
Bab 78: Rencana Keluarga yang Bahagia
Senyum Sulis terukir di wajahnya saat dia membuka sebuah buku di tangan Ahmad yang berjudul "Rencana Keluarga yang Bahagia". Dia mengangguk, "Ini pasti sangat berguna bagi keluarga kita."
Ahmad tersenyum senang melihat istrinya begitu antusias. Dia berpikir, "Akhirnya Sulis membuka hatinya untuk merencanakan masa depan keluarga kita bersama-sama."
Sulis membuka kembali halaman buku itu dan mulai membacakan, "Pertama-tama, kita harus membuat tujuan dalam hidup kita. Apa yang kita ingin capai dalam keluarga kita? Misalnya, menabung untuk pendidikan anak-anak kita, atau membeli rumah idaman kita."
Ahmad merasa semangat. "Sangat baik, daripada hidup tanpa tujuan dan arah yang jelas. Apa lagi yang ada di buku itu?"
Sulis terus membacakan, "Selanjutnya, kita perlu memastikan bahwa kita selalu jujur dan saling dukung satu sama lain dalam setiap keputusan keluarga. Kita juga perlu membuat jadwal waktu untuk berkumpul sebagai keluarga. Dan yang terakhir, kita harus selalu terbuka untuk berkomunikasi dan mencari solusi bersama saat menghadapi masalah."
Ahmad mengangguk, "Semua poin ini sangat penting untuk menjamin keluarga yang bahagia dan sehat. Mari kita mulai menerapkannya."
Sulis tersenyum, "Ya, saya setuju. Ayo kita rancang rencana keluarga kita bersama-sama."
Ahmad memeluk istrinya dengan erat, "Saya sangat bersyukur memiliki istri yang segar dan ramah seperti kamu."
Sulis tersenyum bahagia, "Hingga akhir hidup kita, saya akan selalu berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu dan ibu yang hebat untuk anak-anak kita."
***
Keluarga Ahmad dan Sulis akhirnya berhasil merencanakan masa depan mereka dengan rapi dan sempurna. Mereka bahagia, sehat, dan saling mendukung satu sama lain dalam setiap keputusan keluarga. Bahkan, mereka menginspirasi keluarga dan teman-teman lain untuk menempuh jalan yang sama untuk mencapai kebahagiaan bersama-sama.
__ADS_1
Beberapa waktu setelah keluarga Ahmad dan Sulis merencanakan masa depan mereka, mereka mulai mewujudkan setiap tujuan yang telah mereka buat. Mereka bekerja keras untuk menabung dan mengumpulkan uang untuk pendidikan anak-anak mereka serta membeli rumah idaman yang mereka impikan.
Saat keluarga Ahmad dan Sulis sedang menjalankan rencana keluarga mereka, Sulis merasa ada sesuatu yang kurang. Dia merasa ingin memberi sesuatu yang lebih untuk keluarganya selain materialistik.
"Sekarang kita telah menetapkan tujuan keuangan kita, bagaimana dengan tujuan non-materialistik kita?" ujarnya kepada Ahmad.
Ahmad yang sudah merasakan manfaat dari rencana keluarga mengangguk setuju dan mengajukan ide, "Apa kalau kita buat tujuan berupa kesenangan bersama keluarga, seperti traveling ke luar negeri?"
Sulis tersenyum, "Saya setuju, bahwa hal-hal yang membuat keluarga kita merasa bersama merupakan hal yang paling penting di dunia ini."
Ahmad melihat mata istrinya yang berbinar-binar, "Tentu saja, tapi traveling juga membutuhkan biaya. Bagaimana dengan tujuan apa yang bisa kita lakukan selain traveling?"
Sulis berpikir sejenak, lalu dia berkata, "Bagaimana kalau kita mendonasikan sebagian dari tabungan kita untuk anak-anak kurang mampu? Kita juga bisa mengunjungi panti asuhan dan memberikan kebahagiaan bagi anak-anak yang lebih membutuhkan."
Sulis tersenyum, "Seperti yang selalu saya katakan kepada anak-anak kita, kebahagiaan terbesar terletak pada saat memberikan kebahagiaan untuk orang lain. Semoga rencana ini bisa mewujudkan hal itu."
Ahmad dan Sulis kini memiliki rencana keluarga yang lebih matang, dengan tujuan materialistik dan non-materialistik yang mereka wujudkan bersama-sama. Masing-masing anggota keluarga termasuk anak-anak mereka terlibat dalam merencanakan dan mengejar tujuan mereka. Hal ini membuat keluarga mereka semakin erat dan bahagia.
Setelah itu, keluarga Ahmad dan Sulis mulai menerapkan rencana mereka secara konsisten. Mereka mulai menyisihkan uang setiap bulannya untuk mengejar tujuan mereka, baik yang materialistik maupun non-materialistik.
Ahmad dan Sulis juga mulai mencari informasi tentang tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi, baik di dalam maupun di luar negeri. Mereka merencanakan perjalanan agar sesuai dengan jadwal kerja mereka dan juga mengajak anak-anak mereka untuk turut serta dalam rencana perjalanan keluarga.
"Sudah tahu belum destinasi perjalanan kita?" tanya Sulis pada Ahmad.
__ADS_1
Ahmad mengangguk, "Sudah, saya sudah cari informasi tentang beberapa tempat yang cocok untuk keluarga kita. Salah satunya adalah Jepang, bagaimana menurutmu?"
Sulis tersenyum, "Keren! Anak-anak pasti senang bisa melihat keindahan Jepang dan budaya yang berbeda di sana."
Ahmad menambahkan, "Selain itu, kita juga bisa mengunjungi beberapa panti asuhan di sana dan memberikan sedikit kebahagiaan bagi anak-anak yang tinggal di sana."
Sulis mengangguk setuju, "Itu sangat baik. Kita bisa merencanakan waktu untuk mengunjungi panti asuhan di sana."
Keluarga Ahmad dan Sulis memang benar-benar merealisasikan rencana mereka. Mereka memiliki tujuan yang jelas dan ingin mencapainya. Selain tabungan untuk pendidikan anak-anak dan rumah idaman, mereka juga menyisihkan uang untuk impian yang lebih luas, seperti kesenangan bersama keluarga dan memberikan kebahagiaan bagi orang lain.
Setiap anggota keluarga terlibat aktif dalam rencana dan juga pelaksanaan rencana tersebut. Hal ini membuat keluarga Ahmad dan Sulis semakin erat dan bahagia. Mereka belajar bahwa kebahagiaan tak hanya ditemukan dari kesuksesan materialistik semata, namun juga dari memberikan kebahagiaan bagi orang lain dan bersama-sama menciptakan kenangan indah bersama keluarga.
Setelah beberapa bulan, rencana keluarga Ahmad dan Sulis terwujud. Mereka berhasil menabung sejumlah uang yang cukup untuk membayar liburan ke Jepang dan juga memberikan sumbangan untuk beberapa panti asuhan di sana.
Ketika mereka tiba di Jepang, suasana hati keluarga Ahmad dan Sulis benar-benar bahagia. Mereka merasakan keindahan alam dan budaya yang terdapat di Jepang dan juga senang bisa mengunjungi panti asuhan dan melakukan aksi sosial.
"Terima kasih, suami. Kau benar-benar memberikan kebahagiaan bagi keluarga ini dan juga orang-orang yang kita temui di panti asuhan," ucap Sulis sambil memeluk Ahmad.
Ahmad tersenyum dan menjawab, "Ini adalah tugas kita sebagai orang tua dan manusia yang saling bergantung satu sama lain. Kita harus saling membantu dan memberikan kebahagiaan kepada sesama."
Keluarga Ahmad dan Sulis merasa sangat terpenuhi dan bahagia karena telah merealisasikan rencana mereka dan memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Mereka belajar bahwa kesuksesan dan kebahagiaan tak hanya ditemukan dari kekayaan materialistik saja, namun juga dari memberikan kebahagiaan dan manfaat bagi orang lain.
Keluarga Ahmad dan Sulis menuliskan semua pengalaman mereka di sebuah jurnal keluarga. Mereka ingin membaca catatan ini setiap tahun dan mengingat momen indah yang mereka lewati bersama di Jepang dan di tempat lain yang mereka kunjungi di masa depan.
__ADS_1
Akhirnya, keluarga Ahmad dan Sulis berhasil menemukan kunci kebahagiaan yaitu merencanakan dengan baik, bekerja keras, bersedekah dan memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Mereka menemukan bahwa kebahagiaan itu tumbuh dari dalam dan bersama-sama membentuk keluarga yang harmonis dan bahagia.