
Bab 44: Memaafkan dan Memulai Kembali
Sulis duduk di taman kampus dengan ekspresi galau. Ahmad, teman dekatnya, melihatnya dan duduk di sebelahnya.
Ahmad: (menghela nafas) Sulis, apa yang terjadi? Aku melihat kau terlihat sangat bersedih.
Sulis: (menunduk) Aku... Aku merasa kecewa dengan diriku sendiri, Ahmad. Aku telah melakukan kesalahan besar dan aku tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Ahmad: Ceritakan padaku, Sulis. Aku di sini untuk mendengarkan.
Sulis: (bercerita dengan suara gemetar) Jadi, kamu ingat ketika aku bertengkar dengan Ayu, sahabat baikku? Aku mengatakannya kepada Ayu bahwa aku sudah bosan dengan persahabatan kami. Aku merasa seperti aku berada dalam kegelapan dan aku tidak tahu bagaimana cara keluar.
Ahmad: Sulis, sahabat sejati adalah sesuatu yang berharga. Aku tahu kau sedang berjuang dengan masalah ini, tetapi jangan menyerah begitu saja.
Sulis: Tapi, bagaimana aku bisa memperbaiki apa yang telah aku katakan kepada Ayu? Aku merasa seperti aku telah melukai perasaannya dengan kata-kataku yang kasar.
Ahmad: Pertama-tama, kamu harus menyesali apa yang telah kamu katakan. Kemudian, bicaralah secara jujur dengan Ayu. Sampaikan apa yang sebenarnya kau rasakan dan bagaimana kau menyesalinya. Percayalah, kejujuran dan kerendahan hati akan membuatmu mendapatkan pengampunan.
Sulis: Tapi, apakah Ayu akan mau mendengarkanku setelah semua yang telah terjadi?
Ahmad: Sulis, Ayu adalah sahabatmu selama bertahun-tahun. Dia tahu bagaimana sosokmu sebenarnya. Jangan meragukan persahabatan kalian karena kesalahan yang telah kau buat. Setiap orang pasti melakukan kesalahan, Sulis. Yang penting adalah bagaimana kita belajar dari kesalahan itu dan berusaha untuk memperbaikinya. Jika persahabatan kalian benar-benar kuat, maka Ayu akan memberimu kesempatan kedua.
Sulis: (tersenyum samar) Terima kasih, Ahmad. Aku benar-benar butuh seseorang yang bisa mendengarkan dan memberiku nasihat seperti ini.
Ahmad: Kamu tahu, Sulis, aku selalu di sini untukmu. Persahabatan kita juga berharga bagi aku.
Sulis: (mengangguk) Aku akan mencoba bicara dengan Ayu dan memperbaiki hubungan kami. Aku berharap dia bisa memaafkanku.
Ahmad: Aku yakin dia akan melakukannya. Jangan menyerah, Sulis. Kamu masih memiliki lembaran harapan yang belum ditulis di buku persahabatan kalian.
Sulis: Terima kasih, Ahmad. Aku akan mencoba yang terbaik.
Ahmad: Aku selalu ada di sampingmu, Sulis. Kita akan melewati ini bersama-sama.
Sulis: (sorak-sorai) Bersama-sama!
__ADS_1
Keduanya tersenyum satu sama lain dan memeluk dalam persahabatan mereka yang kuat. Sulis merasa lega bahwa dia memiliki seseorang yang mendukungnya di tengah kesulitan ini. Dengan rasa percaya diri yang baru ditemukannya, Sulis membulatkan tekadnya untuk meminta maaf kepada Ayu dan memulai kembali persahabatan mereka.
Sulis dan Ahmad dicegat oleh seorang pria misterius di tengah perjalanan mereka menuju ke rumah Sakinah. Pria itu mengenakan topi fedora dan mantel hitam yang menambah kesan misteriusnya.
Pria Misterius: Sulis, Ahmad, bolehkah saya bicara sebentar?
Sulis: (cemas) Siapa Anda? Kenapa Anda mencari kami?
Pria Misterius: Nama saya Agha. Saya datang untuk memberi tahu kalian mengenai sesuatu yang penting.
Ahmad: (curiga) Apa yang ingin Anda katakan?
Agha: Saya mendengar kabar bahwa kalian berencana untuk membantu Sakinah mendapatkan lembaran harapan. Saya tahu di mana lembaran itu berada.
Sulis: (terkejut) Bagaimana Anda tahu tentang itu?
Agha: Saya sebenarnya adalah seorang peneliti yang tertarik pada cerita-cerita mitologi kuno. Saya menemukan sebuah naskah kuno yang berisi petunjuk mengenai lembaran harapan.
Ahmad: (tertarik) Jadi, di mana lokasinya?
Agha: Lokasinya berada di sebuah gua tersembunyi di pegunungan matang. Namun, gua itu penuh dengan bahaya dan siapa saja yang mencoba memasukinya akan dihadapkan pada berbagai ujian.
Agha: Benar. Tapi, saya bersedia membantu kalian. Saya telah mempelajari setiap ujian tersebut dan saya akan menjadi pemandu kalian di sana.
Ahmad: (berpikir sejenak) Baiklah. Kami menerima bantuan Anda, Agha.
Sulis: (percaya diri) Kita tidak akan menyerah. Kita akan menghadapi semua rintangan untuk membantu Sakinah mendapatkan kembali kebahagiaannya.
Mereka bertiga kemudian melanjutkan perjalanan menuju pegunungan Matang. Agha memimpin mereka melewati jalan terjal dan hutan belantara. Setelah berjalan cukup jauh, mereka akhirnya tiba di mulut gua yang tertutup oleh sebuah batu besar.
Agha: Inilah gua tempat lembaran harapan disimpan. Namun, pintunya terkunci dan hanya akan terbuka jika kalian mampu menjawab teka-teki yang ada di setiap ujian.
Sulis: Kami siap untuk tantangan ini!
Ahmad: Kami tidak akan mundur.
__ADS_1
Agha: Baiklah, teka-teki pertama adalah...
Mereka pun memulai petualangan berbahaya ini dengan semangat dan keberanian. Mereka harus melewati satu ujian demi satu ujian yang sulit untuk dapat memiliki lembaran harapan yang begitu berharga. Hanya dengan bantuan satu sama lain dan tekad yang kuat, apakah mereka mampu melampaui setiap ujian dan membawa harapan kembali kepada Sakinah?
Sulis duduk sendirian di taman, menatap sebuah pohon rindang di hadapannya. Angin berbisik di telinganya, membawa semilir harum bunga-bunga yang bermekaran. Hatinya terasa hampa setelah kepergian Ahmad dua minggu yang lalu. Sulis merindukan senyuman lelaki itu, obrolan ringan mereka yang tak terhitung jumlahnya, dan kehadirannya yang membuat hari-harinya terasa penuh warna.
Tapi Sulis tak bisa terus-terusan larut dalam kerinduannya. Dia ingin melepas beban dan menjalani hidup ini dengan penuh semangat. Dia merasa harus bertemu dengan Ahmad dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Bukan saat yang tepat untuk menggali soal perasaan. Sulis tahu itu. Tapi dirinya sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia harus tahu apakah apa yang terjadi antara mereka adalah sebuah mimpinya semu atau kenyataan yang nyata.
Saat Sulis terdiam dalam kegalauan pikirannya, langkah kaki yang akrab mendekatinya.
Ahmad: "Halo, Sulis. Apa kabar?"
Sulis: (menoleh dan tersenyum) "Halo, Ahmad. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
Ahmad: (duduk di samping Sulis) "Aku juga baik-baik saja. Aku merindukanmu."
Sulis: (terkejut) "Benarkah? Aku juga merindukanmu, Ahmad."
Ahmad: "Bisakah kita bicara tentang apa yang terjadi di antara kita? Aku merasa ada sesuatu yang mengganggu hubungan kita, tapi aku tidak tahu apa itu. Aku ingin tahu apakah aku punya kesempatan untuk memperbaikinya."
Sulis: (merasa lega) "Aku juga ingin membicarakannya, Ahmad. Aku merasa ada kesalahpahaman di antara kita, dan aku ingin tahu apakah kita masih punya peluang untuk bersama."
Ahmad: "Aku sangat senang kau mau membicarakannya. Aku merasa ada banyak hal yang belum terselesaikan di antara kita."
Sulis: "Bagaimana kalau kita menghadapi permasalahan itu dengan jujur? Aku ingin mendengar pikiran dan perasaanmu, begitu juga denganmu."
Ahmad: "Aku setuju. Kita harus jujur satu sama lain dan saling mendengarkan. Aku ingin memperbaiki hubungan kita, Sulis. Aku merasa kita cocok bersama dan aku tak ingin kehilanganmu."
Sulis: (sambil tersenyum) "Aku juga merasa begitu, Ahmad. Kita bisa mengatasinya jika kita saling mengerti dan berkomitmen untuk memperbaikinya."
Ahmad: "Sekarang aku merasa lebih baik, Sulis. Aku senang kita bisa berbicara seperti ini. Aku berjanji akan berusaha lebih baik lagi dan membuatmu bahagia."
Sulis: (meletakkan tangannya di atas tangannya) "Terima kasih, Ahmad. Aku juga akan berkomitmen untuk membuat hubungan kita menjadi lebih baik. Kita bisa melewati ini bersama-sama."
__ADS_1
Ahmad: (sambil mengangguk) "Aku percaya kita bisa, Sulis."
Bersama-sama, Sulis dan Ahmad duduk di taman, merencanakan langkah-langkah mereka untuk memperbaiki hubungan mereka. Mereka saling memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi. Dengan kejujuran dan komitmen mereka, Sulis dan Ahmad bersiap menghadapi masa depan yang lebih baik bersama-sama.