
"Sayang,,, sayang,,,! Kamu baik-baik saja.?" Davina menggoncang kasar pundak Dave. Suaminya tiba-tiba memejamkan mata dan tergeletak di sofa setelah mengatakan bahwa kepalanya akan meledak.
"Berhenti mencurigaiku sayang, atau kepalaku benar-benar meledak nanti." Keluh Dave lesu. Matanya masih tetap terpejam dengan tubuh yang bersender di sofa. Dia butuh ketenangan agar pikirannya tetap waras menghadapi kecemburuan Davina yang berlebihan.
"Ck,,! Aku pikir pingsan." Setelah tau Dave baik-baik saja, Davina bergeser menjauh. Bibirnya mencebik, bagaimana bisa Dave menyeuruhnya untuk berhenti curiga. Sedangkan apa yang dulu di lakukan oleh Dave benar-benar sampai tertanam di hatinya hingga menimbulkan trauma tersendiri.
Pengkhianatan, satu kata namun mampu membuatnya terus mengingat kenangan buruk itu.
Meski tak terbukti ada hubungan spesial, tetap saja perbuatan Dave yang dulu tak bisa di benarkan dan masuk dalam kategori pengkhiatan.
Mencintai dan masih mencari keberadaan wanita lain disaat sudah menikah, istri mana yang tidak hipertensi lantaran menahan berbagai perasaan dan amarah dalm satu waktu.
"Kamu ini sulit sekali di bujuk,," Dave bergeser mendekat. Dia merasakan ketika Davina bergeser menjauh. Wanita itu terlihat semakin kesal saja padanya meski dia berusaha untuk menenangkan.
"Sepertinya hanya ranjang yang bisa menenangkan pikiran kamu hingga tidak ada celah untuk cemburu padaku." Dave mengedipkan mata, dia mengeluarkan jurus andalan kuda-kuda yang paling mujarab untuk menghilangkan kemarahan Davina.
"Jangan macam-macam, aku sedang lelah." Davina langsung menolak. Tangannya menahan dada bidang Dave yang bergerak mendekat.
"Tenang saja aku tidak akan membuatmu lelah, justru akan membuatmu men de saah nikmat." Dave masih usaha, dia tak pantang menyerah untuk mengajak Davina melakukan olahraga di sore hari.
"Lagipula kasihan baby kita kalau kamu kelelahan."
"Cukup diam dan pasrah saja di atas ranjang, aku pastikan rasa nikmatnya tidak akan berkurang." Seringai mesum menghiasi wajah pria berusia 32 tahun itu.
Tangannya mulai memberikan sinyal dengan mendekat pada kenyal yang akan memberikan tegangan tinggi saat menyentuhnya.
"Dasar buaya kelas kakap, pandai sekali merayu." Davina mencebikkan bibirnya setelah mencibir Dave. Memberikan title buaya kelas kakap pada suaminya. Gelar itu memang pantas di berikan kepada Dave karna pria itu terlalu mahir mengajak istrinya ber cinta sampai tidak kuasa untuk menolak.
"Buktikan saja ucapan Mas, jangan banyak bicara nanti malu kalau tidak sesuai ucapan." Tantang Davina.
Dave justru semakin semangat karna mendapatkan tantangan dari Davina. Dia tak ragu untuk merapatkan tubuhnya pada sang istri dan langsung meraih tengkuk istrinya itu.
"Kamu meragukan kemampuanku hah.?" Tanya Dave dengan seringai mesum. Tanpa aba-aba dia langsung menyambar bibir Davina. Menye saaap dan melum matnya layaknya makanan manis yang lezat.
Tangan satunya tak tinggal diam, menyusup di balik gaun Davina dan merem masnya kasar.
__ADS_1
Davina tampak kewalahan mengimbangi bagutan bibir Dave. Namun dia tak mau kalah dan berusaha membalas ***** an itu dengan rakus.
Dua insan itu mulai lupa daratan, mereka bahkan lupa dengan perdebatan yang baru saja terjadi.
Keduanya sibuk bertukar saliva hingga suara pagutan bibir mereka mengiringi kegiatan yang mampu membangkitkan gairah.
"Bagaimana.? Apa masih berani meragukan kemampuanku.?" Dave masih konsisten menggoyangkan pinggulnya di atas tubuh Davina. Bergerak pelan namun melesatkan jauh ke dalam, membuat Davina menjerit nikmat setiap kali benda itu mendorong jauh.
"Siapa bilang aku meragukan Mas Dave, aku,,, euhhh,,," Davina menahan suara e rotisnya.
Dave tampak sengaja mempercepat tempo meski masih dengan gerakan pelan.
Melihat wajah Davina yang memerah karna berkabut gairah, Dave semakin bersemangat.
"Keluarkan saja, jangan di tahan." Goda Dave. Dia bisa merasakan Davina akan kembali mendapatkan pelepasan untuk kedua kalinya. Terlihat dari cengkraman tangan Davina pada seprei yang semakin kuat.
Dave memasukkan tubuh polos Davina ke dalam bathtub berisi air hangat. Dia kemudian menyusul, ikut berendam di samping istrinya yang tampak tak berdaya lagi setelah 3 kali menyemburkan cairan di ranjang.
"Rasanya lemas sekali,," Keluh Davina seraya memejamkan mata. Dia meyandarkan kepalanya di dafa bidang Dave.
"Aku masih sanggup membuatmu lemas kalau kamu mau." Bisik Dave di telinga Davina, dia sampai memberikan gigitan kecil di sana karna terlalu gemas dengan istrinya.
"Tidak mau, bisa-bisa aku langsung melahirkan." Sahut Davina seraya mencebikkan bibir.
Dave terkekeh kecil, pandangan matanya turun ke perut besar Davina. Dia mengusapnya dengan gerakan memutar.
"Anak Papa baik-baik saja kan di dalam.?" Tanya Dave seraya mengulum senyum.
"Aku bosan melihat kepala botak setiap hari." Jawab Davina, suaranya di buat seperti bayi di bawah lima tahun.
"Sayang, apa maksudmu.?" Dave benar-benar tidak paham sampai mengerutkan kening.
"Jangan pura-pura tidak tau, memangnya kepala mana lagi yang botak setelain kepala atas." Seru Davina yang lantas membuat Dave tertawa.
Tiba-tiba muncul ide jahil di kepalanya. Dia memegang tangan Davina dan langsung mengarahkan telapak tangan Davina di atas kepala botak itu.
__ADS_1
"Kepala ini yang kamu maksud.?" Ujar Dave setelah berhasil membuat Davina menyentuhnya.
"Iiisshh.!! Jahil sekali.!" Davina melotot. Bukan apa-apa, tapi Dave menahan tangannya tetap di sana sampai kepala botak itu terasa mekar dan keras.
Tawa Dave semakin pecah, dia geli sendiri melihat raut wajah Davina yang kesal bercampur malu.
...*****...
"Mama tidak akan mengijinkan kamu tinggal di apartemen." Mama Sandra menolak mentah-mentah rencana Farrel yang akan mengajak Nabila tinggal berdua di apartemen.
"Rumah ini masih cukup luas untuk kamu tempati bersama Nabila."
"Kalau kamu merasa kamarnya tidak cukup luas di tempati berdua, besok Mama akan menyuruh orang untuk merenovasinya untuk di perluas." Tambahnya dengan tatapan tegas pada putra satu-satunya itu.
Perdebatan ini terjadi di meja makan, tepatnya setelah makan malam bersama dan tiba-tiba Farrel mengutarakan keinginannya untuk pindah ke apartemen mulai besok pagi.
"Kamar kak Farrel sudah luas Mah, untuk apa di perluas lagi. Memangnya mau main kuda-kudaan seperti apa di dalam.?" Celetuk Davina yang membuat semua orang langsung menatap ke arahnya.
"Sayang.!" Dave menegur Davina dengan berbisik. Dia tidak menyangka istrinya itu akan ikut berkomentar. Padahal Davina sedang asik menikmati salad buah.
"Aa,,aaku tidak bermaksud apa-apa." Davina tersenyum kikuk setelah menyadari ada yang salah dengan ucapan.
"Kalau begitu aku ke kamar duluan, ayo sayang,," Davina langsung beranjak dari duduknya, menyambar mangkuk berisi salad buah dan mengajak Dave pergi dari sana tanpa merasa berdosa telah membuat mereka berfikir macam-macam.
"Bukan perkara kurang luas, tapi kurang leluasa."
"Bukankah lebih baik tinggal terpisah dari orang tua setelah menikah.?"
Davina menoleh, dia masih mendengar suara Farrel yang kembali berdebat dengan sang Mama.
"Sudah, jangan kepo.!" Dave memutar keoala Davina agar lurus kedepan. Istrinya itu masih sempat-sempatnya menoleh kebelakang setelah pamit pergi.
"Kira-kira mereka akan tinggal dimana pada akhirnya.?" Ujar Davina pada Dave.
"Dimana saja asal jangan di kamar kita. Aku tidak mau tidur berempat dalam satu kamar." Jawab Dave.
__ADS_1
Davina sontak membulatkan mata. Bisa-bisanya suaminya punya jawaban tak masuk akal seperti itu.