Lahirnya Sang Pewaris

Lahirnya Sang Pewaris
Bab 7


__ADS_3

"Pelan-pelan saja jalannya sayang. Ingat kamu sedang hamil." Suara teguran seorang laki-laki terdengar sampai ke lantai atas.


Farrel yang sangat hapal dengan pemilik suara itu, segera memastikan dengan berdiri di balkon dan melihat ke bawah.


Benar saja dugaannya, dia melihat Omnya sedang menyusul langkah Davina dan merangkulnya dengan mesra.


"Sial.!! Kenapa mereka bisa sampai ke sini?" Gumamnya panik. Dia lalu menghampiri Nabila, menarik tangan gadis itu dan menyeretnya masuk ke dalam kamar kos milik Nabila.


"Sudah aku bilang jangan memberitahu Davina kalah aku ada di sini.!" Ketusnya geram.


"Jangan menuduh sembarangan.! Kamu dengar sendiri saat aku menjawab telfon dari Kak Davina."


"Aku tidak mengatakan kalau kamu ada di sini.!" Nabila di buat kesal dengan tuduhan Farrel. Padahal laki-laki itu melihat dan mendengarnya sendiri saat Davina sedang menelfon.


Jawaban Nabila pada Davina juga atas perintah Farrel sendiri, tapi seenaknya Farrel dia menuduh dirinya mengadukan pada Davina.


"Sial,,!!" Farrel mengumpat kesal.


Dia kemudian menghempaskan tangan Nabila, lalu bergegas untuk membereskan barang dan baju-bajunya yang beberapa sudah keluar dari koper kecil miliknya.


"Ingat.! Jangan katakan apapun tentangku. Bilang saja kamu tidak tau.!" Seru Farrel memperingatkan. Dia buru-buru menarik kopernya dan keluar dari kamar kos Nabila.


Sementara itu, Nabila hanya diam di tempat dengan perasaan yang semakin kesal pada sosok laki-laki menyebalkan itu.


"Sana pergi.!! Pergi yang jauh dan jangan kembali lagi.!" Gerutunya kesal.


Farrel benar-benar laki-laki paling menyebalkan yang pernah dia kenal seumur hidupnya. Laki-laki yang hanya bisa memaksa dan berbuat seenaknya sendiri.


"Mau di gendong.?" Tawar Dave. Davina langsung menggelengkan kepalanya. Mana mungkin dia bersedia untuk di gendong hanya untuk menaiki tangga yang tingginya tidak seberapa.


"Aku bisa naik sendiri,," Ujar Davina. Keduanya menaiki tangga untuk pergi ke kamar Nabila.


Dave dengan sigap menggandeng dan menuntun Davina. Dia benar-benar menjaga Davina dan tidak membiarkan sesuatu terjadi pada Davina.


"Hati-hati sayang,," Berkali-kali Dave memperingatkan Davina. Laki-laki itu tidak bisa melihat Davina bergerak aktif sedikit saja, pasti langsung mendapatkan teguran.


"Kamu jadi cerewet sekali,," Protes Davina. Tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu, justru merasa senang karna Dave tidak lagi ketus dan kaku seperti dulu.


"Kamu juga jadi lebih kalem. Sepertinya jadi tertukar,," Ujar Dave. Davina hanya mengulum senyum simpul.

__ADS_1


"Yang mana kamarnya.?" Tanya Dave.


Dia baru pertama kali menginjakkan kaki di kos-kosan. Sedikit heran melihat banyak kamar yang ternyata berjejer di atas dengan baju jemuran yang menggantung di setiap depan kamar.


"Paling ujung,," Davina mengarahkan jari telunjuknya pada pintu kamar Nabila yang terletak di ujung.


Dave mengangguk paham.


"Tapi kamu yakin Farrel ada di dalam.?" Tanya Dave.


"Kita lihat saja nanti. Feelingku mengatakan kalau Kak Farrel ada di sini." Jawabnya.


Sampainya di depan pintu kamar Nabila, Davina mengetuknya dengan perlahan serta memanggil namanya.


Tak lama Nabila keluar dengan mengulas senyum kaku karna menahan gugup.


"Kak,, ada apa.?" Nabila pura-pura tidak mengetahui kedatangan Davina ke kosnya.


"Aku mencari Kak Farrel. Kamu yakin dia tidak datang ke sini.?" Tanya Davina, namun pandangannya mata mengintip ke dalam kosan Nabila untuk memastikan ada atau tidaknya Farrel di dalam sana.


Nabila menggelengkan kepalanya.


"Tapi kenapa kamu seperti menyembunyikan sesuatu.?" Davina menatap lekat. Dia bisa melihat gelagat Nabila yang sedikit gugup.


"Tidak usah takut, bilang saja kalau memang Kak Farrel ada di sini."


"Kami hanya mencemaskan Kak Farrel, terutama Mama Sandra. Dia khawatir karna Kak Farrel tidak ada kabar sama sekali." Tuturnya sedikit mendesak.


"Sayang, tenang dulu,," Tegur Dave lembut. Davina tak menghiraukannya karna mulai merasa kesal pada Nabila yang terlihat bohong padanya.


"Apa aku boleh masuk.? Aku ingin memastikan kalau memang Kak Farrel tidak ada di dalam." Pinta Davina.


Nabila kemudian mengangguk dan mempersilahkan Davina masuk ke dalam.


Davina lalu bergegas masuk, disusul oleh Vano yang mengekorinya di belakang.


Raut wajah Davina terlihat kecewa setelah memastikan di dalam kamar Nabila tidak ada siapapun.


"Farrel tidak di sini. Kamu sudah lihat sendiri bukan." Lirih Dave.

__ADS_1


"Ayo keluar,," Dave membawa Davina keluar dari kamar Nabila.


"Maaf Bila, aku pikir Kak Farrel ada di sini."


"Maaf mengganggumu. Kalau begitu aku pulang dulu." Pamitnya.


"Iya Kak, tidak apa."


"Aku pasti akan menghubungi Kakak kalau melihat Kak Farrel." Ujarnya.


"Makasih Bila,,"


Davina dan Dave pamit pulang. Nabila mengantarkan mereka sampai ke bawah, setelah itu kembali ke atas.


"Aku tidak mungkin bilang kan kalau Kak Farrel sempat menginap di kamar ku. Bisa-bisa mereka akan berfikir yang tidak-tidak," Gumamnya sembari melangkahkan kaki menuju kamar.


Namun saat akan membuka pintu kamar, Nabila di kejutkan dengan pintu kamar yang terbuka dari dalam.


"Apa mereka sudah pergi.?"


"Aaaaaa,,,!!" Suara jeritan Nabila membuat Farrel panik. Dia langsung membungkam mulut Nabila dan menariknya masuk ke dalam kamar.


"Sial.! Kenapa harus teriak.?!" Gerutu Farre. Dia seketika panik, takut Davina dan Dave akan kembali karna mendengar suara teriakan Nabila.


"Lagipula siapa suruh mengagetkanku.?!" Nabila melotot kesal.


"Tunggu dulu, kenapa kamu bisa datang lagi ke kamarku.? Bukanya kamu,,,


"Kau bersembunyi di kamar sebelah. Lagian aku sudah bilang padamu bukan, kamar itu sudah aku sewa selama 1 bulan ke depan."


"Jadi kenapa kamu harus kaget melihatku tidak pergi dari sini." Ujar Farrel panjang lebar.


"Ya ampun kau ini benar-benar menjengkelkan sekali.!"


"Kalau begitu aku akan memberitahu Kak Davina saja kalau kamu ada di sini.!" Serunya. Nabila hendak mengambil ponsel, namun langkahnya di tahan oleh Farrel. Dia mencengkram erat tangan Nabila hingga wanita itu tidak bisa beranjak lebih jauh dari tempatnya.


"Lepasin Farrel.!! Kamu itu bena,,,,


Cupp,,,

__ADS_1


Farrel mendaratkan kecupan singkat di bibir Nabila tanpa permisi. Sontak kedua mata Nabila melotot tajam penuh amarah.


__ADS_2