
Kedua mata Dave tak berkedip sejak ia menyalakan lampu kamar dan melihat istrinya dalam balutan lingerie seksi dengan warna favoritnya.
Jakunnya tampak naik turun, menelan ludah berulang kali untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering lantaran merasakan hawa panas.
Memang bukan pertama kalinya melihat Davina dalam balutan baju haram itu, tapi Dave merasa jika malam ini terasa berbeda.
Dave melangkah maju, hanya dengan 2 langkah dia menghapus jarak di antara Davina.
Ujung kaki mereka saling bersentuhan. Dagu Dave dan kening Davina nyaris menempel.
Dave menundukkan pandangan, menatap lekat wajah cantik Davina yang alami.
Perlahan Dave menyelipkan kedua tangannya di pinggang Davina. Senyumnya yang mempesona merekah sempurna.
Dave tentu bahagia di hadiahi kejutan yang bisa memuaskan hasratnya.
"I love you,," Suara Dave terdengar lirih dan berat. Pria itu mulai kehilangan fokusnya dalam berfikir. Di suguhi makanan lezat membuat dia lupa segalanya.
"I love you too,," Davina membalas ucapan Dave seraya memberikan ciuman panas yang tak terduga.
Wanita berusia 21 tahun itu telah mengalami banyak perubahan dalam dirinya paska menikah dan akan di karuniai seorang anak dalam waktu dekat.
Gadis yang dulunya polos itu kini sudah menjelma menjadi seorang istri yang banyak di idam-idamkan oleh semua laki-laki.
Ciuman panas itu berlangsung cukup lama. Keduanya melepaskan ciuman saat hampir kehabisan nafas.
Davina mengulas senyum tipis. Dia ikut bahagia melihat kebahagiaan dari sorot mata Dave.
Usahanya untuk menyenangkan hati Dave memang sudah di yakini akan sukses. Memangnya suami mana yang tidak akan senang jika mendapat kejutan seperti itu.
"Dasar nakal,," Dave mencubit gemas hidung istrinya.
"Berani sekali mengerjaiku,," Keluhnya.
Dave sudah panik dan ketakutan membayangkan kemarahan Davina. Dia pikir Davina benar-benar marah padanya, tapi ternyata hanya bagian dari kejutan yang Davina berikan untuknya.
"Apa kamu setakut itu padaku.?" Tanya Davina seraya mengulum senyum dan mengalungkan kedua tangan di leher Dave.
Antara bahagia dan lucu mendapati fakta jika suami yang berusia 12 tahun lebih tua darinya, terlihat sangat takut padanya. Pria itu tak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengannya.
Meski begitu, Davina tak punya maksud untuk menghilangkan kewibawaan Dave seperti yang di katakan oleh Farrel.
__ADS_1
"Aku tidak takut padamu, tapi takut kamu meninggalkanku." Jawab Dave serius.
Dia dia mau kemarahan Davina padanya akan membuat Davina pergi. Itu sebabnya Dave takut untuk membuat Davina marah padanya.
"Ya ampun,, kamu manis sekali sayang,," Davina mendaratkan kecupan bertubi-tubi di bibir dan pipi Dave lantaran gemas padanya.
"Sudah cukup diskusinya, adik di bawah sana sudah tidak tahan." Dave langsung mengangkat tubuh Davina, membuat wanita itu hamil itu seperti bayi koala dalam gendongan Dave.
Pria itu membaringkan istrinya di atas tempat tidur yang sudah di taburi kelopak bunga mawar.
"Sabar sayang,, malam masih panjang." Davina menahan tangan Dave yang tidak sabaran ingin merobek lingerie miliknya.
"Aku bisa sabar, tapi tidak yakin dia bisa sabar,," Jawab Dave seraya mengarahkan tangan Davina di sana.
Davina mengulum senyum dengan gelengan kepala. Memang sulit di kendalikan jika has rat sudah berada di pucuk kepala.
"Kamu diam saja Mas, cukup aku yang bekerja." Davina mengedipkan matanya. Wanita yang seharusnya masih mengenyam pendidikan, kini sudah pandai menggoda untuk menyenangkan hati suami.
Entah sudah berapa kali mereka melakukannya. Seolah tidak ada kata puas untuk hal yang satu itu.
...*****...
Sudah 2 minggu tinggal di rumah Mama Sandra. Davina tak pernah berhenti mengawasi gerak gerik Farrel. Selain itu, dia juga berusaha melakukan pendekatan agar bisa akur seperti dulu.
Malam ini suasana di rumah cukup sepi. Kedua orang tua mereka dan Dave sedang menghadiri acara penting di adakan oleh salah satu pemilik perusahaan di Jakarta.
Davina sengaja tidak ikut mengingat perutnya yang sudah membesar. Doa takut hanya akan menyusahkan Dave di sana dan membuat gerak Dave terbatas karna lebih fokus menjaganya di banding fokus pada acara tersebut.
Davina yang sejak tadi berada di dalam kamar, kini memutuskan untuk pergi ke kamar Farrel dan mengajaknya menonton tv di ruang keluarga.
Beberapa hari terakhir, komunikasi dia dan Farrel sudah membaik. Farrel sudah mulai bersikap seperti dulu layaknya pada adik sendiri.
"Aku takut Farrel, bagaimana kalau ada yang tau aku di sini."
Baru saja keluar dari kamar, Davina sudah di kejutkan dengan suara lirih seorang wanita.
Suara yang berbeda dengan suara wanita 2 minggu lalu.
"Astaga,, kenapa Kak Farrel masih saja membuat ulah." Davina mendesah kesal. Dia tak habis pikir dengan tabiat buruk Kakak tirinya itu.
Sudah pernah tertangkap basah memasukkan wanita ke dalam kamar, sekarang Farrel kembali mengulanginya lagi. Dan entah wanita mana lagi yang dia bawa sekarang.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan.?" Davina hanya bisa mondar mandir di depan pintu kamar Farrel. Kali ini dia tidak punya keberanian untuk mengetuk pintu dan menanyakan tentang wanita itu.
Mengingat komunikasi dia dan Farrel yang sudah memulai membaik, Davina takut Farrel akan membuat jarak dan menjadikan tali persaudaraan diantara mereka kembali asing.
Davina memutar otak. Dia harus membuat membuat Farrel keluar dari kamar tanpa menimbulkan kecurigaan.
Begitu mendapatkan ide, Davina langsung mengetuk pintu kamar Farrel.
"Kak,, Apa Kak Farrel sudah tidur.?!" Davina sengaja berteriak agar Farrel segera memabukkan pintu.
Tapi ternyata Davina harus berteriak beberapa kali sampai pintu itu di buka dan Farrel keluar dari kamar namun sembari menutup pintu.
Farrel tidak memberikan kesempatan pada Davina untuk mengintip ke dalam kamar karna pintunya buru-buru di tutup.
"Apa apa.? Sudah malam kenapa masih teriak-teriak." Tanya Farrel. Dia terlihat biasa saja, seolah tidak menyembunyikan apapun di dalam kamarnya.
"Aku mau ke dapur, tapi tidak berani."
"Anterin ke bawah ya.?" Tanpa meminta persetujuan dari Farrel, Davina langsung menggandeng tangan Farrel begitu saja.
"Astaga Davina, kamu kan bisa telfon Mba buat jemput kamu ke sini." Keluhan Farrel yang langsung menghentikan langkah.
"Memangnya mau apa ke dapur.? Ambil minum.? Makanan, atau apa.?"
"Bukannya di kamar kamu juga ada lemari pendingin yang lengkap dengan makanan dan minuman. Jadi tidak perlu repot-repot turun ke bawah."
Farrel bicara panjang lebar. Dia mengingatkan Davina kalau di kamarnya sudah ada lemari pendingin. Untung saja Davina belum mengatakan ingin mengambil minum.
Kalau sampai dia bicara seperti itu, Farrel pasti akan mencurigainya.
"Aku lupa membawa stok susu, di kamarku sudah habis."
"Aku mau membuatnya."
Untung saja Davina punya alasan lain yang masuk akal, sampai akhirnya Farrel bersedia mengantarnya pergi ke dapur.
Tapi bukan Davina namanya kalau tidak bisa menahan Farrel tetap berada di lantai bawah.
Dia tidak mengijinkan Farrel kembali ke kamarnya sampai Dave pulang.
Meski tidak bisa membuat wanita itu keluar dari kamar Farrel, tapi setidaknya bisa membuat Farrel menunda perbuatan mesumnya.
__ADS_1
Dan Davina harus menahan rasa penasarannya pada sosok wanita yang ada di dalam kamar Farrel.