
Bab 37: Kesempatan Kedua
Sulis duduk di sudut kamar, matanya terpaku padahal lelaki yang ada di hadapannya sudah selesai berbicara. Ahmad, sahabatnya sejak kecil, baru saja memberikan saran yang sangat berarti baginya. Lembaran-lembaran harapan terkumpul di meja dan Sulis merasa cemas dengan pilihan-pilihan hidup yang harus dia ambil.
Sulis: (menghela nafas) Ahmad, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Semua ini begitu sulit bagiku.
Ahmad: (mengangkat sebelah alis) Nah, Sulis, ceritakan padaku apa yang sedang terjadi. Mungkin aku bisa memberikan sudut pandang lain yang bisa membantumu.
Sulis: (menggigit bibirnya) Aku dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama penting bagiku. Aku bisa melanjutkan karierku di kantor ini, yang aku tahu akan memberiku kenyamanan finansial, atau aku bisa mengambil risiko dan mengejar mimpiku untuk jadi seorang penulis.
Ahmad: (mengernyitkan dahi) Menjadi penulis adalah hal yang kau idam-idamkan sejak dulu, Sulis. Dan aku tahu kau punya bakat besar di bidang itu. Mengapa kau tak langsung beralih ke dunia menulis saja?
Sulis: (menatap Ahmad dengan serius) Aku takut, Ahmad. Aku takut aku akan gagal. Aku takut melihat orang-orang menganggap ku cuma bermain-main di dunia yang penuh dengan keajaiban seperti menulis. Aku takut aku tak mampu mencapai apa yang aku impikan.
Ahmad: (menggelengkan kepalanya) Sulis, tak ada yang bisa kita capai tanpa mengambil risiko. Keajaiban, seperti yang kau sebut, bukan datang dengan sendirinya. Kau harus berani berusaha, berjuang, dan mempertaruhkan sesuatu. Aku yakin, jika kau benar-benar menginginkannya, kau pasti bisa menaklukkan ketakutanmu sendiri, Sulis.
Sulis: (merenung sejenak) Apa yang kau bilang itu benar, Ahmad. Aku tak boleh mengecewakan diriku sendiri dan menyerah begitu saja. Aku perlu memberanikan diri dan mencoba. Kesempatan kedua ini begitu berharga, Ahmad.
Ahmad: (senyum penuh dukungan) Benar, Sulis. Kau hanya akan menyesali kemungkinan yang tak kau ambil. Aku tau kau bisa melakukannya. Percayalah pada dirimu sendiri dan jangan pernah berhenti bermimpi.
Dalam hati Sulis tumbuh keberanian, setitik harapan baru terpancar di matanya. Dia tahu perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi dia siap untuk mengambil risiko dan mengejar mimpinya sebagai seorang penulis. Sulis tersenyum pada Ahmad, merasa beruntung memiliki seorang sahabat sejati yang selalu memberikan dukungan dan motivasi kepadanya.
Sulis: Terima kasih, Ahmad. Aku tahu dengan dukunganmu, aku bisa melalui semua rintangan ini. Aku takkan menyerah!
__ADS_1
Ahmad: (tersenyum) Itulah sahabat sejati, Sulis. Bersiaplah, dunia penulisan menantimu.
Dengan semangat baru dan hati yang penuh dengan harapan, Sulis melangkah ke depan. Dia siap menghadapi tantangan demi mewujudkan impian yang selama ini menggelora di dalam hatinya. Dan di tengah perjalanan Sulis, Ahmad siap menemaninya, memberikan dukungan dan keberanian di setiap langkahnya.
Sulis duduk di depan meja cafe sambil mengaduk-aduk secangkir kopi hangatnya. Dia terlihat gelisah dan khawatir, karena sudah beberapa kali mencoba menghubungi Ahmad namun tidak mendapat balasan.
"Kenapa Ahmad tidak menghubungiku? Apa yang bisa membuatnya begitu sibuk?" gumam Sulis dalam hati.
Tiba-tiba, sebuah suara akrab datang dari belakangnya. "Sulis! Maaf ya, aku telat. Ada urusan penting tadi," ujar Ahmad sambil duduk di seberangnya.
Sulis tersenyum lega melihat Ahmad. "Baru saja aku khawatir kamu tenggelam di duniamu yang sibuk. Ada apa sebenarnya?"
Ahmad menatap Sulis dengan wajah penuh penyesalan. "Maaf, Sulis. Aku sedang dalam masa sulit di pekerjaan. Banyak tanggung jawab yang harus ku tanggung," ucapnya sambil mengusap lembut keningnya.
Wajah Ahmad berubah menjadi serius. "Sulis, aku sangat menyesal telah membuatmu merasa seperti itu. Kamu tahu bukan, betapa pentingnya kamu bagiku? Aku butuh kamu sebagai tempat berbagi suka dan duka dalam hidup ini. Maafkan aku."
Sulis mengangguk pelan. "Aku memaafkan mu, Ahmad. Tapi, sebagai pasangan, kita harus saling mendukung dan berkomunikasi dengan baik. Jangan pernah merasa ragu untuk bercerita padaku, kita menghadapi hidup ini bersama."
Ahmad menatap Sulis dengan tatapan penuh cinta dan rasa syukur. "Terima kasih, Sulis. Aku bersyukur memilikimu."
Sulis tersenyum dan menggenggam tangan Ahmad dengan erat. Mereka kembali merasakan kehangatan hubungan mereka, membangun lembaran harapan baru bersama.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka, berbagi cerita tentang apa yang terjadi selama mereka tidak bertemu. Walaupun Ahmad masih sibuk dengan pekerjaannya, mereka berencana untuk mengatur waktu khusus untuk saling berbagi dan menikmati kebersamaan mereka.
__ADS_1
Dalam perjalanan mereka, Sulis dan Ahmad menyadari bahwa komunikasi terbuka dan saling mendukung adalah kunci untuk memperkuat ikatan mereka. Mereka berjanji untuk saling memahami dan selalu ada satu sama lain di setiap langkah kehidupan.
Lembaran harapan mereka pun semakin berwarna cerah, karena kedua hati yang saling menjalin memiliki tekad untuk selalu menjadi pendukung satu sama lain.
Sulis dan Ahmad duduk di taman yang tenang, sambil melihat matahari terbenam di balik cakrawala. Udara semakin dingin, namun mereka tetap saja terpesona oleh keindahan alam yang menghiasi lembaran harapan ini.
Sulis: (tersenyum) Siapa sangka, kita bisa kembali ke tempat ini, Ahmad. Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata.
Ahmad: (tersenyum juga) Benar, Sulis. Sejujurnya, aku tidak pernah berharap bisa melihat senyumanmu lagi setelah semua yang terjadi.
Sulis: Aku juga begitu, Ahmad. Tapi ternyata takdir berkata lain. Kita berdua diberi kesempatan untuk memperbaiki segala kesalahan yang telah terjadi.
Ahmad: Ini adalah karunia terbesar yang bisa kita terima. Sudah lama aku menyadari betapa pentingnya dirimu dalam hidupku. Ibu juga mendukung keputusanku untuk memperbaiki hubungan kita.
Sulis: (terharu) Terima kasih, Ahmad. Sudah lama aku menanti kata-kata itu. Aku juga telah banyak belajar dari pengalaman yang menghantui kita. Aku berharap kita bisa menjadi lebih baik lagi, bersama.
Ahmad: (memegang tangan Sulis) Sulis, aku berjanji akan berusaha keras agar kita tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Aku akan selalu ada untukmu, mendukung dan melindungi mu.
Sulis: (menatap matanya dengan penuh keyakinan) Aku pun berjanji akan memberikan yang terbaik dalam hubungan kita. Kita bisa menghadapi segala rintangan bersama-sama.
Mereka berdua merasakan kehangatan yang lama tidak mereka rasakan. Lembaran harapan baru yang mereka bina dengan penuh ketulusan dan pengertian, memberi mereka kekuatan untuk menjalani kisah cinta mereka dengan lebih baik.
Bab ini berakhir dengan kebahagiaan yang terpancar dari wajah Sulis dan Ahmad. Mereka memeluk erat satu sama lain, merasakan bahwa mereka memiliki sesuatu yang berharga dan tak ternilai. Bersama, mereka siap untuk melanjutkan perjalanan hidup mereka dengan lebih bersemangat dan optimisme.
__ADS_1
Akankah Sulis dan Ahmad berhasil menjaga hubungan mereka tetap harmonis? Bagaimana langkah-langkah yang akan mereka ambil untuk mengatasi segala rintangan? Semua itu masih menjadi misteri yang akan terungkap dalam bab-bab selanjutnya dari novel "Lembaran Harapan".