
"Jangan terlalu di pikirkan, Farrel pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Jadi tidak mungkin terjadi sesuatu padanya." Ujar Dave sembari melirik sekilas untuk melihat istrinya yang sejak tadi diam melamun.
Agaknya Davina kecewa karna mengetahui Farrel tidak berada di kos an Nabila. Padahal dia sangat yakin kalau Farrel ada di sana, itu sebabnya dia buru-buru ingin pergi. Tapi rupanya tidak sesuai apa yang dia harapkan.
"Apa Kak Farrel pergi dari rumah karna aku.?" Tanya Davina. Dia berasumsi seperti itu karna terakhir kali bertemu dengan Farrel, hubungan mereka tidak baik-baik saja. Sikap Farrel berubah dan terkesan menghindarinya.
"Karna kamu ataupun bukan, itu urusan Farrel. Kamu tidak perlu merasa bersalah ataupun sibuk memikirkannya." Dave menekankan ucapannya di akhir kalimat. Nada bicara Dave terkesan kesal dan cemburu.
"Jangan marah, aku tidak memikirkan Kak Farrel. Hanya saja aku takut terjadi sesuatu padanya di luar sana." Tutur Davina dengan gaya bicaranya yang polos.
Dave menghela nafas kasar.
"Itu sama saja Davina,,!" Seru Dave tak habis pikir.
Davina menoleh dan hanya menyengir kuda.
"Aku ingin makan es krim vanilla. Bagaimana kalau kita pergi ke kafe atau mall.?" Ajak Davina.
Tiba-tiba saja terlintas di pikirannya bayangan es krim vanilla yang menyegarkan dan lezat untuk di makan pada siang hari seperti ini.
Dave menoleh sekilas, tangannya mengusap perut Davina dengan penuh cinta dan kelembutan.
"Sepertinya anak Papa ingin makan es krim,," Ujar Dave. Senyum di bibirnya merekah sempurna, dia sangat bahagia sejak mengetahui kehamilan Davina. Jadi apapun yang nanti akan di minta oleh Davina, Dava tak akan menolaknya.
Davina ikut mengukir senyum. Kebahagiaan di wajah Dave membuat Davina ikut merasakan kebahagiaan itu.
Dia mulai menyadari bahwa kehadiran anak dalam kandungannya telah memberikan banyak perubahan dalam dirinya dan juga Dave. Begitu juga perubahan dalam rumah tangganya.
Kehadiran buah cinta mereka mampu membalikkan keadaan yang kacau akibat badai yang sempat menerpa.
...****...
"Aku ke toilet sebentar,," Pamit Dave. Dia beranjak dari duduknya sembari mengusap lembut pucuk kepala Davina dan pergi dari sana. Meninggalkan Davina duduk seorang diri di salah satu meja di kafe itu. Meja yang terletak di sudut ruangan karna keduanya ingin leluasa menyantap es krim bersama tanpa banyak orang yang melihatnya.
__ADS_1
"Boleh duduk di sini.?" Seorang laki-laki datang menghampiri meja yang di tempati oleh Davina.
Kedatangan laki-laki itu membuat Davina mengalihkan kesibukannya dari layar ponsel. Dia mengangkat wajah untuk menatap sosok laki-laki yang berdiri di depannya.
Tubuh tinggi laki-laki itu membuat Davina harus mendongak.
Saat Davina menatapnya, laki-laki itu sedang mengukir senyum tipis.
"Kak Juno,??!" Seru Davina kaget. Dia reflek berdiri, memperhatikan dengan seksama sosok seniornya yang sudah 1 tahun ini tak ada kabar setelah pindah kuliah New York.
"Aku pikir kamu sudah lupa." Ujar Juna dengan senyum simpul yang makin merekah. Dia duduk di depan Davina tanpa permisi, membuat Davina juga kembali duduk di tempatnya.
"Bagaimana kabar kamu.?"
"Apa kamu masih bucin akut pada Arga.?" Tanyanya dengan nada dan senyum yang terkesan meledek.
Juno tau betul hubungan Davina dan Arga dulu. Bahkan bisa di bilang Juna kalah saing dari Arga, laki-laki yang usianya 1 tahun lebih muda darinya.
Karna dulu keduanya sama-sama mendekati Davina, tentunya untuk mendapatkan hati si wanita berparas cantik itu. Tapi sayangnya Davina hanya menganggap kedekatan dia bersama Juno sebatas kakak dan adik saja.
"Aku baik-baik saja."
"Bagaimana dengan kak Juno.?"
"Kuliah Kak Juno sudah selesai kan.?" Tanyanya. Davina sengaja tidak memberikan tanggapan tentang hubungan dengan Arga. Dia malas untuk menjelaskan masalah yang sifatnya pribadi pada seseorang.
Baginya permasalahan pribadi tak perlu menjadi konsumsi orang lain.
"Tanpa aku jawab, pasti kamu sudah tau kalau aku tidak baik-baik saja tanpa kamu." Jawab Juno dengan nada bicara yang terkesan bercanda, tapi sebenarnya memang seperti itu kenyataannya.
Tidak mendapatkan hati Davina membuatnya terluka. Itu sebabnya dia memilih pindah kuliah ke luar negeri karna kesal melihat hubungan Davina dan Arga yang semakin lengket setelah 1 tahun lebih menjalin hubungan.
Padahal saat itu Juno hanya perlu waktu 1 tahun lagi untuk menyelesaikan kuliahnya.
__ADS_1
"Bohong sekali." Sahut Davina.
"Aku yakin Kak Juno punya kekasih selama kuliah di New York." Ujarnya.
Juno menyangkal dengan gelengan kepala.
"Aku tidak tertarik memiliki kekasih." Jawabnya.
"Sejak dulu aku ingin mencari seseorang yang mau menjalin hubungan dengan serius untuk menikah dikemudian hari." Jelasnya.
"Sayang sekali dulu kamu lebih memilih Arga."
"Apa dia masih serius sama kamu.?" Cecar Juno lagi. Sepertinya dia benar-benar ingin mengetahui hubungan Davina dengan Arga.
Gak hanya itu saja, Juno seolah berharap hubungan Davina dan Arga sudah berakhir.
"Aku,,,
"Ehemm.!!" Suara deheman Vano membuat Davina tersentak kaget. Dia menoleh, melihat Dave yang sedang menatap tajam ke arah Juno.
Sementara itu Juno terlihat kebingungan. Dia bergantian menatap Davina dan Dave.
"Kalian.??" Tanya Juna. Dia tau keduanya saling mengenal, terlihat dari cara mereka saling menatap. Namun Juno tidak tau ada hubungan apa di antara Davina dan laki-laki itu.
"Banyak kursi kosong di kafe ini, kenapa harus duduk di kursiku.!" Sinis Dave.
"Jadi kamu datang berdua dengan laki-laki ini.?" Tanya Juno pada Davina. Davina mengangguk cepat.
"Laki-laki yang kamu maksud adalah suaminya.!" Tegas Dave penuh penekanan. Dia berbicara serius dengan tatapan tajam, tapi Juno malah terkekeh karna menganggap ucapan Dave hanya candaan.
"Suami.? Suami siapa.?" Tanya Juna tak habis pikir. Dia terus menahan senyum karna merasa lucu.
Mengingat usia Davina yang baru 20 tahun, mana mungkin dia percaya kalau Davina sudah memiliki suami.
__ADS_1
"Kau pikir aku bercanda.?!" Seru Dave penuh amarah.
Melihat Dave yang hilang kendali, Davina langsung menghampiri dan menarik tangannya untuk sedikit menjauh dari Juno. Davina takut Dave akan reflek menghajar Juno, karna dia tau betul seperti apa suaminya jika sudah tersulut amarah.