
Bab 102 - Pergulatan Batin
Sulis duduk sendirian di teras rumahnya, memandangi bulan yang bersinar dengan indah di langit malam. Ia merenung dan memikirkan banyak hal yang terjadi dalam hidupnya. Sulis merasa kebingungan dan kesepian, meskipun ia memiliki keluarga dan teman-teman yang baik. Ia mengalami pergulatan batin yang hebat.
Tiba-tiba, Ahmad, sahabat Sulis, datang menghampirinya. "Halo Sulis, sedang apa kamu di sini?" tanyanya.
Sulis menoleh dan tersenyum kepadanya. "Halo Ahmad, aku sedang merenung tentang hidupku."
"Apakah ada yang salah?" tanya Ahmad khawatir.
Sulis menggelengkan kepalanya. "Tidak... cuma sedikit kesepian dan kebingungan."
"Kamu tidak perlu merasa sendirian. Aku akan selalu ada untukmu," ucap Ahmad sambil duduk di samping Sulis.
Sulis tersenyum. "Terima kasih, Ahmad. Kamu selalu menjadi sahabat yang baik untukku."
Ahmad meletakkan tangannya di atas bahu Sulis dan berkata, "Ada apa sebenarnya, Sulis? Bercerita padaku. Mungkin aku bisa membantumu."
Sulis lalu menceritakan pergulatan hatinya kepada Ahmad. Ia merasa terbebani karena ia harus menghadapi banyak pilihan dalam hidupnya, dan ia merasa tidak yakin tentang apa yang harus dilakukan untuk masa depannya.
Ahmad mengangguk mengerti dan berkata, "Sulit memang ketika kita harus membuat keputusan penting. Tapi kamu harus percaya pada dirimu sendiri. Kamu punya potensi yang besar, Sulis. Dan aku yakin kamu akan menemukan jalanmu."
Sulis tersenyum dan berterima kasih kepada Ahmad. Ia merasa lega telah berbicara dengan sahabatnya dan mendapat dukungan serta motivasi dari Ahmad.
"Terima kasih Ahmad. Terkadang, sebagai manusia, kita tidak bisa sendiri menghadapi pergulatan batin yang kita alami. Terkadang kita butuh sahabat meski hanya sekedar untuk mendengarkan," ucap Sulis.
Ahmad tersenyum dan berkata, "Sudahlah, Sulis. Itu lah yang sahabat lakukan. Kita saling mendukung, membantu, dan menguatkan satu sama lain."
Mereka berdua kemudian diam untuk sejenak, menikmati keheningan malam dan kehangatan dari hubungan persahabatan mereka. Sulis merasa lebih baik setelah berbicara dengan Ahmad, dan ia siap untuk menghadapi pergulatan batin selanjutnya.
Ahmad melihat Sulis yang masih terlihat mengganjal di tempat duduknya. "Sudahlah, Sulis. Jangan terlalu dipikirkan. Ingatlah, hidup kita bisa saja berubah sewaktu-waktu. Yang terpenting kamu harus yakin dengan pilihanmu dan terus berusaha untuk mencapai tujuan hidupmu. Aku selalu mendukungmu."
Sulis tersenyum. Ia merasa lega telah berbicara dengan Ahmad dan mendapat dukungan serta motivasi darinya. "Terima kasih atas perkataanmu, Ahmad. Kamu sangat berarti bagi saya."
"Apapun yang terjadi, kita harus tetap bisa bangkit dan melangkah maju, Sulis," kata Ahmad.
__ADS_1
Sulis bergumam, "ya, kita harus selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dan menyediakan waktu untuk mengenal dan mencari jati diri."
Ahmad mengangguk, "Sudah malam, Sulis. Ayo kita masuk ke dalam. Besok pagi aku ajak kamu sarapan di warung dekat sini."
"Baiklah Ahmad, terima kasih," ucap Sulis sambil bangkit dari tempat duduknya.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah Sulis dan bercakap-cakap membuang kepenatan hari itu. Ahmad mengajak Sulis bergaul dan mengikuti beberapa acara kegiatan yang diadakan di kota. Sulis merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Ahmad. Dia merasa terbantu ketika dia sedang merasa kesusahan. Ahmad menyenangkan dan bisa membuat Sulis tertawa terbahak-bahak. Sulis merasa lega setelah menghabiskan waktu bersama sahabatnya.
Keesokan harinya, mereka berdua bersarapan di warung dekat rumah Sulis. Sulis merasa lebih baik setelah berbicara dengan Ahmad semalam dan dia bersyukur memiliki sahabat yang selalu ada di sampingnya. Ia merasa lebih percaya diri dalam menghadapi pergulatan batin yang dia alami.
"Terima kasih telah bersamaku, Ahmad," ucap Sulis.
"Kita selalu saling mendukung, Sulis. Kita adalah sahabat," kata Ahmad. "Kita akan terus bersama melalui kebahagiaan atau perlukaan."
Sulis tersenyum kecil. Dalam kejadian yang singkat, ia merasa Mujur memiliki sahabat sebaik Ahmad di sisi nya.
Mereka melanjutkan sarapan dan berbicara tentang masa depan mereka. Sulis merasa lebih yakin dan optimis tentang masa depannya setelah berbicara dengan Ahmad. Hubungan persahabatan mereka terus kuat dan kokoh. Mereka tahu, tak satupun pergulatan batin yang akan membuat mereka terpisah dan merubah cara pandang mereka tentang kehidupan.
Setelah sarapan, mereka berjalan-jalan di sekitar kota, mencari tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sulis merasa lebih tenang dan santai saat berada di samping Ahmad.
"Tadi malam kamu bilang kamu sedang mengalami pergulatan batin, Sulis. Bolehkah kamu ceritakan padaku?" tanya Ahmad.
Ahmad memandang Sulis dengan penuh empati, "Pertama-tama, kamu harus mencari tau apa yang kamu sukai. Jangan terlalu fokus pada uang atau popularitas. Cari tahu apa yang benar-benar membuatmu senang dan tertarik. Kemudian, coba untuk mengejar impianmu dan jangan takut untuk mencoba hal-hal baru. Jika kamu gagal, itu adalah bagian dari proses dan kamu dapat belajar dari kesalahanmu."
Sulis merenung sejenak dan tersenyum, "Terima kasih atas nasihatmu, Ahmad. Aku akan mencoba untuk menemukan jati diriku dan mengejar impianku tanpa takut gagal."
Ahmad tersenyum, "Aku akan selalu mendukungmu, Sulis. Kita harus saling mendukung dan menguatkan satu sama lain."
Saat matahari mulai terbenam, mereka berdua kembali ke rumah Sulis. Sulis merasa lebih ringan dan tenang setelah berbicara dengan Ahmad, dan berjanji untuk terus mengejar impiannya tanpa merasa cemas.
Malam itu, Sulis tidur dengan tenang dan merasa lebih yakin tentang masa depannya. Ia tahu bahwa ia memiliki sahabat yang selalu ada untuknya, dan itu sangat membantunya dalam menghadapi pergulatan batin yang ia alami.
Keesokan harinya, Sulis dan Ahmad bertemu lagi di kafe untuk minum kopi dan berbincang-bincang. Sulis merasa ingin berbagi tentang mimpi-mimpinya dan citra masa depan yang ada dalam pikirannya.
"Kamu tahu, Ahmad, aku selalu bermimpi untuk memiliki perusahaan desain interior sendiri. Aku ingin membangun suatu tempat yang dapat membantu orang untuk merancang rumah mereka dan membuatnya terlihat lebih baik. Tapi aku takut akhirnya itu hanya menjadi mimpi belaka," kata Sulis dengan sedikit ragu.
__ADS_1
Ahmad meletakkan tangannya di atas tangan Sulis dengan lembut, "Usaha apa pun pasti memiliki risiko dan kesulitan. Namun, jika kamu sungguh-sungguh ingin mencapainya, kamu pasti bisa melakukannya. Dan kamu tahu apa, Sulis? Aku yakin bakatmu dan aku yakin kamu memiliki kemampuan untuk mewujudkan mimpi-mimpi seperti itu."
Sulis tersenyum dan merasa bersemangat mendengar kata-kata Ahmad. Ia merasa lebih percaya diri dan semangat untuk mengejar impian yang selama ini dipendam dalam hatinya.
"Sekarang, kamu harus mulai merencanakan bagaimana caranya mencapai tujuanmu. Kami bisa mencarikan bantuan untuk mengembangkan bisnis kamu dan memberikan saran sebanyak yang kamu butuhkan," kata Ahmad dengan penuh semangat.
Sulis merasa berterima kasih atas dukungan dan bantuan yang Ahmad berikan. Ia merasa lebih bersemangat dan siap untuk menghadapi tantangan yang akan datang.
Perjalanan Sulis untuk mencapai impian yang selama ini dipendam dalam hatinya mungkin akan sulit. Namun dengan dukungan dan semangat dari sahabatnya, ia tahu bahwa dia bisa berhasil.
Ahmad merasa senang melihat Sulis begitu bersemangat dan percaya diri. Ia tahu bahwa mendukung orang lain dalam meraih impian mereka adalah salah satu hal terbaik yang bisa dilakukan di dunia ini.
"Kamu tahu Sulis, semua orang pasti pernah mengalami masa sulit dan kebingungan dalam hidupnya. Tapi yang penting, kita harus terus mencari kekuatan dalam diri kita dan mencoba untuk bangkit dari keadaan sulit itu," kata Ahmad memotivasi.
Sulis merenung sejenak. Ia teringat akan masa-masa sulit yang pernah dihadapinya, termasuk saat kehilangan pekerjaannya beberapa waktu yang lalu. Namun, kali ini, ia yakin bahwa ia bisa melewati segala rintangan dan menggapai cita-citanya yang selama ini dipendam.
"Terima kasih atas dukunganmu, Ahmad. Aku tahu sekarang bahwa aku harus memulai untuk menyusun rencana untuk membangun bisnis desain interior tersebut."
"Baguslah. Kamu bisa memulai dengan mencari informasi lebih lanjut tentang bisnis tersebut dan juga mempelajari kebutuhan pelanggan potensial. Jangan lupa juga untuk belajar tentang teknologi dan sistem manajemen bisnis yang dibutuhkan," sarannya.
Sulis menulis seluruh saran Ahmad di buku catatannya. Ia merasa terbantu dan bersyukur memiliki sahabat seperti Ahmad yang selalu siap mendukungnya dan memberikan saran yang baik.
"Terima kasih banyak, Ahmad. Aku yakin aku bisa melakukannya," ucap Sulis dengan keyakinan dalam hatinya.
"Itu dia, kamu punya potensi besar dan aku tahu kamu mampu melakukan segalanya. Ayo, kita buat mimpi kita menjadi kenyataan!" kata Ahmad sambil mengangkat gelasnya untuk bersulang.
Mereka berdua tersenyum dan saling berpelukan. Ada harapan dan semangat baru yang terus membara dalam hati mereka. Sulis tahu bahwa perjuangan belum selesai, tapi ia yakin bahwa dengan tekad dan semangat yang dimilikinya, ia bisa mewujudkan impian tersebut dan menjadi sukses dalam bisnisnya.
Mereka berdua melanjutkan obrolan mereka sembari menikmati secangkir kopi yang telah dipesan sebelumnya. Ahmad bertanya tentang rencana Sulis selanjutnya, sementara Sulis dengan penuh semangat bercerita tentang ide-ide kreatifnya untuk bisnis desain interior yang akan segera ia bangun.
Sejenak, Sulis dan Ahmad saling melemparkan pandangan yang penuh makna. Sulis merasa beruntung memiliki teman seperjuangan seperti Ahmad yang selalu hadir di sampingnya di saat-saat terberat. Ahmad pun merasa bangga melihat perjuangan Sulis selama ini dan senang bisa memberikan dukungan dan motivasi untuk mewujudkan mimpi Sulis.
"Tapi kamu juga tahu kan, Sulis. Tidak semua orang akan selalu mendukungmu dan memberikan dorongan semangat. Tapi yang penting, kamu harus tetap memiliki rasa percaya diri dan tekad yang kuat untuk mencapai tujuanmu," kata Ahmad memberikan peringatan.
"Iya, aku tahu. Tapi aku juga tahu bahwa aku harus selalu berusaha dan tidak mudah menyerah. Ini kan impianku, aku harus pantang menyerah untuk mewujudkannya," kata Sulis dengan mantap.
__ADS_1
Ahmad tersenyum dan merasa bangga dengan jawaban Sulis. Ia yakin Sulis akan menjadi pelaku bisnis yang sukses dan memiliki pengaruh besar di industri desain interior. Keduanya saling menguatkan dan memantapkan tekad mereka untuk selalu berjuang dan meraih impian yang telah mereka sinari dengan kerja keras dan upaya sungguh-sungguh.
Akhir Bab 102 tersebut membuat pembaca merasa tersentuh oleh keberanian Sulis yang berjuang mati-matian untuk mencapai impian dan mencari jati dirinya pada bidang desain interior. Di sisi lain, hubungan persahabatan Sulis dan Ahmad yang saling mendukung dan memperkuat satu sama lain juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi pembaca.