
Setelah mengobrol, Araki dan Bujaro dihampiri oleh ayah dan adiknya.
"Kalian berdua sungguh luar biasa, diluar arena para penonton sangat kagum dengan gaya pertarungan kalian." Ucap Moji memberi pujian kepada Araki dan Bujaro.
"Ah, tetap saja aku kalah dari Araki." Jawab Bujaro sambil tersenyum.
"Itu semua hanya kebetulan, mungkin aja tadi Bujaro sedang memikirkan sesuatu, jadi kurang konsentrasi." Kata Araki menimpali.
"Mungkin kali, ya." Sahut Bujaro.
"Makanya, sebelum bertarung hindari untuk melamun, apalagi memikirkan perut lapar, makin bahaya." Kata Moji bergurau.
"Itu kan, kamu yang porsi makannya lebih banyak dariku, Moji." Ucap Bujaro selaku kakaknya.
"Eh, gak dong. Yang porsi makannya banyak tuh, Araki." Kata Moji yang justru mengarah ke Araki.
"Sudah sudah, nanti lagi kalau kalian mau bergurau." Ucap sang ayah.
"Siap, ayah."
"Siap, Paman."
Jawab ketiganya dengan serempak.
Gurauan Bujaro dan Araki bersama adiknya membuat tawa mereka pecah. Beberapa saat kemudian, sang ayah mengajaknya untuk beristirahat sambil mengobati luka memar pada bagian anggota tubuh Bujaro.
"Ayo, kita istirahat dulu." Ajak sang ayah kepada mereka bertiga.
Kemudian, mereka segera beranjak menuju tempat istirahat. Sesampainya ditempat istirahat, ada seseorang yang sedang menunggu.
"Selamat ya, Araki. Akhirnya kau kembali memenangkan pertandingan, dan masuk ke babak kemenangan. Dan kau, ternyata memang luar biasa dalam bertarung. Juga, kau pandai membaca setiap serangan dari musuh kamu." Ucap Eebaku.
__ADS_1
Eebaku sebelumnya adalah lawan Araki pada babak sebelumnya.Rupanya Eebaku selalu mengawasi Araki di setiap pertandingan.
"Oh, gak juga. Mungkin karena keberuntungan saja, tapi sebelnya terimakasih banyak Eebaku. Aku juga tidak menyangkalnya, jika aku akan sampai ke babak final." Jawab Araki sambil menoleh kearah Eebaku.
"Araki memang hebat, juga dia sangat pandai memilih lawan. Bahkan, kakakku sendiri kalah. Entahlah, mungkin Kakakku kurang becus bertanding." Timpal Moji sambil tertawa kecil, yakni untuk menghidupkan suasana agar tidak terlalu serius.
"Bukan karena gak becus, tapi kurang beruntung. Seperti kamu itu, belum beruntung dan disuruh coba lagi." Kata Bujaro sambil menahan sakit pada bagian tubuhnya yang mendapat serangan dari Araki.
"Moji, bisa saja kamu ini. Kan, lawannya bukan aku yang memilihnya, hem." Ucap Araki.
"Sepertinya kita ini harus banyak belajar dari Araki. Bagaimana kalau Araki dijadikan guru kita? ya ... setidaknya kita bisa imbang ilmunya." Kata Moji yang masih bergurau.
"Boleh boleh, kita berguru dengannya." Sahut Bujaro.
"Bagus juga ide kamu, Moji." Kata Eebaku ikut menimpali.
"Apa-apaan kalian ini, jangan ngada-ngada. Yang ada kalian akan tersesat jika berguru denganku." Ucap Araki.
Mereka mengangguk dan nurut.
"Oh ya, sekali lagi selamat ya, Araki. Sebentar lagi kau akan bertarung masuk ke babak final, dan kau akan melawan Gyuki di babak final nanti." Ucap Eebaku.
"Ya, aku akan melawannya. Terimakasih banyak ya, Eebaku. Aku kira kamu sudah lupa denganku. Aku doakan, semoga di luaran sana kamu akan temukan keberhasilan kamu." Jawab Araki.
"Terimakasih, semoga saja. Mana mungkin aku lupa dengan pendekar sehebat seperti dirimu, Araki. Kau adalah seseorang yang mempunyai kegigihan dan semangat yang tinggi, meski kamu orang baru, tapi kamu sudah menjadi pencetus hebat dalam pertandingan ini." Kata Eebaku.
"Sudahlah, jangan memuji ku terus, semua mungkin hanya kebetulan saja." Ucap Araki.
"Oh ya, Araki. Tadi aku dengar, pertandingan final ini akan diundur. Jadi, ini kesempatan kamu untuk dapat memulihkan diri. Dan kamu bisa istirahat dengan cukup, Araki.
Karena Gyuki bukan lawan yang mudah, aku doakan agar kau menjadi pemenang baru tahun ini." Kata Eebaku.
__ADS_1
"Aku juga belum tahu banyak tentang Gyuki, sebelumnya aku sudah melihat cara dia bertarung. Namun, gaya pertarungannya selalu berubah. Gyuki pasti akan menjadi lawan terberat ku, aku pasti akan terus berusaha untuk mengalahkannya." Jawab Araki.
"Ya, Araki. Gyuki sudah pernah mengalahkan diriku, dan kau harus hati-hati dengannya. Dan aku doakan, semoga kamu bisa mengalahkan dia." Timpal Moji menyela pembicaraan antara Araki dan Eebaku.
"Baiklah kawan, aku pergi dulu. Siapkan dirimu untuk pertandingan melawan Gyuki. Aku lihat Gyuki juga selalu memperhatikan gaya pertarungan mu. Jadi, kalian berdua mempunyai bakat beladiri yang luar biasa. Sampai jumpa untuk pertandingan berikutnya, berhati-hatilah menghadapi Gyuki." Ucap Eebaku sambil melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Araki dan Moji maupun Bujaro.
Setelah selesai beristirahat, mereka menuju ke penginapan. Mereka berjalan bersama sambil mengobrol disela-sela menuju ke tempat tujuan. Sang ayah yang melihatnya, merasa bangga dengan pertandingan mereka bertiga.
"Araki, satu hari lagi kau akan melawan Gyuki. Ingat, persiapkan diri kamu dengan baik. Paman yakin bahwa kamu pasti dapat memenangkan pertandingan ini. Ingatlah baik-baik gaya pertarungan Gyuki saat melawan Moji. Pertarungannya hampir sama saat kau melawan Bujaro. Jadi, jangan sampai saat pertandingan nanti, kamu terpancing emosi olehnya." Ucap sang paman menasehatinya.
"Baik, Paman. Nasehat dari Paman akan Araki ingat baik-baik. Sebelumnya, Araki ucapkan banyak terimakasih. Karena semua ini adalah berkat dari Paman juga, hingga Araki sampai di titik final untuk menuju kemenangan." Jawab Araki.
"Maka dari itu, persiapkan diri kamu sebaik mungkin untuk melawan Gyuki."
Araki mengangguk.
"Ya, Paman." Jawab Araki.
Sesampainya di tempat penginapan, mereka segera membersihkan diri.
Araki yang terlihat masih memikirkan saran dari Eebaku dan sang paman, didalam benaknya, bahwa Gyuki memang luar biasa. Bahkan, Gyuki mempunyai banyak pengalaman dalam bertanding. Karena Gyuki adalah juara bertahan, membuat Araki terus memikirkan pertandingan selanjutnya.
"Ada apa, anakku? kenapa kamu melamun terus, apa yang sedang kamu pikirkan, Araki?" tanya sang paman.
"Tidak ada apa-apa, Paman. Araki hanya sedikit khawatir saja, soalnya besok akan menghadapi juara bertahan. Apalagi Gyuki adalah lawan yang tidak mudah untuk dikalahkan, itu yang membuat Araki khawatir. Saat Gyuki melawan Moji, terlihat kalau Gyuki hampir tidak menerima serangan dari Moji." Jawab Araki sambil duduk menatap bintang yang bertebaran di langit.
"Jangan khawatir tentang itu, Paman yakin kamu pasti bisa mengalahkan Gyuki. Karena apa, karena kamu memiliki tekad yang sangat kuat dan kelihaianmu dalam membaca kelemahan lawan sangat pandai. Bahkan, kamu sendiri mampu mengendalikan diri. Jadi, Paman benar-benar yakin bahwa kamu itu bisa untuk mengalahkan Gyuki." Kata sang paman yang memberikan semangat kepada anak angkatnya, yakni Araki.
"Semoha saja, Paman. Araki hanya bisa berharap, juga akan terus berusaha untuk memenangkan pertandingan di babak final nanti, Paman. Juga, Araki pasti akan berusaha dengan baik." Jawab Araki meyakinkan diri sendiri, juga sang paman.
Maaf ya readers setia, jika jadwal updatenya berantakan. Selain garap novel lain, ada kesibukan di dunia nyata.
__ADS_1
Tetap kok, novel ini akan terus berlanjut, dan pastinya akan diselesaikan sampai akhir. Tetap setia ya, readers... hanya kesetiaan kalian yang menjadi penyemangat.