
Bujaro dan Araki kemudian kembali melanjutkan pertandingannya. Seolah tidak ingin kalah dari Araki, Bujaro mencoba untuk menyerang Araki.
Saat itu pula, Bujaro sedikit terbawa amarah karena Araki telah berhasil mendaratkan serangan tepat di ulu hatinya.
Kelemahan Bujaro saat ini mulai terlihat.
Araki yang menyadari terlihatnya kelemahan dari Bujaro, ia mencoba untuk mengulur serangan, yakni sedikit mengulur tempo penyerangan dan membiarkan Bujaro terus menyerangnya.
Seketika, Araki memberikan sebuah tendangan yang mendarat ditubuh Bujaro. Namun, Bujaro telah berhasil mendaratkan pukulan kearah wajah Araki lebih dulu.
Dan akhirnya Bujaro terpental menjauh. Sedangkan Araki yang terkena pukulan dari Bujaro, sedikit meringis kesakitan dan memegangi pipinya.
"Sial, keras sekali tendangan Araki. Untung saja aku menyadari tendangannya, kalau tidak, gak tau apa jadinya." Gumam Bujaro sembari memegangi perutnya yang mendapat tendangan dari Araki.
"Untung saja pukulan Bujaro tidak terlalu keras, aku masih bisa menahannya. Tapi, kelihatannya dia mulai terlihat terbawa emosi. Dan ini kesempatan ku untuk menyerang dirinya." Gumam Araki sambil memperhatikan Bujaro yang terlihat menahan rasa sakit karena tendangan darinya.
Bujaro yang tidak terima atas serangan dari Araki, dirinya makin terbawa emosi dan kembali menyerang Araki.
Dengan cepat, Bujaro kembali berlari dan melompat dengan mengarahkan tendangannya pada Araki.
Dengan ketajaman pandangannya, Araki yang dapat melihat serangan dari Bujaro, mencoba beradu, dan menghalau ketika mendapat tendangan Bujaro dengan kakinya.
Pertarungan kembali terjadi, serangan demi serangan yang mereka lancarkan, rupanya membuat decak kagum para penonton.
Dengan lihai, Araki mencoba membalas disetiap serangan yang dilancarkan oleh Bujaro.
Disaat Bujaro mulai menyerang bagian atas tubuh Araki, justru Araki mencoba untuk memanfaatkan keadaan.
Kemudian, ia mencoba dengan tendangan yang melingkar dan mematahkan serangan Bujaro.
Saat kaki Bujaro terkena tendangan yang melingkar oleh Araki, dengan spontan, Bujaro akhirnya terjatuh.
Melihat Bujaro terjatuh, Araki melompat mundur kebelakang.
Bujaro yang tidak mau kalah, dirinya segera bangkit dan memburu Araki. Dengan cepat, Bujaro melompat kearah Araki.
Tumpuan kaki Bujaro telah membuatnya melesat cepat kearah Araki. Juga tangannya mengepal tertuju padanya.
Araki yang Melihat sebuah kepalan tangan yang menuju ke arahnya, berusaha mencoba untuk menghindarinya.
Selanjutnya, memutarkan tubuhnya untuk menghindari kepalan tangan Bujaro. Saat itu juga, Araki langsung membalas dengan sebuah sikutan yang diarahkan ke punggung Bujaro.
Dan pada akhirnya, sikutan Araki telah berhasil menekan punggung Bujaro. Saat
__ADS_1
Bujaro terkena sikutan dipunggungnya oleh Araki, dirinya tersungkur di atas lantai arena.
Jatuhnya Bujaro oleh Araki membuat Bujaro semakin terbawa amarah, juga semakin memanas kondisi pertandingan di arena.
Bujaro yang terjatuh, secepatnya langsung membalikkan badannya dari lantai arena, juga langsung menyerang Araki.
Seperti tidak merasakan sakit, Bujaro semakin terbawa amarahnya, dan bersemangat, terus menyerang Araki tanpa henti.
Araki yang telah menyadari akan kemarahannya, Bujaro berusaha untuk bertarung dengan tenang, juga mencoba untuk membiarkan Bujaro terus menyerangnya.
Serangan yang Bujaro lancarkan, selalu dapat dihalau oleh Araki.
Dengan semangat untuk memenangkan pertandingan, Bujaro terus menyerang tanpa memperhatikan diri untuk bertahan dan menghalau serangan dari Araki.
Araki dengan semangat, mulai memanfaat kesempatan untuk berbalik menyerang pada Bujaro.
Tenaga yang dikeluarkan oleh Bujaro untuk menyerang Araki, rupanya dapat membuat serangannya mulai melemah, juga melambat.
Araki yang telah berhasil memancing amarah Bujaro, dirinya mulai merasa sekaranglah saatnya untuk melakukan serangan balasan.
Sedangkan Araki memulai membalas pada setiap mendapat serangan dari Bujaro.
Disaat Bujaro menyerang dengan sebuah pukulan yang lemah, Araki menangkisnya dan membuang pukulan tangan milik Bujaro.
Araki mulai memanfaatkan keadaan Bujaro yang kurang membaca situasi. Alhasil, dirinya berhasil mendaratkan sebuah tendangan ke tubuh Bujaro.
Bujaro yang menerima tendangan dari Araki, langsung terpental jauh. Bahkan, tubuhnya menggulung menjauhi Araki.
"Sial, semua serangan ku sepertinya percuma saja. Ternyata Araki memang benar-benar luar biasa, juga dia bisa menangkis setiap serangan dariku. Sungguh, rupanya dia masih terlihat bugar. Apa mungkin dia dapat membaca kelemahanku? ah sial. Kenyataannya setiap serangan dapat dipatahkannya. Aku harus memikirkan cara lain untuk menyerangnya lagi." Gumam Bujaro sambil mencoba bangkit untuk kembali berdiri.
Araki yang terlihat masih dengan kuda-kudanya ,rupanya ia sangat waspada menghadapi Bujaro.
Bahkan, Araki tengah melihat kesungguhan Bujaro dalam bertarung. Juga, Araki telah mengetahui walaupun Bujaro mendapatkan banyak serangan, namun tidak semudah itu untuk menyerah.
Araki tahu siapa Bujaro, bukanlah seorang pendekar yang mudah menyerah, pikir Araki.
Walaupun Bujaro terlihat masih mempunyai tekad melawan, namun tubuhnya sudah mengalami banyak cedera.
"Dia memang luar biasa. Apa mungkin serangan ku percuma, seharusnya dia sudah menyerah, badannya sudah mengalami banyak serangan, sudah semestinya ia kalah." Gumam Araki dalam hatinya yang masih terus berfikir bagaimana caranya untuk mengalahkan saudaranya itu.
Bujaro kembali bangkit, dan juga bersiap untuk menyerang Araki walaupun mengalami banyak cedera.
Kemudian, Bujaro berlari dan melesat cepat kearah Araki.
__ADS_1
Araki yang telah siap dengan serangan Bujaro, dirinya telah mempersiapkan sebuah kejutan untuk Bujaro.
Seakan mengetahui serangan dari Bujaro. Araki mencoba melakukan perlawanan.
Sesuai yang akan dilakukan Araki, yakni serangan Bujaro yang melemah, sekarang telah dimanfaatkan oleh Araki.
Sebuah tendangan Bujaro sengaja Araki terima, yakni untuk mengetahui seberapa kuat tendangan saudaranya itu.
Araki hampir saja terjatuh akibat tendangan dari Bujaro. Namun, rupanya telah berhasil membaca seberapa besar tenaga yang masih dimiliki Bujaro.
Bujaro terlihat tersenyum, tetapi dia tidak mengetahui bahwa itu adalah strategi Araki.
Senyuman kecil Bujaro dimanfaatkan oleh Araki. Akibat senyuman itu, Bujaro kehilangan kesiapsiagaannya.
Araki yang mengetahui hal tersebut, langsung menyerang Bujaro secara tiba-tiba. Tumpuan kakinya dimanfaatkan untuk mendorong tubuhnya agar melesat kearah Bujaro.
Sebuah genggaman tangan yang begitu cepat, telah berhasil mendarat di dada Bujaro.
Kemudian disusul lah dengan tendangan yang bertubi-tubi ke tubuh Bujaro, sebuah tendangan tanpa henti harus diterimanya.
Akibat tendangan hebat itu, tubuh Bujaro terus berjalan mundur mendekati garis luar arena. Araki yang mengetahui hal itu, segera mengakhiri Bujaro dengan tendangan terakhir.
Kali ini Bujaro harus menerima kekalahan dari saudara angkatnya, tendangan yang diterima membuat tubuhnya keluar dari arena. Lonceng terdengar dari menara, juga tubuh Bujaro telah keluar dari garis pembatasan.
Tendangan terakhir Araki berhasil mengalahkan saudaranya itu, juga Araki melompat salto ketengah arena.
Kali ini Bujaro mengakui kepandaian saudaranya itu, yang mana Araki memang pandai membaca situasi dan memancing kelemahan lawan.
Lonceng yang telah berbunyi membuat pertandingan antara Araki dan Bujaro berakhir.
Araki kemudian menghampiri Bujaro yang tengah terduduk di luar arena.
"Kau memang pandai membaca situasi, dan juga kelemahan lawan." Ucap Bujaro yang masih terduduk.
"Kau sedikit benar kali ini, Bujaro. Aku selalu mencoba membaca kembali setiap serangan darimu. Kita selalu berlatih bersama dan aku selalu memperhatikan kau dan Moji berlatih. Setiap langkah dan taktik serangan yang kau lakukan, hampir semua aku bisa mengetahuinya. Mungkin karena terbiasa kita berlatih bersama." Jawab Araki sambil ikut duduk di samping Bujaro.
"Kau memang pandai, saudaraku." Ucap Bujaro.
"Bukan pandai, hanya saja aku berhasil membaca setiap serangan darimu. Sedangkan kau terlihat tak pernah membaca taktik serangan dariku. Kau selalu terpancing oleh amarahmu sendiri. Ambisimu menguntungkan bagiku, dan akhirnya aku manfaatkan semua itu." Terang Araki dengan jujur.
"Benar apa kata mu, Araki. Aku hanya berambisi terus menyerang tanpa memikirkan siapa lawan ku sendiri. Dan sekarang, aku sadar diawal pertarungan kau selalu memancing agar diriku terus menyerang kamu. Benar saja, ternyata kau sudah merencanakan sesuatu kepadaku." Kata Bujaro.
"Sekarang kau telah menyadarinya, bukan? sengaja aku membiarkan dirimu untuk menyerang diriku. Karena aku tahu, bahwa serangan darimu selalu meleset, sehingga kau hilang kendali, dan juga terbawa emosi. Bahkan, amarahmu sendiri membuat setiap serangan menjadi melambat, disitulah kesempatan aku untuk mengalahkan dirimu." Jawab Araki.
__ADS_1