Lahirnya Sang Pewaris

Lahirnya Sang Pewaris
Bab 9


__ADS_3

Melihat Dave yang hilang kendali, Davina langsung menghampiri dan menarik tangannya untuk sedikit menjauh dari Juno. Davina takut Dave akan reflek menghajar Juno, karna dia tau betul seperti apa suaminya jika sudah tersulut amarah.


"Jangan seperti ini." Tegur Davina lirih. Dia tidak bermaksud membuat Dave malu di depan Juno karna menariknya agar menjauh.


Dengan sikap arogan dan ketus yang dimiliki oleh Dave, tentu saja laki-laki itu tak akan mau mau kalah.


"Lalu aku harus seprti apa.?!" Sahut Dave sewot.


"Si brengsek itu sedang mencari masalah denganku.!" Dave mencibir Juno sembari menunjuknya.


Suami mana yang tidak akan marah jika ada laki-laki yang memang dekati istrinya dan membahas tentang masa lalu.


"Brengsek.?" Juno mengulangi ucapan Dave dengan senyum geli. Baru kali ini ada orang asing yang mengatai dirinya dengan sebutan brengsek.


"Bagus kalau kamu dengar.!" Sinis Dave ketus.


"Kau harus dengar dan ingat baik-baik.! Davina sudah menikah, dia istriku.!" Ujar Dave penuh penekanan. Dia juga menatap tajam pada Juno tanpa kedip, seolah menandai wajah Juno yang sudah berani mendekati istrinya.


Juno terdiam, dia masih mencerna apa yang di ucapkan oleh Dave. Rasanya sulit untuk di percaya jika Davina sudah menikah.


"Benarkah.? Tapi aku tidak,,,


"Apa.?!! Kau mau bilang kalau tidak percaya.?!" Potong Dave. Laki-laki itu semakin kesal saja pada Juno yang tidak mau percaya dengan ucapannya.


"Bukan hanya sudah menikah, tapi dia juga sedang mengandung anakku.!" Serunya geram.


"Ayo pulang.!" Dave kemudian menggandeng tangan Davina dan menariknya untuk pergi dari kafe. Namun Davina enggan beranjak dari sana.


"Tidak mau, aku ingin makan es krim sekarang." Davina melepaskan tangannya dari genggaman Dave.


"Lihat, pesanan kita bahkan sudah sampai." Davina menatap ke salah satu pelayan yang sedang berjalan ke arahnya.


"Makan es krimnya dulu baru pulang." Pintanya degan tatapan memohon. Tidak tega melihat Davina yang terlihat sangat ingin memakan es krim, Dave akhrinya mengurungkan niat membawa Davina pergi dari kafe.

__ADS_1


"Maaf Kak Juno, mungkin lain kali kita bisa bicara lagi." Ucap Davina. Secara tidak langsung dia menyuruh Juno untuk pergi dari mejanya, meski sebenarnya dia merasa tidak enak pada Juno. Karna Juno harus mendapatkan cibiran dan perlakuan tidak menyenangkan dari Dave.


"Memangnya siapa yang akan mengijinkanmu bicara lagi dengannya.?" Dave menatap kesal.


"Jangankan bicara lagi, aku pastikan kalian tidak akan bisa bertemu lagi.!" Sinis Dave dengan tatapan sengit.


"Maaf Kak Juno, suamiku memang menyebalkan."


"Tolong jangan di ambil hati." Davina meminta maaf pada Juno atas nama suaminya. Karna kemarahan yang di luapkan oleh Dave tidak beralasan.


Tidak seharusnya Dave bersikap seperti itu pada Juno. Apalagi sikap Juno saat mengobrol dengan Davina masih dalam batas wajar. Juno tidak melakukan sesuatu yang berlebihan seperti kontak fisik contohnya. Dan apa yang dia ucapkan juga hal yang wajar.


Sementara itu, Dave mengukir senyum smirk pada Juan.


"Kau dengar sendirikan Davina menyebutku apa.?!" Ujar Dave dengan rasa bangga karna Davina mau mengakui dirinya sebagai suami di depan Juno. Ya walaupun ada embel-embel yang kurang enak di dnegar olehnya.


"Tentu saja aku dengar. Aku tidak tuli." Sahut Juno.


"Kau.!!" Pekik Dave geram. Dia sampai reflek ingin meninju Juno, namun Davina mencegahnya.


"Ya ampun,, sudah Mas.!" Tegur Davina.


"Maaf Nona, makanannya mau di taruh di mana.?" Pelayan datang menghampiri Davina. Dia terlihat kebingungan untuk meletakkan pesanan Davina lantaran sedang terjadi perdebatan sengit.


"Letakkan di meja ini saja." Jawabnya.


"Maaf karna sudah membuat keributan disini." Davina merasa tidak enak pada pelayan kafe. Doa takut keributan mereka sudah mengganggu kenyamanan pengunjung kafe.


"Kenapa kamu harus minta maaf." Tegur Dave.


"Orang ini sudah menganggu kami, bisa tolong usir laki-laki ini.?" Ujarnya pada pelayan tadi.


Dengan perdebatan yang kembali terjadi antara Dave dan Davina, Juno. akhirnya mengalah dan bergegas pergi dari kafe. Padahal dia sedang ada janji untuk bertemu dengan teman kuliah saat masih di Indonesia.

__ADS_1


...****...


"Kenapa harus membuatku malu,," Davina protes pada Dave sembari mencebikan bibirnya. Dia buru-buru pergi ke mobil setelah menegur Dave.


Wanita hamil itu tiba-tiba marah pada Dave setelah keluar dari kafe. Padahal saat sedang makan es krim bersama, Davina masih baik-baik saja. Dia tak membahas apapun masalah Juno. Serta tidak menegur apa yang telah di lakukan oleh Dave.


Dave hanya bisa menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, dia mencoba untuk sabar agar tidak lepas kendali di depan Davina. Karna jika dia terus membalas ucapan Davina, masalahnya pasti akan melebar ke mana-mana dan tidak akan ada habisnya untuk berdebat.


Dave menyusul masuk ke dalam mobil, namun Davina langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela karna enggan melihat Dave.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu malu." Ucap Dave lembut. Dia meraih tanga Davina dan menggenggamnya, terus menatap wanita itu meski Davina enggan menatapnya.


"Aku tidak bisa melihat laki-laki lain berbicara denganmu dengan begitu dekat. Seperti tadi contohnya." Tuturnya


"Dia bahkan membahas masa lalu kalian." Keluh Dave. Entah kenapa dia tidak bisa tenang setiap kali melihat Davina berbicara dengan lawan jenis. Rasa-rasanya ada sesuatu yang menyakitkan di dalam hati saat melihat Davina dekat dengan laki-laki. Sesuatu yang menyakitkan itu mampu membuat amarahnya meluap.


"Aku janji lain kali tidak akan bersikap berlebihan seperti tadi."


Davina menoleh, menatap lekat wajah Dave yang terlihat menyesali apa yang baru saja dia lakukan di kafe tersebut.


Sebenarnya Davina tidak mempermasalahkan sikap Dave yang cemburu melihatnya bersama Juno. Karna kecemburuan Dave menandakan bahwa Dave benar-benar mencintainya.


Yang jadi masalah adalah, Dave tidak berfikir jika dirinya sedang berada di tempat umum. Rasanya tidak pantas jika terjadi perdebatan seperti tadi di tempat umum dan jadi konsumsi publik.


"Tentu saja tidak boleh seperti itu lagi." Jawab Davina.


"Aku malu jadi bahan tontonan orang-orang disana." Ujarnya kesal.


"Iya sayang,, aku minta maaf."


"Jangan marah lagi,," Dave meminta dengan tatapan memelas.


Dia takut melihat Davina yang masih marah padanya. Karna membujuk Davina yang sedang marah, jauh lebih sulit dari memimpin perusahaan besar.

__ADS_1


__ADS_2