
Bab 96: Keputusan yang Berat
Sulis merenungkan segala yang terjadi dalam hidupnya. Dia harus melakukan keputusan yang berat, yang akan memengaruhi hidupnya dan juga orang yang dicintainya.
Ahmad datang menghampiri Sulis sambil membawa segelas teh hangat untuk Sulis.
Sulis: Terima kasih, Ahmad.
Ahmad: Apa yang terjadi, Sulis? Kamu terlihat tersesat.
Sulis: Aku harus membuat keputusan yang sangat sulit, Ahmad.
Ahmad: Tentang apa, Sulis?
Sulis: Tentang pekerjaanku. Aku harus memutuskan apakah aku akan menerima tawaran pekerjaan dari perusahaan besar tersebut atau tetap bekerja di perusahaan kecil ini yang sudah dibangun selama beberapa tahun terakhir.
Ahmad: Itu memang keputusan yang sulit, Sulis. Bagaimana jika kamu berbicara bersama keluargamu atau teman-temanmu untuk mendapatkan saran mereka?
Sulis: Itu memang ide yang bagus, Ahmad. Tapi aku masih merasa ragu saat harus mengambil keputusan ini.
Ahmad: Perlu diingat, Sulis, bahwa setiap keputusan yang kita ambil pasti memiliki konsekuensinya. Tapi yang penting adalah kita membuat keputusan yang terbaik sejalan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip kita.
Sulis: Ya, kamu benar, Ahmad. Aku akan mempertimbangkan saranmu dan berbicara dengan keluarga dan teman-temanku. Terima kasih sudah mendengarkan aku.
Ahmad: Tidak perlu dipikirkan, Sulis. Aku siap mendukungmu dalam apapun keputusan yang kamu ambil.
Sulis tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Ahmad. Meskipun keputusan itu masih terasa sulit, dia merasa lebih lega setelah mendapatkan dukungan dari seseorang yang ia percayai.
Sulis kemudian mengambil keputusan setelah berbincang dengan keluarga dan teman-temannya. Dia memutuskan untuk tetap bekerja di perusahaan kecilnya dan terus membangunnya.
Sulis: Terima kasih sudah mendukungku, Ahmad. Aku sudah memutuskan untuk tidak menerima tawaran pekerjaan dari perusahaan besar itu.
Ahmad: Aku senang kamu sudah menemukan keputusan yang tepat untukmu, Sulis. Apakah kamu merasa lega sekarang?
Sulis: Ya, aku merasa lega sekarang. Aku yakin bahwa keputusan ini sejalan dengan nilai dan prinsip-prinsip ku.
Ahmad: Itu yang penting, Sulis. Ketika kita membuat keputusan yang sejalan dengan nilai dan prinsip-prinsip kita, kita tidak akan menyesalinya.
Sulis: Kamu benar sekali, Ahmad. Terima kasih atas dukunganmu.
__ADS_1
Ahmad: Tidak perlu dipikirkan, Sulis. Aku selalu siap untuk mendukungmu.
Sulis merasa bahagia karena telah menemukan keputusan yang tepat. Dia merasa terbantu dengan kehadiran Ahmad yang selalu mendukungnya. Meskipun keputusan itu berat, Sulis yakin bahwa dia telah membuat keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang dicintainya.
Sulis: Ahmad, apakah kamu pernah merasakan kebingungan dalam membuat keputusan yang serupa?
Ahmad: Tentu saja, Sulis. Setiap orang pasti pernah merasakan kebingungan dalam membuat keputusan yang sulit. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mempertimbangkan nilai dan prinsip-prinsip yang kita miliki.
Sulis: Tapi terkadang, saya merasa sulit untuk memutuskan antara ide atau tawaran pekerjaan yang bagus dengan nilai-nilai yang saya anut.
Ahmad: Memang sulit, Sulis. Namun, jika kita mempertimbangkan nilai-nilai itu, maka kita bisa membatasi pilihan yang tersedia dan fokus pada yang benar-benar penting bagi kita.
Sulis: Ya, itu benar. Saya masih belajar untuk dapat mengkombinasikan antara prinsip dan kenyataan.
Ahmad: Itu wajar, Sulis. Proses belajar ini memang tidak instan, tapi perlahan-lahan, kita akan menemukan cara untuk memadukan prinsip-prinsip kita dengan keadaan yang dihadapi.
Sulis: Terima kasih, Ahmad. Kamu selalu memberikan pemikiran yang baik dan membantuku untuk memahami diri sendiri.
Ahmad: Tidak perlu terima kasih, Sulis. Itu adalah tugasku sebagai sahabatmu.
Sulis merasa senang karena bisa berdiskusi dan berbagi pikiran dengan Ahmad. Dia merasa diberi pencerahan tentang bagaimana memperkuat nilai yang dimilikinya dalam membuat keputusan yang tepat.
Beberapa hari kemudian, Sulis mendapat tawaran pekerjaan yang sangat menjanjikan dari perusahaan besar di kota. Gaji yang ditawarkan sangat tinggi dan Sulis tahu bahwa pekerjaan itu akan memberinya banyak pengalaman dan peluang untuk berkembang.
Namun, Sulis juga tahu bahwa perusahaan itu tidak memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan yang dia miliki dan mungkin akan melanggar etika dalam bisnis. Sulis pun mempertimbangkan hal tersebut dan melakukan tinjauan lebih lanjut tentang perusahaan tersebut.
Setelah mempertimbangkan semua hal, Sulis memutuskan untuk menolak tawaran pekerjaan tersebut karena tidak sesuai dengan nilai dan prinsip-prinsipnya. Walaupun sulit, Sulis merasa lega dengan keputusan yang diambil dan tahu bahwa masa depannya akan dibangun dengan prinsip-prinsip yang konsisten dengan nilai-nilainya.
Ahmad yang mendengar keputusan Sulis merasa bangga dan menyampaikan kalimat-kalimat pujian untuk Sulis. Sulis merasa bersyukur karena punya teman yang selalu mendukung dan memberikannya pandangan luas sehingga bisa memperkuat dirinya dalam sebuah nilai.
Ahmad berkata, "Sulis, aku sangat kagum dengan keberanianmu untuk menolak tawaran pekerjaan yang sangat menggiurkan tersebut. Saya tahu ini bukan keputusan yang mudah untuk diambil."
Sulis menjawab, "Terima kasih, Ahmad. Aku merasa lega dengan keputusan yang aku ambil. Aku tahu bahwa nilai-nilai keberlanjutan dan etika bisnis sangat penting bagi diriku. Meskipun tawaran pekerjaan itu sangat menjanjikan, aku tidak mau mengorbankan prinsip-prinsip yang aku yakini hanya demi uang."
Ahmad tersenyum senang mendengar jawaban Sulis. "Aku sangat setuju denganmu, Sulis. Karena setiap pengalaman dalam hidup kita pasti memberikan pelajaran untuk meningkatkan diri. Terkadang, kita harus mengambil keputusan yang sulit untuk mempertahankan nilai-nilai dan prinsip yang kita pegang."
Sulis mengangguk setuju. "Iya, Ahmad. Aku belajar bahwa ketika kita memilih untuk mempertahankan nilai dan prinsip yang kita yakini, kita akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih dalam hidup. Apapun keputusan yang kita ambil, kita harus memastikan bahwa kita merasa baik dengan diri kita sendiri dan tidak melanggar prinsip-prinsip yang dianut."
Ahmad mengatakan, "Begitu benar, Sulis. Saya sangat senang melihatmu tumbuh menjadi orang yang lebih dewasa dan mampu mengambil keputusan dengan baik untuk masa depanmu."
__ADS_1
Sulis tersenyum bahagia mendengar kata-kata Ahmad. Dia menyadari bahwa keputusan yang diambilnya memang sulit, tetapi akhirnya membawa kebahagiaan dan kepuasan bagi dirinya.
"Makasih, Ahmad. Aku berterima kasih juga pada kamu, karena sudah membantuku mempertimbangkan berbagai faktor sebelum memutuskan tawaran pekerjaan tersebut."
Ahmad mengangguk, "Tidak apa-apa. Saya terus terang sangat khawatir denganmu saat pertama kali kamu menerima tawaran itu. Tetapi begitu kamu menjelaskan alasanmu, saya merasakan kebanggaan dan rasa hormat yang sangat besar padamu."
Sulis tersenyum, "Terima kasih. Aku harus jujur, sangat sulit untuk menolak tawaran yang sangat menggiurkan itu. Tapi, ketika aku memikirkannya lebih dalam, aku mengerti bahwa uang tidak semuanya."
Ahmad, "Iya, seperti kata pepatah 'uang tidak bisa membeli kebahagiaan.' Sesuatu yang sulit didapatkan justru membuat kita menghargainya lebih besar lagi."
Sulis tersenyum, "Iya, aku merasa lebih kuat setelah mengambil keputusan ini. Sudahkah kamu mengambil keputusan sulit terakhir kali, Ahmad?"
Ahmad tersenyum, "Iya, beberapa bulan lalu aku harus memutuskan apakah akan menikahi pacarku saat itu. Ini adalah keputusan yang sangat sulit karena terkait dengan komitmen jangka panjang dan masa depan."
Sulis tersenyum penasaran, "Jadi, apa yang kamu putuskan?"
Ahmad tersenyum bahagia, "Aku memutuskan untuk menikahi pacarku karena aku merasa dia adalah orang yang tepat untukku. Dan setelah menikah, aku merasa terus-menerus bersyukur atas keputusan itu."
Sulis tersenyum mengerti, "Ya, aku mengerti. Keputusan sulit dapat membawa kita ke tempat yang lebih baik jika diambil dengan bijak dan sesuai dengan prinsip-prinsip kita."
Ahmad setuju, "Betul sekali, Sulis. Jangan lupakan nilai dan prinsip-prinsip kita saat harus mengambil keputusan sulit. Kita tentunya ingin menjadi orang yang jujur dan beretika baik, bahkan dalam situasi yang sulit sekalipun."
Sulis tersenyum setuju, "Iya. Sekarang, aku merasa semakin yakin dengan keputusan yang aku ambil. Aku yakin bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip saya tidak akan pernah berubah."
Ahmad tersenyum, "Itu dia, Sulis. Itu cara yang baik untuk melangkah maju dalam hidup."
Sulis tersenyum, "Terima kasih banyak, Ahmad. Kamu selalu memberikan pandangan yang bijak dan membantu aku mempertimbangkan hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya."
Ahmad mengangguk, "Sama-sama, Sulis. Kita saling membantu dan mendukung dalam mengambil keputusan yang berat."
Sulis menyadari betapa beruntungnya dia memiliki teman seperti Ahmad, "Aku sungguh merasa beruntung memiliki teman seperti kamu, Ahmad. Kamu selalu ada di saat aku membutuhkan bantuan dan dukungan."
Ahmad tersenyum, "Sama-sama, Sulis. Aku juga merasa beruntung memiliki teman seperti kamu. Kita saling melengkapi dan mendukung dalam hidup."
Sulis menutup buku catatannya dan tersenyum, "Baiklah, aku harus pulang sekarang. Terima kasih lagi, Ahmad."
Ahmad bangkit dari kursi, "Sama-sama, Sulis. Sampai jumpa lagi."
Sulis berjalan keluar dari cafe dengan perasaan lega dan yakin bahwa dia telah mengambil keputusan yang tepat. Dia merasa dihargai dan dipercayai sebagai seorang profesional dan sebagai seorang individu yang memiliki prinsip hidup yang kuat. Dia tahu bahwa hidupnya akan terus diisi dengan keputusan-keputusan sulit, tapi dia sudah siap menghadapinya dengan lebih percaya diri dan bijaksana.
__ADS_1