
Bab 24: Menghadapi Cobaan
Setelah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan mereka di bab sebelumnya, Sulis dan Ahmad kini harus menghadapi cobaan yang lebih besar. Mereka telah memutuskan untuk menjalin hubungan, meskipun sulit bagi mereka untuk berkomunikasi karena bahasa yang berbeda.
Hari-hari berlalu dengan Sulis dan Ahmad semakin dekat, walau sulit dipungkiri bahwa cobaan semakin banyak datang menghampiri mereka. Namun, mereka berdua berusaha untuk tetap melanjutkan hubungan mereka dengan penuh harapan.
Suatu hari, Sulis melihat Ahmad sedang berbicara dengan seorang wanita di taman kampus. Rasa cemburu langsung memenuhi hati Sulis, tetapi dia memilih untuk mempercayai Ahmad dan menenangkan dirinya sendiri. Namun, kejadian serupa terus terjadi. Sulis tidak bisa menahan kecemasan dan akhirnya mengambil alih pertemuan mereka.
"Sulis, apa yang terjadi?" tanya Ahmad bingung.
"Aku melihatmu berbicara dengan wanita lain beberapa kali. Aku tidak bisa menahan rasa cemburu," ucap Sulis dengan suara tersendat.
Ahmad terkejut mendengar pengakuan Sulis. "Sulis, aku mohon percayalah padaku. Wanita itu adalah teman sekelas ku. Kami sedang membahas tugas bersama-sama untuk memahami materi kuliah."
Sulis menepuk pelan dadanya. "Maafkan aku, Ahmad. Aku meragukan mu tanpa alasan yang jelas. Aku harus lebih kuat dan percaya padamu."
Ahmad menggenggam tangan Sulis. "Kita semua berjuang melalui cobaan ini, Sulis. Dan bagiku, kamu adalah sosok yang memberikan lembaran harapan dalam hidupku. Aku berjanji akan terus berusaha memberi yang terbaik bagi hubungan kita."
Sulis tersenyum, merasakan kehangatan dalam kasih sayang Ahmad. Meski sulit, dia percaya bahwa bersama-sama mereka bisa melewati setiap cobaan.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin sulit, karena ada perbedaan budaya dan bahasa yang terus menjadi penghalang. Sulis dan Ahmad belajar dengan penuh semangat untuk bisa berkomunikasi dengan lebih lancar. Setiap kata yang mereka pelajari membawa mereka ke tingkat yang lebih dekat dalam hubungan mereka.
Di tengah perjalanan mereka, Sulis mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan di kota besar. Rindu akan keluarga dan teman-temannya membuatnya sering gelisah. Ahmad merasa sedih melihat Sulis merasa kesepian, tetapi dia tetap bersikeras untuk mendukungnya setiap saat.
"Sulis, aku tahu ini tidaklah mudah, tetapi kamu adalah seseorang yang kuat," kata Ahmad ketika mereka duduk bersama di tepi danau. "Kamu selalu memberiku harapan dan kekuatan. Kita akan melewati masa sulit ini bersama-sama."
Sulis menyentuh pipi Ahmad dengan lembut. "Terima kasih, Ahmad. Aku beruntung memiliki kamu di sisiku. Bersamamu, aku merasa bahwa tidak ada cobaan yang tidak bisa kita taklukkan."
Menghadapi cobaan demi cobaan, Sulis dan Ahmad memperkuat hubungan mereka. Mereka tidak menyerah pada kesulitan, tetapi menganggapnya sebagai tantangan yang harus mereka hadapi bersama. Dengan kepercayaan, kerja keras, dan cinta yang tumbuh di antara mereka, Sulis dan Ahmad siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Sulis duduk di teras rumahnya, menikmati cahaya matahari yang menghangatkan wajahnya. Dia telah kembali ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun meninggalkannya untuk mengejar karier di kota besar. Sulis teringat pada masa-masa indah yang pernah dia lewati di sini, namun di tengah kebahagiaan itu, ada pula luka lama yang sulit dia sembuhkan.
Tiba-tiba, telepon genggam Sulis berdering keras. Dia melihat nama "Ahmad" muncul di layar ponselnya. Sulis merasa berdebar saat menerima panggilan tersebut. Sulis dan Ahmad telah mengalami cinta pertama mereka di kampung halaman ini, tetapi hubungan mereka berakhir dengan pahit setelah sebuah kejadian tragis.
"Sulis, apa kabar?" sapanya dengan suaranya yang tenang.
"Sedang apa, Ahmad? Lama sekali kita tidak berbicara," jawab Sulis dengan ragu.
"Ya, aku tahu. Aku ingin berbicara denganmu tentang itu, Sulis. Bisakah kita bertemu?"
Sulis terdiam sejenak. Dia tidak yakin apakah dia siap untuk menghadapi Ahmad lagi setelah semua yang mereka lalui. Namun, Sulis merasa bahwa ini mungkin adalah saat yang tepat untuk menghadapinya dan akhirnya menyelesaikan luka lama yang masih mengganggu pikirannya.
"Baiklah, Ahmad. Kita bisa bertemu di warung kopi kesayangan kita, besok jam 4 sore. Bagaimana?"
__ADS_1
Ahmad mengiyakan dengan antusias, "Sesuai, Sulis. Sampai jumpa besok!"
Keesokan harinya, Sulis tiba di warung kopi yang berdekatannya dengan hati yang campur aduk. Dia melihat Ahmad sudah duduk di satu meja dekat jendela. Saat mereka saling berpandangan, Sulis merasa ada sesuatu yang berbeda pada Ahmad. Sulis merasa salut dengan kepakan mantap yang terpancar dari wajah Ahmad, seolah-olah dia telah berubah menjadi pria yang lebih matang.
"Ahmad, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Sulis dengan hati-hati.
Ahmad menyandarkan kepalanya di tangannya, "Sulis, aku ingin membicarakan apa yang terjadi di masa lalu. Aku mencintaimu, Sulis, dan aku sangat menyesali apa yang telah terjadi di antara kita."
Sulis merasa sedikit tergugah oleh kata-kata Ahmad. Dia juga merasa lega bahwa Ahmad akhirnya mengakui kesalahannya.
"Aku juga mencintaimu, Ahmad. Namun, kita harus memahami bahwa masa lalu tidak bisa diubah. Bagaimana kita bisa melanjutkan hidup kita?"
Ahmad mengangguk, "Aku tahu bahwa kita tidak bisa mengubah masa lalu, Sulis. Tapi aku ingin memperbaiki hubungan kita dan menawarkan maafku yang sebenarnya."
Sulis mengedipkan matanya, merenung sejenak, dan akhirnya menghela napas. "Ahmad, aku juga ingin memperbaiki apa yang ada di antara kita. Tapi tidak akan mudah bagiku untuk memaafkan mu. Aku butuh waktu."
Ahmad senyum pahit, "Aku mengerti. Aku akan menunggu, Sulis. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."
Mereka saling pandang tanpa kata-kata, namun ada cinta dan keinginan kuat untuk memperbaiki hubungan mereka. Sulis dan Ahmad sadar bahwa ini adalah proses yang harus mereka lewati bersama-sama, untuk melepaskan luka lama dan membangun harapan baru.
Dalam keheningan itu, Sulis dan Ahmad berjanji untuk saling mendukung dan bekerja keras untuk menemukan kebahagiaan bersama lagi. Apa pun hasil akhirnya, mereka berdua tahu bahwa ini adalah kesempatan bagus untuk belajar dan tumbuh, serta menemukan lembaran harapan yang mungkin telah hilang di masa lalu.
Setelah keputusasaan yang dirasakan Sulis, ia memutuskan untuk bercerita kepada Ahmad tentang keadaannya. Sulis menjumpai Ahmad di taman depan rumahnya yang sedang duduk di bangku sambil membaca buku.
Ahmad: Tentu saja, Silakan duduk. Ada yang ingin kamu ceritakan?
Sulis: Ya, sebenarnya aku merasa sedikit frustasi akhir-akhir ini. Aku terus mencoba untuk mengejar impianku, tetapi sepertinya semakin jauh dari mencapainya.
Ahmad: Apa impianmu, Sulis?
Sulis: Aku ingin menjadi seorang penulis terkenal. Aku memulai dengan menulis cerita pendek dan mengirimkannya ke berbagai penerbit, tetapi selalu mendapatkan penolakan. Aku merasa kehilangan semangat.
Ahmad: Sulis, tidak ada kesuksesan yang mudah didapatkan. Setiap orang pasti menghadapi rintangan dan penolakan dalam mencapai impian mereka. Tapi yang penting adalah kegigihan dan ketekunan kita dalam menghadapinya.
Sulis: Tapi aku merasa seperti aku tidak akan pernah mencapai mimpiku. Setiap kali aku mendapatkan penolakan, rasanya semakin sulit untuk terus bergerak maju.
Ahmad: Sulis, jangan biarkan rasa putus asa mengalahkan mu. Ingatlah bahwa proses adalah bagian dari perjalanan menuju kesuksesan. Mungkin kamu harus mencoba pendekatan yang berbeda atau mengasah keterampilan menulis mu lebih lagi.
Sulis: Kamu benar, Ahmad. Aku mungkin harus mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda dan belajar dari pengalaman yang telah aku lewati. Aku tidak boleh menyerah begitu saja.
Ahmad: Itulah semangat yang benar! Ketika kamu merasa terpuruk, ingatlah semua alasan mengapa kamu memulai perjalanan ini. Ingatlah betapa besar keinginanmu untuk menjadi penulis terkenal. Itulah yang akan mendorongmu untuk terus melangkah maju.
Sulis: Terima kasih, Ahmad. Aku benar-benar membutuhkan semangatmu. Aku akan mengingat kata-katamu dan mencoba melihat rintangan ini sebagai peluang untuk berkembang.
__ADS_1
Ahmad: Aku tahu kamu dapat melakukannya, Sulis. Jangan biarkan keputusasaan menghentikan langkahmu. Teruslah menulis dan percayalah pada dirimu sendiri.
Sulis: Aku akan mencoba, Ahmad. Aku akan terus berjuang dan tidak menyerah. Mimpiku tidak akan terjadi begitu saja. Aku yakin akan itu.
Ahmad: Baguslah, Sulis! Aku mendukungmu sepenuhnya. Jika kamu perlu bantuan atau seseorang untuk membaca tulisanmu, aku di sini untukmu.
Sulis: Terima kasih, Ahmad. Aku sangat menghargainya. Aku beruntung memiliki teman seperti kamu.
Mereka berdua duduk di taman, merasa lebih bersemangat dan termotivasi. Sulis tahu bahwa perjalanan menuju kesuksesan tidak akan mudah, tetapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap berjuang dan menggapai impian sebagai seorang penulis terkenal.
Ahmad juga terinspirasi oleh kegigihan Sulis dan berkomitmen untuk mendukungnya dalam perjalanan ini. Mereka berdua saling memotivasi dan berjanji untuk saling mendukung dalam mencapai impian mereka.
Lembaran harapan tidaklah putus begitu saja. Sulis dan Ahmad berkomitmen pada diri mereka sendiri untuk tidak pernah menyerah, terus berusaha mencapai impian mereka, dan menjadikan harapan itu nyata.
Setelah menyaksikan konflik yang terjadi antara Siti dan Rani, Sulis merasa bahwa dia harus berbicara secara pribadi dengan Ahmad. Dia ingin tahu lebih banyak tentang perasaan dan pemikiran Ahmad yang sebenarnya. Mereka bertemu di taman di tempat persembunyian mereka yang biasa.
Ahmad sedang duduk sendirian di bangku. Sulis menghampirinya, berusaha untuk tersenyum meski hatinya penuh kekhawatiran. Mereka saling berhadapan, Sulis lalu berkata dengan lembut, "Ahmad, bisakah kita berbicara tentang apa yang terjadi hari ini? Aku ingin tahu apa yang ada di pikiranmu."
Ahmad menatap Sulis dengan mata yang masih penuh kebingungan. "Apa yang ingin kamu tahu, Sulis?" tanyanya ragu.
"Siti berkata bahwa kalian berdua ingin membantu keluarganya secara finansial, benarkah?" Sulis melanjutkan.
Ahmad mengangguk. "Iya, kami berbicara tentang itu. Tapi aku tidak pernah bermaksud membuatmu cemburu atau marah. Aku hanya ingin membantu mereka."
Sulis menggenggam tangan Ahmad dengan lembut, mencoba memberikan dukungan. "Aku tahu kamu ingin berbuat baik, tetapi kamu juga harus memikirkan masa depan kita. Bagaimana jika membantu mereka malah membuat kita terjebak dalam masalah keuangan? Seperti yang terjadi pada keluarga Siti."
Ahmad menarik napas dalam-dalam. "Aku tahu itu risiko yang harus kita hadapi. Aku juga khawatir tentang masa depan kita," kata Ahmad dengan suara yang serak.
Sulis menatap langsung ke mata Ahmad. "Apakah ini keputusan yang kamu inginkan dengan sungguh-sungguh, Ahmad?"
Ahmad memikirkan pertanyaan Sulis dengan serius. "Sulis, aku mencintaimu dan aku ingin membangun masa depan bersamamu. Tapi melihat keadaan keluarga Siti membuatku merasa terpanggil untuk membantu. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang bisa meringankan beban orang lain."
Sulis tersenyum lembut dan menganggukkan kepala. "Aku sangat menghargai kebaikan hatimu, Ahmad. Tapi kita harus mempertimbangkan hati nurani dengan pikiran yang rasional. Apakah kita dapat mencapai kedua hal tersebut dalam satu kesempatan?"
Ahmad merenung sejenak, memikirkan kata-kata Sulis. "Mungkin kita bisa mencari cara lain untuk membantu Siti dan keluarganya, tanpa harus mengorbankan masa depan kita. Kita bisa mencari sumber keuangan yang lebih stabil atau membantu mereka dengan cara lain, seperti menjalin kerja sama dengan mereka."
Sulis tersenyum, merasa lega mendengar pendapat Ahmad yang bijaksana. "Itu suatu ide yang baik, Ahmad. Kita bisa berbicara dengan Siti dan mencari solusi bersama."
Ahmad merasa lega, menggenggam tangan Sulis erat. "Karena kamu adalah segalanya bagi saya, Sulis. Aku tidak ingin keputusan apapun membuat kita berpisah."
Sulis tersenyum dan mencium pipi Ahmad lembut. "Saya juga mencintaimu, Ahmad. Kita bisa melalui semua ini bersama-sama."
Dalam perjumpaan mereka di taman itu, Sulis dan Ahmad menyadari bahwa keputusan sulit yang mereka harus hadapi dapat menciptakan jalan baru untuk membantu Siti dan keluarganya tanpa mengorbankan masa depan mereka sendiri. Bersama-sama, mereka menggenggam tangan dan berjalan meninggalkan taman dengan harapan dan tekad yang baru, menjalani kehidupan mereka dengan lebih baik.
__ADS_1