
Seseorang yang sudah ditugaskan untuk menjadi wasit dalam pertandingan, kembali memperkenalkan dua orang pendekar yang akan mulai bertanding.
"Inilah dia, dua petarung yang akan mengawali kejuaraan pertandingan kali ini. Plash melawan Gilmi, marilah kita saksikan bersama-sama." Ucap seorang wasit saat memperkenalkan dua pendekar yang hendak bertarung.
Sorak Sorai dari para penonton membuat arena menjadi riuh. Terlihat keduanya sangat berambisi dalam mengalahkan lawannya satu sama salin. Nampak jelas jika ambisi keduanya begitu besar untuk memenangkan kejuaraan.
"Lihatlah, anak-anakku. Mereka berdua pernah mengikuti lomba tahun lalu. Gilmi belum berhasil mendapatkan gelar juara, karena kecerobohannya. Ayah yakin untuk mengalahkan Plas, bagi Gilmi sangat mudah." Ucap sang ayah sambil memperhatikan arena.
"Kenapa ayah?" tanya Bujaro.
"Pada pertandingan tahun lalu, Gilmi hampir masuk final. Kecepatannya dalam bertarung tidak bisa dianggap remeh.Tapi, dia masih bisa dikalahkan jika kalian tidak tergesa-gesa." Ucap sang Ayah sambil memperhatikan arena pertandingan.
"Maksudnya Ayah, apa?" tanya Moji penasaran.
"Dia akan menjadi lawan mu nanti, Nak, setelah kamu bertanding dengan Hapan. Berhati-hatilah dengannya, kamu harus sabar dalam menghadapinya di arena pertandingan nanti. Ayah yakin dengan pukulan kerasmu, bahwa kamu mampu dan bisa menumbangkannya. Ingat, buatlah dia kelelahan dengan segala kelihaian yang kamu miliki. Satu lagi, saat bertarung, dia jarang menyerang, gunakan kesempatan itu sebaik mungkin, Moji." Kata sang ayah memberi saran kepada putranya, dan tak hentinya untuk mengingatkannya.
"Baik, Ayah. Moji akan selalu ingat pesan dari ayah untuk melawan yang akan menjadi lawannya Moji." Jawab Moji dengan serius ketika mendengarkan nasihat dari ayahnya.
"Pertandingan telah dimulai. Moji, kesini dan lihatlah gaya pertarungan Gilmi." Kata sang sang ayah dan mengajaknya untuk memperhatikan jalannya pertandingan antara Gilmi melawan Plas.
Akhirnya pertandingan perdana dimulai. Wasit memberikan aba-aba tanda pertarungan siap untuk dimulai.
Gilmi dan plas mulai memasang kuda-kuda sebelum pertarungan. Kemudian, mereka berdua berhadapan satu sama lain. Tanpa pikir panjang, Plas langsung menyerang Gilmi dengan tendangannya. Namun, dengan mudah Gilmi menghindari tendangan dari plas.
__ADS_1
"Hei, jangan tergesa-gesa, kawan." Ucap Gilmi".
"Jangan banyak bicara, kau." Sahut Plas dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Gilmi yang mempunyai pengalaman dalam bertanding sengaja membuat sosok Plas sedikit marah, tentu saja untuk mendapatkan kesempatan emasnya.
Plas yang sedari tadi fokus dengan lawannya, ia terus mencoba menyerang Gilmi dengan penuh ambisi. Namun sayangnya, pukulan dan serangan yang dilancarkan oleh Plas, belum satupun yang mendarat ke tubuh Gilmi.
"Hei! serangan mu rupanya masih kurang bertenaga untuk aku imbangi. Ternyata kau seperti anak kecil saja." Ucap Gilmi semakin membuat Plas marah karena mendapatkan ejekan dari lawannya.
"Banyak bicara juga, kau Gilmi. Aku pastikan, serangan dariku pasti akan mendarat di muka sombong mu itu." Kata Plas sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, dan ingin sekali mendaratkannya tepat di wajah Gilmi yang sudah membuatnya kesal.
Tanpa banyak bicara, Plas langsung menyerang Gilmi tanpa henti. Kali ini Gilmi terlihat kewalahan dengan serangan yang dilancarkan oleh plas. Dari arah samping merasa kelengahan karena Gilmi dimanfaatkan olehnya.
Gilmi yang mendapat serangan dari Plas yang begitu kuat, mengusap sudut bibirnya karena mengeluarkan sedikit darah segar sambil menatap sinis pada Plas.
"Masih bisa sombong, kau Gilmi." Ucap Plas sedikit bangga dengan serangannya yang di layangkannya pada Gilmi.
Bukannya terpancing emosinya, justru menanggapinya dengan santai. Tentu saja, Gilmi yang tak kalah memancing emosinya seorang Plas.
"Hanya itukah serangan mu, kawan. Ini mah belum seberapa bagiku, bisakah kau sedikit lebih bertenaga dalam menyerang ku?" kata Gilmi yang terus memancing emosinya Plas.
Walaupun Gilmi mendapatkan pukulan dari Plas yang cukup kuat, namun pukulannya sama sekali tidak berarti baginya. Karena Gilmi memang pandai membuat lawannya kehabisan tenaga hanya dengan memancing emosinya dan juga sangat pandai membuat lawannya marah dan naik tikam.
__ADS_1
Dengan kemarahannya dari lawan, Gilmi dapat mengerti setiap musuh yang marah akan cepat terkuras energi nya.
Plas yang terlihat terengah-engah kali ini, sedangkan Gilmi masih bisa berdiri tegap walaupun ia terkena pukulan dari plas.
Hanya dengan memancing emosinya, Gilmi dengan mudah menguras tenaga dari lawannya.
Tentu saja, Ucapan dari Gilmi makin membuat Plas semakin geram dan emosi yang sulit untuk dikendalikan. Kemudian di lanjut lagi oleh Plas kembali mencoba menyerang Gilmi.
Namun, Gilmi masih saja bisa menghindari serangan dari Plas. Bahkan, Gilmi sama sekali belum terlihat menyerang Plas.
Plas yg terlihat mulai kelelahan saat menghadapi Gilmi, tanpa merasa lelah dan menyerah, Plas terus menyerang lawannya.
"Hei, kawan, lihat dirimu. Sudahlah, lebih baik kau menyerah saja dariku. Nafasmu saja sudah tersengal-sengal, nyerah saja." Kata Gilmi terus membuat Plas marah dan terkecoh dengan emosinya sendiri.
"Kau memang benar-benar banyak bicara, Gilmi." Sahut plas semakin geram dan kesal tentunya.
Sambil menatap tajam pada Gilmi, gigi-gigi Plas gemlutuk saling bergesekan karena emosinya ketika menghadapi lawannya seperti Gilmi.
Pertandingan yang terlihat tidak seimbang, keduanya tetap pada pendiriannya masing-masing. Walau si Plas bisa mendaratkan pukulannya ke tubuh Gilmi. Namun, tetap saja berakhir dengan sia-sia, karena pukulanya tidak membuat Gilmi tumbang ataupun mundur dari posisi berdirinya.
Gilmi yang banyak pengalaman bertanding, telah mengetahui kelemahan Plas. Ia melihat lawannya yang telah mengeluarkan banyak tenaga. Serangan-serangan kecepatan dari Plas mulai menurun, stamina tubuhnya juga ikutan melemah.
"Bagaimana kalau kali ini giliran ku yang akan melawan mu, kawan." Ledek Gilmi sedikit mengancam, tentunya sambil menyeringai.
__ADS_1
"Silakan saja kalau kamu bisa." Jawabnya dengan enteng.