LEMBARAN HARAPAN

LEMBARAN HARAPAN
PENCARIAN SULIS


__ADS_3

Bab 17: Pencarian Sulis


Pagi itu, Ahmad duduk termenung di teras rumahnya, menatap ke dalam cangkir kopi di tangannya. Hatinya masih penuh dengan kekhawatiran tentang kepergian Sulis. Mereka sudah berteman sejak kecil dan Sulis adalah satu-satunya sahabat yang benar-benar mengerti dirinya. Ahmad sadar bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk mencari dan membantu Sulis.


Sambil meminum kopi, Ahmad mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan terakhir yang dikirimkan oleh Sulis. "Siapa yang tahu di mana saya berada?" tulis Sulis dalam pesan tersebut. Ahmad tahu bahwa ia harus memulai pencariannya dengan melacak pergerakan terakhir Sulis.


Dia menelusuri pesan Sulis lainnya, mencari petunjuk apapun yang bisa membantunya menemukan temannya itu. "Apa arti pesan ini?" gumam Ahmad, sambil membaca pesan lainnya dari Sulis. "Tambahkan kedamaian untuk menemukan kebenaran."


Ahmad memikirkan maksud dibalik kata-kata tersebut. Setelah beberapa saat berpikir, ia menyadari bahwa Sulis selalu tenang di tempat yang sunyi dan damai. "Mungkinkah dia berada di tempat yang tenang?" pikir Ahmad sambil menguatkan keyakinannya.


Tanpa pikir panjang, Ahmad bergegas mengambil kunci motor dan sepeda motornya. Ia memasukkan GPS koordinat terakhir yang dikirimkan oleh Sulis dan memulai perjalanan. Udara terasa hangat dan angin berembus lembut saat ia melaju di jalanan. Ahmad merasa semakin dekat dengan Sulis.


Setelah beberapa jam menyusuri jalan, Ahmad akhirnya tiba di sebuah perbukitan yang terletak jauh di pedesaan. Di atas bukit, terdapat sebuah kuil tua yang dikelilingi oleh pepohonan dan hamparan rumput hijau. Suara gemericik air dan riak-riak angin menambah ketenangan suasana.


"Apakah ini tempat yang dimaksud oleh Sulis?" gumam Ahmad, terpesona oleh keindahan kuil tersebut.


"Tentu saja, ini adalah tempat yang tepat, Ahmad." Tiba-tiba, suara Sulis terdengar di belakangnya. Ahmad terkejut dan segera berbalik. Di hadapannya, Sulis berdiri dengan senyum lebar di wajahnya.


"Kenapa kamu pergi begitu saja, Sulis? Aku sangat khawatir tentangmu," ujar Ahmad, sambil memeluk sahabatnya erat-erat.


Sulis tersenyum sambil menjawab, "Maafkan aku, Ahmad, aku pergi untuk mencari kedamaian dan menemukan kebenaran dalam diriku sendiri. Aku merasa beruntung bisa menemukan tempat ini. Rasanya begitu damai dan memberiku ketenangan yang aku butuhkan."


Ahmad memahami apa yang dirasakan oleh Sulis. Ia melihat keadaan sekelilingnya dan merasakan kedamaian yang sama. Dia bersyukur karena berhasil menemukan teman yang selama ini ia cintai dan percayai.

__ADS_1


"Baiklah, Sulis. Aku mengerti alasanmu. Aku senang kamu menemukan ketenangan di tempat ini. Kita akan selalu menjadi sahabat yang saling mendukung dalam setiap perjalanan kehidupan kita," ucap Ahmad, sambil menggenggam tangan Sulis erat.


Dengan senyum, mereka berdua duduk di dekat sebuah kolam di kuil itu, menikmati kedamaian yang mereka cari dan merencanakan petualangan selanjutnya bersama.


Sulis dan Ahmad telah bertemu di pusat perbelanjaan setelah sekian lama tidak bertemu. Mereka duduk di sebuah kafe yang nyaman di sudutnya yang tenang.


Sulis: Ahmad, betapa lama kita tidak bertemu. Rasanya seperti waktu berhenti bergerak sejak kita terakhir kali berkumpul.


Ahmad: Iya, Sulis. Aku merindukanmu. Tapi, bagaimana kabarmu? Apa-apa yang terjadi selama ini?


Sulis: Ada banyak hal yang terjadi, Ahmad. Aku telah menyelesaikan studiku dan sekarang bekerja sebagai seorang jurnalis di sebuah majalah. Aku sangat senang dengan pekerjaanku, meski terkadang melelahkan.


Ahmad: Itu suatu pencapaian yang luar biasa, Sulis. Aku bangga padamu. Bagaimana dengan keluargamu?


Sulis: Terimakasih, Ahmad. Aku juga bangga dengan diriku sendiri. Tentang keluarga, semuanya baik-baik saja. Ayahku sudah pensiun dan sekarang menikmati masa tuanya dengan bermain catur dengan teman-temannya setiap hari. Ibuku juga sehat-sehat saja dan tetap aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan kami.


Ahmad: Aku juga baik-baik saja, Sulis. Keluargaku juga dalam keadaan baik. Ayahku masih bekerja sebagai pengacara, sedangkan ibuku tetap mengajar di sebuah sekolah dasar. Aku juga sudah menyelesaikan studiku dan sekarang bekerja di perusahaan teknologi sebagai seorang programmer. Aku cukup senang dengan pekerjaanku, meski kadang stres dengan tenggat waktu yang ketat.


Sulis: Aku sangat senang mendengarnya, Ahmad. Kita berdua telah mencapai banyak hal sejak terakhir kali kita bertemu.


Ahmad: Ya, Sulis. Aku yakin kita akan terus saling menginspirasi satu sama lain seperti yang selalu kita lakukan sejak dulu.


Sulis: Tentu, Ahmad. Persahabatan kita adalah lembaran harapan yang selalu memberikan semangat dan motivasi di setiap langkah hidup kita. Aku berterima kasih memiliki teman sepertimu.

__ADS_1


Ahmad: Sama-sama, Sulis. Itu adalah kehormatan bagi ku untuk memiliki teman sepertimu. Kita akan selalu saling mendukung dan mendorong satu sama lain meraih impian-impian kita.


Sulis dan Ahmad tersenyum satu sama lain, merasakan bahwa persahabatan mereka masih tetap kuat dan tidak tergoyahkan meskipun telah lama tidak bertemu. Mereka menghabiskan sisa waktu sore itu dengan bercerita tentang perjalanan hidup mereka dan rencana masa depan yang masih ingin mereka raih.


Sulis duduk termenung di bangku taman, sementara langit senja mulai menyelimuti kota. Dia terus membolak-balik isi surat yang telah ditulisnya selama beberapa minggu terakhir. Surat itu adalah surat pengakuan perasaannya kepada Ahmad, teman baiknya sejak kecil.


Ahmad, yang tahu tentang surat itu, memutuskan untuk mencarinya di taman tersebut. Dia mendekati Sulis dengan tatapan penuh perhatian dan bertanya, "Apa yang kamu pikirkan, Sulis? Sudahkah kamu mengirim surat itu?"


Sulis menghela napas dan menatap Ahmad dengan wajah tegang. "Aku belum mengirimnya, Ahmad. Masih ada banyak ketakutan dan keraguan dalam diriku. Bagaimana jika perasaanku tidak direspon dengan baik? Bagaimana jika aku kehilangan pertemanan kita yang sudah kita bangun selama ini?"


Ahmad mengambil posisi duduk di sebelah Sulis. Dia meletakkan tangannya di punggung kursi dan menatap Sulis dengan tulus. "Sulis, pertemanan kita tidak akan hancur hanya karena perasaan cinta. Aku sangat menghargai hubungan kita dan akan selalu menganggap sebagai sahabatku, tanpa memandang apa pun yang terjadi."


Sulis tersenyum lembut. Dia merasa ada kelegaan dalam kata-kata Ahmad. "Terima kasih, Ahmad. Aku benar-benar butuh mendengar itu dari dirimu. Tapi, apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini? Aku merasa tertekan dengan rasa cinta yang tidak terucapkan."


Ahmad menatap Sulis penuh makna. "Sulis, kehidupan terlalu singkat untuk menyimpan perasaan di dalam hati. Aku percaya bahwa ketidakpastian hanya akan membuatmu semakin terbebani. Jangan takut mengejar apa yang kamu inginkan, meski itu menakutkan."


Sulis menggigit bibir bawahnya, membiarkan kata-kata Ahmad meresapi hatinya. Dia merasa semangat dan keberanian mulai membara di dalam dirinya. "Kamu benar, Ahmad. Aku harus berani menghadapi perasaan ini dengan jujur. Meski ada kans ditolak, setidaknya aku sudah mencoba."


Ahmad tersenyum bangga. "Itulah yang kukatakan, Sulis. Kemampuanmu untuk menghadapi ketakutanmu adalah salah satu hal yang membuatku bangga menjadi temanmu. Ayo, besok kita akan mengirim surat itu bersama-sama. Aku akan menjadi dukunganmu sepenuhnya."


Sulis merasa hatinya mulai memompa dalam keberanian yang lama terpendam. Dia merasa sangat beruntung memiliki Ahmad di sisinya. Bersama-sama mereka berbicara tentang rencana mereka untuk mengungkapkan perasaan Sulis kepada seseorang yang selama ini lebih dari sekadar teman.


Esok harinya, Sulis dan Ahmad berjalan menuju kantor pos dengan perasaan berbunga-bunga. Surat yang ditertawakan dan diratapi selama ini akhirnya akan diberikan. Meski hati mereka masih berdegup kencang, keberanian mereka bertambah dengan adanya dukungan satu sama lain.

__ADS_1


Mereka memasuki kantor pos dan Sulis menunjukkan suratnya kepada petugas di sana. Saat itu, kelegaan dan kegembiraan memenuhi pikiran Sulis. Tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya, Sulis tahu bahwa dia melakukan yang terbaik dan berani menghadapi nalurinya.


Ahmad tersenyum dan memberikan tatapan yang penuh harapan kepada Sulis. "Semoga semua ini membawa berkah bagi kita. Aku akan selalu ada untukmu, Sulis."


__ADS_2