
Davina menatap dirinya sendiri dalam pantulan cermin. Wanita cantik itu mengukir senyum lebar.
Dia baru saja memoleskan make up tipis di wajahnya. Rambutnya juga baru di tata ulang.
Di hari ulang tahunnya, Davina ingin memberikan sedikit hadiah pada Dave. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karna suaminya itu telah menyiapkan acara ulang tahun sekaligus baby shower untuknya.
Sembari menunggu Dave kembali ke rumah. Davina sudah menata kamar. Dia meletakkan beberapa kelopak bunga mawar di tempat tidur.
Dan hiasan dari acara ulang tahunnya yang dia ambil dari halaman belakang.
Davina beranjak dari depan meja rias. Selain memoleskan make up dan menata rambut, Davina juga sudah menyemprotkan parfum pada lingeri tipis yang dia kenakan.
Tak lupa mengoleskan body lotion dari ujung kaki hingga leher.
Bisa di bayangkan seperti apa aroma tubuh Davina saat ini.
Wangi yang menguar dari tubuhnya sudah pasti akan membangkitkan gairah sang suami. belum lagi dengan balutan kain tipis yang menerawang.
Bisa di pastikan Dave akan langsung menghajar Davina tanpa ampun.
Davina mengambil ponselnya. Dia harus menelfon Dave untuk menanyakan keberadaan suaminya saat ini.
30 menit yang lalu, Dave bilang kalau dia akan kembali ke rumah karna sudah mengambil barang-barang dari apartemen.
Jadi kemungkinan saat ini Dave hampir sampai atau bahkan sedang berada di lantai bawah.
Sementara itu, Dave menyuruh Farrel untuk membongkar barang dari bagasi mobilnya.
Dia meminta Farrel agar memindah barang-barang itu ke ruang keluarga agar nantinya bisa di bereskan oleh asisten rumah tangga.
"Ada satpam, kenapa tidak menyuruh mereka saja." Keluh Farrel. Dia tampak kesal pada Om nya itu. Kesal lantaran baru kembali ke rumah pukul 11 malam. Dia jadi tidak bisa pergi menemui Silvia.
"Kasihan mereka sedang tidur."
"Lagipula apa salahnya sekalian kamu bawa ke dalam." Nada bicara Dave tegas dan memaksa.
Farrel berdecak kesal, tapi dia tetap menjalankan perintah Dave.
Dering ponsel membuat Dave menghentikan langkah. Dia mengambil ponselnya setelah menurunkan barang dari bagasi.
__ADS_1
Dia buru-buru menjawab panggilan telfon yang masuk karna panggilan telfon itu dari Davina.
Karna kalau sampai telat sedikit saja menjawab telfon dari istri tercintanya, maka dia akan habis mendapatkan ocehan.
"Ya sayang,,, ada apa.?" Tanya Dave lembut.
Farrel yang tengah berdiri di samping Dave langsung melirik geli.
"Ya sayang,, ada apa.?" Seru Farrel menirukan gaya bicara Dave.
"Cihh, suami macam apa tidak ada wibawanya sama istri." Cibirnya lalu buru-buru pergi dari sana.
"Dasar sialanya.!!" Umpat Dave emosi. Dia melepaskan sendal dan melemparkannya ke arah Farrel, tapi tidak tepat sasaran karna Farrel sudah masuk ke dalam.
"Apa.?!! Berani sekali kamu menyebutku sialan.??!!" Suara menggelegar Davina terdengar dari ponselnya. Dave reflek menjauhkan ponselnya karna kaget.
"Mati aku.!" Gumam Dave sembari menepuk keningnya sendiri.
Davina pasti mengira kalau umpatan itu untuknya.
"Sayang,, aku sedang bicara dengan Farrel. Dia baru saja meledekku." Ujar Dave menjelaskan.
"Awas saja kalau bohong.!!" Ketus Davina.
"Cepat ke kamar, aku beri waktu selama 3 menit."
"Lebih dari itu, Mas tidur saja di luar.!" Ancam- kemudian langsung mematikan sambungan telfonnya.
Di dalam kamar Davina tampak terkekeh geli karna baru saja mengerjai Dave.
Sebenarnya dia sudah tau kalau umpatan Dave di tujukan pada Farrel. Karna dia sempat mendengar suara Farrel di sana.
Menutup bagasi mobil dengan cepat, Dave setengah berlari masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan barang bawanya yang dia tinggal di garasi.
Saat ini yang terpenting adalah dia bisa sampai ke dalam kamar tepat waktu. Jangan sampai malam ini dia tidur di luar.
Nafas Dave tersenggal setelah melakukan lari maraton dengan jarak yang lumayan jauh dan harus menaiki tangga.
Tapi agaknya dia sampai di depan kamar Davina tepat waktu. Pria itu buru-buru membuka pintu kamar.
__ADS_1
"Sayang aku,,,"
Dave tak meneruskan ucapannya saat mendapati keadaan kamar yang sangat gelap. Dia bahkan tidak bisa melihat apapun di dalamnya.
Hanya ada cahaya dari luar kamar yang sedikit masuk ke dalam.
"Sayang, kamu di dalam.?" Nafas Dave masih terdengar tersenggal.
"Masuk.! Tutup dan kunci pintunya.!" Suara tegas Davina terdengar dari sudut kamar.
Dave menelan ludah. Entah apa yang akan Davina lakukan padanya.
Apakah ibu hamil itu sudah berubah menjadi psiko pat yang akan menyiksanya.
Dave berusaha tenang dengan mengatur nafasnya. Dia melangkah masuk, menutup pintu dan menguncinya sesuai permintaan Davina.
"Aku minta maaf sayang. Sungguh itu umpatan untuk Farrel, dia,,,"
"Sampai kapan mau berdiri di situ.? Mas tidak mau memelukku.?" Suara Davina kembali membuat Dave keringat dingin.
Tapi ada satu hal yang baru dia sadari, yaitu aroma wangi menguar dari kamar ini sejak pertama kali dia membuka pintu.
Dave baru bisa berfikir untuk menyalakan lampu, dia kemudian berjalan kesamping pintu sembari meraba dinding untuk menemukan saklar lampu.
Dave tersenyum saat tangannya berhasil menemukan saklar. Dia langsung menekannya dan saat itu juga seluruh isi kamar bisa dia lihat dengan jelas menggunakan kedua matanya.
Termasuk sosok wanita cantik yang tengah duduk di sisi tempat tidur.
Dengan balutan lingeri tipis berwarna maroon, wanita cantik itu tampak menggoda.
Dave mengamati semua hiasan dan bunga yang ada di dalam kamar. Senyumnya merekah, dia buru-buru mendekat ke arah ranjang.
"Sayang kamu,,,"
"Apa Mas suka dengan kejutannya.?" Davina memotong ucapan Dave seraya berdiri menghadap suaminya itu.
Kini keindahan dalam diri Davina dapat Dave lihat dengan jarak yang sangat dekat.
Dave tampak menelan ludah. Pemandangan itu membuatnya kehilangan akal sehat.
__ADS_1