
Bab 66: Pertemuan Tak Terduga
Sore itu, langit berwarna jingga merah dengan semburat ungu yang menambah keindahan pemandangan. Sulis berjalan menyusuri tepi pantai, menikmati deburan ombak yang membasahi kakinya. Tiba-tiba, ia melihat sosok yang tak asing baginya. Sosok itu adalah Ahmad, teman lamanya yang sudah lama tak bertemu.
Sulis: "Ahmad, apa kabar? Lama tak jumpa!"
Ahmad: "Sulis? Wow, betapa kebetulan kita bertemu di sini! Aku baik-baik saja, terima kasih. Bagaimana denganmu?"
Sulis: "Alhamdulillah, aku juga baik. Sudah lama sekali ya kita tidak berjumpa. Apa yang kamu lakukan di sini?"
Ahmad: "Aku baru saja pindah ke kota ini untuk bekerja. Ternyata, pantainya sangat indah. Aku suka sekali. Kalau kamu, apa yang kamu lakukan di sini?"
Sulis: "Aku tinggal di sini sejak lulus kuliah. Aku bekerja di sebuah perusahaan teknologi sebagai desainer grafis. Pantai ini memang menjadi tempat favoritku untuk bersantai setelah seharian bekerja."
Mereka lalu duduk di tepi pantai, menikmati angin sepoi-sepoi yang menghembus lembut. Percakapan mereka mengalir begitu saja, mengenang masa lalu dan berbagi pengalaman hidup masing-masing.
Ahmad: "Jadi, bagaimana kabar keluargamu, Sulis?"
Sulis: "Alhamdulillah, mereka baik-baik saja. Ayah dan ibu sekarang sudah pensiun, jadi mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Adikku sudah menikah dan memiliki anak, jadi aku punya keponakan yang lucu. Kalau keluargamu?"
Ahmad: "Mereka juga baik. Ayahku masih bekerja, tapi ibuku sudah pensiun. Adikku sedang kuliah di luar negeri. Aku merindukannya, tapi aku bangga dia bisa mewujudkan mimpinya."
Sambil menikmati matahari terbenam, mereka terus berbicara tentang berbagai hal. Mereka berbagi harapan, impian, dan rencana masa depan. Pertemuan tak terduga ini membawa kehangatan dan kebahagiaan bagi Sulis dan Ahmad.
Sulis: "Ahmad, terima kasih ya sudah menjadi teman yang baik selama ini. Semoga kita bisa terus menjalin persahabatan yang erat meski jarak dan waktu memisahkan kita."
Ahmad: "Amin, Sulis. Aku juga berterima kasih atas persahabatan kita. Semoga kita selalu diberkahi dan diberi kesempatan untuk bertemu lagi di masa depan."
__ADS_1
Mereka berpelukan erat, meneguhkan persahabatan yang telah terjalin sejak lama. Langit yang semakin gelap menandakan waktu berpisah telah tiba. Namun, pertemuan ini telah meninggalkan kenangan indah yang akan selalu mereka ingat.
Beberapa minggu setelah pertemuan tak terduga itu, Sulis dan Ahmad mulai menjalin komunikasi yang lebih intens. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, baik di pantai maupun di tempat lain. Persahabatan mereka semakin erat, dan tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Suatu hari, Sulis mendapat kabar bahwa ia mendapatkan promosi di tempat kerjanya. Ia sangat bahagia dan ingin segera berbagi kabar baik ini dengan Ahmad.
Sulis: "Ahmad, aku punya kabar gembira! Aku baru saja dipromosikan di kantor. Alhamdulillah, aku sangat senang!"
Ahmad: "Wow, selamat ya, Sulis! Aku bangga padamu. Kau pantas mendapatkan promosi itu. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kariermu."
Sulis: "Terima kasih, Ahmad. Aku ingin merayakannya bersama teman-teman, termasuk kamu tentunya. Bagaimana kalau kita mengadakan pesta kecil di rumahku besok malam?"
Ahmad: "Tentu saja, aku akan datang. Aku akan membantu persiapan pestanya juga, biar lebih meriah."
Keesokan harinya, Sulis dan Ahmad sibuk mempersiapkan pesta kecil tersebut. Mereka memasak, menghias ruangan, dan mengundang teman-teman mereka. Malam itu, suasana penuh keceriaan dan kebahagiaan.
Saat pesta berlangsung, Ahmad menghampiri Sulis yang sedang menikmati hidangan bersama teman-temannya.
Sulis: "Tentu, Ahmad. Ada apa?"
Mereka berjalan ke teras rumah, di mana langit malam yang berbintang menjadi saksi perbincangan mereka.
Setelah pertemuan tak terduga di pantai, Sulis dan Ahmad semakin sering menghabiskan waktu bersama. Mereka saling mengunjungi, pergi makan siang bersama, dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka. Persahabatan mereka semakin erat, dan mereka merasa sangat bersyukur bisa bertemu kembali setelah sekian lama.
Suatu hari, Sulis mengajak Ahmad untuk mengunjungi galeri seni yang baru dibuka di kota itu. Mereka berjalan-jalan di galeri, mengagumi karya-karya seni yang dipamerkan.
Sulis: "Ahmad, lihat lukisan ini! Warna-warnanya begitu indah dan harmonis. Aku suka sekali."
__ADS_1
Ahmad: "Iya, Sulis. Aku tahu kamu suka seni, jadi aku yakin kamu akan menikmati galeri ini. Aku juga senang melihat kamu bahagia."
Sambil melanjutkan berjalan-jalan di galeri, mereka berbicara tentang berbagai hal, termasuk impian dan harapan mereka untuk masa depan.
Ahmad: "Sulis, apa impianmu untuk masa depan? Apa yang ingin kamu capai dalam hidup ini?"
Sulis: "Hmm, impianku adalah menjadi desainer grafis terkenal dan sukses, serta memiliki keluarga yang harmonis. Bagaimana denganmu, Ahmad?"
Ahmad: "Aku ingin menjadi pengusaha sukses dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Aku percaya bahwa keberhasilan seseorang bukan hanya diukur dari materi, tetapi juga dari kontribusi yang diberikan kepada orang lain."
Mereka terus berbicara tentang impian dan harapan mereka, saling mendukung satu sama lain. Persahabatan mereka kian erat, dan mereka merasa sangat bahagia bisa menjalin kembali hubungan ini.
Suatu sore, setelah menghabiskan waktu bersama di taman kota, Sulis dan Ahmad duduk di bangku taman sambil menikmati es krim.
Sulis: "Ahmad, terima kasih ya sudah menjadi teman yang baik. Aku sangat senang bisa bertemu lagi denganmu dan menjalin persahabatan ini kembali."
Ahmad: "Sama-sama, Sulis. Aku juga merasa sangat beruntung bisa bertemu lagi denganmu. Semoga persahabatan kita ini bisa terus berlanjut dan menjadi lebih erat."
Mereka berpelukan erat, meneguhkan persahabatan yang telah terjalin kembali. Matahari terbenam di ufuk barat, menandai akhir dari hari yang indah. Namun, pertemuan tak terduga ini telah membuka lembaran baru dalam hidup Sulis dan Ahmad, membawa harapan dan kebahagiaan yang tak terhingga.
Setelah menghabiskan waktu bersama di pantai, Sulis dan Ahmad berpisah dengan janji untuk tetap menjaga komunikasi dan menjalin persahabatan mereka. Mereka saling berpelukan dan berjanji untuk sering bertemu, agar persahabatan lama ini tidak pudar.
Sulis: "Ahmad, terima kasih atas waktu yang kita habiskan bersama hari ini. Aku sangat senang bisa bertemu lagi denganmu dan mengobrol seperti dulu. Jangan lupa untuk tetap berhubungan, ya!"
Ahmad: "Tentu, Sulis. Aku juga sangat bahagia bisa bertemu lagi denganmu. Aku berjanji akan menjaga komunikasi kita, dan semoga kita bisa sering bertemu di masa depan."
Mereka berpisah dengan senyum bahagia di wajah mereka, membawa kenangan indah yang akan selalu mereka ingat. Langit yang semakin gelap menandakan waktu berpisah telah tiba, namun pertemuan ini telah membuka lembaran baru dalam hidup Sulis dan Ahmad.
__ADS_1
Sejak pertemuan itu, Sulis dan Ahmad mulai menjalin komunikasi yang lebih intens. Mereka saling mendukung dalam segala hal, berbagi cerita tentang kehidupan mereka, dan saling memberikan semangat. Persahabatan mereka semakin erat, dan mereka bersyukur atas pertemuan tak terduga yang telah membawa mereka kembali bersama.
Di akhir Bab 66, Sulis dan Ahmad telah berhasil menjalin kembali persahabatan yang sempat pudar. Mereka berjanji untuk selalu bersama, mendukung satu sama lain, dan menjaga persahabatan ini agar tetap langgeng. Pertemuan tak terduga ini telah membawa kebahagiaan baru dalam hidup mereka, dan mereka siap menjalani lembaran baru dengan penuh harapan.