
"Kenapa kamu tidak bisa keluar dari goa?" tanya ayahnya Moji dan Bujaro.
"Pertama, Araki memang belum terbiasa dengan latihan ini, Paman. Dan ternyata, goa yang saya lalui itu rupanya sebuah jebakan labirin. Untungnya saja, Araki mengetahui pintu keluar karena terdapat sebuah tanda pada batu itu, Paman." Jawab Araki menjelaskan dengan jujur, tanpa ada alasan yang lain.
"Lalu, saat kamu melalui hutan, bagaimana menurutmu, Araki?" tanya sang paman mengulangi pertanyaannya.
"Kalau hutan sih, Araki rasa masih mudah untuk di lalui, Paman. Meskipun banyak jebakan yang paman siapkan untuk kami, namun masih bisa melewatinya. Walaupun harus berpikir lebih keras lagi. Karena bagi Araki, hutan selalu dikaitkan penuh dengan misteri. Jadi, saat masuk kedalam hutan, tentunya harus waspada sebelum menentukan pilihan." Jawab Araki kembali menjelaskan tentang perjalanan dalam latihan untuk melewati hutan, serta jebakan yang sudah disediakan oleh ayahnya Bujaro dan Moji.
Setelah cukup puas mendapatkan jawaban dari Araki, dilanjutkan kembali pertanyaan yang ketiga kepada Araki sambil meminum segelas air.
"Bagaimana dengan rawa yang juga sudah kamu lewati, Araki?" tanya sang paman".
"Setelah keluar dari goa, berjalan memasuki rawa. Kemudian, Araki menjumpai Bujaro yang terperangkap di dalam lumpur hidup, Paman." Jawab Araki dengan nada serius.
"Terus, apa yang kamu lakukan saat melihat Bujaro masuk dalam perangkap jebakan?" tanya beliau kembali.
"Araki menawarkan diri untuk membantu Bujaro keluar dari lumpur hidup, tetapi justru Bujaro menolaknya, Paman." Jawab Araki.
"Kenapa menolak?" tanya beliau dengan rasa ingin tahu.
"Soal menolaknya karena apa, hanya Bujaro yang tahu, Paman. Araki hanya menawarkan diri untuk membantunya lepas dari jebakan lumpur hidup yang tadi, Paman." Jawab Araki.
"Terus, apa yang dilakukan Bujaro?"
"Dengan kelihaian yang dimiliki oleh Bujaro, akhirnya dia bisa keluar dari lumpur hidup itu, Paman. Kemudian setelah itu, kami berdua untuk kembali melanjutkan perjalanan bersama selanjutnya. Ternyata, Bujaro telah terbiasa melewati rawa, benar-benar hebat. Sambil melanjutkan perjalanan, kami banyak bercerita dengannya, juga tak lupa dari kami berdua untuk saling mengingatkan satu sama lain, yakni saat ada bahaya didalam rawa." Jawab Araki menjelaskan panjang lebar.
Ayah dari Bujaro dan Moji, tersenyum mendengarnya.
Tanya jawab antara keempat orang tersebut, masih terus berlanjut hingga tak terasa hari mulai senja. Tidak ingin terlambat pulang, akhirnya mereka berempat bergegas pulang dan menyudahi latihan pada hari itu juga.
__ADS_1
"Mari anak anakku, latihan untuk hari ini telah selesai, kita bisa latihan besok lagi, juga waktunya sudah senja. Lebih baik kita segera pulang, ibu kalian pasti menunggu kita." Ucap beliau dan mengajak anak-anaknya untuk pulang, lantaran sudah waktunya untuk kembali ke rumah.
"Siap." Jawab ketiganya dengan serempak
Kemudian, berdiri dan beranjak melangkahkan kakinya pulang ke rumah.
.
.
.
Berakhir lah latihan pada hari yang hampir dekat dengan pertandingan. Araki, Bujaro dan Moji begitu tak sabar untuk mengikuti pertandingan tahun ini. Hari terus berlalu, latihan demi latihan terus mereka lalui hingga tak sadar, jika hari perlombaan akan segera tiba waktunya.
Orang tua Bujaro yang merasa anak-anaknya telah siap untuk mengikuti pertandingan tahun ini, tak lupa memberi nasehat nasehat kecil untuk dijadikan bekal dalam pertandingan maupun perlombaan.
"Nasehat yang baik, Paman. Kita akan melakukan yang terbaik di pertandingan nanti." Jawab Araki.
"Ya, Ayah. Kita akan terus berusaha untuk menunjukkan kemampuan kita sebaik mungkin." Timpal Moji ikut menjawab.
"Dan pastinya, jangan pernah menyerah walau dinyatakan gugur sekalipun." Kata Bujaro ikut menimpali.
"Ingat, lawan kalian yang akan kalian hadapi bukan lawan biasa. Mereka semua memiliki banyak pengalaman dalam bertanding, siapkan mental kalian bertiga. Ayah telah memberikan banyak pelajaran kepada kalian, diingat pesan ayah dalam pertandingan nanti. Kalian harus waspada terhadap musuh-musuh kalian, dan jangan sampai kalian menganggap enteng walaupun musuh kalian terlihat lemah sekalipun. Bisa jadi, hanya pura-pura." Ucap beliau yang terus memberi nasehat kecil pada ketiganya.
Setelah Araki,Bujaro dan Moji memperhatikan beliau saat memberikan penjelasan tentang keadaan musuh yang akan dihadapi, tentunya untuk diterima pesan serta nasehatnya.
"Kami telah siap, Ayah. Kami akan berusaha untuk memberikan sesuatu yang membuat ayah bangga." Sahut Bujaro mewakili perkataan Araki dan Moji.
Waktu sudah berganti, kini tibalah waktunya yang sudah mereka nanti-nantikan. Hari dimana para pendekar berkumpul untuk mengikuti pertandingan di area yang sudah di persiapkan. Banyak sekali para pendekar dari berbagai penjuru negeri hadir untuk mengikuti pertandingan yang sudah diselenggarakan sejauh jauh hari. Para pendekar tengah berkumpul untuk menguji ilmu beladir
__ADS_1
"Araki,"
"Ya, ada apa?" jawabnya dan bertanya.
"Bagaimana perasaan kamu saat ini, Araki?" tanya Bujaro".
"Entahlah, aku tak tahu harus bagaimana. Aku belum pernah mengikuti acara yang ramai seperti ini." Jawab Araki yg merasa was-was.
"Semangat, jangan menyerah sebelum bertanding. Kita harus jadi yang terbaik, Araki. Apapun yang akan terjadi nantinya, kita harus menunjukkan kemampuan dengan baik." Ucap Moji ikut menimpali sambil memperhatikan para pendekar yang hadir di lokasi pendaftaran pertandingan.
Saat itu juga, Bujaro kehilangan jejak ayahnya dalam waktu singkat. Arah pandangannya memperhatikan disekitarnya.
"Dimana ayah, kok tidak kelihatan?" tanya Bujaro sambil melihat ke sekeliling arah.
"Tadi sih, ayah masih ada disini, mungkin ayah pergi mendaftarkan kita." Jawab Moji.
Sementara Ayahnya Bujaro dan Moji tengah pergi untuk mendaftarkan anak-anaknya. Sedangkan Araki,Bujaro dan Moji sibuk memperhatikan sekitar arena pertandingan yang dipadati para pendekar yang sudah siap untuk bertanding.
Setelah selesai dari tempat pendaftaran, ayahnya Moji segera menemui anak-anaknya yang terlihat sedang fokus melihat orang-orang yang tidak jauh dari pandangannya.
"Kalian sudah terdaftar dalam pertandingan, sebentar lagi akan ada pengumuman siapa lawan kalian masing-masing." Ucap ayahnya Moji.
"Bagaimana kalau kita beristirahat dulu, sebelum acara dimulai. Sepertinya di sana sudah ada tempat istirahat untuk para peserta pertandingan, dari pada kita berada disini, terlalu jauh." Ajak Bujaro sambil menunjuk ke arah yang kelihatannya seperti tempat untuk istirahat.
"Boleh juga, ayo kita ke sana." Kata Moji, sedangkan Araki sendiri hanya nurut dengan ajakan Bujaro.
Kemudian, mereka segera melangkahkan kakinya menuju tempat istirahat. Sambil berjalan, Araki memperhatikan di setiap tempat yang di lewatinya.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seseorang yang ia terlihat tidak begitu asing baginya.
__ADS_1