
Bab 100: Selamat Tinggal untuk "Lembaran Harapan"
Sulis melihat ke arah jendela kelasnya dengan wajah sedih. Sekarang saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal pada sekolah mereka. Lanjutannya terfokus pada pohon besar di halaman sekolah dan melihat dedaunannya yang rimbun bergoyang dengan lembut. Ia tersenyum dan merasakan kerinduan yang mendalam pada masa-masa indah di sekolah.
"Kamu tahu, sulis, aku tidak pernah bisa membayangkan ini. Meninggalkan sekolah ini begitu cepat, " kata Ahmad sambil duduk di samping Sulis.
"Ya, aku tahu. Aku pikir rasanya tidak akan sesedih ini, " kata Sulis dengan suara lembut.
"Malam kelulusan kita benar-benar adalah malam yang luar biasa, " kata Ahmad dengan senyumnya yang polos.
Tidak lama kemudian, kedua teman ini berjalan menuju kantor kepala sekolah untuk memberikan surat perpisahan mereka. Setelah menyelesaikan urusan di sana mereka pun kembali ke kelas.
Sulis dan Ahmad mengambil tempat duduk mereka, dan mereka merasa sedih karena ini adalah hari terakhir mereka sebagai siswa SMA.
"Sulis, kamu sudah mempersiapkan diri untuk kuliah nanti kan?" tanya Ahmad.
"Iya, sudah. Tapi, aku tidak bisa membayangkan kehidupan baru aku nantinya, " jawab Sulis.
Ahmad tersenyum dan berkata, "Ingatlah, banyak hal baru yang akan menanti kamu. Kamu harus tetap optimis dan berfokus pada masa depanmu."
Sulis tersenyum mendengarkan kata-kata sahabatnya dan piawai diamati keindahan halaman sekolahnya.
"Sekolah kita benar-benar indah, Ahmad. Rasanya aku akan merindukannya," ujar Sulis.
"Sama, Sulis. Aku juga merasakannya. Tapi, kita harus bergerak maju dan menghadapi masa depan dengan optimis," kata Ahmad.
Mereka berdua terdiam sejenak, mengingat-ingat kenangan mereka selama tiga tahun di sekolah ini. Mereka merenungkan perjalanan hidup selanjutnya dan meyakinkan diri untuk tetap berjuang.
Waktu terus berjalan, dan akhirnya suara bel berbunyi dan ini adalah saatnya untuk pergi untuk selamanya. Sulis dan Ahmad berdiri dan berpelukan. Ada air mata yang mengalir di antara mereka.
"Selamat tinggal, Sulis. Jangan lupa untuk berkunjung ke sekolah kita," kata Ahmad.
"Saya tidak akan pernah melupakan sekolah ini, atau kalian," kata Sulis sambil menepuk pundak Ahmad.
Mereka meninggalkan ruangan itu, mengucapkan selamat tinggal pada sekolah dan kenangan-kenangan indah yang pernah mereka alami. Mereka berjalan pergi, ke arah masa depan baru yang menunggu mereka.
Sulis dan Ahmad keluar dari gerbang sekolah. Mereka berjalan pelan sambil memeluk buku-buku mereka yang masih tersisa. Mereka menghela nafas panjang, merasakan kesedihan yang mendalam meninggalkan semua kenangan indah di sekolah.
"Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kalian," ujar Sulis dengan nada sedih.
"Mungkin, tapi kamu akan bertemu banyak orang baru dan membuat kenangan baru," kata Ahmad mencoba menghibur Sulis.
Sulis tersenyum. "Ya, kamu benar. Aku perlu memperluas lingkaran sosialku dan melanjutkan hidupku."
Ahmad menepuk pundak Sulis. "Pasti akan ada banyak kesempatan dan peluang di luar sana untukmu, Sulis. Kamu bisa mencapai segalanya jika kamu berjuang dengan keras."
Kedua sahabat ini terus berjalan sambil berbicara tentang masa depan mereka. Mereka saling memberikan semangat dan mendukung satu sama lain.
"Aku harap kita akan selalu tetap dekat, meskipun kita sudah tidak berada di sekolah yang sama lagi," ujar Sulis.
"Pasti akan tetap dekat. Kita akan selalu berteman, Sulis," jawab Ahmad dengan tegas.
__ADS_1
Sulis tersenyum dan membuka tasnya. Dia mengambil sebuah album foto dan menunjukkannya pada Ahmad. "Kenangan semua kenangan indah kita di sini?"
Ahmad meraih album foto itu dan membukanya. Dia menatap semua foto yang ada di dalamnya, menertawakan kenangan pahit manis yang pernah mereka alami.
"Kita sudah memiliki banyak kenangan indah bersama, Sul," ujar Ahmad.
"Hmm, ya. Dan aku pikir album ini akan menjadi kenangan yang sangat berharga untuk kita di masa depan," jawab Sulis sambil mengembalikan album foto itu ke dalam tasnya.
Mereka tiba di sebuah toko, di mana mereka membeli beberapa makanan ringan untuk dimakan sambil menunggu bus mereka tiba.
"Sekarang yang tersisa hanyalah waktu, Sulis," ujar Ahmad.
Sulis mengangguk. "Waktu akan terus berjalan, Ah. Dan kita harus siap menghadapinya dengan tubuh dan pikiran yang semakin tangguh."
Mereka akhirnya sampai di stasiun bus. Sulis dan Ahmad bertepuk tangan dan berpelukan erat. Mereka tersenyum, menuju ke dunia baru yang belum mereka ketahui.
"Selamat jalan, Ah. Semoga kita bertemu lagi suatu hari nanti," ujar Sulis.
"Selamat jalan Sulis. Semoga kamu sukses di masa depanmu," kata Ahmad sambil memandang mata Sulis.
Mereka saling berjabat dan akhirnya mereka masuk ke dalam bus masing-masing. Sulis menoleh sekali lagi, dan melambai pada Ahmad seolah mengatakannya "sampai jumpa".
Ahmad melambai kembali dan berkata di dalam hatinya "sampai nanti, Sul".
Mereka masih saling melambai saat bus Sulis bergerak perlahan-lahan memasuki jalan raya. Sulis memandang keluar jendela dan memejamkan matanya. Di dalam hatinya, dia berjanji untuk mengejar mimpinya dan tidak pernah melupakan kenangan indah yang dia bagikan dengan Ahmad di sekolah.
Tidak ada lagi suara riuh orang-orang di sekolah. Tidak ada lagi bunyi bel yang berbunyi-bunyi. Lembaran harapan yang pernah mereka buat bersama sudah terlipat rapi dalam tas mereka masing-masing. Sulis dan Ahmad kini menjalani hidup mereka sendiri, menghadapi tantangan dan kesempatan baru yang menanti di depan.
Sulis membuka mata dan menyeka air matanya. Dia mengambil buku catatan kecil dari dalam tasnya dan menulis halaman baru:
"Selamat tinggal, Lembaran Harapan. Aku akan selalu merindukanmu, tapi aku siap melangkah maju ke panggilan takdirku yang mencintaiku. Aku bersyukur sudah memiliki teman sebaik Ahmad, yang akan selalu menjadi teman dan sahabatku di hari-langit yang akan datang. Sampai jumpa, Sekolahku yang tercinta."
Sulis menyimpan buku catatannya kembali ke dalam tasnya dan mengambil napas dalam-dalam. Dia siap untuk melanjutkan hidupnya, membawa semua kenangan indah yang pernah dia bagikan bersama Ahmad dan teman-teman lainnya di sekolah.
Ahmad melihat Sulis yang tertidur pulas di sebelahnya, dan dia merasakan kelelahan yang sama. Dia menundukkan kepalanya untuk beristirahat sebentar, sambil menyimpan lembaran harapan mereka dengan hati-hati di dalam tasnya.
Ahmad mengingat semua momen yang mereka bagikan bersama, dari ketika mereka pertama kali bertemu di kelas satu hingga saat ini, saat mereka berdua menempuh perjalanan mereka yang berbeda-beda. Dia tidak pernah bisa membayangkan hidupnya tanpa teman sebaik Sulis, dan dia tahu bahwa dia akan merindukannya setiap hari.
Saat bus berhenti di terminal, Ahmad mengguncang bahu Sulis dengan lembut. Sulis terbangun dan mereka mengangkat tas masing-masing. Mereka saling berhadapan dan tersenyum satu sama lain.
"Selamat tinggal, Sulis," ucap Ahmad dengan suara lembut.
"Sampai jumpa, Ahmad," jawab Sulis seraya memeluk erat temannya.
Mereka melepas pelukan dan berdiri di samping bus. Sulis melambai ke arah Ahmad saat bus perlahan-lahan bergerak meninggalkan terminal.
Ahmad memandang ke arah bus yang semakin menjauh, dan dia merasakan kekosongan di dalam hatinya. Tapi dia juga merasa optimis dengan harapan-harapan yang tersimpan di dalam lembaran harapan mereka, dan dia merasa bersyukur telah menjalani kisah hidup yang luar biasa bersama Sulis dan kawan-kawan yang lain di sekolah.
Ahmad menarik napas dalam-dalam, membuang semua kecemasannya, dan memutuskan untuk terus melangkah maju, menuju takdir yang menantikannya di depan. Dia percaya bahwa apapun yang terjadi, ia akan selalu memiliki kenangan indah dari masa-masa di sekolah dan teman-teman yang membantunya tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.
Ahmad bergegas untuk menemui orangtuanya di stasiun kereta, dengan hati yang sedikit berat. Sulis sekarang berada di kota yang berbeda, di universitas yang berbeda, dan mereka harus belajar untuk hidup tanpa satu sama lain.
__ADS_1
Ketika Ahmad akhirnya sampai di rumah, orangtuanya menyambutnya dengan senyum hangat. Mereka tahu betapa pentingnya keberadaan Sulis bagi Ahmad, dan mereka berharap bahwa dia bisa menemukan teman baru dan mengalami petualangan baru di masa-masa yang akan datang.
Ahmad menghabiskan beberapa hari untuk mengatur ulang hidupnya, mencari tahu kegiatan dan klub yang menarik di kampusnya. Dia mencoba untuk terbuka dan bersosialisasi dengan orang-orang barudan menemukan beberapa teman karib baru.
Namun, meskipun dia telah menemukan teman-teman baru, tidak ada yang bisa menggantikan kedekatan dan kepercayaan yang ia rasakan dengan Sulis. Ahmad merindukannya setiap hari, dan dia sering membuka lembaran harapan mereka bersama, mengingat kembali kenangan yang mereka bagikan.
Ketika liburan musim panas tiba, Ahmad memutuskan untuk mengunjungi Sulis di kota tempat ia kuliah. Sulis menyambutnya dengan senyum hangat, dan mereka menghabiskan waktu bersama-sama, mengeksplorasi kota dan mencoba makanan baru.
Saat mereka duduk bersama di sebuah taman di dekat kampus, Ahmad membuka lembaran harapan mereka dan membacanya dengan penuh harapan dan kegembiraan.
"Kita akan terus membagikan kisah hidup kita bersama-sama, Sulis," kata Ahmad dengan senyum lebar di wajahnya.
Sulis tersenyum kembali, "Ya, Ahmad. Lembaran harapan kita akan selalu menjadi menginspirasi dan melekat dalam perjalanan hidup kita. Terima kasih untuk semua kenangan yang kita bagikan bersama."
Ahmad merangkul Sulis erat-erat, menikmati kehangatan persahabatan mereka dan mengucapkan terima kasih atas keberadaannya. Meskipun mereka sekarang terpisah, Ahmad tahu bahwa persahabatan mereka akan selalu berlangsung.
Sulis melingkarkan tangannya di lengan Ahmad, "Kita mungkin tidak lagi berkumpul setiap hari, tetapi kita akan selalu ada satu sama lain saat dibutuhkan."
Ahmad setuju dengan perkataan Sulis, dan memandang ke jauh, mengingat kembali kenangan manis mereka. Dia tahu bahwa meski mereka telah berpisah, ia akan selalu menyimpan lembaran harapan mereka, sebagai simbol dari persahabatan mereka yang tak tergantikan.
"Sampai jumpa, Sulis," kata Ahmad sambil mengangkat tangan untuk memberikan perpisahan.
"Sampai jumpa, Ahmad," jawab Sulis sambil tersenyum.
Ahmad dan Sulis berjalan perlahan, meninggalkan taman dengan kenangan indah dan berjuta harapan di hati mereka. Meskipun berpisah terasa sulit, mereka tahu bahwa persahabatan mereka akan selalu mempertemukan mereka lagi pada saat yang tepat.
Terima kasih telah mengikuti kisah "Lembaran Harapan". Semoga cerita persahabatan Ahmad dan Sulis ini dapat menginspirasi kita untuk tumbuh dan memelihara persahabatan yang tulus dan abadi. Hingga bertemu di kisah lainnya!
"Sampai jumpa, Sulis," kata Ahmad.
"Sampai jumpa, Ahmad," jawab Sulis.
Ahmad dan Sulis saling menganggukkan kepala dan dengan hati berat, mereka akhirnya berpisah. Meskipun begitu, mereka berjanji untuk tetap menjaga hubungan persahabatan mereka.
Ahmad membuka kotak kecil yang ada di genggamannya dan melemparkan satu lembaran ke angkasa. Sulis mengikuti jejak Ahmad dan melemparkan lembarannya juga. Mereka menyaksikan bersama setiap lembaran harapan terbang tinggi ke udara, membawa pesan-pesan kebahagiaan dan aspirasi mereka.
"Mari kita buat lebih banyak kenangan seperti ini di masa depan," kata Ahmad, senyum terukir di wajahnya.
Sulis mengangguk, "Ya, mari kita temukan petualangan baru yang menunggu kita!"
Ahmad dan Sulis berjalan jauh, memulai babak baru dalam hidup mereka dengan semangat dan keyakinan. Dan siapa tahu, mungkin suatu saat nanti, mereka akan membuat lembaran harapan baru dan membiarkannya terbang tinggi ke atas, sebagai simbol persahabatan mereka yang tak tergantikan."Sampai jumpa, Sulis," kata Ahmad.
"Sampai jumpa, Ahmad," jawab Sulis.
Ahmad dan Sulis saling menganggukkan kepala dan dengan hati berat, mereka akhirnya berpisah. Meskipun begitu, mereka berjanji untuk tetap menjaga hubungan persahabatan mereka.
Ahmad membuka kotak kecil yang ada di genggamannya dan melemparkan satu lembaran ke angkasa. Sulis mengikuti jejak Ahmad dan melemparkan lembarannya juga. Mereka menyaksikan bersama setiap lembaran harapan terbang tinggi ke udara, membawa pesan-pesan kebahagiaan dan aspirasi mereka.
"Mari kita buat lebih banyak kenangan seperti ini di masa depan," kata Ahmad, senyum terukir di wajahnya.
Sulis mengangguk, "Ya, mari kita temukan petualangan baru yang menunggu kita!"
__ADS_1
Ahmad dan Sulis berjalan jauh, memulai babak baru dalam hidup mereka dengan semangat dan keyakinan. Dan siapa tahu, mungkin suatu saat nanti, mereka akan membuat lembaran harapan baru dan membiarkannya terbang tinggi ke atas, sebagai simbol persahabatan mereka yang tak tergantikan.