LEMBARAN HARAPAN

LEMBARAN HARAPAN
CINTA MENUNTUN LANGKAH


__ADS_3

Bab 43: Cinta Menuntun Langkah


Sulis duduk di taman sambil memandangi pepohonan yang bergoyang lembut ditiup angin. Ia menghela nafas berat, teringat akan peristiwa beberapa hari yang lalu ketika dirinya bersama Ahmad menyaksikan matahari terbenam bersama di tepi pantai. Sulis merasakan kebahagiaan yang begitu besar saat itu, seperti semua impian dan harapannya terkumpul menjadi satu.


Tiba-tiba, Sulis merasakan seseorang berdiri di belakangnya. Ia menoleh dan tersenyum melihat Ahmad yang datang dengan senyum lebar. "Sulis, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Ahmad sambil duduk di sampingnya.


Sulis menatap Ahmad dengan penuh kehangatan. "Aku sedang teringat saat kita bersama menikmati matahari terbenam di pantai. Rasanya sangat indah, aku merasa begitu bahagia saat itu."


Ahmad memandang mata Sulis dengan penuh kasih. "Aku juga merasa hal yang sama, Sulis. Kita telah melewati banyak hal bersama, dan aku tak pernah menyangka bahwa kisah kita akan seistimewa ini."


Sulis tersenyum dan menggenggam tangan Ahmad erat-erat. "Kamu tahu, Ahmad, waktu bersamamu seperti membuka lembaran harapan dan impian yang tersembunyi di dalam diriku. Aku merasa begitu hidup dan penuh semangat saat kamu ada di sampingku."


Ahmad mengeratkan genggaman tangannya. "Sulis, aku pun merasa hal yang sama. Aku tidak pernah menemukan seseorang yang membuatku merasa begitu lengkap seperti yang kamu lakukan. Hidupku terasa berarti dan penuh kebahagiaan saat aku bisa selalu bersamamu."


Mata Sulis berbinar penuh cinta. Ia merasa beruntung memiliki seseorang seperti Ahmad dalam hidupnya. "Ahmad, kamu tahu aku mencintaimu dengan sepenuh hati, kan? Aku ingin berjalan seiring denganmu, menjalani kehidupan ini bersama-sama."


Ahmad tersenyum lembut dan mencubit pipi Sulis dengan lembut. "Tentu, Sulis. Aku mencintaimu juga. Kita akan menjalani setiap langkah kehidupan ini bersama-sama. Aku berjanji akan selalu ada di sampingmu, menguatkan dan mencintaimu sepanjang hidup kita."


Sulis merasa hatinya berbunga-bunga mendengar janji Ahmad. Mereka menghabiskan waktu di taman sambil membiarkan cinta mereka saling memeluk, menuntun langkah mereka menuju masa depan yang mereka rindukan.


Dalam kebersamaan dan rasa saling mengisi, Sulis dan Ahmad sadar bahwa mereka menemukan harapan sejati dalam cinta yang mereka bagi. Mereka siap menghadapi segala rintangan dan keajaiban yang telah mereka lewati, menemukan takdir mereka yang indah dalam perjalanan hidup yang dituntun oleh cinta.


Akhirnya, lembaran harapan Sulis dan Ahmad digulung menjadi satu, membentuk satu kisah cinta yang tak akan terlupakan.


Sulis duduk di teras rumahnya yang sepi. Hatinya masih terasa berat setelah membaca surat dari Ahmad. Ahmad, pria yang telah lama dikenalnya dan memiliki perasaan khusus dalam hatinya. Sulis menengadah ke langit, berharap ada jawaban yang jelas di sana. Saat itulah, Sulis melihat sosok Ahmad berjalan mendekatinya.


Ahmad: (sambil tersenyum) Assalamualaikum, Sulis. Ada waktu untuk berbicara?


Sulis: Waalaikumsalam, Ahmad. Tentu, duduklah. Ada hal apa yang ingin kamu bicarakan?

__ADS_1


Ahmad duduk di samping Sulis. Terlihat keraguan di matanya, tapi dia tetap mencoba bersikap tenang.


Ahmad: Sulis, aku ingin bicara tentang surat yang ku kirimkan padamu.


Sulis: (terdiam sejenak) Ya, suratmu tadi. Aku terkejut saat membacanya. Aku tak pernah menyangka bahwa kamu memiliki perasaan seperti itu.


Ahmad: Maafkan aku, Sulis. Aku tahu ini mungkin sangat mendadak bagimu, tapi selama ini aku merasa sulit untuk menyembunyikannya lagi. Hatiku telah lama tertambat padamu.


Sulis: (tersenyum pahit) Ahmad, kamu tahu sendiri bahwa aku sudah menikah dan memiliki keluarga. Aku mencintai suamiku, dan aku tahu aku harus menjalani pernikahan ini dengan setia.


Ahmad: (mengangguk mengerti) Aku tahu, Sulis. Aku sebenarnya lebih memahami hal itu dari siapapun. Aku menghargai keputusanmu, dan aku tidak berniat merusak apapun dalam hidupmu.


Sulis: Lalu, mengapa kamu mengungkapkan perasaanmu ini sekarang? Apa yang ingin kamu capai dengan surat itu?


Ahmad: Sulis, aku ingin kau tahu bagaimana perasaanku. Aku ingin kita bisa jujur dan membuka hati kita, meskipun jalannya takdir mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Aku ingin kamu tahu bahwa ada seseorang yang memandang mu dengan penuh cinta.


Sulis: (berjuang menahan air mata) Ahmad, kamu menguji kesetiaanku dan keyakinanku dengan mengungkapkan perasaan seperti ini. Aku tahu kita telah menjadi teman baik selama ini, tapi hal ini membuatku bingung.


Sulis: (tersenyum mencoba menenangkan diri) Ahmad, aku menghargai kejujuranmu. Tapi kehidupan ini begitu rumit, ada banyak hal yang harus kita terima dan banyak tanggung jawab yang harus diemban. Apa yang bisa kita lakukan sekarang?


Ahmad: Sulis, aku tak mungkin meminta lebih dari yang kamu bisa berikan. Aku hanya ingin membagikan perasaan ini denganmu. Kamu sangat berarti bagiku, dan aku akan selalu ada untukmu sebagai teman, sekalipun aku harus menutup perasaan ini dalam hati.


Sulis: Terima kasih, Ahmad. Kamu adalah teman yang baik. Aku harap kita bisa mencari cara untuk menjaga persahabatan kita, meskipun takdir membawa kita ke arah yang berbeda.


Ahmad: Sama-sama, Sulis. Aku berjanji akan selalu ada untukmu, tak peduli apa yang terjadi. Persahabatan kita akan tetap berarti bagiku.


Dalam keheningan malam yang gelap, Sulis dan Ahmad saling memandang dengan penuh pengertian di antara mereka. Meskipun banyak pertanyaan yang menggantung di udara, mereka sadar bahwa takdir mungkin telah menuliskan skenario mereka masing-masing. Namun, ada satu hal yang tak akan mereka pungkiri, bahwa cinta dan persahabatan mereka telah menjadi lembaran harapan


Sulis sedang duduk di taman dekat rumahnya, sibuk membaca sebuah buku tentang mimpinya untuk masa depan. Sudah beberapa minggu sejak dia dan Ahmad berdiskusi tentang cita-cita dan mimpi mereka. Sulis menggigit bibirnya penuh semangat saat melihat gambar seorang penulis terkenal di buku tersebut.

__ADS_1


Ahmad yang baru pulang sekolah, melihat Sulis dengan buku tersebut dan tersenyum. Dia duduk di sebelah Sulis sambil melirik isi buku yang dilihatnya.


Ahmad: "Apa yang sedang kau baca, Sulis?"


Sulis: "Buku ini tentang orang-orang yang mewujudkan mimpi mereka, Ahmad. Aku ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana mereka menjalani perjalanan hidup menuju sukses."


Ahmad: "Tentu, yang mana yang paling menarik buatmu?"


Sulis: "Ya Allah, semuanya menarik! Tapi yang paling menggugah hatiku adalah kisah seorang penulis. Dia menulis novel-novel yang begitu indah dan dihargai oleh banyak orang. Aku ingin menjadi penulis seperti dia, Ahmad."


Ahmad: "Itu adalah impian yang luar biasa, Sulis. Aku yakin kamu bisa melakukannya."


Sulis tersenyum mendengar kata-kata Ahmad. Dia merasa beruntung memiliki sahabat sepertinya yang selalu mendukungnya dalam setiap langkah hidupnya.


Sulis: "Terima kasih, Ahmad. Kamu adalah sahabat yang luar biasa bagiku. Jika suatu saat nanti aku berhasil mewujudkan impianku menjadi seorang penulis terkenal seperti di buku ini, aku berjanji akan mengenang bantuanmu."


Ahmad: "Tidak perlu berjanji apa-apa, Sulis. Aku sudah cukup bahagia melihatmu berusaha mengejar mimpimu. Aku selalu ada untukmu."


Sulis: "Apakah kamu juga punya impian yang ingin kau wujudkan, Ahmad?"


Ahmad berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sulis. Matanya berkaca-kaca, menunjukkan keinginan yang mendalam dalam dirinya.


Ahmad: "Aku ingin menjadi dokter, Sulis. Aku ingin membantu orang-orang yang sakit dan tidak mampu mendapatkan perawatan yang layak. Aku ingin mengubah dan menyelamatkan nyawa."


Sulis terharu mendengar impian Ahmad. Dia menggenggam tangan Ahmad erat-erat.


Sulis: "Impianmu juga luar biasa, Ahmad. Aku percaya kamu bisa menjadi seorang dokter hebat suatu hari nanti. Kita akan mengejar mimpiku dan mimpimu bersama-sama, ya?"


Ahmad: "Dengan senang hati, Sulis. Kita akan menjadi tim yang tak terkalahkan."

__ADS_1


Mereka berdua tertawa bahagia, berbagi mimpi mereka yang tinggi. Dalam hati mereka, Sulis dan Ahmad bertekad untuk saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam setiap langkah perjalanan hidup mereka menuju masa depan yang cerah.


Akhirnya, mereka menyadari bahwa dengan menjaga semangat dan kerjasama, tak ada mimpi yang terlalu besar untuk diwujudkan.


__ADS_2