LEMBARAN HARAPAN

LEMBARAN HARAPAN
KEJUTAN YANG MENGGETARKAN


__ADS_3

Bab 83: Kejutan yang Menggetarkan


Sulis dan Ahmad duduk di teras rumah Sulis saat malam hari. Udara menjadi semakin sejuk seiring dengan malam yang semakin larut. Sulis merasa ada sesuatu yang ingin Ahmad sampaikan.


"Tadi siang, kamu bilang mau kasih kejutan buat aku nanti malam. Ada apa?" tanya Sulis.


Ahmad menjawab, "Iya, jadi begini. Aku udah lama kepikiran buat kasih kamu kejutan pas hari ulang tahun kamu. Dan aku udah siapin semuanya nih."


Sulis langsung senang mendengar pembicaraan Ahmad. "Wah, serius? Ada apa tuh kejutannya?"


"Kamu mau tau sekarang atau besok pas hari ulang tahun kamu?" tanya Ahmad.


"Ah, nggak sabar nih. Sini cepetan bilang," pinta Sulis.


"Oke deh. Jadi, kejutannya adalah aku udah siapin tiket pesawat buat kita berdua dan kita bakal pergi ke Bali besok pagi," ungkap Ahmad sambil tersenyum.


Sulis langsung tercengang dan tak bisa berkata-kata. Inilah kejutan yang paling tak terduga yang pernah ia terima. "Benarkah ini? Aku bisa ikut kamu ke Bali besok?"


"Iya, ini beneran. Sengaja aku nggak bilang dari awal biar kamu makin senang," ujarnya.


Sulis merasa sangat bahagia dan tak percaya kalau Ahmad bisa memberikan kejutan sebesar ini. Mereka langsung merencanakan segala sesuatunya dan bersemangat menanti kepergian mereka ke Bali esok hari.


"Hari ini merupakan hari yang paling berkesan buat aku. Terima kasih, Ahmad," ucap Sulis sambil tersenyum bahagia.


Ahmad menjawab, "Senang rasanya bisa membuat kamu bahagia. Kita harus bersiap-siap, besok pagi kita akan berangkat ke Bali."


Sulis merasa sangat terharu dengan perhatian yang diberikan oleh Ahmad. Hati Sulis dipenuhi dengan rasa syukur dan kebahagiaan, dan ia merasa bahwa kejutan ini pasti akan selalu ia ingat sepanjang hidupnya.


Mereka berdua melanjutkan obrolan mereka sambil menikmati secangkir teh hangat yang Sulis sajikan. Sulis bertanya, "Kamu udah merencanakan apa saja sih yang mau kita lakukan di Bali nanti?"


Ahmad menjawab, "Iya, aku udah siapin itinerary juga. Pertama, kita bakal menginap di hotel yang nyaman di Seminyak. Selain itu, aku udah booking tiket masuk ke beberapa tempat wisata seperti Tanah Lot dan Ubud Monkey Forest. Plus, kita juga bakal coba beberapa makanan enak khas Bali."


Sulis semakin merasa senang dan berterima kasih dengan rencana Ahmad yang sudah sangat matang. Mereka berdua pun lanjut mengobrol tentang rencana-rencana mereka untuk hari-hari selanjutnya di Bali.


Sambil menatap bintang-bintang di langit malam, Sulis berkata, "Aku nggak sabar nih, besok pagi kita berangkat ke Bali. Sekali lagi, terima kasih Ahmad, untuk kejutannya yang menggetarkan ini."


Ahmad menjawab, "Sama-sama, Sulis. Senang rasanya bisa membuat kamu bahagia. Ini buat kado ulang tahunmu juga, jadi jangan bilang sama siapapun ya."


Sulis tersenyum dan mengangguk. Dia merasa perjalanan ke Bali ini menjadi hadiah terindah yang ia terima di hari ulang tahunnya. Dalam hatinya, Sulis merasa sangat bersyukur memiliki Ahmad sebagai sahabat yang selalu peduli dan memperhatikannya.


Mereka sambil meneguk teh hangatnya, berbicara lebih banyak tentang rencana-rencana mereka ke Bali sambil menikmati suasana malam yang tenang di halaman rumah Sulis. Mereka berdua merasa penuh harapan dan bermimpi untuk petualangan baru yang mereka alami di Bali.

__ADS_1


Malam itu, Sulis dan Ahmad bertukar pengalaman dan cerita tentang petualangan mereka yang sudah pernah mereka alami. Sulis bercerita tentang perjalanan mudiknya bersama keluarganya ke Yogyakarta dan Ahmad bercerita tentang perjalanannya ke Jawa Barat untuk mengunjungi beberapa keraton di sana.


Sementara itu, wajah Sulis terlihat semakin ceria ketika Ahmad membuka sebuah kotak kecil dan memberikan sebuah gelang emas kepadanya. "Ini untukmu, Sulis. Sebagai kado ulang tahun dan sebagai tanda persahabatan kita yang selalu langgeng," kata Ahmad sambil tersenyum.


Sulis terkejut dan tak terkatakan dengan kebaikan hati Ahmad. "Terima kasih, Ahmad! Gelangnya sangat indah dan kepingan emasnya membuatnya begitu bernilai untukku," ujar Sulis dengan suara yang gemetar karena bahagia.


"Iya, aku tahu kamu suka dengan perhiasan emas. Jadi aku berpikir, gelang ini akan membuatmu senang," timpal Ahmad.


Sulis merasa hatinya begitu penuh rasa syukur dan bahagia. Ahmad selalu menjadi teman yang setia dan perhatian terhadapnya. Dalam benaknya, Sulis terus berdoa untuk persahabatan mereka yang selalu awet dan diberkati Tuhan.


Malam itu berlalu dengan penuh canda tawa dan cerita, dimana mereka berdua merencanakan petualangan mereka ke Bali. Sulis merasa lebih dekat dengan Ahmad dari sebelumnya dan dia tahu persahabatan mereka akan terus tumbuh dan berkembang di masa depan.


Keesokan harinya, Sulis masih merasa begitu terkesan dengan gelang emas yang diberikan Ahmad kemarin malam. Dia merasa gelang itu menjadi lambang persahabatan mereka yang kuat dan bernilai.


Di rumah, Sulis merenung sendiri sambil memandangi gelang emasnya. Tak disangka, tiba-tiba dia mendengar suara dari telepon genggamnya yang memanggil namanya.


"Sulis, apa kabar?" tanya suara familiar dari sisi telepon.


"Ahmad! Kabar baik. Kamu?" ujar Sulis dengan suara yang ceria.


"Baik-baik saja. Sulis, aku ada kabar baik untukmu. Kamu ingat rencana kita untuk pergi ke Bali?" tanya Ahmad.


"Iya, kenapa?" ujar Sulis merasa kebingungan.


Sulis merasa begitu terkejut dan tidak percaya. "Benarkah? Ini sungguh suatu kejutan yang menggetarkan hatiku, Ahmad. Terima kasih banyak!" ujar Sulis.


"Maukah kamu ikut bersamaku untuk mempersiapkan semuanya?" ajak Ahmad dengan ramah.


"Tentu saja aku mau, Ahmad. Ini akan menjadi petualangan terbaik dalam hidupku," ujar Sulis dengan antusias.


Mereka berdua merencanakan segala sesuatu dengan teliti dan saksama. Sulis merasa begitu bahagia dan bersyukur karena punya sahabat seperti Ahmad. Baginya, persahabatan yang tulus seperti ini sangatlah berharga dan akan terus dijaga dengan baik selamanya.


Setelah melakukan persiapan yang matang, Sulis dan Ahmad berangkat ke Bali pada keesokan harinya. Mereka berdua menikmati segala keindahan pulau Bali dengan penuh semangat dan kegembiraan.


"Kamu tahu, Ahmad. Aku merasa begitu terkesan dengan keindahan alam di sini. Pulau ini begitu indah dan mempesona," ujar Sulis.


"Iya, Sulis. Bali memang terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau. Tapi aku lebih terkesan dengan budaya dan ritual yang ada di sini. Aku rasa, mereka sangat kaya dengan nilai-nilai budaya dan agama mereka," kata Ahmad dengan pandangan mengagumkan pada lingkungan sekitarnya.


Mereka berdua mendatangi tempat-tempat wisata yang terkenal di Bali, seperti Pantai Kuta dan Ubud. Mereka juga berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan budaya seperti tari tradisional Bali dan upacara keagamaan dengan penuh sukacita.


Setelah tiga hari yang melelahkan dan penuh pengalaman, mereka berdua kembali ke Jakarta dengan senyum lebar di wajah mereka. Mereka merasa begitu bersyukur karena telah melakukan perjalanan yang begitu menyenangkan bersama-sama.

__ADS_1


Ketika kembali di Jakarta, Sulis mengundang Ahmad ke rumahnya untuk makan malam bersama. Ketika mereka sedang makan malam, Sulis teringat kembali dengan gelang emas yang diberikan Ahmad kepadanya.


"Ahmad, aku masih terkesan dengan gelang emas yang kamu berikan kepadaku. Aku rasa, gelang ini sangatlah berharga untukku," ujar Sulis dengan tulus.


"Kamu tahu, Sulis. Gelang itu hanyalah simbol dari persahabatan kita yang kuat dan abadi. Aku begitu bersyukur karena kita punya persahabatan yang bahagia dan tulus seperti ini," kata Ahmad dengan senyuman lebar.


Sulis merasa begitu bahagia dan terharu dengan ucapan Ahmad. Dia merasa sangat bersyukur karena masih punya sahabat seperti Ahmad yang selalu memberikan kebahagiaan dalam hidupnya.


Akhirnya, malam itu pun berakhir dengan suasana yang hangat dan penuh keceriaan. Sulis dan Ahmad pun tidur dengan hati yang gembira karena telah membuat kenangan indah bersama di perjalanan ke Bali.


Namun, kejutan yang tak terduga terjadi pada keesokan harinya. Sulis menerima telepon dari Ahmad yang mengabarkan bahwa dia harus meninggalkan Jakarta dalam waktu dekat karena telah mendapat tawaran pekerjaan di luar negeri.


"Sulis, aku tahu ini tiba-tiba, tapi aku telah mendapat tawaran pekerjaan yang luar biasa di Singapura. Aku harus segera meninggalkan Jakarta dalam waktu dekat," ujar Ahmad dengan suara sedih.


Sulis merasa begitu terkejut dan sedih mendengar kabar tersebut. Dia merasa kehilangan seorang sahabat yang begitu dekat dan tidak tahu bagaimana harus menghadapi masa depan tanpa kehadiran Ahmad.


"Aku mengerti, Ahmad. Aku merasa sangat sedih mendengar kabar ini. Tapi aku yakin kamu akan sukses di sana, dan aku akan selalu mendoakanmu," jawab Sulis dengan suara terdengar tersendat.


They both paused momentarily, then Ahmad spoke up. "Sulis, aku punya kejutan untukmu. Aku telah merencanakan sesuatu sebelum aku harus pergi dari sini," ujarnya.


Sulis merasa penasaran dan heran apa yang direncanakan Ahmad. Dia tetap merasa sedih dengan perpisahan yang akan terjadi, namun juga menjadi penasaran dengan kejutan yang akan diberikan Ahmad padanya.


"What is it, Ahmad? Apa kejutannya?" tanya Sulis dengan perasaan campur aduk.


"Tunggu saja, nanti kamu akan tahu. Aku akan memberitahumu lebih lanjut besok," kata Ahmad dengan senyum mengembang di bibirnya.


Sulis merasa penasaran dan tidak sabar menunggu untuk mengetahui apa yang akan diberikan Ahmad. Dia merasa sedikit lebih baik, merasa bahwa ada kejutan yang menunggunya.


Hari berikutnya, Ahmad datang ke rumah Sulis dengan membawa sebuah koper dan selembar tiket pesawat. Sulis merasa begitu penasaran dan tersenyum lebar melihat hadiah dari Ahmad itu.


"Sesuatu yang aku janjikan padamu, Sulis. Please come and join me in Singapore. Let's explore the city together," ujar Ahmad dengan senyuman di wajahnya.


Sulis merasa begitu terharu dengan tindakan Ahmad tersebut. Dia merasa beruntung karena masih punya sahabat sebaik Ahmad yang selalu memberikan kejutan dan kebahagiaan dalam hidupnya.


Akhirnya, mereka berdua berangkat ke Singapura sebagai sahabat yang selalu saling mendukung satu sama lain. Mereka menjelajahi kota tersebut dan menghabiskan waktu bersama-sama seperti sahabat sejati yang tidak terpisahkan. Dan Sulis merasa bahwa Ahmad akan selalu menjadi bagian dari hidupnya, walau terpisahkan jarak dan waktu.


Akhirnya, Sulis menyadari bahwa meskipun kejutan yang diberikan Ahmad mengagetkan dan kadang-kadang membuatnya sedih, tetapi itu semua merupakan bagian dari persahabatan mereka yang kuat.


Mereka berdua saling mendukung untuk mencapai impian masing-masing, dan tidak tergoyahkan oleh jarak dan waktu yang memisahkan mereka.


Lembaran harapan yang ditulis Sulis kini terbuka lebar. Dan dia tahu bahwa apa pun yang terjadi, dia akan tetap kuat dan terus berjuang untuk mencapai impian-impian yang ingin dia raih.

__ADS_1


Akhir cerita memberikan pesan penting tentang kesetiaan, persahabatan, dan harapan. Pesan ini membuat pembaca merenungkan keadaan hidup mereka sendiri dan menghargai hubungan yang mereka miliki.


__ADS_2