
Bab 65: Lembaran Harapan
Hari itu, matahari terbenam dengan indah, menciptakan langit senja yang merah muda dan ungu. Sulis dan Ahmad duduk di tepi danau, menikmati keindahan alam.
"Ahmad, kamu pernah berpikir tentang masa depan kita?" tanya Sulis, suaranya lembut dan penuh harapan.
Ahmad menoleh ke arahnya, matanya berbinar-binar. "Tentu, Sulis. Saya sering memikirkannya. Bagaimana menurutmu jika kita membangun masa depan bersama?"
Senyum Sulis semakin lebar, "Itu terdengar sangat menarik, Ahmad. Saya bisa melihat kita berdua, hidup bahagia, mungkin di rumah kecil di pinggir kota, dikelilingi oleh anak-anak dan cucu-cucu kita."
Ahmad tertawa, "Wow, kamu sudah merencanakan semuanya ya? Tapi, aku suka ide itu. Aku juga ingin hidup bahagia bersamamu."
Mereka berdua tertawa, merasakan kehangatan cinta dan harapan untuk masa depan. Mereka tahu bahwa banyak tantangan dan rintangan yang akan mereka hadapi, tetapi mereka juga yakin bahwa selama mereka bersama, mereka bisa melewati apa pun.
"Ahmad, saya percaya kita bisa melalui semua ini. Selama kita bersama, saya yakin kita bisa menghadapi apa pun," kata Sulis, menggenggam tangan Ahmad erat-erat.
Ahmad mengangguk, "Saya setuju, Sulis. Selama kita bersama, kita bisa melalui apa pun. Mari kita terus berjalan di jalan ini, menjalani hidup ini, dan menciptakan lembaran harapan kita sendiri."
__ADS_1
Mereka berdua berdiri, tangan mereka masih saling menggenggam, dan melangkah maju menuju masa depan yang cerah dan penuh harapan. Mereka tahu bahwa lembaran harapan mereka baru saja dimulai
Saat fajar menyingsing, Sulis dan Ahmad bangun dari tidur mereka di tepi danau. Matahari pagi yang hangat menerangi wajah mereka yang penuh harapan. Mereka berdua berdiri, masih saling menggenggam tangan, dan memandangi matahari terbit yang indah.
"Sulis, apa kamu siap untuk memulai petualangan baru ini?" tanya Ahmad, matanya bersinar dengan antusiasme.
Sulis tersenyum dan mengangguk, "Saya lebih dari siap, Ahmad. Saya tidak sabar untuk melihat apa yang akan kita lakukan bersama."
Mereka berdua memulai perjalanan mereka, berjalan melalui jalan setapak yang berkelok-kelok dan penuh dengan kehidupan. Di sepanjang jalan, mereka berbagi tawa, cerita, dan mimpi mereka untuk masa depan.
"Kamu tahu, Sulis," kata Ahmad, "Aku berpikir kita bisa memulai dengan membeli rumah kecil seperti yang kamu impikan. Kita bisa memperbaikinya bersama-sama, membuatnya menjadi rumah impian kita."
Mereka berdua berjanji untuk memulai langkah pertama mereka dalam menciptakan lembaran harapan mereka sendiri. Mereka tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi mereka juga yakin bahwa selama mereka bersama, mereka bisa menghadapi apa pun yang datang.
"Ahmad, mari kita lakukan ini. Mari kita buat lembaran harapan kita menjadi kenyataan," kata Sulis, matanya berbinar penuh kegembiraan.
Ahmad mengangguk, "Ya, Sulis. Mari kita lakukan ini. Bersama."
__ADS_1
Dan dengan itu, mereka berdua melangkah maju, memulai petualangan baru mereka, dan menulis lembaran harapan mereka sendiri.
Beberapa bulan telah berlalu sejak Sulis dan Ahmad memulai petualangan baru mereka. Mereka telah menemukan rumah kecil yang sempurna di pinggir kota, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan bunga-bunga yang indah. Rumah itu memang memerlukan perbaikan, tetapi mereka yakin bahwa dengan kerja keras dan cinta, mereka bisa mengubahnya menjadi rumah impian mereka.
Setiap hari, setelah bekerja, Sulis dan Ahmad pulang ke rumah mereka yang sedang diperbaiki. Mereka bekerja keras, memperbaiki atap yang bocor, mengecat dinding yang usang, dan merawat taman yang terlantar. Meskipun pekerjaan itu melelahkan, mereka menikmati setiap momen yang mereka habiskan bersama.
"Ahmad, lihatlah bagaimana kita telah mengubah rumah ini," kata Sulis suatu hari, saat mereka beristirahat di teras belakang, menikmati secangkir teh.
Ahmad tersenyum, "Ya, Sulis, kita telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Aku tidak bisa lebih bangga akan apa yang telah kita capai bersama."
Saat hari-hari berlalu, rumah itu mulai berubah menjadi rumah yang hangat dan indah. Dinding-dinding yang dulu usang kini bersinar dengan warna-warna cerah, dan taman yang dulu terlantar kini penuh dengan bunga-bunga yang mekar.
Suatu malam, setelah selesai makan malam, Sulis dan Ahmad duduk di teras depan, menatap langit yang penuh bintang.
"Sulis, apakah kamu bahagia?" tanya Ahmad dengan lembut.
Sulis menggenggam tangan Ahmad dan tersenyum, "Saya lebih dari bahagia, Ahmad. Saya tidak pernah membayangkan bahwa kita bisa menciptakan kehidupan yang indah seperti ini bersama."
__ADS_1
Ahmad mengangguk, "Saya juga, Sulis. Saya merasa begitu beruntung bisa memiliki kamu di hidup saya, dan saya tidak sabar untuk melihat apa yang akan kita capai selanjutnya."
Mereka berdua tertawa, merasakan kebahagiaan dan cinta yang telah mereka bangun bersama.