LEMBARAN HARAPAN

LEMBARAN HARAPAN
REUNI YANG MENYENTUH HATI


__ADS_3

Bab 32: Reuni yang Menyentuh Hati


Setelah sekian lama berpisah, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sulis dan Ahmad bertemu kembali dalam sebuah kafe kecil yang nyaman, tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama dulu. Mereka duduk di meja yang sama seperti dulu, di bawah cahaya lembut lampu gantung.


Sulis tersenyum lebar melihat kehadiran Ahmad. Entah bagaimana, pesona Ahmad masih begitu kuat setelah bertahun-tahun berlalu. Wajahnya masih terlihat segar meskipun sudah ada kerutan-kerutan halus di wajahnya. Sedangkan Ahmad, ia juga takjub melihat Sulis. Meskipun waktu telah berlalu, Sulis masih memiliki pesona yang khas. Senyumnya membuat hati Ahmad berdebar kencang.


Ahmad mencoba memecah keheningan dengan tersenyum lembut. "Sulis, rasanya sulit untuk mengungkapkan betapa bahagianya aku bisa bertemu denganmu lagi setelah sekian lama."


Sulis tersenyum sambil membalas, "Sama, Ahmad. Aku juga merasa sangat bahagia bisa bertemu denganmu kembali setelah begitu lama. Begitu banyak kenangan yang terukir di sini," ucap Sulis, sembari menepuk meja tepat di depan mereka.


"Benar. Ini tempat yang penuh makna bagiku. Aku masih ingat saat kamu pertama kali duduk di sini dengan senyum manismu yang membuat hatiku meleleh," Ahmad berkata sambil menggenggam tangan Sulis dengan lembut.


Sulis tersenyum kecut. "Ah, kamu, Ahmad. Selalu bikin aku tak bisa marah padamu," katanya sambil menatap Ahmad dengan lembut.


Mereka berdua mengulang kenangan-kenangan manis dari masa lalu mereka. Tawa mereka bergema di dalam kafe. Seakan waktu berlari mundur, mereka merasa seperti dua orang muda yang baru saja jatuh cinta.


Tapi kemudian, senyum Sulis agak memudar. "Ahmad, apakah kamu masih memiliki lembaran harapan ini?" Sulis bertanya tiba-tiba.


Ahmad memandang Sulis dengan kebingungan. "Lembaran harapan? Apa yang kamu maksud?"


Sulis tersenyum miris. "Kamu ingat saat dulu kita berambisi membuat lembaran harapan, daftar impian yang ingin kita capai bersama di masa depan?"

__ADS_1


Ahmad terdiam sejenak seolah memikirkan kembali kenangan itu. "Oh Tuhan, bagaimana aku bisa melupakan itu. Tentu saja, aku masih menyimpannya di saku jas hitamku."


Sulis tersenyum lega mendengarnya. "Bagus. Aku juga masih memiliki lembaran yang sama."


Ahmad mengeluarkan sehelai kertas dari saku jasnya sambil mengernyitkan kening. "Kamu benar-benar masih menyimpannya. Aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk membuka lembaran ini dan melihat bagaimana kita telah memperjuangkan impian-impian ini selama ini."


Dengan gemetar dan penuh harap, mereka membuka lembaran harapan tersebut. Melihat impian-impian mereka yang terpampang di atas kertas itu seperti mengingat masa lalu yang manis dan khayalan yang mereka bina.


"Ada satu impian yang belum kita wujudkan," kata Sulis perlahan.


Ahmad tersenyum hangat. "Apa itu?"


Senyum itu kemudian berubah menjadi saling pandang yang dalam dan penuh arti. Keduanya tahu, inilah momen yang selalu mereka inginkan dan mereka pun tak ingin kehilangan kesempatan itu kembali.


Bab 32 pun berakhir dengan Sulis dan Ahmad menggenggam tangan satu sama lain, bertekad untuk mewujudkan impian akhir mereka yang masih tersisa.


Di tengah kegelapan malam, Sulis dan Ahmad duduk di teras rumah mereka yang sederhana. Sebuah lampu kecil menjadi penerangannya di antara mereka. Sulis menatap langit yang penuh bintang-bintang, sementara Ahmad tampak terlihat dalam pikiran yang jauh.


Sulis: (menarik napas dalam-dalam) Ahmad, apa yang sedang kamu pikirkan?


Ahmad: (tersenyum tipis) Banyak hal, Sulis. Banyak hal yang terlintas dalam pikiranku.

__ADS_1


Sulis: Ceritakan padaku, Ahmad. Aku ingin tahu apa yang ada di dalam hatimu.


Ahmad: (menggenggam tangan Sulis) Sulis, sejak kita bertemu, hidupku benar-benar berubah. Aku merasa seperti menemukan lembaran harapan yang hilang dalam diriku. Kamu membuatku merasa hidup ini berarti.


Sulis: (wajahnya memerah) Ahmad, aku juga merasakan hal yang sama. Kamu adalah sinar dalam kegelapan di dalam hatiku. Kamu mampu memberikan kehangatan dan cinta yang aku cari begitu lama.


Ahmad: Sulis, selama ini aku berjuang untuk melupakan masa laluku. Masih ada beban yang ku tanggung, kesalahan yang ku buat. Namun, seiring berjalannya waktu, aku belajar menerima diriku sendiri dan melihat masa depan yang cerah bersamamu.


Sulis: Ahmad, masa lalu adalah bagian dari dirimu yang tak bisa kau ubah. Namun, yang bisa kau ubah adalah pilihanmu untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Aku berada di sini untukmu, mendukungmu dalam perjalananmu melepaskan beban masa lalu.


Ahmad: Terima kasih, Sulis. Kamu memberiku harapan baru dan kekuatan untuk bangkit. Aku tidak akan pernah melupakanmu.


Sulis: (matanya bersinar penuh keyakinan) Aku tahu bahwa kita akan menghadapi banyak tantangan di depan, tetapi kita tidak akan pernah sendirian. Kita akan saling menjaga, menguatkan, dan menghadapi semua hal bersama-sama.


Ahmad: Kita adalah pasangan yang tak bisa dipisahkan, Sulis. Bersamamu, aku merasakan cinta yang tulus dan damai. Kita akan menjalani hidup ini dengan penuh semangat dan menciptakan cerita cinta yang indah.


Sulis: (tersenyum bahagia) Ya, Ahmad. Lembaran harapan ini akan terus kita tulis bersama melalui setiap perjuangan dan kebahagiaan yang kita alami. Aku mencintaimu, Ahmad.


Ahmad: Aku juga mencintaimu, Sulis. Kita akan membangun sebuah hari esok yang indah bersama-sama.


Saat mereka saling berpegangan tangan, Sulis dan Ahmad merasa semangat dan percaya diri. Mereka yakin bahwa bersama-sama, mereka dapat menghadapi segala rintangan dan menggapai impian yang mereka idamkan. Dalam kedamaian malam, mereka membuat janji untuk menjalani kehidupan yang penuh cinta dan harapan.

__ADS_1


__ADS_2