
Teman-teman Davina tampak sibuk bersua foto satu sama lain, dan sebagian sedang menikmati hidangan yang di sajikan pada meja panjang.
Mereka terlihat sangat menikmati birthday party sekaligus baby shower.
Acara itu sudah di rencanakan oleh Dave sejak 1 bulan yang lalu. Dia tak sengaja melihat postingan vidio di salah satu media sosial tentang acara baby shower. Dan kebetulan Davina akan ulang tahun, jadi Dave punya ide untuk menggabungkan 2 acara tersebut dalam satu waktu.
"Mau aku ambilkan minum.?" Tawar Dave.
Sejak tadi Davina sibuk menerima ucapan selamat dari teman-teman dan berfoto, dan mengobrol dengan mereka.
Mungkin Davina rindu pada teman-temannya karna sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Tepatnya sejak Davina memutuskan untuk cuti kuliah. Davina bilang kalau dia malu jika kuliah dalam keadaan perut besar. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian mahasiswa di kampus dan menjadi bahan pembicaraan mereka.
"Boleh sayang. Aku mau oren jus,," Jawab Davina. Wanita berparas cantik itu menoleh sekilas pada Dave, kemudian kembali sibuk mengobrol.
Dave tampak menggelengkan kepalanya. Wanita memang suka lupa diri kalau sudah asik mengobrol dengan temannya.
"Haii Kak,, maaf aku terlambat." Nabila berdiri di depan meja Davina. Gadis yang mengenakan dress berwarna peach itu mengukir senyum pada Davin. Satu tangannya tampak membawa paper bag yang di pastikan berisi hadiah.
Melihat kedatangan Nabila, Davina jadi teringat pada Farrel. Sejak sampai di rumah Mama Sandra dan acara sudah setengah berjalan, Farrel belum menampakkan batang hidungnya. Padahal kakak tirinya itu sudah tinggal kembali di rumah ini.
Tapi kenapa dia tidak muncul dan tidak mengucapkan apapun untuk adik tirinya yang sedang merayakan ulang tahun ke 21.
"Happy birthday Kak Vina. Dan selamat menyambut kelahiran anak pertama Kakak." Dengan tatapan tulus, Nabila memberikan selamat pada Davina.
Papar bag di tangannya dia sodorkan pada Davina.
"Makasih banyak Bila,," Davina berdiri seraya menerima kado dari Nabila. Dia lalu merangkul Nabila dan memeluknya.
"Harusnya tidak perlu repot-repot. Dengan kamu datang saja aku sudah senang,," Ucap Davina yang melepaskan pelukannya.
"Ehh,, liontinku tersangkut,," Davina mendekatkan kembali badannya lantaran liontinnya tersangkut dengan rambut panjang Nabila yang di biarkan terurai di bagian depan.
__ADS_1
Davina buru-buru melepaskan liontinnya, lalu merapikan kembali rambut Nabila dengan menyibaknya ke belakang.
Alangkah terkejutnya Davina, kedua matanya bahkan sampai membulat sempurna melihat sesuatu di leher bagian samping Nabila.
Agaknya Nabila menyadari perubahan ekspresi Davina, dia kemudian buru-buru mengembalikan posisi rambutnya seperti semula dengan mengurainya ke depan.
"Eem,, aku mau ambil minum dulu Kak,," Nabila tampak salah tingkah dan gugup. Dia seolah ingin menghindar dari Davina dengan pura-pura akan mengambil minuman.
"Tunggu Bila,," Davina menahan tangan gadis polos itu.
Bagaimana dia tidak terkejut dan syok, seorang Nabila yang dia tau lebih polos darinya, bisa memiliki tanda kepemilikan di leher. Dan tanda kepemilikan itu bukan hanya 1, melainkan ada 2 di tempat yang berdekatan.
"Aa,,aada apa Kak.?" Nabila jelas sangat gugup. Yang tadinya berani menatap mata Davina sangat sendang mengobrol, kini menundukkan pandangan.
"Kita harus bicara empat mata,," Nabila menggandeng tangan Nabila untuk menjauhi keramaian. Davina tidak akan membiarkan aib Nabila di ketahui oleh kakak-kakak seniornya. Apalagi Nabila cukup di kenal di kelas Davina karna kedekatan mereka sebagai sahabat.
Setelah di rasa sudah cukup jauh dari orang-orang, Davina menghentikan langkahnya. Dia melepaskan tangan Nabila yang awalnya terlihat tidak mau ikut dengannya.
"Siapa yang melakukannya,,?" Tembak Davina langsung. Dia tidak perlu basa-basi lagi karna sangat yakin kalau Nabila tau apa yang dia maksud.
"Aa,,aaku,,," Nabila menggigit bibir bawahnya. Dia tidak berani untuk menjawab. Entah karna takut atau malu.
"Katakan siapa orangnya.?" Desak Davina. Meski begitu, Davina masih berbicara dengan suara yang lembut agar Nabila mau jujur padanya.
Sebenarnya di tidak punya hak untuk mencampuri urusan pribadi Nabila. Tapi karna Nabila sahabatnya, dan wanita itu terlalu polos, Davina tidak rela jika Nabila di rusak oleh laki-laki yang tidak bertanggungjawab.
"Kak,, akuuu,,," Lagi-lagi Nabila tampak ragu untuk bicara.
"Apa Kak Farrel yang melakukannya.?" Tebak Davina. Meski dia tidak terlalu yakin lantaran hubungan Farrel dan Nabila sudah seperti tim and jerry kalau sudah bertemu, tapi siapa saja Farrel berbuat macam-macam pada Nabila. Mengingat Farrel terkenal sebagai pemain wanita pada masanya.
"Ada apa.? Kenapa namaku di bawa-bawa.?" Suara datar Farrel terdengar dari arah belakang.
__ADS_1
Davina dan Nabila sontak berbalik badan menatap Farrel.
"Kebetulan sekali Kak Farrel datang." Davina kini menata Farrel penuh curiga. Dia mendekat beberapa langkah, sorot matanya sudah seperti orang yang akan mengintrogasi terduga.
"Kak Farrel harus jujur padaku." Desak Davina.
"Apa yang sudah Kak Farrel lakukan pada Nabila.?!"
"Aku sudah sering memperingatkan Kak Farrel, jangan macam-macam dengan Nabila."
Davina menatap kecewa. Farrel memang belum mengakui perbuatannya, tapi Davina sangat yakin jika pelaku yang telah meninggalkan jejak kepemilikan di leher Nabila adalah Farrel.
"Siapa yang macam-macam.?" Jawab Farrel santai. Namun lirikan mata Farrel mengarah pada Nabila. Sorot matanya terlihat penuh curiga.
"Kak Vina, bukan Kak Farrel." Ucap Nabila.
"Kak Farrel tidak pernah macam-macam padaku." Tuturnya. Davina tampak ragu untuk percaya dengan pengakuan Nabila. Dia merasa kalau Nabila hanya menutupi perbuatan buruk Farrel padanya.
"See,,?!" Seru Farrel.
"Aku memang tidak melakukan apapun padanya."
"Lagipula kenapa langsung menuduhku.? Memangnya apa yang terjadi padanya.?" Tanya Farrel.
Davina terdiam, dia jadi bingung sendiri. Entah harus percaya pada pengakuan mereka atau tidak.
"Sayang,, rupanya kamu disini,," Kehadiran Dave memecahkan keheningan di antara mereka bertiga.
"Jangan jauh-jauh dari pengawasanku." Ujar Dave tak suka. Dia sudah kebingungan mencari keberadaan Davina, tak mau istri tercintanya itu pergi jauh-jauh karna takut terjadi sesuatu padanya.
"Ayo kembali ke sana,," Dave menggandeng tangan Davina, satu tangannya lagi memegang gelas berisi oren jus yang di minta oleh Davina.
__ADS_1
"Kamu mengadu pada Davina.?!" Tanya Farrel penuh penekan. Dia memelankan suaranya agar tidak di dengar oleh Davina yang baru saja pergi.
"Tuduhan konyol macam apa itu. Mana mungkin aku membongkar aibku sendiri." Jawab Nabila yang kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Farrel. Wanita itu tidak kembali ke tempat acara, melainkan pergi untuk meninggalkan rumah Farrel.