
"Astaga Farrel.!! Kamu membawa perempuan ke dalam kamarmu.?!!"
Suara teriakan Mama Sandra sampai terdengar ke dalam kamar Davina. Ibu hamil yang hendak keluar dari kamarnya itu langsung terperanjat kaget. Dia buru-buru membuka pintu, bergegas keluar menghampiri asal suara yang bersumber di kamar sebelah.
Di sana tampak Mama Sandra tengah berdiri di depan pintu kamar Farrel yang terbuka. Wajahnya tampak memerah, sorot matanya terlihat kecewa.
Davina berjalan cepat menghampiri Ibu sambungnya.
Dalam hati cemas, bahkan jantungnya berdetak kencang. Ini yang sejak tadi malam Davina takutkan. Akhirnya benar-benar terjadi.
Padahal Davina sudah berusaha menutupi tabiat buruk Kakak tirinya pada Mama Sandra. Dia sengaja bungkam meski tadi malam yakin jika di dalam kamar Farrel ada seorang perempuan.
"Aku bukan anak kecil lagi Mah, memangnya kenapa kalau aku membawa wanita.?" Farrel menjawab tenang.
Jawaban tak terduga itu membuat Davina melotot kaget. Dia tidak habis pikir kenapa Farrel bisa seberani itu memberikan jawaban pada Mama Sandra.
"Mah,, ada apa.?" Tanya Davina yang pura-pura kaget walaupun sebentar sudah mengetahuinya.
Mama Sandra hanya menoleh sekilas pada Davina dengan tatapan penuh beban. Dia terlihat kesulitan untuk menjelaskan hal gila yang di lakukan oleh putranya.
"Kamu masih bertanya kenapa.??!" Seru Mama Sandra pada Farrel.
"Kamu pikir walaupun sudah dewasa, kamu bebas memasukkan perempuan ke dalam kamar.?!" Mama Sandra melorot tajam.
"Kita bukan orang luar yang menganut kebebasan Farrel.!" Tegasnya dengan menekankan kalimatnya.
"Katakan siapa perempuan itu.? Sudah berapa lama kalian berhubungan.?!" Dengan nada mendesak, Mama Sandra meminta putranya untuk mengatakan tentang identitas wanita yang di bawa ke dalam kamar.
"Dia temanku." Lagi-lagi Farrel memberikan jawaban yang membuat Mama Sandra semakin kecewa.
Putranya itu berani melakukan perbuatan terlarang meski hanya berstatus sebagai teman.
Bahkan meskipun memiliki hubungan spesial, tidak seharusnya mereka berbuat seperti itu sebelum ada ikatan pernikahan.
"Mama kecewa sama kamu.!" Lirih Mama Sandra. Wajahnya telihat sendu. Dia mungkin kecewa sekaligus merasa gagal sebagai orang tua dalam mendidik putranya.
__ADS_1
Sementara itu, Dave yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menghampiri Davina.
Sebenarnya Dave sudah mendengar suara keributan sejak tadi, tapi posisinya sedang memakai baju karna harus bersiap pergi ke kantor.
Dave berdiri di belakang Davina, diam-diam dia menarik Davina untuk menjauh dari Sandra dan Farrel yang sedang berdebat dengan suasana tegang.
"Sayang,, ada apa.?" Tanya Dave setelah membawa Davina bergeser beberapa langkah dari samping Mama Sandra.
"Mama Sandra sudah tau kalau Kak Farrel membawa perempuan ke kamarnya."
"Sebaiknya bantu mereka berhenti berdebat Mas, ajak Mama Sandra dan Kak Farrel bicara baik-baik."
Davina merasa cemas dengan perdebatan yang terjadi antara Ibu dan putranya. Itu sebabnya langsung menyuruh Dave agar menghentikan perdebatan mereka berdua. Karna Farrel terus menjawab setiap perkataan yang keluar dari mulut Mama Sandra.
...****...
Suasana di ruang keluarga cukup tegang. Semua orang berkumpul di sana termasuk Papa Edwin, serta satu orang saksi yang melihat Farrel membawa keluar perempuan dari kamarnya secara diam-diam dan mengantarkannya sampai ke depan rumah.
Kejadian itu berlangsung pada pukul setengah 6 pagi di saat penghuni kamar di lantai atas belum keluar dari kamar mereka.
Saksi itu yang sudah mengadukan kelakuan Farrel pada Mama Sandra.
"Tidak ada gunanya memarahi Farrel. Lebih baik bawa perempuan itu kemari dan kita dengarkan pengakuan darinya." Tutur Edwin lembut.
"Setelah itu kamu bebas menentukan keputusan."
Edwin hanya bisa memberikan saran tanpa bisa menghakimi Farrel dengan mengalahkan perbuatannya.
Sebagai seorang ayah yang bergelar ayah sambung, Edwin tidak bisa ikut campur terlalu jauh dengan kehidupan putra sambung.
Dia juga tidak berani menyalahkan Farrel ataupun memarahinya. Karna hal itu bisa saja akan membuat Farrel membenci dan berakhir menaruh dendam padanya.
"Tapi Mas, dia sudah keterlaluan."
"Aku membesarkannya, menyekolahkannya di sekolah dan universitas terbaik dengan tujuan putraku bisa menjadi laki-laki yang baik, sukses dan bertanggungjawab. Tapi lihat apa yang sudah dia lakukan hari ini.?" Soroti mata Mama Sandra jelas di penuhi kekecewaan.
__ADS_1
"Aku mengerti, tapi kita juga tidan boleh menghakimi begitu saja." Ucap Edwin seraya meraih tangan Sandra dan menggenggamnya. Dia memberikan isyarat pada Sandra supaya mau mendengarkan perkataannya.
"Maaf Pah, sepertinya aku harus ke kantor sekarang." Eave beranjak dari duduknya setelah melihat arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8 lewat.
Tadinya dia ingin berada di sana sampai permasalahan itu diselesai. Tapi sepertinya akan lama membahas persoalan sensitif seperti jnj
Davina ikut beranjak juga dari duduknya dan pamit pada kedua orang tuanya untuk mengabtar6 Dave ke depan.
"Ya ampun, aku pusing menyimak perdebatan mereka sejak bangun tidur." Keluhan Davina saat sudah jauh dari ruang keluarga.
"Bagaimana kalau hari ini kamu ikut ke kantor.?" Ajak Dave. Dia tengah merangkul mesra pinggang Davina seraya berjalan ke arah garasi.
"Memangnya tidak apa-apa.?" Tanya Davina. Dia memang pernah beberapa kali ikut ke kantor Dave, tapi saat itu kandungannya masih kecil.
Dalam keadaan perut yang sebesar ini, Davina takut hanya akan mengganggu konsentrasi kerja Dave. Karna suaminya itu pasti akan lebih fokus menjaganya di banding menyelesaikan pekerjaan.
"Justru aku senang kalau kamu ikut." Jawab Dave, dia kemudian mendaratkan kecupan di pipi Davina.
"Baiklah, aku akan ambil tas dan ponselku dulu." Davina dengan senang hati menerima ajakan Dave. Lagipula di rumah hanya akan membuatnya pusing dengan persoalan tentang Farrel yang masih di cari jalan keluarnya.
"Tidak perlu, kita langsung berangkat saja."
Dave semakin semangat berjalan sembari merangkul Davina menuju mobilnya.
...*****...
Davina tengah duduk di sofa dengan meluruskan kaki dan setengah bersandar. Dia sedang menaikan ponsel milik Dave lantaran bosan setelah 2 jam lebih berada di ruangan Dave.
Suara ketukan pintu membuat Davina buru-buru membenarkan posisi. Dia duduk tegap dengan gaya yang elegan. Sebagai istri seorang CEO, Davina harus bisa menjaga image agar tidak membuat Dave malu.
"Masuk.!!" Suara berat milik Dave menggema di ruangan itu.
Davina sampai melirik seraya mengulum senyum lantaran terpesona pada suara dan kewibawaan Dave.
"Permisi Pak, maaf mengganggu." Safira menjulurkan kepalanya lebih dulu untuk menatap keadaan di dalam ruangan. Setelah memastikan baik-baik saja, dia bergegas masuk menghampiri Dave.
__ADS_1
Sementara itu tepat di sofa yang tak jauh dari meja kerja Dave, terlihat menatap kesal dan cemburu pada sosok sekretaris pribadi suaminya.
Seandainya bisa, Davina ingin memindah Safira ke kantor Dave yang lainnya agar wanita itu tak ada di sekitar Dave setiap harinya.