pulang.
Tanpa berlama-lama lagi, keduanya langsung bergegas pergi.
...****...
Sementara itu, Nabila menatap jengah sosok laki-laki yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.
Dengan santainya dia berjalan melewati Nabila sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Berjalan keluar dan berdiri pada besi pembatas balkon.
Posisi kamar kos Nabila yang ada di lantai atas dan berada di pojok, membuat keberadaan laki-laki itu tidak jadi masalah hingga siang ini.
Belum lagi kosan itu bebas di huni oleh laki-laki ataupun perempuan.
"Sampai kapan kamu akan tinggal di sini.?!" Gerutu Nabila kesal. Walaupun baru semalam Farrel datang ke kosannya dan memaksa menginap, tapi Nabila sudah risih di buatnya.
Karna untuk pertama kalinya dalam hidup, dia tidur dengan laki-laki lain di kamar yang sama.
"Farrel.!! Kamu benar-benar menyebalkan.!!" Pekik Nabila yang berjalan mengekori Farrel dan berhenti di belakang laki-laki itu.
"Bisa diam tidak.?!" Tegur Farrel ketus. Dia memberikan lirikan tajam, lalu kembali mengarahkan pandangan ke sekitar kosan.
"Aku tidak akan diam sebelum kamu pergi dari sini.!" Nabila semakin kesal di buatnya. Padahal sejak pagi dia sudah berbicara baik-baik untuk mengusir Farrel, tapi laki-laki menyebalkan itu tak kunjung pergi. Teguran yang di berikan oleh Nabila hanya dijadikan angin lalu saja olehnya.
"Kalau pemilik kos tau kamu tinggal di kamarku, bukan hanya kamu saja yang di usir.! Tapi aku juga akan di suruh angkat kaki dari sini."
__ADS_1
"Hidupku sudah susah, tolong jangan menambah masalah lagi,," Kali ini suara Nabila melemah. Dia memberikan tatapan sendu dan memohon pada Farrel. Meminta dengan sangat agar Farrel pergi dari tempat tinggalnya supaya tidak menimbulkan masalah yang mungkin saja bisa terjadi.
"Aku sudah membayar penuh selama satu bulan ke depan, jadi tidak mungkin di usir." Jawab Farrel enteng.
Sontak Nabila menatap kesal. Dia sampai bergeser ke samping Farrel dan menarik bahunya agar laki-laki itu berhadapan dengannya.
"Jangan bercanda. Mana mungkin pemilik kos menyewakan kamarku untuk di tempati orang lain.!" Ujar Nabila.
Jelas-jelas dia masih menempati kamar kos itu, bahkan sudah membayarnya sampai 3 bulan ke depan. Jadi tidak mungkin kalau Farrel membayar kamar kos yang sedang di tempati oleh Nabila.
"Siapa yang bilang kalau aku membayar kamar yang kamu tempati.?" Farrel mengulum senyum geli.
"Kamu lihat kamar kosong di sampingmu itu.?" Farrel menunjuk pintu kamar tepat di samping kamar Nabila.
"Kosong.?"
Gumam Nabila dalam hati. Dahinya sampai berkerut menatap ke kamar kos yang dia yakini masih ada penghuninya.
Walaupun penghuni kos itu jarang pulang, tapi Nabila tau kalau orang itu belum pindah dari sana.
"Siapa bilang kamar itu kosong.!" Seru Nabila.
Dia sangat yakin tetangga kosannya itu masih menempati kamar di sebelahnya.
Farrel semakin tersenyum lebar, senyum yang terkesan meledek.
"Jadi kamu tidak percaya.?" Ujar Farrel.
"Kemari, biar aku tunjukan padamu kalau kamar ini benar-benar kosong." Farrel menggandeng tangan Nabila tanpa permisi. Dia menariknya mendekati pintu kosan itu dan langsung membuka pintu kamar dengan mudah.
Begitu pintu kamar terbuka, Nabila seketika melongo. Dia heran melihat kamar kos itu sudah kosong dan hanya menyisakan tempat tidur dan lemari saja tanpa ada barang-barang pribadi milik siapapun.
"Kapan penghuninya pindah.?" Tanpa sadar Nabila bergumam.
"Bukankah sudah aku bilang kalau kamarnya kosong."
"Apa kamu tidak tau kalau penghuni kamar ini sudah meninggal 3 hari yang lalu.?" Tutur Farrel.
"Apa.??!!" Nabila langsung memberingsut mundur. Tiba-tiba saja merasa takut menatap ke dalam kamar kosan itu.
"Kamu pasti bohong kan.? Aku saja tidak tau, bagaimana kamu bisa,,
__ADS_1
"Aku juga baru tau tadi malam saat orang-orang memindahkan semua barang dari kamar ini."
"Itu sebabnya aku bisa disini karna sudah membayar kamar kos itu."
"Pemilik kos berfikir aku sudah menempati kamar ini." Tuturnya tanpa kebohongan sedikitpun dari nada bicara dan tatapan mata Farrel.
"Tapi tidak mungkin aku langsung tidur disitu, kamu bisa lihat sendiri kamarnya kotor."
"Jadi untuk beberapa hari ke depan aku akan tidur di kamarmu sampai kamarku selesai di bersihkan." Ujarnya kemudian menutup kembali kamar kos itu lantaran Nabila terlihat ketakutan.
...****...
"Kamu yakin mobilnya aman di tinggal disini.?" Dave terlihat ragu untuk turun dari mobil dan meninggalkan mobilnya di depan gang yang sempit.
"Tentu saja aman. Lagipula kalaupun terjadi sesuatu dengan mobil ini, kamu masih punya mobil yang lain kan.?"
"Atau Mas Dave bisa beli mobil baru yang sama seperti ini." Jawab Davina enteng.
Suaminya itu seorang CEO, dia pemilik perusahaan besar yang sudah pasti sangat kaya raya. Rasanya bukan hal yang sulit untuk sekedar membeli mobil baru yang harganya masih di bawah 10 milyar.
"Astaga Davina,," Dave hanya bisa menggeleng heran.
"Aku memang punya uang, tapi bukan berarti bisa sembarangan memarkirkan mobil tanpa memikirkan akibatnya."
"Kalau semua orang punya pikiran sepertimu, banyak penjahat yang akan tertawa bahagia." Ujar Dave panjang lebar.
"Kamu itu,,,
Cupp,,,
Satu kecupan mendarat di bibir Dave. Davina terlampau gemas melihat Dave yang terus berbicara hingga bibir suaminya itu terlihat menggoda.
"Iya sayang,,iya,,, aku mengerti." Ujarnya setelah kembali di posisi semula.
"Ayo turun. Aku jamin mobilnya aman disini," Davina hendak membuka pintu mobil, namun Dave menahan tangannya.
"Ciuman macam apa tadi.? Kenapa tidak berasa.?" Kata Dave saat Davina menatapnya.
"Lalu.?" Davina pura-pura tidak paham. Dia juga memasang wajah polos yang bercampur bingung.
"Kemari biar aku tunjukkan caranya agar berasa,," Dave menarik tangan Davina agar tubuh wanita itu mendekat padanya, tapi sayangnya Davina terlalu jahil, dia mendorong dada Dave dan buru-buru keluar dari mobil sambil terkekeh puas.
__ADS_1
"Dasar Om tua mesum.!" Ledek Davina, dia kemudian menutup pintu mobil tanpa menghiraukan Dave yang terlihat kesal padanya.