LEMBARAN HARAPAN

LEMBARAN HARAPAN
SULIS MENCARI SESUATU


__ADS_3

Bab 36: Sulis mencari sesuatu


Keesokan harinya, Sulis pergi ke toko buku favoritnya di pusat kota. Ia berharap bisa menemukan novel terbaru yang sedang ia tunggu-tunggu. Begitu masuk ke dalam toko buku, Sulis langsung menuju ke bagian fiksi dan melihat rak-rak buku yang baru diterbitkan.


Saat sedang memeriksa judul-judul buku yang ada, tiba-tiba Sulis merasakan ada yang menepuk bahunya. Ia segera berbalik dan terkejut melihat Ahmad, teman lamanya dari masa SMA.


"Sulis! Apa kabar?" sapa Ahmad dengan senyuman lebar.


Sulis merasa senang melihat Ahmad. Mereka sudah tidak bertemu sejak lulus SMA, dan Sulis rindu akan percakapan yang mereka lakukan dulu. Sulis melontarkan senyuman balik dan membalas sapaan Ahmad.


"Ahmad! Lama sekali tidak jumpa. Kabarku baik, bagaimana denganmu?" jawab Sulis dengan antusias.


Ahmad mengangguk dan duduk di dekat Sulis. Mereka berbincang-bincang tentang kehidupan masing-masing selama bertahun-tahun berpisah.


"Nyaris tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, ya? Sudah hampir sepuluh tahun sejak kita lulus SMA," ujar Sulis sambil tersenyum nostalgis.


Ahmad mengangguk setuju. "Benar sekali. Tapi, aku senang bisa melihatmu lagi, Sulis. Bagaimana pekerjaanmu sekarang? Apakah kamu masih menekuni hobi menulismu?"


Sulis tersenyum dan menjawab, "Alhamdulillah, aku masih menyukai menulis. Bahkan, aku telah menerbitkan beberapa novel dan cerpen. Entah bagaimana, menulis selalu memberi saya rasa damai dan sukacita."


Ahmad terlihat bersemangat mendengar kabar baik ini. "Itu hebat, Sulis! Aku selalu tahu bahwa kamu memiliki bakat besar dalam menulis. Apakah kamu punya cerita atau rencana baru?"


Sulis tertawa kecil. "Sebenarnya, aku sedang dalam proses menulis novel baru yang berjudul 'Lembaran Harapan'. Ini adalah kisah tentang perjalanan hidup seorang wanita yang menghadapi banyak tantangan dan cobaan. Dia mencari harapan dalam setiap situasi, dan ia percaya bahwa dengan tekad dan keyakinan, ia bisa meraih impian-impian hidupnya."


Ahmad terlihat berminat. "Wah, itu terdengar menarik. Bolehkah aku membaca draft novelmu? Aku senang membantu jika kamu membutuhkan saran atau masukan."


Sulis merasa terharu dan tersenyum. "Tentu saja, Ahmad. Aku akan senang sekali jika kamu bersedia membacanya dan memberikan pendapatmu. Kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti dan membahasnya lebih lanjut."


Ahmad mengangguk dan memberikan nomor teleponnya. "Baiklah, tetap semangat menulis, Sulis. Aku yakin novelmu akan menjadi karya luar biasa."


Mereka bercakap-cakap lebih lama lagi, mengingat kenangan masa lalu dan berbagi berbagai pengalaman hidup. Sulis merasa beruntung bisa bertemu Ahmad lagi pada hari itu. Pertemuan tak terduga ini memberinya semangat baru untuk melanjutkan novelnya dan menghadapi tantangan hidup dengan penuh harapan.

__ADS_1


Akhirnya, Sulis dan Ahmad berpisah dengan saling berpelukan. Mereka menyepakati untuk bertemu lagi dalam waktu dekat, kali ini untuk membahas novel Sulis yang sedang ditulis. Sulis melangkah keluar dari toko buku dengan hati yang bahagia dan penuh inspirasi. Semangatnya untuk menyelesaikan "Lembaran Harapan" semakin terpatri dalam pikirannya.


Sulis: Ahmad, aku masih belum bisa memahami bagaimana kita bisa sampai pada titik ini. Kita berdua telah melalui begitu banyak hal dalam hidup ini.


Ahmad: Iya, Sulis. Benar sekali. Tak terbayangkan bagaimana kita bisa bertahan melewati semua rintangan yang datang menghampiri.


Sulis: Aku masih teringat saat pertama kali kita saling bertemu di panti asuhan. Kita berdua sama-sama bernasib malang, kehilangan orang tua sejak kecil.


Ahmad: Ya, Sulis. Waktu itu kita hanya memiliki satu sama lain. Kita berteman dan berjuang bersama untuk mencari harapan dalam hidup yang penuh keterbatasan.


Sulis: Dan siapa sangka, kita berhasil lolos dari kehidupan yang terasa seperti jurang kegelapan. Kita bekerja keras, belajar dengan semangat, dan akhirnya bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.


Ahmad: Itu semua karena kita saling mendukung dan tak pernah berhenti bermimpi, Sulis. Kamu selalu menginspirasi saya untuk terus maju.


Sulis: Ah, jangan berlebihan, Ahmad. Kita saling melengkapi satu sama lain, kamu juga memberiku kekuatan untuk melanjutkan perjalanan ini.


Ahmad: Tapi sekarang, Sulis, kita sudah mencapai tahap dimana kita bisa memberikan harapan kepada anak-anak yatim di panti asuhan itu. Kita mendirikan yayasan dan bekerja keras untuk menyediakan pendidikan dan bantuan bagi mereka.


Ahmad: Sulis, apakah kamu pernah berpikir bahwa hidup kita akan menjadi seperti ini?


Sulis: Sejujurnya, tidak. Kita hanya berusaha menjalani hidup ini dengan baik dan berusaha memberikan manfaat bagi orang lain. Tapi ternyata, hidup memberikan kita lebih dari yang kita bayangkan.


Ahmad: Ya, Sulis. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Yang penting, kita selalu mengambil pelajaran dari setiap rintangan yang kita hadapi. Kita tidak boleh menyerah.


Sulis: Dan kita juga harus tetap bersyukur atas segala rahmat yang Tuhan limpahkan kepada kita. Kehidupan ini memang keras, tetapi kita bisa menjadi seseorang yang berarti dengan memberi harapan pada orang lain.


Ahmad: Betul, Sulis. Terima kasih, teman, atas semua yang kita lewati bersama. Aku sangat beruntung memiliki kamu sebagai sahabat sejati.


Sulis: Sama-sama, Ahmad. Kita akan selalu menjadi tim yang tak terpisahkan, memberikan harapan kepada orang-orang yang membutuhkannya.


Ahmad: Ayo, Sulis, mari kita kembali ke yayasan dan melanjutkan misi kita untuk membahagiakan mereka. Ada banyak lembaran harapan yang perlu kita tulis.

__ADS_1


Sulis: Baik, Ahmad. Maju terus, kita bisa mengubah dunia ini dengan kesetiaan dan keikhlasan kita.


Sulis terdiam sejenak ketika melihat Ahmad duduk sendirian di bawah pohon mangga di halaman sekolah. Ahmad tampak tertunduk, sepertinya ada yang mengganggu pikirannya. Sulis, yang selalu perhatian terhadap temannya, memutuskan untuk mendekatinya.


Sulis: (mendekati Ahmad) Hai Ahmad, apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu terlihat sedih.


Ahmad: (menoleh dan tersenyum tipis) Ah, hai Sulis. Tidak apa-apa, hanya ada beberapa masalah yang sedang mengganggu pikiranku.


Sulis: (duduk di samping Ahmad) Jangan pendam sendiri, Ahmad. Kami adalah teman, kamu bisa menceritakan apa yang sedang terjadi.


Ahmad: (menghela nafas) Baiklah, mungkin aku memang perlu berbagi. Kamu tahu, keluargaku sedang menghadapi masalah keuangan yang cukup serius. Ayahku kehilangan pekerjaannya, dan ibuku harus bertahan dengan pekerjaan sampingan yang tidak terlalu menghasilkan.


Sulis: (memperhatikan Ahmad dengan simpati) Itu pasti sangat sulit bagi keluargamu, Ahmad. Aku bisa membayangkan betapa beratnya situasi yang kamu hadapi.


Ahmad: Ya, sulit memang. Aku merasa sangat terbebani dengan harapan yang diberikan oleh keluargaku. Mereka berharap aku bisa melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi, tapi dengan kondisi seperti ini, rasanya tidak mungkin.


Sulis: Meskipun situasinya sulit, janganlah menyerah begitu saja, Ahmad. Aku percaya kamu memiliki potensi yang luar biasa, dan menghadapi tantangan ini akan membuatmu tumbuh menjadi sosok yang lebih kuat.


Ahmad: Terima kasih, Sulis. Katamu membuatku merasa lebih baik. Aku hanya tidak ingin kecewa keluargaku. Aku ingin membantu mereka keluar dari masalah ini.


Sulis: Tidak ada yang salah dengan bermimpi besar, Ahmad. Justru inilah saatnya kamu menghadapi tantangan dan membuktikan kepada keluargamu bahwa kamu bisa sukses. Ada banyak beasiswa dan program bantuan finansial yang bisa kamu cari, jangan takut untuk mencari informasinya.


Ahmad: (tersenyum) Ya, kamu benar. Aku harus berjuang untuk mencapai cita-citaku dan membantu keluargaku. Aku tidak boleh menyerah begitu saja.


Sulis: Aku tahu kamu bisa melakukannya, Ahmad. Jadi, mari kita bersama-sama mencari solusi dan dukung satu sama lain dalam perjalanan menuju impian kita.


Ahmad: Terima kasih, Sulis. Aku sungguh beruntung memiliki teman sepertimu.


Sulis: Sama-sama, Ahmad. Kita adalah tim yang tak terpisahkan. Kita akan melewati tantangan ini bersama.


Dengan semangat baru, Sulis dan Ahmad berjalan keluar dari halaman sekolah, siap untuk menghadapi masa depan dengan segala harapan dan usaha baru. Keduanya tahu bahwa dengan dukungan dan tekad yang kuat, mereka bisa melewati masa-masa sulit ini dan meraih impian mereka.

__ADS_1


__ADS_2