
Tidak lama kemudian, muncullah Moji dengan badan yang kotor karena terkena lumpur hidup. Sambil berjalan, ia mendekati Bujaro dan Araki.
"Apa-apaan kamu, lepaskan aku. Moji, aih." Ucap bujaro saat mendapatkan pelukan dari adiknya dengan sengaja, tak lupa dirinya berdecak kesal dibuatnya.
"Tenang aja, tidak apa-apa kok, Kak." Ucap Moji setelah memeluk kakaknya dengan tubuh yang penuh lumpur hidup.Tak luput pula dari sasaran Moji, Araki yang sedang istirahat pun terkena imbasnya juga. Moji yang telah kotor seperti kakak nya, ikut memeluk Araki. Akhirnya suasana menjadi riuh penuh candaan mereka bertiga.
"Moji ..! aih, kamu ini." Ucap Bujaro dengan suara melengking, perlahan suaranya mengecil seraya ditekan.
Moji yang melihat ekspresi kakaknya, justru tertawa puas ketika kakaknya mengekspresikan mimik wajahnya yang dibuat kesal.
Begitu juga dengan Araki, dia mengambil sebagian lumpur yang masih melekat di tubuh Moji yang masih basah, lalu mengusapkannya ke wajah Moji dan berpindah ke Bujaro.
Suasana semakin riang, tatkala ketiganya seperti mendapatkan saudara baru dalam hidupnya masing-masing diantara mereka bertiga.
"Sudah-sudah." Ucap sang ayah yang terus memperhatikan candaan anak-anaknya, dan meminta untuk menyudahi senda gurauan mereka bertiga.
"Moji, Bujaro, Araki, coba kesini kalian bertiga." Panggil ayahnya Bujaro dan Moji.
"Ada apa, ayah?" tanya Bujaro selaku putra pertamanya.
Kemudian, ayahnya Bujaro dan Moji menyuruh anak-anaknya untuk berkumpul dan berbagi pengalaman tentang rintangan yang mereka lalui tadi saat harus melewati banyaknya rintangan.
"Ayah ingin bertanya kepada kalian bertiga, yakni tentang rintangan dan jebakan yang telah kalian lalui tadi. Bagaimana menurut kalian?" Tanya ayahnya kedua anak tersebut.
"Moji, bagaiman dengan mu?" timpal Bujaro sambil mentertawakan adiknya karena terkena lumpur.
Tidak disadari juga, jika dirinya sama halnya seperti adiknya sendiri yang mana tubuhnya sendiri didapati banyaknya lumpur hidup. Hanya saja, lumayan kering dan tidak seperti Moji yang masih dipenuhi lumpur hidup yang masih basah.
__ADS_1
"Sudah, cukup bercandanya. Sekarang masih dalam kondisi latihan, jangan dilanjutkan lagi senda gurauan kalian." Ucap sang ayah untuk memberi peringatan kepada kedua putranya.
Sedangkan Araki, diam dan kembali fokus ketika berhadapan dengan ayahnya Moji dan Bujaro.
"Ya, ayah. Maaf, tidak akan kami ulangi lagi." Jawab Bujaro yang merasa bersalah saat dirinya sudah mengejek adiknya sendiri.
"Sudah Ayah maafkan, sekarang kita kembali fokus." Kata sang ayah saat mendengar kata maaf dari putra sulungnya.
Ayah dari kedua anak tersebut, kini tengah memperhatikan satu persatu diantara mereka bertiga.
"Latihan kali ini, memang sengaja memasang perangkap yg bukan seperti biasanya. Jika perangkap tidak dirubah, mungkin saja kalian berdua sudah sampai terlebih dahulu dibandingkan Araki. Dan, tentu saja Araki tidak mungkin bisa mendahului kalian berdua." Ucap ayahnya kedua kakak beradik.
Ketiganya masih diam, tentu saja menunggu mendapatkan pertanyaan ketika hendak bicara.
"Sekarang juga, Ayah mau bertanya kepada kalian satu persatu. Apakah sudah siap untuk mendapatkan pertanyaan? jika ya, siapkan jawaban yang jujur."
"Baiklah, sekarang juga kalian bertiga akan mendapatkan pertanyaan. Pertanyaannya pun secara bergantian." Ucap Beliau.
Araki maupun Moji dan juga Bujaro, mulai memasang indra pendengarannya untuk menangkap suara yang akan diucapkan oleh ayahnya Bujaro dan Miji.
"Sekarang giliran Moji. Bagaimana dengan latihan kamu tadi? Apa yang kamu dapatkan dari latihan kali ini, Nak?" tanya sang ayah kepada putra bungsunya.
Moji yang mendapatkan pertanyaan lebih dulu, pelan-pelan untuk mengatur pernapasannya.
"Begini, Ayah. Untuk latihan kali ini tidak jauh berbeda dari biasanya. Namun, dari jebakan yang Ayah berikan tentunya sangat perlu dengan yang namanya kewaspadaan. Moji bisa melewati segala rintangan yang ayah buat.Tetapi, karena rasa keangkuhan yang Moji miliki, tentu saja membuat diri ini merasa besar kepala dan akhirnya terkena jebakan yang telah Ayah siapkan." Jawab Moji menerangkan peristiwa yang telah ia alami saat melewati berbagai rintangan, juga atas tidak waspada.
Sang ayah tersenyum tipis saat mendengar jawaban dari putranya.
__ADS_1
"Begitulah anakku, ketika menghadapi sebuah rintangan yang harus dilewatinya. Disaat dirimu merasa mampu melakukan nya, janganlah kamu sampai meremehkan sesuatu yang mungkin saja sesuatu itu yang akan kamu dapatkan kesusahannya." Kata sang ayah yang tak lepas untuk memberi nasehat kecil untuk putranya.
"Baik, Ayah. Moji akan memahami perkataan dari ayah, dan juga nasehat baiknya. Moji akui, bahwa diri ini dengan mudahnya untuk melewati semua rintangan yang telah Ayah buat, tetapi diakhir rintangan membuat Moji besar kepala. Yakni, bahwa Moji mampu untuk melewati rintangan yang ayah berikan dengan mudah. Tapi kenyataannya, justru Moji tiba-tiba lengah, dan akhirnya terkena jebakan yang ayah buat."
Kata Moji yang menyesali atas kecerobohannya sendiri, dan tidak berpikir ulang sebelum melakukan sesuatu yang harus dilakukan.
Saat itu juga, Moji akhirnya menyadari tentang apa kesalahannya dalam menghadapi rintangan. Kmudian, sang ayah menanyakan perihal rintangan yang dilalui oleh bujaro dan Araki.
Ayah Bujaro kemudian menoleh pada putra sulungnya, dengan serius memberi pertanyaan untuk putranya.
"Sekarang, bagaimana denganmu bujaro? pelajaran apa yang telah kamu dapatkan dari latihan kali ini, Nak?" tanya sang ayah kepada putra sulungnya sambil menghadap kan diri ke arah Bujaro dengan lekat dan juga dengan tatapan yang serius.
Sambil mengatur pernapasannya, Bujaro mengangguk.
"Sama seperti Moji, Ayah. Bujaro juga sama halnya yang merasa latihan yang ayah berikan kepada kami sama seperti sebelumnya. Dan, pada akhirnya Bujaro juga terkena jebakan yang telah ayah buat. Untung saja, Araki tidak meninggalkan Bujaro saat kondisi yang sangat menyedihkan." Jawab Bujaro sambil menepuk punggung Araki, tentunya merasa mendapatkan simpati darinya.
Sang ayah juga kembali tersenyum tipis kepada putra sulungnya.
"Sekarang kalian pasti sudah mengetahuinya, bahwa setiap rintangan itu, harus dilalui dengan kehati-hatian dan juga tidak boleh ceroboh sedikitpun. Jangankan untuk ceroboh, menjadi sombong saja, harus dihindari." Ucap ayah dari keduanya. Yakni, Bujaro dengan Moji.
Araki yang sedari tadi tengah memperhatikan tanya jawab antara ayah dan kedua anaknya, giliran dirinya yang juga akan mendapatkan pertanyaan yang sama dari ayah Bujaro yaitu manhansem.
Araki yang ditatap oleh ayah dari dua kakak-beradik tersebut, sebisa mungkin untuk tetap terlihat tenang dan tidak menunjukkan gelisah.
"Lalu, bagaimana denganmu, Araki? terus, pelajaran apa yang telah kamu petik dari latihan kali ini, Nak?" tanya pak manhansem sambil menatapnya dengan serius.
Araki mengatur pernapasannya, tentu saja agar dirinya tidak merasa gugup saat menerima pertanyaan dari ayahnya Bujaro dan Moji.
__ADS_1
Sedangkan Moji dan kakaknya belum pindah tempat, keduanya masih berdiri disebelah Araki. Tentu saja, mereka berdua menunggu Araki selesai mendapatkan pertanyaan dari sang ayah.