
"Mungkin kamunya yang ceroboh, Bujaro. Maka, berhati-hatilah meski kamu sudah mengetahui semua letak lumpur hidup ini tapi masih terjebak juga. Atau, mungkin saja karena ada perangkap lain yang ayah kamu letakkan." Ucap Araki mengingatkan, Bujaro sejenak untuk berpikir apa yang dikatakan oleh Araki.
"Ah ya, mungkin yang kamu omongkan itu benar. Bo_doh sekali aku ini, sampai-sampai jadi lupa gini. Makasih ya, sudah mengingatkan aku." Kata Bujaro.
"Ya udah kalau gitu, ayo kita lanjutkan lagi perjalanan kita." Ajak Araki, Bujaro mengiyakan.
Setelah Bujaro keluar dari lumpur hidup, mereka berdua kemudian melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanan untuk menyusul sang adik, yakni Moji.
"Mungkinkah kita sudah tertinggal jauh dari Moji? atau, justru sudah sampai duluan."
"Aku rasa tidak mungkin, secara rawa ini masih lumayan jauh." Jawab Bujaro.
"Tapi kan, dia sudah terlalu lama meninggalkan kita." Kata Araki menebak.
"Tenang saja, Araki. Mungkin saja kita yang akan sampai lebih duluan. Yang jelas asalkan kita terus bersama sampai akhir. Moji mungkin telah mengetahui semua letak lumpur hidup ini, namun ia tak akan tahu dimana letak jebakan yang ayah pasang." Terang Bujaro.
Tidak ingin membuang-buang waktunya, Araki dan Bujaro terus berjalan menyusul Moji yang sudah lebih dulu.
Awalnya Araki sempat terkena sebuah jebakan namun, untungnya Bujaro menyadarinya. Begitupun dengan Bujaro, ia selalu memperingatkan Araki tentang lumpur hidup yang ada.
"Sepertinya perjalanan kita ini hampir sampai, Araki." Ucap Bujaro setelah cukup lama menempuh perjalanannya setelah keluar dari lumpur hidup.
"Bujaro, sepertinya dari tadi kita belum mendapati Moji, apa mungkin dia sudah sampai? siapa tahu aja memang sudah sampai, dan kita ketinggalan jauh."
Sambil berjalan, Bujaro memperlambat langkah kakinya, lantaran menerima pertanyaan dari Araki.
"Kita lihat saja ke depan, Araki. Kalau kita berjalan sampai ke ujung sungai kecil itu dan kita tidak mendapati Moji, berarti dia telah sampai di Padang rumput." Jawab Bujaro.
"Apa semudah itu, Bujaro?" tanya Araki yang dari tadi terus memperhatikan Bujaro setiap langkahnya.
__ADS_1
"Ya bisa saja, Araki. Tapi tidak menutup kemungkinan sih, jika Moji lengah seperti aku tadi. Dia juga bisa terkena jebakan juga sepertiku. Dari pada memikirkan dia terus, ayo kita percepat jalannya." Jawab Bujaro yang selalu menatap lurus ke depan.
Moji yang telah mendahului Araki dan kakaknya, dengan besar kepala merasa di atas angin. Dirinya merasa tak mungkinlah mereka dapat menyusul dirinya, pikirnya.
Moji yang terus berjalan, seolah-olah dirinya tak ada rintangan apapun. Tanpa menyadari, Moji tengah memegang sebuah ranting yang ternyata adalah sebuah jebakan untuknya.
"Apa ini?" gumamnya penasaran.
Saat itu juga, Moji terpental. Sebuah batang kayu tiba-tiba mendorong tubuh Moji yang cukup kuat. Dan akhirnya, kaki Moji terpeleset kedalam lumpur. Mau tidak mau, akhirnya nasibnya tidak jauh beda sama seperti kakaknya, yakni Bujaro, yang saat ini telah dialami oleh Moji sendiri.
"Wah, bagaimana ini, ada ada saja penghambat jalanku." Ucapnya lirih sambil memegang sebuah ranting yang kecil, yakni di dekatnya.
Susah payah Moji terus berusaha untuk mengangkat kakinya keluar dari lumpur hidup, berharap bisa lepas dari jebakan. Namun, rupanya kaki kanan Moji sudah masuk hampir mencapai lututnya. Walaupun Moji bisa keluar dari lumpur hidup, tetap saja membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengatasinya.
"Aku harus bagaimana ini, kalau seperti ini, bisa-bisa Bujaro dan Araki menyusul ku." Gumam Moji seraya meraih sebuah akar untuk ditariknya.
Disaat Moji berusaha keluar dari lumpur hidup.Dari kejauhan terlihat Araki dan Bujaro berjalan berdua
Seketika Bujaro dan Araki tiba ditempat moji. Sang kakak dan Araki segera menghampirinya.
"Moji, apakah kamu perlu bantuan?" tanya sang kakak sambil mentertawakan sang adik yang rupanya mendapat jebakan seperti dirinya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Lebih baik kalian berdua cepatlah pergi, tidak perlu membantuku." Sahut Moji dengan nada kesal, saat mendapat ejekan dari sang kakak yang telah mentertawakan dirinya.
"Bagaimana kalau Kakak dan Araki menunggu kamu disini." Ejek sang kakak yang pandai membuat adiknya kesal.
"Sudahlah, tak perlu kalian pedulikan aku. Lebih baik Kak Bujaro sama Araki lanjutkan saja perjalanan kalian, sebentar lagi juga sampai di Padang rumput. Sudah sana pergi, aku bisa melakukannya sendiri, jugaan disana sudah ada ayah sedang menunggu." Jawab Moji dengan suara kesal karena terus diejek sang kakak.
Setelah membuat adiknya sedikit kesal, Bujaro dan Araki meninggalkan Moji. Hanya beberapa jarak saja dari rintangan terakhir menuju Padang rumput.
__ADS_1
"Moji, Kakak tunggu di sana bareng Araki, ok." Ucap sang kakak sambil berjalan meninggalkan Moji.
"Ya! sudah sana pergi, aku bisa melakukannya sendiri." Jawab Moji dengan suara cukup keras.
Setelah itu, akhirnya Bujaro dan Araki meninggalkan Moji sendirian.
"Bujaro, bagaiman dengan Moji? kasian dianya." Tanya Araki sambil berjalan mengikuti Bujaro.
"Sudah tinggalkan saja, lumpur terakhir kali ini tidak berbahaya. Sebelumnya aku juga pernah masuk kelumpur itu, Moji pasti bisa melewatinya." Sahut Bujaro seraya terus berjalan menuju Padang rumput.
Moji yang ditinggalkan oleh Bujaro dan Araki, keduanya terus berusaha untuk keluar dari lumpur hidup itu. Sementara Bujaro dan Araki terus berjalan menuju sang ayah yang sedang menunggu mereka datang.
"Kita tinggal melewati jembatan itu saja, dan sampailah kita di tempat yang sudah ditunggu, Araki." Ucap Bujaro seraya menunjukkan jari telunjuknya kearah jembatan yang akan dilewati oleh mereka berdua.
"Aku sedikit khawatir dengan Moji, apa mungkin dia bisa keluar dari lumpur hidup itu? kasihan Moji." Tanya Araki kepada Bujaro dengan kekhawatiran.
"Tenang saja, kamu tak perlu khawatir dengan Moji. Percaya saja denganku, Moji bisa melepaskan diri dari lumpur hidup itu. Sudahlah, ayo mari lanjutkan lagi perjalanan kita. Ayahku sedang menunggu kita, jangan sampai Moji yang mendahului." Jawab Bujaro yang terus menatap ke depan.
Moji yang telah ditinggalkan oleh Bujaro dan Araki, akhirnya bisa keluar dari lumpur hidup. Dengan badannya yang kotor karena lumpur, ia berjalan menyusul sang kakak dan Araki untuk sampai ke Padang rumput
"Uh! malang sekali nasibku ini, padahal aku tinggal sedikit lagi sampai ke Padang rumput." Ujar moji dengan wajah sebal.
Sampailah Bujaro dan Araki ke Padang rumput. Kemudian sang ayah memberikan mereka minum dan menyuruh Bujaro dan Araki untuk beristirahat.
"Istirahat lah dulu kalian. Bagaimana dengan Moji?" tanya sang ayah kepada Bujaro.
"Tadi dia terjebak lumpur hidup itu, Ayah." Jawab Bujaro sambil meneguk segelas air minum.
"Kenapa kamu tinggalkan adikmu, Bujaro?" tanya sang Ayah.
__ADS_1
"Biarkan saja, Ayah. Waktu memasuki rawa, aku juga terjebak didalam lumpur hidup. Moji juga meninggalkan aku sendirian. Lagi pula lumpur hidup yang terakhir ini tidak berbahaya. Sebentar lagi dia juga datang." Kata Bujaro.