
Suasana di taman belakang rumah mulai sepi. Satu persatu teman Davina pamit pulang.
Kini hanya tersisa keluarga besar saja beserta pekerja rumah yang sedang menikmati makanan bersama.
Sebagian pekerja rumah memindahkan kado-kado milik Davina ke ruang keluarga.
"Kalian tidak ada rencana untuk tinggal di rumah ini.? Paling tidak sampai anak kalian lahir dan Davina sudah bisa mengurusnya sendiri." Ujar Papa Edwin.
Sebagai orang tua, Papa Edwin pasti tidak mau melihat putrinya kesulitan dalam mengurus anak yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia.
Belum lagi usia Davina yang masih terlalu muda, pasti belum paham dan berpengalaman dalam mengurus anak pertamanya.
Dan tujuan Edwin meminta Davina untuk tinggal satu rumah dengannya agar Sandra bisa membantu dan mengajari Davina bagaimana caranya mengurus serta merawat anak yang baik dan benar.
Dave dan Davina saling menatap. Sejujurnya mereka memang tidak ada rencana untuk tinggal satu rumah dengan orang tua. Karna mereka lebih nyaman dan leluasa jika tinggal terpisah dengan orang tua.
"Saya terserah Davina saja,," Ucap Dave.
Walaupun di tidak suka tinggal di rumah sang Kakak lantaran ada Farrel, tapi Dave juga tak bisa menolak masukan dari Papa mertuanya. Karna Papa mertuanya itu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya.
Davina melirik Farrel sebelum menentukan keputusannya.
Kakak iparnya itu sedang sibuk sendiri dengan ponsel di tangannya. Sejujurnya Davina penasaran akan hubungan Farrel dan Nabila yang sebenarnya. Itu sebabnya Davina jadi mempertimbangkan saran dari sang Papa untuk tinggal bersama di rumah ini.
Setidaknya dengan tinggal satu rumah bersama Farrel, dia akan mendapatkan sedikit informasi tentang hubungan mereka. Dan bisa mengetahui siapa sebenarnya yang sudah meninggalkan jejak kepemilikan di leher Nabila.
"Iya Pah,, Davina mau tinggal di sini." Jawab Davina pada akhirnya.
"Tidak masalah kan sayang.?" Davina meminta persetujuan dari suaminya. Walaupun dia yakin kalau Dave tidak akan berani menolak permintaannya.
"Tidak masalah. Aku lebih tenang menitipkan kamu pada Kak Sandra kalau pergi ke kantor." Ujar Dave. Tangannya seraya mengusap lembut kepala Davina. Laki-laki dingin itu sudah mulai mencair belakangan ini.
Cintanya pada sang istri telah merubah kepribadiannya.
"Mama senang kalau kamu mau tinggal di sini."
"Jadi ada teman ngobrol lagi." Timpal Sandra.
Adanya Davina di rumah pasti akan memberikan suasana baru, tidak seperti biasanya yang sepi. Farrel lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah ataupun di dalam kamar. Putranya itu hanya keluar kamar untuk makan saja, sudah sulit untuk di ajak bicara empat mata ataupun sekedar bercerita. Mungkin karna usianya sudah semakin dewasa, jadi tidak terlalu dekat seperti dulu.
__ADS_1
Suara dering ponsel milik Farrel menghentikan obrolan yang terjadi di antara mereka. Semua mata tertuju pada Farrel.
"Ekhem,," Farrel berdehem karna sadar dirinya menjadi pusat perhatian. Dia kemudian beranjak dari duduknya.
"Aku ke dalam dulu,," Pamitnya kemudian buru-buru pergi sembari mengangkat panggilan telfon yang masuk.
Davina menatap kepergian Farrel dengan tatapan curiga. Dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Farrel.
Entah kenapa jadi tidak bisa percaya dengan omongan Farrel yang mengaku tak melakukan apapun pada Nabila.
"Sayang,, aku mau ke toilet sebentar." Davina beranjak dari duduknya.
"Biar aku antar." Dave hendak ikut berdiri, tapi Davina malah melarangnya.
"Tidak usah Mas, kamu disini saja. Sepertinya Papa juga masih ingin bicara sama kamu."
Davina sengaja melarang Dave untuk ikut masuk ke dalam, karna jika Dave ikut, maka akan sulit untuk menguping pembicaraan Farrel.
Davina kemudian buru-buru masuk ke dalam rumah. Dia mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Farrel. Kakak tirinya itu tidak kelihatan batang hidungnya.
"Dimana Kak Farrel.? Cepat sekali perginya,," Gumam Davina lirih. Langkahnya tak berhenti untuk mencari sosok yang sedang dia curigai.
Suasana di dalam rumah benar-benar sepi karna hampir semua pekerja rumah sibuk di halaman belakang.
Davina menaiki anak tangga dengan hati-hati. Perutnya yang semakin membesar serta berat badannya yang naik drastis, membuat Davina tak lagi lincah menaiki anak tangga. Dia juga harus menjaga keseimbangan agar tak terjadi sesuatu padanya.
Baru selesai menaiki anak tangga, Davina melihat sekelebat bayangan seseorang yang masuk ke dalam kamar Farrel dan langsung menutup pintu.
Yakin jika seseorang yang baru masuk adalah Farrel, Davina buru-buru melangkahkan kakinya ke arah kamar.
Wanita hamil itu baru saja akan membuka pintu tanpa permisi untuk menguping obrolan Farrel, tapi baru mendekatkan kepalanya, dia sudah di buat syok.
"Kamu ganas sekali,," Terdengar suara menggoda seorang wanita dari dalam kamar Farrel.
"Aku tidak tahan,," Sahutan Farrel terdengar berat. Davina hapal betul jenis suara seperti itu. Mirip seperti suara suaminya jika sudah tidak bisa menahan hasratnya.
"Ya ampun,, siapa wanita itu." Gumam Davina cemas. Dia tau pemilik suara itu bukan Nabila, tapi rasanya tidak bisa membiarkan Farrel melakukan hal di luar batas meski kakak tirinya itu sudah dewasa.
"Kalau tanda kepemilikan di leher Nabila karna perbuatan Kak Farrel, aku tidak akan membiarkan Kak Farrel bermain-main dengan wanita lain." Gumamnya.
__ADS_1
Davina jadi terbawa perasaan, dia jadi tidak tega memikirkan nasib Nabila.
"Kamu tidak boleh bermain gila Kak,," Ucap Davina dengan tekad yang sudah bulat untuk menggagalkan percintaan di dalam sana.
Tokk,, tokk,,, tokk,,!!!
Davina mengetuk pintu dengan kencang.
"Kak,,?!" Serunya.
"Kak Farrel buka pintunya.!!" Davina sampai berteriak. Dia takut terlambat menggagalkan hubungan terlarang itu.
Tak ada jawaban. Suara yang sempat terdengar dari dalam kamar kini tak terdengar lagi.
"Aku tau Kak Farrel ada di dalam.!"
"Siapa wanita itu.?!!"
"Buka pintunya atau aku akan memanggil Mama dan Papa,,!!" Davina terpaksa memberikan ancaman supaya Farrel mau membuka pintu.
"Kak,,!! Cepat buk,,
Davina tak melanjutkan ucapannya ketika pintu tiba-tiba terbuka. Farrel keluar dari kamar.
"Ada apa.?!" Tanyanya sembari menutup pintu kamar.
Davina jadi tidak bisa melihat ke dalam kamar karna Farrel buru-buru menutupnya.
"Dimana wanita itu.? Kenapa dia tidak ikut keluar.?" Nada bicara Davina seperti sedang mengintrogasi.
"Wanita.? Wanita yang mana.?" Tanya Farrel santai. Dia enggan mengakui, padahal jelas-jelas ada suara wanita di dalam kamar dan Davina sangat yakin bukan berasal dari sambungan telfon.
"Jangan pura-pura Kak, aku yakin ada wanita di dalam kamar Kakak." Davina semakin tajam menatap Farrel.
"Suruh dia keluar dan pergi dari rumah ini, atau aku akan mengadukannya pada Mama.!" Ancamnya tak main-main.
"Jangan campuri urusanku.!" Tegur Farrel dingin.
Dia kemudian masuk kembali ke dalam kamar dan menguncinya, tak menghiraukan Davina yang sudah di buat naik darah.
__ADS_1