Legenda Pendekar Dari Goa

Legenda Pendekar Dari Goa
Pertandingan di mulai


__ADS_3

"Hei, Araki. Kamu sedang memperhatikan siapa? ayo kita duduk dulu." Ajak Moji yang telah duduk terlebih dahulu, tentunya mengagetkan Araki yang tengah memperhatikan seseorang yang membuatnya penasaran.


"Ya, Moji." Jawab Araki sambil memperhatikan seseorang yang masih penuh tanda tanya, Araki terus mengingatnya kembali.


"Ada apa, Araki? sepertinya kamu melihat ada sesuatu."


Ayah Moji yang penasaran dengan Araki yang terlihat aneh, akhirnya menanyakan langsung padanya.


"Tidak ada apa-apa, paman. Hanya saja, Araki seperti melihat seseorang yang tidak asing." Jawab Araki.


"Apa mungkin kakakmu?" tanya Pak ayahnya Moji.


"Ah, sepertinya tidak mungkin, Paman. Soalnya kakakku sudah pergi lama." Jawab Araki.


"Tempat ini adalah tempat berkumpulnya para pendekar hebat, Araki. Mungkin saja dia memang benar kakak kamu. Biasanya ikatan batin itu mudah untuk merasakan sesuatu." Uap ayahnya Moji.


Araki tersenyum mendengarnya.


"Tidak mungkin, Paman. Araki belum yakin dengan orang itu, soalnya sewaktu kakak-kakak Araki pergi, saya sendiri masih kecil. Waktu itu juga, saya belum begitu jelas tentang wajah kakak-kakak saya." Terang Araki menjelaskan.


"Kalau begitu lupakan saja orang itu, jangan sampai hanya karena masalah seperti ini, lalu kau terganggu saat bertanding." Ucap ayahnya Moji meyakinkannya, Araki mengangguk.


"Ya, Paman." Jawabnya dengan anggukan.


Rasa penasaran yang muncul begitu saja lewat benak pikirannya, perhatian Araki terus tertuju kepada satu orang yang membuatnya penasaran dan ingin tahu. Namun, ayahnya Moji meyakinkan dirinya untuk tetap fokus dalam menghadapi pertandingan nanti.


Tidak terasa juga, rupanya sudah diumumkan tentang pertandingan yang akan dilangsungkan. Mereka dengan seksama mendengarkan siapa masing-masing pendekar yang akan saling berhadapan di area pertandingan.


Terdengarlah nama Moji disebut oleh panitia pertandingan, Moji berhadapan dengan lelaki yang bernama Hapan. Sedangkan Bujaro berhadapan dengan Hosu. Lalu, Araki sendiri berhadapan dengan Barni.


"Dengarkan baik baik, yang disebutkan tadi itu, adalah lawan-lawan kalian yang akan kalian hadapi nanti di area pertandingan. Bersiap-siaplah kalian bertiga, anak-anakku." Ucap ayahnya Moji.


"Siap." Jawab ketiganya dengan serempak.


"Berhati-hati lah dengan lawan yang akan kalian hadapi nanti, dan jangan sampai kalian bertiga lengah dalam bertanding. Satu lagi, jangan mudah terkecoh pada lawan kalian." Ucap ayahnya Moji mengingatkan, agar tetap ingat dengan nasehat kecil yang di terimanya.

__ADS_1


"Baik Ayah, kami pasti akan berusaha untuk mengalahkan mereka. Do'ain kami untuk menang, dan tidak menjadi besar kepala." Jawab Moji mewakili Bujaro dan Araki.


"Ayah pasti mendoakan kalian untuk menang, selebihnya nasib baik yang akan kalian dapatkan jika memang nasib baik jatuh pada diri kalian." Ucap ayahnya, ketiganya menjawabnya dengan serempak.


Setelah mengetahui setiap para peserta yang akan ikut dalam pertandingan, instruksi panitia mengatakan bahwa pertandingan akan dimulai dalam waktu satu Minggu ke depan.


"Anak-anakku pertandingan akan dimulai Minggu depan, dalam satu Minggu ini kalian harus bisa mempersiapkan diri dan mental kalian." Ucap ayahnya Moji.


"Baik, kita bertiga akan berlatih lebih baik lagi." Jawab Bujaro mewakili.


Setelah selesai mendengarkan instruksi dari panitia pertandingan, mereka kembali ke penginapan masing-masing. Sesampainya di penginapan, mereka beristirahat dan mempelajari tentang lawan-lawan yang akan mereka hadapi.


"Dengarkan wahai anak-anakku, juara tahun lalu, kini kembali ikut dalam pertandingan. Sudah lima kali berturut-turut ia menenangkan pertandingan ini." Ucap ayahnya Moji.


"Siapa orang yang masih memegang gelar juara itu, Paman."


Dengan rasa penasaran, Araki akhirnya bertanya karena rasa ingin tahu.


"Nanti kamu juga akan mengetahuinya sendiri, Araki. Dia memiliki kecepatan dalam bertarung, maka berhati-hatilah jija kamu bertemu dengannya." Jawab ayahnya Moji.


Kita masih ada waktu satu Minggu lagi ke depan untuk mempersiapkan diri dalam pertandingan. Ingat, siapkan diri kalian bertiga dengan baik. Nanti ayah akan memberi tahu kepada kalian, yakni tentang lawan-lawan yang akan kalian hadapi dalam pertandingan nanti." Ucap ayahnya Moji dan Bujaro sebelum meninggalkan tempat tersebut.


Karena penasaran dan ingin tahu, Moji memberanikan diri untuk bertanya.


"Bagaimana dengan lawan yang akan Moji hadapi nanti di area pertandingan, Ayah?" tanya Moji kepada ayahnya.


"Untuk sementara ini, kalian masih beruntung. Karena apa? karena lawan yang akan kalian hadapi nanti, masih mudah untuk dikalahkan. Tapi ingat, walaupun mudah untuk dikalahkan, kalian tidak boleh gegabah dalam bertanding." Jawab sang ayah memberi penjelasan kepada Araki dan Bujaro juga.


"Ya, Ayah." Sahut Bujaro.


"Ingatlah saat kalian latihan, selalu waspada di setiap rintangan yang akan kalian hadapi nanti." Kata ayahnya Moji dan Bujaro.


"Baik, Ayah."


"Sia, Paman."

__ADS_1


Jawab ketiganya dengan serempak.


"Tapi ingat, jangan sampai kalian menganggap enteng kepada lawan. Ingat baik-baik pesan ini." Ucap sang ayah.


Ketiga kembali menjawab dengan serempak.


"Jangan sampai, hanya karena sesuatu yang mudah, akhirnya kalian ini terperangkap dalam jebakan seperti pada saat kalian sedang latihan. Itu karena apa? karena ada sesuatu yang dianggap enteng dan ceroboh. Itulah kenapa ayah memasang sebuah perangkap, karena tujuan ayah untuk menguji kepekaan pada kalian dan juga kesabaran pada kalian." Ucap ayahnya Moji kembali untuk mengingatkan.


"Kami tidak akan mengulangi kecerobohan lagi, Ayah." Kata Bujaro.


"Sedangkan kamu Bujaro, kamu memiliki kecepatan dalam bertarung, tapi kamu selalu menganggap enteng sesuatu yang kamu anggap enteng. Kali ini, ayah berharap kepadamu, semoga lawanmu mudah untuk dikalahkan. Ayah sangat mengenal dia, jika dibandingkan dengan mu dia masih jauh dibawah mu, tapi berhati-hati saja kamu. Meski lawanmu lambat dalam bertarung, tapi dia mahir dalam menghindari setiap serangan." Terang sang ayah memberikan pengarahan kepada Bujaro.


"Iya, Ayah." Jawab Bujaro menyadari di setiap kesalahan saat latihan.


"Karena sekarang kalian memiliki waktu satu Minggu. Jadi, gunakan waktu ini untuk latihan ringan dengan sebaik mungkin." Ucap ayahnya Moji.


"Siap, Ayah."


"Siap, Paman."


Jawab ketiganya dengan serempak.


.


.


.


Hari terus berlalu, masing-masing peserta telah memperoleh jadwal pertandingannya.Tibalah saat yg telah lama ditunggu oleh para pendekar, yakni hari dimana untuk menguji ilmu beladiri mereka masing-masing. Para penonton, pun telah memadati lokasi pertandingan. Sedangkan Panitia telah mengumumkan siapa peserta pertama yang akan memulai untuk pertandingan.


"Hari pertandingan pertama adalah Gilmi melawan Plash."


Panitia pertandingan memanggil nama Gilmi dan Plash untuk masuk kedalam arena pertarungan maupun pertandingan.


"Para hadirin yang dimuliakan, marilah kita saksikan pertandingan perdana kita. Dua pendekar yang akan menunjukan kehebatannya dalam ilmu beladiri, mari kita sambut Gilmi melawan Plash." Ucap dari panitia di dalam sebuah arena pertarungan antara pendekar dari berbagai penjuru.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, muncullah kedua pendekar yang akan bertanding di arena. Mereka berdua berjalan memasuki arena pertandingan.


__ADS_2