
Bab 88: Konflik dan Perdamaian
Sulis dan Ahmad sedang duduk di lapangan rumput sambil mengobrol. Sulis ternyata sedang terlibat dalam sebuah konflik di sekolahnya dengan temannya yang bernama Dina.
Ahmad: Apa masalahnya dengan Dina? Apakah kamu membuat kesalahan?
Sulis: Tidak, Ahmad. Saya hanya mencoba membantu Dina dalam sebuah proyek sekolah, tetapi kami memiliki pandangan yang berbeda tentang cara melakukannya.
Ahmad: Ah, mengerti. Saya paham bahwa perselisihan tersebut membuatmu sedih dan sulit tidur di malam hari.
Sulis: Ya, sulit memikirkan cara untuk menyelesaikan konflik ini dan memulihkan hubungan saya dengan Dina.
Ahmad: Bagaimana kalau kalian berdua mencoba untuk membicarakan masalah ini dengan tenang dan obyektif, dan mencari solusi bersama-sama?
Sulis: Itu tampak seperti solusi yang baik, tetapi saya belum yakin apakah Dina akan bersedia memulai percakapan seperti itu dengan saya.
Ahmad: Saya mengerti, itu bisa sulit. Tetapi, saya yakin bahwa jika kamu menunjukkan kepala dingin dan kesabaran, kamu bisa membantu membawa kedamaian dan perdamaian ke situasi ini.
Sulis: Terima kasih, Ahmad. Saya akan mencoba yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini dan mungkin membawa perdamaian ke situasi ini.
Ahmad: Dalam hidup, tidak semua konflik dapat dihindari. Tetapi, kita bisa belajar bagaimana menyelesaikannya dan mencari perdamaian, sehingga kita bisa tumbuh dan belajar dari pengalaman tersebut.
Sulis dan Ahmad kemudian berjalan bersama menuju kelas mereka dengan harapan bahwa Sulis dapat menyelesaikan konfliknya dengan Dina dan membawa perdamaian ke situasi tersebut.
Setelah beberapa hari, Sulis dan Dina akhirnya bertemu untuk membicarakan masalah yang terjadi di antara mereka. Pertama-tama, Sulis meminta maaf karena sikapnya yang mungkin terlalu keras pada saat mereka bekerja sama dalam proyek sekolah tersebut. Dina juga mengakui bahwa ia juga punya andil dalam konflik tersebut karena terlalu defensif dengan pandangannya pada proyek tersebut.
Sulis dan Dina kemudian membicarakan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah mereka. Mereka akhirnya setuju bahwa mereka harus tetap bekerja sama dan saling menghargai pandangan masing-masing. Dina juga setuju untuk tidak defensif lagi dan terbuka pada ide-ide baru yang bisa membantu berhasilnya proyek mereka.
Sulis sangat senang bahwa ia dan Dina akhirnya bisa berdamai dan menyelesaikan masalah mereka. Setelah pertemuan itu, hubungan mereka menjadi lebih dekat dan Sulis merasa lebih percaya diri dan memiliki lebih banyak teman di sekolah.
Ahmad sangat senang ketika mendengar kabar ini dari Sulis dan bangga atas kemampuan Sulis untuk menangani konflik tersebut dengan kepala dingin dan memperjuangkan perdamaian. Ahmad kemudian berkata pada Sulis, "Saya sangat menghargai kebijaksanaan dan kepala dinginmu, Sulis. Kamu telah menyelesaikan konflik dengan sangat matang, dan saya yakin kamu telah belajar banyak dari pengalaman ini."
__ADS_1
Sulis tersenyum dan merasa terharu ketika mendengar pujian dari Ahmad. Ia merasa lega bahwa ia telah menemukan perdamaian di antara konflik yang terjadi dan belajar bagaimana menyelesaikan konflik dengan cara yang baik dan damai.
"Saya bahkan merasa lebih percaya diri sekarang," kata Sulis pada Ahmad. "Saya tahu bahwa jika ada konflik di masa depan, saya dapat menanganinya dengan cara yang positif."
Ahmad tersenyum. "Itulah yang saya pikirkan tentangmu, Sulis. Kamu selalu mempunyai cara yang baik dan positif dalam menangani masalah."
Sulis merasa bahagia mendapat dukungan dari Ahmad. "Terima kasih, Ahmad. Saya senang bahwa kamu menghargai cara saya menangani konflik ini."
Ahmad mengangguk. "Tentu saja. Terkadang kita harus belajar dari pengalaman yang kurang menyenangkan untuk menjadi lebih baik."
Sulis setuju. "Benar sekali. Saya merasa belajar banyak dari konflik ini, dan saya berharap dapat menghindari konflik di masa depan."
Ahmad mengangguk. "Saya yakin kamu akan mampu melakukannya, Sulis. Saya percaya pada kemampuanmu."
Sulis tersenyum pada Ahmad. "Terima kasih, Ahmad. Kamu selalu menjadi teman yang baik dan mendukungku."
Ahmad tersenyum. "Kita saling mendukung, Sulis. Itulah teman sejati."
Ahmad mengangkat bahunya. "Kita kan sudah lama berteman, Sulis. Kita sudah melewati banyak hal bersama-sama."
Sulis mengingat kembali berbagai kenangan yang mereka lewati bersama-sama. "Ya, kita sudah melewati banyak hal bersama-sama. Dari masa-masa sulit di sekolah hingga saat ini, kita masih tetap bersama."
Ahmad tersenyum. "Kita harus selalu menjaga persahabatan kita, Sulis. Itu yang membuat kita tetap kuat menghadapi segala hal."
Sulis setuju. "Sangat benar, Ahmad. Persahabatan kita sudah seperti keluarga. Kita harus saling mendukung dan menghargai satu sama lain."
Ahmad mengangguk. "Tepat sekali. Kita harus menjadi contoh yang baik bagi orang-orang di sekitar kita, termasuk teman-teman lain di sekolah."
Sulis menimpali. "Dan juga contoh yang baik bagi remaja-remaja di luar sana yang mungkin mengalami konflik seperti yang kita alami."
Ahmad mengulurkan tangannya dan Sulis merangkulnya dengan erat. Mereka saling tersenyum dan merasa lega bahwa mereka telah menyelesaikan konflik mereka dan memperkuat persahabatan mereka. Mereka tahu bahwa setiap konflik dapat menjadi pelajaran untuk tumbuh dan berkembang lebih baik.
__ADS_1
"Setuju banget, Sulis. Konflik itu ada di mana-mana, tapi jika kita mampu menyelesaikannya dengan baik, maka kita pasti akan tumbuh menjadi lebih dewasa dan bijaksana," kata Ahmad.
Sulis mengangguk. "Tapi yang paling penting adalah keberanian untuk meminta maaf dan memaafkan. Kadang-kadang sulit untuk melakukannya, tapi inilah yang membuat kita lebih kuat dan lebih dekat satu sama lain."
Ahmad mengangguk setuju. "Pasti sulit, tapi itu adalah langkah awal untuk menciptakan perdamaian. Kita harus mau membuka hati dan menempatkan diri pada posisi orang lain, sehingga kita dapat memahami perasaan mereka."
Sulis mengambil napas dalam-dalam. "Dan ketika kita sudah memahami perasaan mereka, kita dapat mengambil langkah untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang terbaik bagi semua pihak."
Ahmad menatap Sulis dengan hangat. "Kamu pintar sekali, Sulis. Aku senang bisa membahas hal ini denganmu."
Sulis tersenyum. "Aku juga, Ahmad. Kita harus terus belajar dan berkembang bersama-sama."
Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka, dengan perasaan lega dan senang setelah berhasil menyelesaikan konflik mereka dengan baik. Mereka merasa bahwa persahabatan mereka semakin erat dan mereka siap untuk menghadapi tantangan bersama-sama di masa depan.
Ahmad mengambil tangan Sulis dan tersenyum. "Kita harus selalu bisa menjadi contoh bagi orang lain dalam menyelesaikan konflik dengan damai dan penuh pengertian. Kita harus bisa menginspirasi orang lain agar tidak mudah terpancing emosi dan lebih bijaksana dalam menyelesaikan masalah."
Sulis tersenyum. "Iya, kamu benar. Kita harus menjadi pionir perdamaian di lingkungan kita."
Ahmad mengangguk. "Kita berdua mampu melakukannya. Mari kita mulai dengan kecil-kecilan, misalnya dengan menghargai perbedaan pendapat dan tidak mudah terprovokasi. Kita bisa menunjukkan bahwa konflik bisa diselesaikan secara damai dan saling menghormati."
Sulis mengangguk setuju. "Iya, kita harus mulai dari diri sendiri. Mari kita jadi contoh yang baik bagi orang lain."
Keduanya berjalan bersama-sama, memikirkan cara-cara bagaimana mereka dapat mempraktikkan perdamaian dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sadar bahwa meskipun konflik tidak bisa dihindari, namun perdamaian juga bisa dicapai jika kita bersedia untuk belajar dan bertindak dengan bijaksana.
Dalam perjalanan pulang, Sulis dan Ahmad merasakan damai dan lega setelah berhasil menyelesaikan konflik yang sempat terjadi di antara mereka. Mereka menyadari bahwa dunia ini memang tidak bisa sepenuhnya bebas dari konflik, namun setiap orang dapat berpartisipasi untuk menciptakan perdamaian.
Saat tiba di depan rumah Sulis, Ahmad mengucapkan selamat malam dan berjanji akan melanjutkan pembicaraan mereka di lain waktu untuk membahas lebih jauh tentang cara-cara mencapai perdamaian di dalam hidup. Sulis tersenyum dan membalas ucapan selamat malam itu.
Saat Sulis masuk ke dalam rumahnya, dia merasakan kehangatan dari keluarganya yang sudah menantinya. Sulis menceritakan tentang percakapan dan pembahasan tentang perdamaian yang dia lakukan dengan Ahmad di perjalanan pulang. Keluarganya senang mendengar hal-hal semacam itu dan mendukung tindakan Sulis untuk menjadi agen perdamaian di lingkungannya.
Sebelum tidur, Sulis berdoa untuk bisa selalu menjadi pionir akan perdamaian dan kesatuan, tidak saja bagi keluarga dan lingkungannnya, tetapi juga bagi dunia.
__ADS_1