Lahirnya Sang Pewaris

Lahirnya Sang Pewaris
Bab 17


__ADS_3

Kehamilan Davina sudah memasuki bulan ke 7. Perutnya semakin terlihat membesar dan pergerakan bayi dalam kandungnya juga lebih aktif. Terkadang tendangan sang bayi membuat Davina merengek kesakitan, lalu berakhir dengan melampiaskannya pada Dave.


Jadi setiap kali bayinya menendang, Davina selalu memukul Dave jika pria itu ada di sampingnya.


Dan malam ini juga sudah ke tiga kalinya Dave mendapatkan pukulan dari Davina. Itu artinya sudah 3 kali bayi mereka menendang di dalam perut sejak mereka berbaring di atas ranjang.


"Aww,,," Davina meringis kesakitan lantaran tulang rusuknya kena tendangan maut putranya.


Bersamaan dengan itu, dia memukul Dave di bagian lengan.


"Kamu tegas sekali sayang,,," Keluh Dave.


Sejak 1 bulan yang lalu dia sudah di jadikan samsak tinju oleh Davina jika berada di rumah.


Hal itu membuat tubuhnya terasa babak belur, terutama di bagian lengannya karna Davina lebih sering meninjunya di bagian lengan.


"Aku hanya ingin kamu tau rasanya di tendang. Kurang lebih seperti itu rasanya,," Jawab Davina.


Jawaban itu yang selalu dia berikan pada Dave jika Dave mengeluh.


Davina tidak mau tersiksa sendiri merasakan tendangan dari bayinya, jadi dia membaginya pada Dave dengan cara seperti itu.


"Apa tidak bisa di ganti dengan cara lain.?"


"Di cium misalnya. Jangan di pukul terus, bisa-bisa jadi pasal KDRT." Tutur Dave yang mencoba untuk bernegosiasi.


Sudah cukup rasanya mendapatkan pukulan berulang kali dari ibu hamil itu.


"Itu sih enak di kamu Mas.!" Sahut Davina dengan nada tak setuju.


"Siapa bilang.? Kamu juga dapat enaknya kok."


"Mau coba.?" Tawar Dave mencari-cari kesempatan.


"Biasanya kalau lagi ngerasain sakit, ciumannya jadi lebih hot." Tuturnya yang mulai mengubah posisi dengan merapatkan tubuhnya pada Davina.


"Tidak mau. Aku sudah ngantuk, mau tidur." Tolak Davina. Dia langsung membelakangi Dave karna sudah bisa membaca jika suaminya sedang mencari kesempatan untuk bermesraan dengannya.


"Jangan pura-pura tidak mau." Ledek Dave. Dia memeluk Davina dari belakang, tangannya mengusap lembut perut besar Davina.


"Siapa yang pura-pura tidak mau.? Aku sudah mengantuk berat sayang,," Davina mulai memejamkan mata, dia membiarkan Dave memeluknya sembari mengusap perutnya. Namun lama kelamahan usapan itu semakin ke atas dan berubah menjadi menggerayangi.


"Sayang,, jangan sekarang. Aku benar-benar ingin tidur." Davina menghentikan aktifitas tangan Dave di atas buah kenyal miliknya.

__ADS_1


"Tidur saja. Aku akan bermain lembut." Jawab Dave yang tidak menghiraukan larangan Davina.


Sepertinya dia akan mengulang lagi kejadian beberapa bulan yang lalu saat menggerayangi tubuh Davina dalam keadaan tertidur.


"Lihat sayang, Papamu itu sangat mesum." Ujar Davina yang seolah-olah sedang mengadukan perbuatan Dave pada anak mereka.


"Dan mama kamu sangat menyukai kemesuman Papa,," Balas Dave tak mau kalah.


Keduanya lalu terkekeh bersama. Mereka saling menyadari kalau perkataannya memang benar.


...***...


"Sayang, kamu sudah pulang.?" Davina tampak bingung melihat Dave pulang ke apartemen padahal saat ini masih pukul 3 sore.


"Ada hal penting yang harus kita lakukan sekarang." Ucap Dave. Dia melepaskan sepatunya, kemudian melepaskan dasi dan jasnya yang di letakkan begitu saja di atas sofa.


"Hal penting apa.? Jangan bilang kamu pulang secepat ini karna ingin melakukannya.?" Tebak Davina tak habis pikir.


Melihat Dave yang terburu-buru membuka sepatu, dasi serta jasnya, tentu membuat Davina berfikir jika Dave ingin menuntaskan hasratnya.


"Kenapa sekarang jadi kamu yang mesum.?" Kata Dave seraya menangkup pipi Davina dan mengecup sekilas bibirnya.


"Kak Sandra menyuruh kita untuk datang ke rumahnya."


"Ayo siap-siap,," Dave kemudian menundukkan badan untuk mencium perut Davina.


Dia sudah tidak sabar untuk menyambut kelahiran anak pertamanya.


Setiap hari selalu merasa rindu pada calon anaknya yang belum diketahui jenis kelaminnya itu.


"Tapi kenapa Mama Sandra tidak bilang padaku.." Ucap Davina heran.


Biasanya dia yang selalu di hubungi lebih dulu jika akan menyuruh mereka untuk datang.


"Mungkin dia lupa." Jawab Dave singkat.


Setelah bersiap, keduanya langsung meninggalkan apartemen dan menuju ke rumah Mama Sandra.


Sampainya di sana, keadaan rumah tampak sepi.


Mereka hanya di sambut oleh penjaga rumah yang berada di pos depan.


Beberapa pelayan yang biasanya ada di dalam rumah, saat ini tidak terlihat satupun.

__ADS_1


"Kamu bilang Mama Sandra menyuruh kita untuk datang, tapi kenapa rumahnya sangat sepi." Tanya Davina pada Dave.


"Kita coba cari di halaman belakang." Ajak Dave. Dia menggandeng tangan ibu hamil itu, berjalan pelan menuju halaman belakang rumah.


"Surpriseeeee,,,!!!"


"Happy birthday and baby shower,,"


Davina terkejut melihat semua teman-temannya berkumpul di sana. Beberapa dari mereka membawa buket bunga dan semuanya memegang balon satu persatu.


Yang membuat Davina semakin kehilangan kata-kata, mereka juga menyulap halaman belakang dengan dekorasi yang dipenuhi bunga serta balon.


Tak berselang lama, kerumunan itu membubarkan diri menjadi dua kelompok yang saling berjejer dan berhadapan untuk membentuk jalan agar bisa di lewati oleh Davina di bagian tengah.


Di ujung sana sudah ada dekorasi yang bertuliskan happy birthday & baby shower untuk Davina.


Davina tampa terharu dengan mata yang berkaca. Sejujurnya dia juga kaget karena belum pernah memberitahukan pada teman-teman kuliahnya tentang pernikahan dan kehamilannya. Tapi sekarang teman-temannya ada disini untuk merayakan kehamilannya dengan ekspresi bahagia.


"Happy birthday Honey,," Bisik Dave.


"Apa kamu suka.?" Dia kemudian menuntun Davina untuk berjalan ke arah mereka.


Davina menatap Dave penuh haru, dia tidak menyangka Dave akan menyiapkan kejutan indah untuknya tepat di hari ulang tahunnya. Davina bahkan tidak ingat dengan ulang tahunnya sendiri.


"Terimakasih sayang,," Ucap Davina tulus.


"Selamat atas kehamilanmu, Davina. And happy birthday for you,," Satu persatu teman Davina mengucap selamat sambil memberikan buket bunga dan balon yang mereka pegang.


"Terimakasih semuanya,," Davina menitikkan air mata. Haru bercampur bahagia di hari yang spesial ini.


"Terbangkan balonnya,," Ujar Dave. Dia menyuruh Davina agar melepaskan balon-balon di tangannya.


Davina mengangguk, dia siap-siap melepaskan semua balon berwarna pink dan biru yang ada di tangannya.


Suara tepuk tangan terdengar meriah bersamaan dengan balon-balon yang mulai terbang di udara.


"Happy birthday sayang." Ucap Sandra dan Edwin. Mereka berganti memeluk putrinya dengan penuh cinta dan kebahagiaan.


Sebentar lagi mereka akan menjadi seorang kakek dan nenek.


"Makasih Mah, Pah,,"


Kebahagiaan itu di isi dengan ucapan terimakasih dan ungkapan hati Davina tentang perasaannya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.

__ADS_1


Acara itu juga di isi dengan games yang sudah di susun oleh teman-temannya.


Setelah itu teman-teman wanitanya mendandani Davina layaknya badut, dan berakhir dengan sesi foto bersama.


__ADS_2