LEMBARAN HARAPAN

LEMBARAN HARAPAN
KOTA BARU


__ADS_3

Bab 58 - kota baru


Sulis merasa gelisah saat memikirkan keputusannya untuk menerima tawaran pekerjaan di kota lain. Hatinya seolah terombang-ambing antara kesempatan yang menggiurkan dan keluarga serta teman-temannya di kampung halaman.


Ahmad, sahabatnya sejak kecil, merasa ada yang mengganggu pikiran Sulis. Ia bertanya, "Ada apa Sulis? Kenapa kelihatannya gelisah?"


Sulis menatap temannya dan menjawab, "Aku merasa bimbang dengan tawaran pekerjaan yang ku terima. Rasanya aku harus menerima, tapi juga berat meninggalkan keluarga dan teman-temanku di sini."


Ahmad merenung sejenak, lalu berkata, "Kalau aku jadi kamu, mungkin aku akan menimbang segala hal dengan matang. Jangan tergesa-gesa memutuskan sesuatu yang besar, tapi pikirkan dengan baik-baik dan cermat."


Sulis mengangguk, "Benar juga. Aku akan mencoba merenungkan semuanya kembali dengan lebih hati-hati."


Ahmad tersenyum, "Kamu pasti bisa, Sulis. Kamu selalu cerdas dalam memilih jalan hidupmu sendiri. Aku akan selalu mendukungmu."


Sulis tersenyum, merasa lega karena masih memiliki sahabat seperti Ahmad di sisinya. Mereka pun mulai membicarakan rencana Sulis dengan lebih terbuka dan jujur, sampai mereka menyadari bahwa keputusan besar seperti itu memang membutuhkan waktu untuk dipikirkan dengan matang.


Sulis dan Ahmad terus membicarakan keputusan penting yang harus diambil oleh Sulis. Mereka mengeluarkan satu ide setelah ide lainnya dan mengumpulkan pro dan kontra dari setiap kemungkinan.


Tiba-tiba, Ahmad berkata, "Sulis, ide ini mungkin gila, tapi bagaimana kalau aku ikut? Kita bisa pindah bersama dan buat kerja di sana juga."


Sulis terkejut, "Serius? Bagaimana dengan pekerjaanmu yang sekarang?"


Ahmad tersenyum, "Kematangan dalam berpikir adalah kita harus bisa memilih untuk memprioritaskan sesuatu. Aku lebih memilih bersamamu daripada tetap berada di pekerjaan ini."


Sulis merasa terharu dan terima kasih karena punya sahabat yang begitu baik. "Terima kasih ya, Ahmad. Kamu selalu ada untukku. Aku setuju dengan ide ini."


Setelah memutuskan untuk menerima pekerjaan dan pindah ke kota baru bersama-sama, Sulis dan Ahmad merasa lebih optimis dan bersemangat untuk memulai babak baru dalam hidup mereka.


Mereka berdua memeluk satu sama lain dalam kebahagiaan dan memulai persiapan untuk perjalanan besok. Mereka memutuskan untuk membuat perencanaan yang matang dan memilih untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan penting.

__ADS_1


Sulis dan Ahmad pergi ke tempat tertinggi di desa mereka dan melihat pemandangan yang indah. Mereka berdiri di sana dalam keheningan, merenung dan menikmati keindahan alam.


Sulis berkata, "Terima kasih, Ahmad. Kamu selalu memberikanku harapan dan membantuku mengambil keputusan yang tepat."


Ahmad tersenyum, "Kita sahabat sejati, Sulis. Aku selalu berada di sampingmu."


Sulis memeluk Ahmad, dan mereka berdiri di atas bukit sambil menikmati keindahan alam. Mereka yakin bahwa jalan hidup mereka besok akan jauh lebih baik dengan memiliki satu sama lain sebagai teman dan sahabat.


Keesokan harinya, Sulis dan Ahmad sudah siap untuk berangkat ke kota baru. Setelah melepas tangan keluarga dan teman-temannya, mereka berdua merasa sedih meninggalkan desa mereka yang menjadi rumah mereka selama ini, tapi juga penuh antusiasme dan semangat baru.


Perjalanan mereka berjalan lancar, dan setelah beberapa jam berkendara mobil, mereka akhirnya tiba di kota baru. Sulis merasa terkesima melihat betapa besar dan sibuknya kota itu. Ahmad kemudian membawa Sulis ke apartemen yang telah dia siapkan terlebih dahulu.


"Kamu suka dengan apartemennya?" tanya Ahmad.


Sulis terkesima melihat ruangan apartemen yang modern dan nyaman itu. "Sungguh, sangat cantik! Terima kasih telah membuat ini semuanya menjadi mungkin."


Ahmad tersenyum, "Jangan terlalu khawatir. Kita bisa mengatur sesuatu dan membuat pekerjaan kita sebisa mungkin agar bertahan hidup di sini."


Setelah selesai merapikan, Sulis dan Ahmad mulai berbincang tentang rencana mereka di kota baru ini. Mereka bertukar pikiran tentang bagaimana meningkatkan keterampilan dan mencari pekerjaan.


"Kita harus terus bersemangat dan tidak mudah menyerah menghadapi rintangan," tutur Ahmad.


Sulis setuju, "Benar sekali, kita harus menjadi kuat dan bersabar."


Ahmad berkata, "Kita akan berhasil asalkan kita tidak mudah menyerah."


Sulis tersenyum dan memeluk Ahmad, "Terima kasih, teman. Aku sangat berterima kasih untuk semua yang kau lakukan. Aku tahu bahwa kita akan berhasil bersama."


Ahmad membalas pelukan Sulis dengan merangkul erat-erat. "Tidak ada yang lebih penting dari persahabatan dan kesetiaan kita satu sama lain."

__ADS_1


Sulis Pun merasa lebih bersemangat dan yakin setelah berbincang dengan Ahmad. Mereka berdua saling memberi dukungan dan berjanji untuk membantu satu sama lain agar sukses di kota baru ini.


Mereka berdua kemudian mulai menelusuri kota, mencari informasi tentang pekerjaan dan peluang pendidikan yang tersedia. Sulis terkejut melihat betapa banyak kesempatan yang ada di kota ini.


"Kita bisa mencoba bekerja di perusahaan-perusahaan besar ini, atau bahkan membuka bisnis sendiri," ujar Sulis.


Ahmad mengangguk setuju, "Kita harus memanfaatkan kesempatan-kesempatan ini dan bertekad untuk sukses di kota ini."


Mereka kemudian mulai mendaftar untuk kursus dan pelatihan yang terkait dengan keterampilan yang mereka butuhkan. Sulis dan Ahmad menjadi semakin yakin bahwa mereka akan berhasil di kota baru ini.


Beberapa bulan berlalu, Sulis dan Ahmad sudah bekerja keras dan meraih sukses di kota baru ini. Sulis sudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar dengan gaji yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya, sedangkan Ahmad telah membuka bisnis catering sendiri yang telah sukses.


Ketika mereka mengunjungi desanya untuk berkunjung ke keluarga dan teman-temannya, mereka merasa bangga dan senang karena telah mencapai impian mereka. Mereka merasa bersyukur bahwa mereka memiliki keberanian untuk berubah dan mencari kehidupan baru. Sulis dan Ahmad merasa bahagia dan yakin bahwa masa depan mereka akan menjadi lebih baik.


"Kita tidak boleh pernah menyerah dan harus selalu berani mencoba hal baru," ujar Sulis.


Ahmad setuju, "Kuncinya adalah tidak takut untuk mencari keberanian untuk berubah dan maju ke arah yang positif. Kita harus tetap bersemangat dan positif dalam menghadapi hidup ini."


Sulis dan Ahmad saling tersenyum dan memberi tangan satu sama lain. Mereka merasa bahagia dan bersyukur dalam persahabatan dan kesempatan yang telah mereka dapatkan di hidup ini. Mereka tahu bahwa hidup ini masih berjalan panjang, tapi mereka siap untuk menghadapi apapun datang dan tidak pernah menyerah sebelum mencapai tujuan mereka.


Saat matahari mulai terbenam, Sulis dan Ahmad mulai pulang ke kosan mereka. Mereka saling mengingatkan untuk selalu bersyukur dan jangan lupa menjaga semangat untuk mencapai impian-impian mereka.


"Terima kasih sudah menjadi teman sejati dan supporter ku, Ahmad. Aku tidak akan bisa sampai sejauh ini tanpa kamu," ujar Sulis.


Ahmad tersenyum, "Kita saling mendukung dan saling memberi kekuatan, Sulis. Itulah arti dari persahabatan yang sejati."


Setelah tiba di kosan, mereka meluangkan waktu untuk berdoa dan bersyukur atas segala hal yang telah mereka dapatkan. Setelah itu, mereka memutuskan untuk istirahat agar bisa mengisi tenaga untuk hari esok.


"Besok, kita akan mencari peluang lainnya, Sulis. Ayo, kita bisa." Ahmad mengangkat kepalanya dan bersemangat.

__ADS_1


Sulis mengangguk dan tersenyum, "Ayo kita bisa, Ahmad."


Keduanya lalu tidur dengan rasa percaya diri, karena mereka tahu bahwa mereka akan mencapai impian mereka dan hidup yang lebih baik.


__ADS_2