Legenda Pendekar Dari Goa

Legenda Pendekar Dari Goa
Tidak mau dibantu


__ADS_3

Araki telah menyadari, bahwa pintu keluar gua terhubung yakni dengan batu yang tertanam ditanah.


"Jika pintu goa terhubung dengan tanah, maka saat pintu terbuka, aku harus cepat menuju pintu goa itu." Ucapnya lirih.


Dengan hati-hati, Araki mencoba untuk menggeser kembali batu yang tertanam kedalam tanah tadi. Lalu, dengan cepat ia melompat keluar pintu goa.


Sampailah Araki keluar dari dalam goa tersebut.


"Akhirnya, aku menemukan jalan keluarnya. Benar-benar cukup sulit untuk aku lalu, butuh kesabaran penuh. Ah ya, mereka berdua pasti sudah sangat jauh. Biarin saja, karena ini adalah awal aku uji coba. Selanjutnya aku harus lebih waspada dan hati-hati." Gumamnya lagi, dan membuang napasnya dengan kasar.


Saat itu juga, Araki teringat jika dirinya merasa telah tertinggal jauh dari Sanji dan Sojiro.


"Pasti mereka sudah jauh, tidak mungkin aku bisa menyusulnya. Tapi, apa salahnya jika aku mencoba untuk mengejarnya." Ucapnya sebelum melanjutkan perjalanannya.


Araki yang telah tertinggal jauh dari Bujaro dan Moji, bergegas menuju rawa.


"Kali ini aku akan memasuki rawa, aku harus berhati-hati." Ujar Araki yang penuh kehati-hatian sebelum mencobanya.


Sedangkan Bujaro dan adiknya yang telah lebih dulu mendahului Araki, mereka berdua merasa di atas angin. Kedua-duanya menjadi besar kepala dan merasa jika Araki tidak mungkin bisa menyusulnya.


Bujaro yang lebih dahulu memasuki rawa, ternyata mendapatkan sebuah masalah.


"Kenapa ini?" gumamnya saat merasakan sesuatu pada dirinya.


Bujaro yang merasa telah terbiasa melewati tantangan yang diberikan oleh ayahnya, dirinya merasa bangka. Bahkan, dirinya telah lupa dengan nasehat ayahnya sendiri.


Bujaro lupa akan nasehat yang diterimanya, jika sang ayah telah berpesan dan berkata padanya. Bahwa, perangkap yang dibuat oleh ayahnya ada yang diubahnya.


Tanpa mengingat pesan dari sang ayah, berjalanlah memasuki rawa.


"Aku masih ingat disini ada lumpur yang menghambat jalan, aku akan memutar arah." Ujar Bujaro.


Rintangan pertama saat melewati rawa sudah diketahuinya. Dengan percaya diri, Bujaro memilih jalan memutar untuk melalui lokasi berlumpur yang menghambat langkahnya.


Setelah mengitari tempat yang berlumpur tersebut, Bujaro melanjutkan perjalanannya.Tibalah ia disebuah semak belukar.


"Disini, ya disinilah ada lumpur hidup itu, da aku harus masuk melalui semak itu." Ucapnya bergumam.


Dengan rasa percaya diri, Bujaro memasuki semak untuk menghindari lumpur hidup didepannya. Namun apa yang terjadi, justru dirinya sama sekali tidak menyadari sebuah jebakan yang terpasang didalam semak tersebut.

__ADS_1


Tiba-tiba Bujaro terpental dari semak. Sebuah balok kayu tiba-tiba mendorongnya dengan kuat. Dirinya sama sekali tidak menyadarinya, jika ketika masuk kedalam semak itu, ia menginjakkan kakinya ke sebuah jebakan.


"Aaaaa!" teriak Bujaro.


"Aw! apa ini?"


Sudah terlambat, Bujaro telah terpental dan kakinya telah menginjak lumpur hidup yang tak jauh dari semak belukar.


"Bagaimana ini, kenapa kaki aku masuk ke lumpur hidup ini? ah! si_alan."


Sanji telah menyadari kecerobohannya yang kesekian kalinya.


Selang berapa lama kemudian, Sang adik yang bernama Moji tengah menghampirinya.


"Kak Bujaro, bagaimana keadaan mu Kak?" tanya Moji.


"Aku bisa mengatasinya sendiri, lebih baik kamu lanjutkan saja langkahmu. Ini sesuatu yang biasa bagiku." Sahut sang kakak yang tidak ingin terlihat lemah oleh saudaranya sendiri.


Mereka berdua memang telah terbiasa dengan latihan seperti ini. Bahkan, mereka juga mengetahui bagaimana cara keluar dari lumpur hidup. Lain dari Araki, yang latihannya terbilang sesuatu yang baru dan yang pertama kalinya. Tentu saja, Araki harus berusaha untuk tidak masuk dalam perangkap jebakan.


Karena permintaan dari sang kakak, Moji akhirnya melanjutkan perjalanannya dan meninggalkannya.


Tak lama kemudian tibalah Araki, dia yang telah beberapa langkah memasuki rawa memergoki Bujaro yang sedang berusaha keluar dari lumpur hidup.


Hai, Bujaro! apa yang terjadi denganmu?" tanya Araki saat mendapati Bujaro tengah berada jebakan.


"Sudahlah, lanjutkan saja langkahmu, aku bisa mengatasinya sendiri." Jawab Bujaro, agar tidak merepotkan orang lain, tentunya juga menjaga gengsinya.


Bujaro yang telah mengatakan tidak membutuhkan bantuan dari Araki, sosok Araki pun tidak serta-merta meninggalkannya begitu saja.


Araki masih didekat Bujaro Sambil memperhatikannya saat keluar dari lumpur hidup.


"Kenapa kamu masih disini, Araki? sudahlah lanjutkan saja langkahmu. Nanti kamu bisa kalah, ayo kejar Moji." Kata Bujaro sengaja mengusir Araki.


"Aku tidak akan meninggalkan dirimu selagi engkau masih berada didalam lumpur hidup." Jawab Araki yang tetap bersikukuh untuk menunggunya, bila perlu membantunya lepas dari lumpur hidup tersebut.


Araki sendiri masih berdiri didepan Bujaro sambil memperhatikannya cara keluar dari lumpur hidup.


"Kalau kamu ingin melihatku keluar dari lumpur ini, perhatikan saja aku. Karena ini bukanlah sesuatu yang sulit bagiku." Ucap Bujaro.

__ADS_1


"Disekitar lumpur ini ada banyak rumput dan akar, berpeganglah pada rumput disekitar nya atau gunakan kayu atau akar pohon. Maka, engkau tidak boleh tergesa gesa dan tetaplah fokus. Kemudian, kamu angkat saja kaki yang masuk ke dalam lumpur dengan perlahan." Terangnya.


Araki yang memperhatikan Bujaro, ia menyadari bahwa dalam hal sulit seperti ini haruslah tetap tenang.Tak lama kemudian kaki kanan Bujaro telah keluar dari lumpur, kemudian disusul pula kaki kirinya.


"Bagaimana, Araki? mudah, 'kan?"


Araki manggut-manggut.


"Itu mudah bagimu, karena engkau mengetahui cara keluar dari lumpur ini. Lalu, bagaimana denganku jika aku yang ada diposisi kamu?"


Setelah Bujaro keluar dari lumpur hidup, Araki mentertawakan dirinya, karena tubuhnya yang kotor karena lumpur hidup tadi.


Bujaro pun ikut tertawa saat melihat dirinya sendiri yang kotor karena lumpur.


Kemudian, mereka berdua melanjutkan langkahnya menyusul Moji yg telah lama meninggalkan mereka berdua.


"Araki, berhati-hatilah, karena masih banyak lumpur hidup didepan sana." Ucap Bujaro mengingatkan.


"Apakah kamu mengetahui letak lumpur hidup di rawa ini?" tanya Araki.


"Aku mengetahui semua letak lumpur hidup disini." Jawabnya.


"Lalu, mengapa tadi engkau terjebak kedalam lumpur hidup, Bujaro?" tanya Araki yang masih belum mengerti.


"Karena aku mengetahui semua letak lumpur hidup yang ada di rawa ini. Namun, lumpur hidup yang sebelumnya aku tidak mengetahui, dan ternyata ayah telah memasang sebuah perangkap. Aku telah merasa percaya diri akan hal ini, jadi aku merasa yakin dan bisa dengan mudah untuk melewati rawa ini. Namun, aku terlalu percaya diri, sehingga aku tidak memperhatikan tentang apa yang akan terjadi." Jawab Bujaro.


"Oh, gitu." Ucap Araki yang baru mengerti.


Sambil mengobrol, keduanya terus berjalan menuju Padang rumput.


"Ah, pasti adikku telah sampai lebih dulu." Kata Bujaro.


"Apa kamu yakin terhadap Moji? mungkin saja dia juga terjebak kedalam lumpur hidup juga."


" Aku rasa tidak mungkin, soalnya Moji itu sama sepertiku, ia sudah hafal betul letak lumpur hidup yang ada di rawa ini."Jawab Bujaro yang lupa akan nasehat ayahnya.


"Kalian berdua memang telah mengetahuinya, semua letak keberadaan lumpur hidup yang ada di rawa ini. Namun ingat, kamu sendiri juga masih bisa terjebak kedalam lumpur hidup yang ada di rawa ini. Meskipun engkau telah mengetahui semua letak lumpur hidup yang ada di rawa ini, tetap aja harus hati-hati." Bantah Araki.


Sejenak Bujaro berpikir, mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh Araki.

__ADS_1


"Benar juga, kau Araki. Aku yang telah mengetahui semua letak dimana lumpur hidup itu berada, aku sendiri masih saja terjebak kedalam lumpur hidup yang ada didalam rawa ini." Kata Bujaro yang baru menyadarinya.


__ADS_2