Lahirnya Sang Pewaris

Lahirnya Sang Pewaris
Bab 28


__ADS_3

"Cantik sekali,," Kedua tangan Dave melingkar di perut besar Davina. Pria itu memeluk istrinya yang tengah berdiri di depan cermin dengan balutan gaun berwarna putih gading.


Memeluk dari belakang dan meletakkan dagu di pundak istrinya itu seraya menatap pada cermin.


Senyum Davina merekah, semakin menambah kecantikan yang terpancar dari wajahnya dengan riasan make up tipis.


"Ayo turun, sebentar lagi acaranya di mulai." Ajak Dave.


"Keluarga Nabila juga sudah datang sejak tadi." Ujarnya.


Dia baru selesai mengecek semua kesiapan di taman belakang yang sudah di sulap sebagai tempat pernikahan Farrel dan Nabila.


"Sudah tidak sabar memandangi wajah mantan ya.?" Celetuk Davina yang kemudian melepaskan kedua tangan Dave dari perutnya.


Tiba-tiba saja Davina tampak badmood setelah Dave mengajaknya turun kebawah dan membahas tentang keluarga Nabila yang sudah pasti ada Sisy disana.


Nyatanya meski sudah berusaha untuk tidak menunjukkan kecemburuan yang berlebihan, tapi tetap saja dia tidak bisa menahan diri.


Apa yang ada dalam hati dan isi kelapanya selalu ingin di ungkapkan begitu saja.


Dave terdiam seketika. Dia menatap heran, melihat istrinya yang tiba-tiba marah dan membawa-bawa masa lalunya.


Padahal sudah berulang kali dia meyakinkan Davina kalau Sisy hanya bagian dari masa lalunya yang sudah dia lupakan. Sudah tidak ada lagi perasaan apapun di hatinya untuk Sisy. Hanya Davina satu-satunya wanita yang menempati relung hatinya saat ini dan selamanya.


Cukup Davina, tidak akan ada nama wanita lain di hatinya.

__ADS_1


"Kamu itu bicara apa hmm.?" Dave mencubit gemas pipi chubby Davina seraya tersenyum teduh. Menghadapi bumil yang sedang dilanda kecemburuan memang harus full senyum dan sabar, tidak boleh ikut terbawa emosi.


"Untuk apa memandangi wajah wanita lain kalau wajah istriku sudah membuatku tidak bisa berpaling." Dave memegang dagu Davina, dia hendak mengecup bibir Davina tapi segera di tepis oleh si pemilik bibir sensual itu.


"Gombal,,!" Ujar Davina dengan bibir yang mencebik kesal.


Dia kemudian bergegas pergi, berjalan mendahului Dave.


Pria itu tampak menghela nafas berat seraya menyusul langkah istrinya.


Sepertinya apa yang dilakukan selalu salah di mata Davina kalau sudah menyangkut tentang Sisy.


Entah sudah berapa kali mereka memperdebatkan hal ini, tepatnya sejak makan malam di restoran bersama keluarga Nabila.


"Sayang,, aku tidak bohong,," Ucap Dave. Dia sedang berusaha untuk membujuk Davina agar tidak marah lagi padanya.


"Jangan marah seperti ini,," Dave berhasil mengejar langkah Davina dan menggenggam tangannya.


"Kamu tau sendiri aku selalu cemas setiap kali melihat kamu marah padaku."


"Jangan membuatku cemas,," Dave menatap memohon.


"Ok, tapi janji dulu padaku kalau Mas tidak akan menatap wanita itu selama acara berlangsung.!"


Pintanya. Davina tidak rela kalau kedua mata indah Dave memandangi wanita di masa lalunya.

__ADS_1


Selain itu, dia juga takut Dave akan kembali jatuh cinta pada Sisy jika saling pandang.


Meski dia yakin Dave tak akan berani macam-macam, tapi tetap saja ada kecemburuan dan rasa takut di hatinya.


"Baiklah. Apa perlu aku memakai penutup mata.?" Ujar Dave seraya menahan tawa.


Kecemburuan Davina memang membuatnya besar kepala, karna dari rasa cemburu itulah kita bisa melihat seberapa besar pasangan kita mencintai kita. Tapi Dave juga sedikit kesal karna kesabarannya selalu di uji untuk membujuk Davina.


"Kalau bisa aku bahkan ingin mengurung Mas Dave di kamar." Sahut Davina cepat.


Dave terkekeh. Istrinya itu benar-benar semakin posesif seiring dengan usia kehamilannya yang bertambah.


"Bagaimana kalau kita tidak perlu menghadiri pernikahan Farrel, lebih baik kita main-main saja di dalam kamar.?" Ajak Dave dengan tatapan menggoda.


"Apa belum puas meniduriku setiap hari.? Pagi, siang, sore, ma,,,


Davina menghentikan ucapannya lantaran melihat Sisy yang berhenti tepat di depannya.


Wanita itu terlihat akan masuk ke dalam rumah, sementara Davina dan Dave sudah berada di pintu belakang untuk menuju ke taman.


"Permisi,, aku mau ijin ke toilet." Ucap Sisy yang membungkuk sekilas sembari melempar senyum pada Davina.


Dia tentu saja mendengarkan celotehan Davina tentang Dave, itu sebabnya langsung menghentikan langkah di depan mereka.


"Silahkan,," Jawab Davina datar. Dia menggandeng tangan Dave dan mengajaknya beranjak dari hadapan Sisy.

__ADS_1


__ADS_2