
"Ekhem,, yang mau bertemu mantan pacar.!" Celetuk Davina yang tiba-tiba datang menghampiri Dave. Dia memperhatikan suaminya dari ujung kaki sampai kepala. Suaminya itu baru saja selesai mandi dan saat ini sedang memakai kemeja lengan pendek. Otot bisep di lengannya tampan menyembul di balik lengan kemejanya yang tampak kekecilan. Padahal ukuran kemejanya sudah cukup besar.
"Jangan mulai,, kamu sendiri yang meledekku, tapi nanti kamu juga yang tiba-tiba marah karna cemburu." Jawab Dave seraya menarik mesra pinggang Davina hingga istrinya itu berdiri berhadapan dengannya.
Pandangan mata Davina tertuju pada dada bidang dan roti sobek milik Dave yang belum tertutup kemeja. Entah kenapa sejak hamil dia merasa kalau suaminya itu berlipat-lipat lebih menggoda dari sebelumnya.
"Istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya akan bertemu dengan matan kekasih." Ucap Davina. Tangannya mulai menyentuh ujung kemeja Dave dan memasangkan kancing dari urutan paling bawah.
Tubuh suaminya itu terlalu sempurna, sayang kalau di pertontonkan untuk sembarang orang di luar sana.
"Tapi bertemu bukan untuk masalah pribadi. Hanya sekedar bertemu saja." Dave masih tampak santai menanggapi desakan Davina yang semakin menyudutkan.
"Tetap saja aku cemburu." Dengan suara yang khas saat merajuk, Davina mencebikkan bibirnya.
Dia tidak bisa membayangkan Dave dan Sisy akan bertemu di salah satu restoran VIP.
Restoran yang sudah di pesan oleh Mama Sandra untuk membahas acara pernikahan Nabila dan Farrel.
Sudah 2 minggu sejak Nabila di undang ke rumah Mama Sandra, sekarang baru ada titik temu untuk kelanjutan penyelesan masalah mereka.
Karna saat itu Nabila bersikeras tidak mau menikah dengan Farrel. Bahkan menyembunyikan apa yang telah terjadi pada kedua orang tuanya.
Sampai akhirnya Mama Sandra dan Papa Edwin serta Farrel harus mendatangi kota tempat tinggal orang tua Nabila.
Mereka datang kesana secara baik-baik untuk meminta maaf dan mengutarakan niatnya bahwa Farrel akan bertanggungjawab atas apa yang sudah dia lakukan kepada Nabila.
"Aku tidak akan mengulangi kebodohku lagi, jadi apa gunanya kamu cemburu." Kata Dave yang kemudian mengecup singkat bibir merah muda Davina.
Kebodohan yang pernah dia lakukan dulu pada Davina, menjadi sebuah pelajaran berharga untuknya. Dia jadi lebih berhati-hati lagi dalam melakukan sesuatu, berfikir ulang jika akan melakukan sesuatu yang mungkin bisa membuat istrinya marah padanya.
Lagipula kesalahan itu sudah membuatnya sadar akan berartinya Davina dalam hidupnya.
"Dan aku tidak akan memafkan kamu kalau berani mengulanginya lagi." Sahut Davina penuh penekan.
Davina menyelesaikan memasang kancing kemeja Dave, setelah itu keduanya bergegas keluar dari kamar dan pergi bersama ke restoran dengan mobil yang berbeda.
...*****...
Ruang VIP restoran,,,
Mereka sudah sampai 10 menit yang lalu dan Mama Sandra baru saja memesankan makanan terbaik di restoran itu untuk menyuguhi keluarga besar Nabila yang masih dalam perjalanan menuju restoran.
__ADS_1
"Aku tidak sabar menunggunya lahir,," Dave mengusap lembut perut Davina yang tengah duduk di sampingnya.
Usia kehamilan Davina sudah 8 bulan. Sekitar 1 bulan lagi mereka akan menyambut kelahiran anak pertama mereka yang sampai detik ini belum diketahui jenis kelaminnya.
Setiap kali di USG, bayi dalam kandungan Davina tak pernah menunjukkan benda sensitifnya. Sampai akhirnya Davina dan Dave memutuskan untuk tetap tidak mengetahui jenis kelaminnya sebagai kejutan nanti saat dia terlahir ke dunia.
"Aku juga tidak sabar bertemu Papa,," Sahut Davina seraya mengukir senyum lebar.
Tapi seketika senyumnya redup ketika pintu ruangan terbuka dan muncul sosok wanita yang selalu membuatnya cemburu jika mengingatnya.
Entah kenapa sampai detik ini permasalahan yang pernah terjadi antara Dave dan masalalunya tak bisa dia lupakan begitu saja.
"Selamat malam,," Suara teduh itu menarik semua perhatian orang yang ada di dalam ruangan. Mereka kompak menatap ke arah pintu.
Mama Sandra dan Papa Edwin langsung berdiri untuk menyambut dan mempersilahkan mereka masuk.
Sementara itu, Davina memilih diam di tempat duduknya. Tatapan serta ekspresi wajahnya tampak datar.
Dia baru berdiri dan menjabat tangan kedua orang tua Nabila dan Sisy ketika mereka sudah berada di hadapannya.
Mereka hanya datang berempat. Sisy tidak di temani oleh suami dan putrinya.
Wanita itu mengukir senyum ketika menerima uluran tangan Davina. Namun langsung berubah datar ketika menjabat tangan Dave.
Hanya Dave yang sesekali bersuara ketika Mama Sandra meminta pendapatnya.
Sempat terjadi berdebatan disana lantaran kedua orang tua Nabila kembali meluapkan kekecewaannya atas perbuatan Farrel. Namun Sisy berulang kali menenangkan kedua orang tuanya dengan tutur bahasa dan suara yang lembut.
Satu kelebihan dalam diri Sisy yang membuat Davina membandingkan dirinya dengan mantan kekasih suaminya.
Sisy jelas lebih dewasa dari segi usia dan pemikirannya serta cara dia menyikapi permasalahan yang ada.
Berbeda dengan dirinya yang lebih mengutamakan perasaan, membuatnya mudah merasa kecewa dan marah. Bahkan enggan berfikir logis.
Sentuhan tangan Dave di pundak Davina membuat wanita hamil itu tersadar dari lamunan.
Segera dia tatap wajah Dave yang tampak sedang mencemaskannya.
"Are you okay.?" Tanya Dave lirih. Sebuah usapan lembut di pundaknya cukup memberikan sedikit ketenangan dalam kerisauan yang sedang dia hadapi.
Davina menjawab dengan anggukan tanpa mengatakan apapun. Sebuah senyuman manis dia kembangkan untuk suaminya yang ternyata begitu sabar dan menerima dia apa adanya dengan segala kekurangan yang dia miliki.
__ADS_1
...*****...
Davina langsung memeluk tubuh suaminya yang baru saja berbaring di ranjang.
Mereka sudah siap untuk tidur setelah kembali dari restoran hampir pukul 11 malam.
"Jangan muak dengan sikapku." Ucap Davina seraya mengeratkan pelukannya. Dia membenamkan wajah di dada bidang Dave hingga membuat laki-laki itu manatap heran.
"Kau ini kenapa.?" Tanya Dave lembut. Dia mengusap punggung Davina, sadar jika istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Aku minta maaf jika selama ini sikapku membuat kamu muak. Aku sadar se,,,,
"Sssttt,,," Dave meminta Davina untuk tidak meneruskan ucapannya.
"Tidak ada yang muak dengan sikapmu." Ujar Dave tegas.
"Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu.?" Dave berusaha melepaskan pelukan Davina agar bisa menatap wajahnya.
Davina membuatnya khawatir, padahal istrinya itu tampak baik-baik saja selama berada di restoran dan saat dalam perjalanan pulang ke rumah.
Tapi sekarang dia bersikap dan berbicara aneh.
"Are you sure.?" Tanya Davina yang kini menunjukkan wajahnya untuk menatap Dave.
Dia ingin melihat kejujuran di mata Dave tanpa adanya keterpaksaan dalam menerima segala sikapnha yang mungkin menyebalkan di mata sebagian orang.
"Dengarkan aku,," Dave menangkup pipi Davina dengan sebelah tangannya.
"Aku tidak akan muak dengan sikapmu. Mana mungkin aku muak dengan tingkahmu yang selalu menggemaskan." Sebuah cubitan gemas mendarat di hidung Davina.
Meski terkadang sikap Davina membuatnya takut, namun semua itu tak lebih dari bumbu-bumbu pernikahan yang justru membuatnya gemas pada istrinya.
Davina mengukir senyum lebar. Jawaban jujur dari mulut Dave membuatnya merasa bersyukur memiliki suami sepertinya.
"Mau membuat jalan lahir lagi.?" Tanya Dave seraya tersenyum menggoda. Davina sontak memukul dada bidangnya.
"Sayang.!! kamu itu mesum sekali.!" Protesnya dengan bibir mencebik.
Dave hanya terkekeh geli dan menarik Davina dalam dekapan.
"Aku mencintaimu,," Ucap Dave dalam.
__ADS_1
Seketika membuat Davina meleleh dalam pelukan Dave.