
Bab 57:pesan hati Sulis untuk ahmad
Sulis akhirnya diizinkan oleh dokter untuk menjenguk Ahmad di rumah sakit. Dia sangat khawatir dengan keadaan Ahmad setelah mendengar kabar bahwa keadaannya semakin memburuk.
Saat tiba di kamar Ahmad, Sulis melihat kondisi Ahmad yang sangat lemah. Dia menangis dan berlutut di samping tempat tidur Ahmad.
"Ahmad, aku sangat khawatir denganmu. Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Sulis dengan suara gemetar.
Ahmad mencoba tersenyum dan mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja, Sulis. Terima kasih karena sudah datang menjengukku," jawab Ahmad dengan suara lemah.
Sulis mengambil tangan Ahmad dan mencoba menenangkannya. "Jangan khawatir, Ahmad. Aku akan selalu ada di sampingmu. Kita akan melalui semua ini bersama-sama," ucap Sulis sambil menggenggam tangan Ahmad erat-erat.
Ahmad tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Sulis. Kamu selalu menjadi sumber kekuatan dan harapan bagiku," ucap Ahmad dengan suara lemah.
Mereka berdua menghabiskan waktu bersama-sama di samping tempat tidur Ahmad, mengobrol dan mengenang masa-masa indah yang pernah mereka lewati bersama-sama.
"Kita harus tetap berpikir positif, Ahmad. Kami harus tetap berharap dan berjuang bersama-sama," ucap Sulis dengan tegas.
Ahmad mengangguk dan menatap Sulis dengan penuh harap. "Kamu benar, Sulis. Kita harus tetap berjuang dan memiliki harapan," ucap Ahmad dengan suara lemah.
Sulis mengambil selembar kertas dan menuliskan beberapa kata untuk Ahmad. "Ini adalah pesan dari hatiku untukmu, Ahmad. Jangan pernah kehilangan harapan dan semangatmu. Kita akan melalui semua ini bersama-sama. Aku selalu mencintaimu," ucap Sulis sambil memberikan kertas tersebut pada Ahmad.
Ahmad membaca kertas tersebut dan tersenyum. Dia merasa penuh harapan dan semangat untuk terus berjuang dan melawan penyakitnya.
Sulis dan Ahmad tetap berdampingan di sepanjang malam, saling membantu dan memberikan dukungan satu sama lain. Mereka yakin bahwa dengan saling membuka hati dan berbagi harapan, mereka dapat memperkuat keyakinan dan semangat untuk melawan penyakit dan menggapai lembaran harapan di masa depan.
Sulis dan Ahmad akhirnya harus berkata selamat malam satu sama lain karena sudah larut malam. Sebelum Sulis meninggalkan kamar, dia menggenggam tangan Ahmad dengan erat dan berkata, "Kamu harus istirahat dengan baik, Ahmad. Aku akan datang menjenguk mu lagi besok pagi."
Ahmad tersenyum lemah dan mengangguk. "Terima kasih, Sulis. Aku sangat merindukanmu."
__ADS_1
Sulis membalas senyum tersebut dan meninggalkan kamar. Dia merasa lega karena sudah bisa bertemu dengan Ahmad dan memberikan dukungan padanya di saat yang sulit ini.
Ketika Sulis pulang ke rumah, dia terus memikirkan Ahmad dan merenungkan tentang arti harapan yang selalu ditekankannya pada Ahmad. Dia tahu bahwa dalam menghadapi tantangan hidup, harapan adalah salah satu kunci penting untuk berhasil. Tapi bagaimana jika harapan tersebut tidak terwujud? Apa yang akan terjadi pada Ahmad jika kondisinya semakin buruk?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuat Sulis merasa cemas dan khawatir. Namun, dia memutuskan untuk tetap kuat dan berusaha bersama-sama dengan Ahmad. Dia yakin bahwa dengan saling mendukung dan berbagi harapan, mereka akan mampu memperjuangkan masa depan yang lebih baik.
Pagi harinya, Sulis kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Ahmad. Dia merasa lega dan bahagia saat melihat Ahmad tersenyum padanya. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama lagi, Bercanda, bercerita, dan saling memberikan dukungan.
Pada akhirnya, Ahmad harus kembali ke tempat tidurnya, tapi Sulis tidak bisa membawa dirinya untuk meninggalkannya. "Aku akan menunggumu, Ahmad. Aku akan berada di sini setiap kali kamu butuhkan," ucap Sulis sambil memegang tangan Ahmad.
Ahmad tersenyum dan mengangguk. "Aku tahu, Sulis. Kamu selalu ada di sampingku. Terima kasih untuk semuanya."
Sulis meninggalkan kamar dengan perasaan lega dan bahagia. Dia tahu bahwa meskipun keadaan sulit, mereka selalu memiliki harapan yang kuat untuk masa depan. Bersama-sama, mereka akan melawan tantangan hidup dan meraih lembaran harapan indah di masa depan.
Sulis membalas senyum Ahmad dengan senyuman yang penuh arti dan menggenggam erat tangan Ahmad. "Kita bisa melakukannya, Ahmad. Kita bisa menaklukkan hal yang sulit ini."
Ahmad mengangguk setuju. "Kamu selalu memberiku semangat dan harapan, Sulis. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa kamu di sisiku."
Ahmad mengangguk, tetapi wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang dalam. "Tapi bagaimana aku bisa memastikan bahwa hidupku tidak akan berakhir di sini, Sulis? Aku merasa sangat lemah dan tidak berdaya."
Sulis melepaskan tangan Ahmad dan duduk di samping tempat tidurnya. "Sudahlah, Ahmad. Kamu harus berhenti memikirkan hal-hal negatif. Kita harus fokus pada harapan dan kekuatanmu. Kamu harus berjuang dan tidak pernah menyerah, tidak peduli seberapa sulitnya perjuanganmu."
Ahmad mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. "Kamu benar, Sulis. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku harus tetap berjuang untuk hidup."
Sulis tersenyum puas dan mengelus pundak Ahmad. "Itulah semangat yang aku sukai dengar, Ahmad. Kita akan melawan masalah ini bersama-sama, dan kita pasti akan keluar sebagai pemenang."
Ahmad menatap Sulis dengan senyuman kecil di wajahnya dan berkata, "Terima kasih, Sulis. Aku benar-benar beruntung memiliki kamu sebagai teman."
Sulis merasa hatinya hangat mendengar ucapan Ahmad. "Aku juga beruntung memiliki kamu sebagai teman, Ahmad. Dan aku akan selalu di sini untuk kamu, apapun yang terjadi."
__ADS_1
Dengan senyum di wajahnya, Ahmad membalas kata-kata Sulis dengan anggukan dan perasaan yang dalam di hatinya. Dia tahu bahwa tanpa bantuan dan dukungan Sulis, mungkin ia tidak bisa pergi melalui masa-masa sulit dalam hidupnya. Dan untuk itulah, ia sangat bersyukur karena punya teman seperjuangan seperti Sulis di sisinya.
Sulis menyadari bahwa Ahmad masih merasa khawatir dan gelisah, sehingga ia mencoba mengalihkan perhatian Ahmad dengan cerita lucu. "Kamu ingat, Ahmad, ketika kita pertama kali bertemu di kampus dan kamu menyebut ku jutek? Aku tidak bisa membayangkan kamu selamat dari julukanku itu."
Ahmad tertawa dan mengingat kembali kenangan masa lalu mereka. "Ya, Sulis. Aku ingat betul momen itu. Kamu terlihat begitu jutek dan cemberut, tapi ternyata kamu seorang teman yang baik dan loyal."
Sulis tersenyum bangga. "Terima kasih, Ahmad. Aku sangat bersyukur bisa membangun persahabatan yang kuat denganmu."
Ahmad mengangguk setuju, lalu tiba-tiba ia menyadari bahwa ia belum memberi tahu Sulis tentang kabar terbaru mengenai pengobatan yang sedang ia jalani. "Sulis, sebenarnya ada kabar baik nih tentang pengobatanku. Dokter bilang, kemungkinan besar aku akan sembuh sepenuhnya."
Sulis terkejut dan merasa sangat gembira mendengar kabar tersebut. Ia segera mengamini, "Wow, itu memang kabar baik! Aku sangat senang mendengar itu, Ahmad. Kamu pasti akan sembuh dan kembali menjadi dirimu yang sehat dan bersemangat seperti dulu."
Ahmad tersenyum lebar. "Ya, jangan khawatir, Sulis. Aku akan terus berjuang dan tetap semangat untuk sembuh."
Sulis mengangkat tangan Ahmad dan membisikkan, "Kita akan lulus bersama-sama seperti yang kita janjikan dulu, ya Ahmad?"
Ahmad tersenyum tulus dan menyentuh tangan Sulis kembali. "Pasti, Sulis. Kita akan melakukan apapun untuk mencapai impian kita."
Keduanya kemudian duduk berdampingan, tertawa dan mengobrol dengan riang tanpa memikirkan masa depan yang belum pasti. Sulis dan Ahmad tahu bahwa mereka harus tetap berjalan dan bersama-sama merintis jalan tanpa takut menghadapi tantangan. Karena bagi mereka, persaudaraan dan harapan adalah kunci untuk mengatasi hal yang sulit dalam hidup ini.
Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Sulis. Sulis membuka pesan tersebut dan dengan segera menceritakan pada Ahmad tentang proposal penelitian yang diterimanya. Sulis sangat senang karena proposal penelitiannya diterima.
Ahmad sangat bangga dengan pencapaian Sulis dan dengan tulus ia mengucapkan, "Selamat ya, Sulis! Aku tahu kamu pasti bisa. Metode kerja dan kegigihanmu akhirnya membuahkan hasil."
Sulis tersenyum kecut dan berkata, "Terima kasih, Ahmad. Aku juga tidak bisa melakukan semuanya tanpamu."
Ahmad mengangguk dan menjawab, "Kita selalu saling membantu, Sulis. Kita akan saling mendukung dan membantu satu sama lain untuk mencapai impian kita."
Mereka berdua saling melemparkan senyum kecil satu sama lain dan merasa sangat bahagia. Sulis merasa di atas dunia karena proposal penelitiannya diterima dan Ahmad merasa sangat gembira karena berita baik tentang kesehatannya.
__ADS_1
Akhirnya, mereka berdua berdiri dan siap untuk kembali ke rumah masing-masing. Sulis memegang tangan Ahmad dan berkata, "Ayo kita pulang, Ahmad. Besok kita harus berjuang lagi untuk mewujudkan impian kita."
Ahmad mengangguk dan menjawab dengan mendalam, "Tentu saja, Sulis. Kita akan terus berjuang bersama-sama dan terus berharap sampai kita berhasil."