
"Sakit Mah,,," Rengek Davina. Sekarang dia tau bagaimana rasa sakitnya saat akan melahirkan.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai."
"Atur nafas kamu agar lebih rileks,," Pinta Mama Sandra. Dia sudah menyuruh Davina agar menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, begitu seterusnya saat sedang mengalami kontraksi.
Vano yang merengkuh Davina, tak henti-hentinya mengusap wajah dan perut Davina secara bergantian. Tatapannya begitu sendu, tidak tega melihat istrinya harus merasakan kesakitan seperti itu.
Papa Edwin yang duduk di samping supir juga tak henti-hentinya menoleh kebelakang. Dia tak kalah cemas, ini pertama kalinya bagi Papa Edwin melihat putrinya akan melahirkan. Putri yang telah iya rawat dengan penuh cinta, kini akan melahirkan cucunya.
Begitu sampai di rumah sakit, Davina langsung mendapatkan penangan. Dia di bawa ke salah satu ruangan VIP di sana.
Tak langsung di bawa ke ruang bersalin karna baru pembukaan 1.
"Mah,, bagaimana dengan kejutan ulang tahun mas Dave.?" Lirih Davina saat Dave sedang berbicara dengan dokter.
"Ya ampun sayang,, kenapa malah memikirkan kejutan.?" Mama Sandra tampak tak habis pikir. Dalam situasi seperti ini Davina masih memikirkan kejutan untuk sang suami.
"Lupakan dulu kejutannya, sekarang yang terpenting adalah kondisi kamu dan anak kamu."
"Tidak perlu pikirkan hal lain dulu,," Pintanya.
Namun Davina tampak tidak senang, karna dia sangat ingin memberikan kejutan untuk Dave setelah seharian mendiamkan suaminya itu.
"Tapi aku sudah menyiapkan semua Mah. Apa Nabila tidak bisa mengantarkan kue tartnya kesini.?" Tatapan Davina tampak memohon. Mama Sandra yang tidak tega, akhirnya menyetujui permintaan Davina dengan menghubungi Nabila untuk datang ke rumah sakit dan membawakan kue tart beserta kado yang telah di siapkan oleh Davina.
...****...
"Apa sangat sakit.?" Mata Dave memerah, dia menahan tangis sejak tadi karna Davina terus meringis kesakitan setiap kali datang kontraksi.
Laki-laki itu tak mau beranjak sedikitpun dari samping istrinya, terus menggenggam tangan Davina.
Davina mengangguk. Mungkin ini yang di khawatirkan kedua orang tuanya kenapa dulu di minta untuk hamil dulu. Selain usianya yang masih terbilang sangat muda, dia juga belum terlalu siap menghadapi persalinan.
"Bagaimana kalau operasi saja.? Tidak harus cara normal kan untuk melahirkan.?" Tawar Dave. Dia sudah tidak tega melihat Davina tersiksa seperti itu.
"Tidak sayang, aku ingin melahirkan normal saja. Aku yakin bisa melakukannya." Namun meski terlihat tidak kuat menahan rasa sakit, Davina masih bersikeras untuk melahirkan secara normal.
"Tapi Dave benar nak, sebaiknya operasi saja dari pada harus menunggu terlalu lama dan kamu semakin kesakitan." Papa Edwin menimpali.
Dia setuju dengan usulan Dave, karna sebagai orang tua, Papa Edwin juga tak tega melihat putri sematawayangnya harus menahan sakit entah sampai kapan.
__ADS_1
Davina baru pembukaan satu, dan masih harus melewati proses yang panjang untuk melahirkan normal. Bahkan sudah 1 jam di rumah sakit, pembukaannya belum bertambah.
"Tunggu 3 lagi Pah, kalau tidak apa kemajuan, aku tidak keberatan untuk operasi." Jawab Davina pada akhirnya. Dia juga enggan membuat semua orang mencemaskannya.
Tak lama Mama Sandra memberi kode pada Davina kalau Nabila dan Farrel sudah datang membawakan kue yang Davina minta.
Davina lalu menatap Dave yang masih setia duduk di samping ranjangnya.
Tak punya pilihan lain, Davina meminta Mama Sandra untuk membawa mereka masuk.
Tidak masalah kalau harus gagal memberikan kejutan, yang terpenting masih bisa merayakan ulang tahun Dave bersama semua keluarganya.
Bahkan sekarang sudah jam 12 lewat 30 menit.
Mama Sandra akhirnya keluar dari ruangan itu dengan mengajak sang suami. Dia memberikan waktu pada Davina untuk berbicara pada Dave.
"Sayang,,," Davina menggenggam tangan Dave.
Tatapan dan nada bicaranya membuat Dave panik.
"Sakit lagi.?" Tanya Dave penuh kecemasan.
Namun Davina malah mengukir senyum manis.
"Aku bahagia di cintai olehmu."
"Terimakasih untuk semua kebahagiaan dan cinta yang kamu berikan padaku." Air mata Davina luruh. Dia menumpahkan kebahagiaannya yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Sayang,, kamu ini kenapa.?" Dave di buat bingung karna tiba-tiba Davina mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata yang menyentuh.
Melihat pintu yang terbuka, Davina lantas mengarahkan jari telunjuknya untuk meminta Dave menatap ke arah pintu.
Seketika Dave tak bisa berkata-kata melihat sang kakak memegang kue tart dengan lilin yang menyala di atasnya.
"Happy birthday Mas,," Ucap Davina.
"Maaf sedikit terlambat dan harus merayakannya di rumah sakit." Davina sedikit kecewa karna tidak sesuai dengan rencana yang sudah dia buat.
Dave langsung memeluk Davina dan mendaratkan kecupan di kening dan bibirnya.
"Terimakasih,, ini lebih dari cukup."
__ADS_1
"Aku jauh lebih bahagia karna memiliki istri sepertimu." Air mata Dave akhirnya tumpah.
"Anak kita akan menjadi kado terindah di hari ulang tahunku." Dave mengusap perut Davina dan mengecupnya berulang kali.
"Selamat ulang tahun Dave."
Mama Sandra dan Papa Edwin juga mengucapkan selamat ulang tahun pada Dave, di susul dengan Farrel dan Nabila yang juga ikut memberinya selamat.
Kebahagiaan dan haru menjadi satu.
...****...
"Anak saya laki-laki Dok.?" Tanya Dave memastikan. Walaupun dia mendengar dengan jelas saat dokter mengatakan bahwa anak pertamanya yang baru saja lahir ke dunia berjenis kelamin laki-laki.
Mereka baru mengetahui jenis kelamin putranya setelah putranya terlahir ke dunia. Pasalnya setiap kali melakukan USG untuk melihat perkembangan dan jenis kelamin sang anak, mereka tak bisa melihatnya karna anak dalam perut Davina selalu menutupi jenis kelaminnya.
Tapi meski tidak pernah mengetahui jenis kelamin anaknya selama dalam kandungan, Davina dan Dave sudah menyiapkan nama anak laki-laki dan perempuan.
"Benar Pak. Dia jagoan dan sangat tampan." Jawab sang Dokter. Dia menyerah bayi itu untuk di bersihkan agar bisa segera di lakukan IMD dengan meletakkan bayi itu di atas dada Davina.
Dave yang sejak tadi duduk di samping Davina selama proses persalinan secara sesar itu, kini kembali mengusap pipi Davina dan mendaratkan kecupan di keningnya untuk kesekian kali.
"Tebakan kamu benar sayang,," Kata Dave lirih. Dia juga tak bisa membendung air matanya seperti Davina yang sejak tadi sudah menangis. Menangis saat mendengar tangisan sang putra untuk pertama kalinya.
"Terimakasih untuk kado yang paling berharga ini." Dave menempelkan keningnya pada keningnya Davina.
Hari ini merupakan ulang tahun Dave yang ke 33 tahun, bertepatan dengan lahirnya jagoan pertamanya.
Tentu saja ulang tahunnya kali ini akan menjadi ulang tahun yang paling berkesan seumur hidupnya.
Davina yang tidak bisa berkata-kata hanya bisa mengangguk.
Tak lama salah satu suster membawa bayi itu untuk di letakkan di atas dada Davina. Bayi yang masih merah itu langsung menjadi pusat perhatian Dave dan Davina. Tangis mereka semakin pecah. Keduanya memandangi wajah putra mereka begitu lekat.
Ada kebahagiaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata saat melihat wajah mungil itu secara langsung.
Davina menyentuh lembut kepala putranya. Bayi mungil yang seketika mampu mengubah dunianya saat itu juga.
"Dia sangat mirip denganmu,," Komentar Dave. Jemarinya menyentuh wajah mungil putranya yang lebih mirip dengan Davina meski bentuk hidungnya sama sepertinya.
"Selamat datang ke dunia Aditya sayang,," Ucap Davina. Dia menyambut kelahiran putranya dengan perasaan yang bercampur aduk. Disertai kebahagiaan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
Dave tersenyum, kemudian mendekap putra dan istrinya dengan penuh cinta.